RSS

tafsir ibnu katsir tentang cobaan

20 Nov

Cobaan atau ujian dalam bahasa Arabnya adalah al-ibtila, bisa dalam bentuk kebaikan (yang menyenangkan) atau keburukan (yang menyusahkan).  Cobaan adalah sunnah Allah, bisa jadi demikian beratnya bagi jiwa orang yang mengalaminya tapi dengan cobaan itulah Allah mengangkat derajat para nabi, dan mengampuni dosa orang-orang saleh

Firman Allah:
Sungguh kamu akan diuji dengan harta dan dirimu.  Sungguh  kamu akan mendengar dari orang-orang sebelum kamu yang telah diberi kitab dan dari orang-orang yang syirik berupa gangguan yang banyak yang menyakitkan.  Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya demikian itu merupakan persoalan yang patut diutamakan (QS. Ali Imran (3): 186 )

Qatadah berkata bahwa: Firman Allah Ta’ala, “Sungguh kamu akan diuji dengan harta dan dirimu” ini sepertii firman Allah,
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekuranganharta, jiwa dan buah-buahan.” (al-Baqarah:155)
Maksudnya, seorang mukmin pasti diuji dengan sesuatu tang berkaitan dengan harta, diri, anak, dan istrinya.  Allah menguji seoran mukmin menurut kadar agamanya.

“Sungguh kamu akan mendengar dari orang-orang sebelum kamu yang telah diberi kitab dan dari orang-orang yang syirik berupa gangguan yang banyak yang menyakitkan.”  Allah Ta’ala memberitahukan kepada kaum mukmin, tatkala mereka sampai di Madinah dan sebelum terjadinya Perang Badar, gangguan-gangguan yang akan mereka terima dari Ahli Kitab dan kaum musyrik.  Dan Allah menyuruh mereka supaya menerima gangguan itu dengan kesabaran dan lapang dada hingga Allah memberi jalan keluar.  Maka Allah berfirman guna menghibur mereka, “jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya demikian itu merupaka persoalan yang patut diutamaka.”

Ibnu Hatim meriwayatkan dari Usama bin Zaid, dia berkata, ‘Adalah Nabi saw. dan para sahabatnya memaafkan kaum musyrik dan Ahli Kitab sebagai mana diperintahkan Allah kepada mereka.’  Mereka pun bersabar dalam menghadpi gangguan.  Allah Ta’ala berfirman, “Sungguh kamu akan mendengan dari orang-orang sebelum kamu yang telah diberi kitab dan dari orang -orang yang musyrik berupa gangguan yang banyak yang menyakitkan.”  Usamah berkata, “Adalah Rasulullah saw. menafsirkan firman Allah itu dengan memberi maaf sebelum Allah mengizinkannya melakukan sesuatu tindakan kepada mereka.”  Demikian ringkasan keterangan Usamah.

Tatkala Rasulullah saw. melakukan Perang Badar dan Allah membunuh kaum kafir Quraisy yang gagah berani melalui Rasulullah, maka Abdullah bin Ubai bin Salul, kaum musyrik, dan para penyembah berhala berkata, “Sekarang, persoalannya mulai muncul.”  Kemudian mereka berjanji setia kepada Rasulullah untuk memeluk Islam.  Jadi setiap orang yang menegakkan kebenaran, menyuruh kepada kemakrufan, atau melarang kemungkaran pasti mendapat gangguan yang menyakitkan.  Tiada lagi penawar baginya kecuali bersabar karena Allah, memohon pertolongan-Nya, dan kembali kepada-Nya

Posted with WordPress for BlackBerry.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 20, 2010 in Islam, Refleksi Jiwa

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: