RSS

nikmat yang tak nampak

10 Jan

Orang yang bersyukur belum tentu ia dalam kondisi berhasil atau lapang. Orang bersyukur terkadang karena ia mengerti keutamaan bersyukur. Apapun keadaan yang Alloh takdirkan kepadanya, selalu ada celah dimana ia tetap bisa tulus mengucap syukur.

Sedangkan orang yang tak terbiasa mengambil hikmah pada setiap keadaan, baik keadaan lapang maupun sempit, bila tak awas akan membawanya pada sikap berlebihan. Berlebihan terhadap kelapangan yang dia rasakan dengan bersikap sombong. Berlebihan dalam kesempitan yang dia terima dengan berputus asa. Pada keduanya dihadapan Alloh hanyalah keburukan semata.

Sesungguhnya bersyukur itu adalah kebutuhan kita sendiri. Sebagaimana kehidupan membutuhkan cahaya matahari, maka jiwa kita juga membutuhkan bersyukur. “Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Alloh), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri” (QS. Luqman : 12).

Mengapa bersyukur adalah kebutuhan kita?, Yang paling prinsip adalah agar kita tidak termasuk golongan orang-orang yang kufur. Yang merugi kelak di akhirat. Karena sebagaimana tauhid dengan syirik, Alloh ta’ala telah mengkaitkan syukur dengan kafir. “Jika kamu kafir maka sesungguhnya Alloh tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu;” (QS. Az-Zumar : 7)

Artinya jika kita tidak berada dalam keadaan yang satu, maka pasti kita berada dalam keadaan yang lain. Jika kita tidak Tauhid berarti kita sedang syirik. Bila kita tidak berada dalam golongan syakirin (orang yang bersyukur) berarti kita sedang berpakaian kafiriin. Naudzubillah..

Sebegitukah peran penting syukur dalam kehidupan kita ?
Bila kita ingin semakin yakin tentang pentingnya menjadi orang bersyukur, perhatikanlah ucapan Iblis berikut ini, “kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur” (QS. Al-A’raff : 7)

Maaf, Iblis saja tahu, bahwa cara ampuh untuk membuat manusia terjerumus ke Neraka adalah membuat mereka menjadi orang yang tidak bersyukur. Sukses membuat orang tak bersyukur, mungkin saja bagi Iblis proses penggiringan selanjutnya untuk dijadikan orang tidak sabar, orang tidak amanah, orang tidak jujur dan sebagainya akan lebih enteng. Ibarat anak yang durhaka pada orang tuanya, bukankah pada dasarnya bermula dari tidak merasanya dia terhadap kasih sayang, perhatian dan pengorbanan yang sudah diberikan kedua orang tuanya?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 10, 2010 in Islam, Refleksi Jiwa

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: