RSS

Dubes Peru menerima hidayah di Indonesia

07 Agu

LIMA tahun lalu, Duta Besar Peru untuk Indonesia Juan Alvarez Vita memulai tugasnya. Saat menginjakkan kaki di Indonesia, mungkin yang hanya tebersit di benaknya adalah bagaimana mempererat hubungan diplomatik kedua negara.

Namun takdir Allah berkata lain. Juan Alvarez Vita datang ke Indonesia bukan sekadar menjalankan misi-misi diplomasi negaranya. Namun dia juga datang untuk menjemput hidayah-Nya sebagai seorang muslim. Sebenarnya perkenalan Juan Alvarez Vita dengan Islam sudah berlangsung selama 15 tahun sebelum dia mengucapkan syahadat akhir tahun lalu. Dia mulai mengenal agama mulia ini saat masih menjabat sebagai anggota Komite Konvensi Internasional Mengenai Hak Asasi Manusia di bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya di PBB yang berkedudukan di Jenewa, Swiss. Dia ditunjuk dalam komite ini atas kapasitas pribadinya, bukan sebagai diplomat yang sudah mengawali kariernya sejak 1968.

Pada kesempatan itu, dia sering berdialog dengan perwakilan dari negara-negara Islam. Dari sana, dia mengetahui bahwa sejumlah negara Islam mengakui konvensi-konvensi PBB sebagai dasar hukum yang lebih tinggi dibandingkan hukum nasional di negara mereka. Namun mereka berkeyakinan masih ada hukum yang lebih tinggi di atas aturan-aturan tersebut yakni aturan Tuhan.

“Ini adalah hal yang istimewa bagi saya,” katanya.

Rasa penasaran Juan Alvarez Vita tentang Islam pun mulai muncul. Selanjutnya dia banyak membaca tentang Islam dari terjemahan Al Quran dalam berbagai bahasa mulai dari Inggris, Prancis dan Spanyol. Juan Alvarez Vita juga banyak membaca literatur Islam di perpustakaan PBB di Jenewa. Hal tersebut berlangsung hingga 10 tahun lamanya.

Keingintahuan peraih gelar doktor bidang hukum dari University of San Marcos, Lima tentang Islam belum berhenti ketika dia tiba di Indonesia. Terakhir, pria yang kerap diundang sebagai dosen tamu di berbagai universitas terkemuka di dunia ini belajar banyak tentang agama fitrah ini dari dua stafnya di kedutaan. Hampir setiap hari, Juan Alvarez Vita mengajukan berbagai pertanyaan kepada mereka. Hingga akhirnya pada 12 November 2010, Masjid Sunda Kelapa menjadi saksi atas ikrar syahadatnya. Peristiwa itu disaksikan kolega-koleganya sesama duta besar serta ratusan jamaah yang baru menyelesaikan shalat Jumat. Bagi Juan Alvarez Vita, hari itu adalah salah satu hari yang paling membahagiakan dalam kehidupannya.

Awal pekan ini, saya mendapatkan kesempatan istimewa mewawancarai Juan Alvarez Vita di kantornya. Diminta datang pukul 10.00 WIB, setiba di lokasi, saya dipersilakan menunggu di sebuah ruangan yang berisi foto-foto dan berbagai patung keramik khas Peru. Selang lima menit menginjakkan kaki di ruang itu, Juan Alvarez Vita menghampiri saya (bukan saya yang diminta menghampiri ke ruangannya) dan langsung memberikan salam: “Assalamualaikum”.

Setelah berbicara sebentar, kami berkeliling ruangan dan Juan Alvarez Vita menjelaskan tentang karya-karya seni yang dipajang di sana. Pembicaraan kami pun dilanjutkan di ruangannya yang di kelilingi gedung-gedung pencakar langit di Kuningan, Jakarta Selatan. Berikut pembicaraan saya dengan diplomat yang sudah menulis lebih dari sepuluh buku itu:

Jadi apa yang menginspirasi Anda untuk memeluk agama Islam?

Sebelum tiba di Indonesia, saya bertugas di Argentina. Hongaria, Austria, Swiss, Uruguay, Kosta Rika dan Kuba. Saya tidak pernah tinggal di negara Islam dan ketika saya tiba di Jakarta saya sadar bahwa banyak hal yang harus saya pelajari. Selama 10 tahun mempelajari Islam tidak banyak berarti bila dibandingkan dengan pengalaman kehidupan sehari-hari. Saya tiba lima tahun lalu, itu artinya perlu waktu 15 tahun untuk memeluk Islam. Banyak orang yang menjadi seorang muslim karena tradisi, misalnya tradisi keluarga. Bagi saya, keputusan ini adalah proses yang teramat sangat panjang. Saya harus mengucapkan terima kasih kepada Indonesia karena negara ini memberikan jalan untuk menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Tidak ada tokoh dalam sejarah Islam yang menginspirasi perpindahan agama saya. Namun dalam proses belajar Islam, saya memiliki dua staf di Kedutaan Peru yaitu David Hardson Sinagabariang dan Jaenal Pujadi, keduanya orang Indonesia dan muslim, yang menjawab berbagai pertanyaan saya beberapa tahun terakhir ini. Bagi saya, mereka adalah guru yang luar biasa. Selain penjelasan tentang Islam, yang terpenting bagi saya adalah teladan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua staf saya ini telah mengantarkan saya menuju Islam dengan contoh-contoh perbuatan mereka.

Apa ada peristiwa penting sebelum mengambil keputusan?

Tidak ada waktu istimewa. Namun hal itu terjadi setelah saya melakukan refleksi panjang. Saya disarankan menghubungi Mesjid Sunda Kelapa. Karena di sana ada sebuah pusat penelitian dan pelatihan yang didedikasikan bagi orang-orang yang ingin memeluk Islam. Di sana juga ada beberapa imam yang dapat berbicara dalam berbagai bahasa. Bersama mereka, diskusi filosofis tentang Islam berlangsung lebih dalam.

Apa hal-hal yang sering Anda tanya?

Saya mengajukan banyak pertanyaan tentang sitensis ajaran Islam, sejarah Islam, dan aspek-aspek dalam kehidupan Nabi Muhammad yang belum saya dengar sebelumnya.

Bagaimana respons keluarga atas keputusan Anda?

Keluarga saya pemeluk Katolik Roma. Saat saya memutuskan masuk Islam, mereka tidak mempermasalahkan. Mereka terbuka dalam hal ini.

Lalu bagaimana respons kolega sesama duta besar?

Keputusan saya adalah kejutan besar, bahkan bagi staf-staf di kedutaan saya. Saya tidak menerima sikap atau pertanyaan yang menolak keputusan ini. Pada saat upacara pengucapan syahadat, saya mengundang beberapa kolega untuk berpartisipasi. Itu momen yang sangat indah. Banyak sekali yang menyaksikan. Semua orang memberikan selamat. Mereka bertakbir. Secara spontan mereka memberikan hadiah. Salah satu hadiah yang paling diingat adalah parfum yang diterima dari orang yang tak sama sekali dikenal.

Saya ingat, staf saya David Hardson Sinagabariang memberikan kopi film The Message. Itu adalah film yang sangat bagus yang menjelaskan kehidupan Nabi Muhammad. Hari itu benar-benar hari yang spesial. Saya tidak ingat peristiwa dalam hidup saya yang sama istimewa seperti ini. Setiap orang punya cara berbeda untuk datang ke Tuhan dan Tuhan memiliki cara yang berbeda untuk menyapa umat-Nya. Sekarang inilah jalan saya. Bagian baru dalam hidup saya.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 7, 2011 in Seputar Mualaf

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: