RSS

PEGANGAN AHLI KITAB DAN KONTROVERSINYA

27 Jun

KITAB SUCI AGAMA NASRANI

Kitab suci agama Nasrani disebut Bibel. Dalam bahasa Inggris disebut The Holy Bible. Di Indonesia disebut Alkitab. Terdiri dari dua kitab, yaitu Perjanjian Lama (Old Testament) dan Perjanjian Baru (New Testament).

Perjanjian Lama

Perjanjian lama, dalam bahasa Ibrani dinamakan Tanakh (ta-nun-kha), yang tiap-tiap suku katanya merupakan rumusan bermakna. Suku kata “ta” adalah rumusan bagi makna Taurat, “nun” adalah rumusan bagi makna perjalanan nabi-nabi terdahulu (dari risalah para nabi sebelumnya), dan “kha” adalah rumusan bagi segala yang termaktub. Itulah tiga bagian pokok dari kitab Perjanjian Lama yang belakangan lebih dikenal sebagai: Torah, Nebiim dan Kethubiim.
Isi kitab Perjanjian Lama terbagi sebagai berikut:
1. Kejadian (Genesis)
2. Keluaran (Exodus)
3. Imamat (Leviticus)
4. Bilangan (Numbers)
5. Ulangan (Deuteronomy)
6. Yosua (Joshua)
7. Hakim-hakim (Judges)
8. Rut (Ruth)
9. 1 Samuel (1 Samuel)
10. 2 Samuel (2 Samuel)
11. 1 Raja-raja (1 Kings)
12. 2 Raja-raja (2 Kings)
13. 1 Tawarikh (1 Chronicles)
14. 2 Tawarikh (2 Chronicles)
15. Ezra (Ezra)
16. Nehemia (Nehemiah)
17. Ester (Esther)
18. Ayub (Job)
19. Mazmur (Psalms)
20. Amsal (Proverbs)
21. Pengkhotbah (Ecclesiastes)
22. Kidung Agung (Song of Songs)
23. Yesaya (Isaiah)
24. Yeremia (Jeremiah)
25. Ratapan (Lamentations)
26. Yehezkiel (Ezekiel)
27. Daniel (Daniel)
28. Hosea (Hosea)
29. Yoel (Joel)
30. Amos (Amos)
31. Obaja (Obadiah)
32. Yunus (Jonah)
33. Mikha (Micah)
34. Nahum (Nahum)
35. Habakuk (Habakuk)
36. Zefanya (Zephaniah)
37. Hagai (Haggai)
38. Zakharia (Zechariah)
39. Maleakhi (Malachi)

Untuk kalangan gereja Katolik, selain yang sudah disebutkan di atas, masih ada 7 kitab tambahan lagi yang disebut Apokripa/Deuterokanonika, yaitu:
1. Tobit
2. Yudit
3. Mekabi (Makabe) 1
4. Mekabi (Makabe) 2
5. Hikmah (Kebijaksanaan)
6. Yasoa bin Siirakh (Sirakh)
7. Barukh

Perjanjian Baru

Kitab Perjanjian Baru yang ada sekarang ini, disusun, ditetapkan dan dipakai, sejak Konferensi Dewan Gereja se Dunia I (Konsili Nicea 325 M), yang terbagi sebagai berikut:
I. Injil (Gospel), terdiri dari:
1. Injil Matius (Matthew)
2. Injil Markus (Mark)
3. Injil Lukas (Luke)
4. Injil Yohanes (John)

II. Kisah Rasul-Rasul (Acts of Apostles, tulisan Lukas)

III. Surat-Surat (Epistles) terdiri dari:
A. Tiga Belas Surat Paulus, yang ditujukan kepada:
1. Jemaat di Roma (Romans)
2. Jemaat di Korintus yang ke-1 (1 Corinthians)
3. Jemaat di Korintus yang ke-2 (2 Corinthians)
4. Jemaat di Galatia (Galatians)
5. Jemaat di Efesus (Ephesians)
6. Jemaat di Filipi (Philippians)
7. Jemaat di Kolose (Colosians)
8. Jemaat di Tesalonika yang ke-1 (1 Thessalonians)
9. Jemaat di Tesalonika yang ke-2 (2 Thessalonians)
10. Timotius yang ke-1 (1 Timothy)
11. Timotius yang ke-2 (2 Timothy)
12. Titus (Titus)
13. Filemon (Philemon)
B. Surat kepada Orang Ibrani (Hebrews). Mereka sendiri tidak tahu siapa yang menulisnya (?)
C. Surat Yakobus (James)
D. Surat Petrus yang ke-1 (1 Peter)
E. Surat Petrus yang ke-2 (2 Peter)
F. Surat Yohanes yang ke-1 (1 John)
G. Surat Yohanes yang ke-2 (2 John)
H. Surat Yohanes yang ke-3 (3 John)
I. Surat Yudas (Jude)

IV. WAHYU (Revelations)

Dari susunan di atas, terlihat dengan sangat jelas bahwa surat-surat yang ada di dalam kitab Perjanjian Baru, sekitar 50% ditulis oleh Paulus.

Gambaran Singkat Empat Injil yang Diakui Gereja

Berikut adalah gambaran singkat mengenai empat Injil yang diakui oleh gereja sejak Konsili Nicea tersebut:
1. Injil Matta (Matius).

Umat Nasrani sepakat mengatakan bahwa Matius menulis dengan bahasa Ibrani atau Suryani setelah kepergian Yesus dari muka bumi. Kumpulan Injil Matius tertua yang pernah ditemukan, ditulis dalam bahasa Yunani. Itu pun telah hilang tidak diketahui di mana rimbanya.
Beberapa sarjana teologi Kristen mengatakan bahwa Matius yang menulis Injil Matius itu bukanlah Matius si pemungut pajak yang termasuk dalam 12 murid utama Yesus, tetapi orang keturunan Yahudi yang tidak dikenal asal-usulnya. Dalam hal ini, K. Riedel mengatakan,
“Menurut pendapat kami, pengarang Injil Matius bukannya seorang dari keduabelas rasul, melainkan seorang Kristen berbangsa Yahudi yang tidak dikenal.” (Tafsiran Injil Matius, BPK Jakarta, hlm. 14)
J. B. Phillips mengatakan,
“Early tradition ascribed this gospel to apostle Matthew, but scholars nowadays almost all reject this view. The author, whom we still can conveniently call Matthew…He was used Mark’s Gospel freely, though he has rearranged the order of events and has in several instances used different words for what is plainly in the same story.” (The Gospel Translated into Modern English).
(Tradisi kuno menganggap bahwa Injil ini berasal dari rasul Matius, tetapi hampir semua ilmuwan menolak pendapat ini. Pengarangnya, yang masih kita sebut Matius…telah mencontek secara bebas Injil Markus, meskipun dia telah merubah urutan kejadian dan dalam beberapa kesempatan menggunakan kata yang berbeda untuk cerita yang sama).
Para professor pakar Tafsir Alkitab menyatakan,
“Jelas sekali bahwa Matius mencakup hampir seluruh Injil Markus, kendati dia meringkas cerita-cerita Markus tentang mukjizat untuk menyediakan tempat bagi banyak bahan yang tidak dilaporkan oleh Markus.” (The New Bible Dictionary, edisi Indonesia: Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, cet. 3, 1997, hlm. 38).

2. Injil Markus.

Umat Nasrani sepakat mengatakan bahwa kitab ini ditulis dalam bahasa Yunani sekitar 23 tahun setelah pengangkatan Yesus. Namun terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa penulis sebenarnya. Sebagian mengatakan Petrus, dan sebagian lagi mengatakan Markus yang menulis setelah wafatnya Petrus dan Paulus. Tetapi yang jelas, ada keraguan tentang siapa yang membukukan Injil Markus. Di sisi lain, mereka sepakat bahwa bukan Yesus yang mendiktekannya secara langsung, karena Markus bukanlah murid utama Yesus atau bukan termasuk 12 apostles.

Sedangkan yang termasuk 12 apostles itu adalah:
“Simon (yang juga disebut Petrus) dengan saudaranya yaitu Andreas, Yakobus bin Zebedeus dan saudaranya yaitu Yohanes bin Zebedeus, kemudian Filipus, Bartolomeus, Thomas, Matius si penagih pajak, Yakobus bin Alfeus, Tadeus, Simon si Patriot, dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus.” (Matius 10: 2-4)

3. Injil Lukas.

Lukas adalah murid kesayangan dan pendamping setia Paulus. Sebagian sejarawan dunia menyebutkan bahwa ia lahir di Anttiokia, dan sebagian lagi menyebutkan bahwa ia berasal dari Rumania, lahir di Italia dan dikenal sebagai pelukis. Namun mereka semua sepakat bahwa Lukas bukan murid Yesus dan bukan pula murid dari muridnya Yesus.

Yang pasti adalah bahwa ia murid Paulus. Sedangkan, Paulus sendiri tidak pernah bertemu Yesus dan tidak pernah mendengar secara langsung dari Yesus. Artinya, Paulus sendiri bukan murid langsung dari Yesus (bukan 12 murid utama Yesus atau bukan salah satu dari 12 Apostles).

Paulus berperan penting dalam mengubah ajaran agama Nasrani dan bertanggung-jawab penuh atas praktek penyimpangan dari kebenaran. Ia adalah seorang Yahudi keturunan Persia yang lahir di Tarsus atau Rumania. Sejarawan Masehi menyebutkan bahwa Paulus telah melakukan berbagai penindasan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap penganut agama Masehi, sebelum ia secara tiba-tiba memeluk agama Masehi.

Murid Paulus yang bernama Lukas, pada akhir kisah perjalanan gurunya mengatakan, “Ketika ia (Paulus) berkhutbah dan memberi nasehat, ia menyebutkan bahwa Isa Almasih adalah putra Allah.” Padahal, pemikiran seperti itu belum pernah dikenal dalam ajaran Masehi sebelumnya.
Yang disepakati oleh seluruh sejarawan Masehi, adalah bahwa Lukas menuliskan kitabnya dalam bahasa Yunani sekitar 20 tahun setelah pengangkatan Yesus, dan bukan Yesus yang mendiktekannya secara langsung.

4. Injil Yohanes.

Kalangan sejarawan Masehi berbeda pendapat tentang masa penulisan kitab ini. Ada yang mengatakan tahun 65 M, dan ada yang mengatakan tahun 98 M atau 32 tahun setelah pengangkatan Yesus. Mayoritas dari pemuka agama Nasrani dan para peneliti di kalangan mereka menolak penisbatan kitab ini kepada Yohanes bin Zebedeus. Bahkan Sadlyn, mengatakan bahwa seluruh Injil Yohanes adalah buatan murid sekolah di Aleksandria. Pada awal abad 2 M, mereka mengingkari injil ini berikut semua yang dinisbatkan kepada Yohanes.

Ensiklopedia Brittanica, yang ditulis oleh lebih dari 500 ilmuwan dan cendikiawan Nasrani menyebutkan,
“Injil Yohanes tidak diragukan lagi merupakan kitab palsu. Penulis palsu ini mendakwa bahwa dia adalah Yohanes anggota Hawariyyin, lalu mencantumkan namanya dalam kitab ini. Sungguh, kita merasa kasihan kepada mereka yang berjuang keras mengaitkan penulis kitab itu – filosof abad ke-2 M – dengan Yohanes sang Nelayan yang mulia itu. Sesungguhnya segala jerih payahnya akan sia-sia.”
Penulis inilah yang mencantumkan ketuhanan Yesus dalam Injil, yang kemudian disahkan oleh gereja. Sementara yang disepakati oleh seluruh cendikiawan Nasrani adalah, Injil Yohanes ditulis bukan dari hasil pendiktean secara langsung dari Yesus.

Injil Barnabas yang Tidak diakui Gereja

Selain empat Injil yang telah disebutkan, ada sebuah Injil yang tidak diakui keabsahannya oleh gereja, yaitu Injil Barnabas. Berikut adalah kisah tentang Injil Barnabas:
1. Tulisan Bishop Irenaeus (120 – 202 M), seorang dari Smyrna yang kemudian menjabat bishop di kota Lyon pada tahun 177 M, ada menyebut-nyebut Injil Barnabas (Gospel of Barnabas). Beberapa fragmen dari tulisan Bishop Irenaeus yang ditemukan itu berjudul Adverse Haereses.

2. Sejarawan Nasrani bernama Dr. Sa’ada (seorang Kristen) menyebutkan bahwa Paus St. Gelasius I yang menduduki kursi kepausan pada tahun 492 – 496 M mengeluarkan larangan terhadap sejumlah kitab, di antaranya adalah Injil Barnabas. Maka sejak itu, Injil Barnabas tersembunyi (sampai tahun 1709 M). Dari sini jelas bahwa pada masa dulu Injil Barnabas itu memang ada.

3. Suatu ketika, seorang pendeta bernama Framino (Ferramino) menemukan Surat-surat Larianus yang isinya berupa bantahan terhadap tulisan Paulus yang ada di dalam Injil. Terdorong rasa ingin tahu yang kuat, pendeta ini berhasil mendekati orang kepercayaan Paus Sectus V (Paus Sixtus V, naik tahta 1885-1890 M) sehingga bisa mendapatkan (meminjam) Injil Barnabas untuk menelitinya secara mendalam dan sembunyi-sembunyi. Setelah selesai, ternyata dia memutuskan masuk Islam.

4. Pada abad ke 16 M, ditemukan sebuah naskah kuno, yaitu Injil Barnabas dalam bahasa Itali. Naskah kuno tersebut ditemukan oleh seorang Father dalam Vatican Library. Ia lalu menyelundupkannya keluar.

5. Pada tahun 1709 M, naskah paling kuno tentang Injil Barnabas – yang ditulis dalam bahasa Italia itu[1] – dipinjam oleh Kreamer (Kremer/Craemer), salah seorang penasehat Raja Prusia (Jerman), dari salah seorang bangsawan tua yang dihormati di Amsterdam (Belanda). Kemudian orang tersebut menghadiahkan naskah tersebut kepada Prince Iyougen Safway (Prince Jugen Savoy) pada tahun 1713 M. Lalu pada tahun 1738 M, naskah tersebut berpindah dari perpustakaan Prince Iyougen ke perpustakaan kerajaan di Fienna (Wina)[2]. Di sini naskah itu kemudian disalin oleh seorang sarjana Inggris ke dalam bahasa Inggris.
Belakangan ditemukan naskah Injil Barnabas dalam bahasa Spanyol, lalu dipinjam oleh Dr. Holm, seorang Orientalis dari Hardley di Hampshire, dan naskah itu kemudian pindah tangan kepada Dr. Minkhauss, seorang anggota (peneliti) King’s College di Oxford yang lalu menyalinnya ke dalam bahasa Inggris.

6. Pada tahun 1784 M, naskah Injil Barnabas berbahasa Spanyol dan salinannya yang dalam bahasa Inggris diserahkan kepada Dr. White. Kemudian Dr. White membandingkannya dengan salinan Injil Barnabas bahasa Inggris yang disalin dari Injil Barnabas berbahasa Italia. Ternyata tidak dijumpai perbedaan isi di antara kedua salinan tersebut. Kedua Injil tersebut menyatakan bahwa Yesus Kristus tidak disalib, karena yang tertangkap dan disalibkan itu adalah Judas Iskariot. Di dalamnya juga tidak disebut-sebut tentang ilahiat Yesus Kristus.

7. Kitab Injil Barnabas diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Doktor Khalil Sa’ada.

Berikut adalah pernyataan Alkitab tentang Barnabas:
“Barnabas ini orang yang baik hati dan dikuasai Roh Allah serta sangat percaya kepada Tuhan sehingga banyak orang mengikuti Tuhan.” (Kisah Rasul-rasul 11: 24)
“Maka Paulus dan Barnabas bertengkar keras sehingga mereka berpisah…” (Kisah Rasul-rasul 15: 39)

Kitab Injil Barnabas mengungkapkan sejarah perjalanan hidup Yesus dengan susunan kalimat yang sangat indah dan terperinci. Dalam Injil yang dinisbatkan kepadanya ini, disebutkan bahwa ia adalah salah seorang dari 12 Hawariyyin (12 Apostles atau 12 murid utama Yesus). Lingkup penjelasannya sangat luas dan jauh berbeda dengan keempat Injil lain yang diakui oleh gereja. Di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Yesus adalah hamba Allah dan rasul utusan Allah. Ditegaskan bahwa ia bukan Tuhan dan juga mengingkari sebagai anak Tuhan.
2. Adz-Dzabiih’ yang diperintahkan Allah untuk disembelih oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah Nabi Ismail ‘alaihissalam.
3. Akan datang Muhammad (disebutkan namanya dengan jelas) dan terdapat pembenaran tentang bakal didatangkan-Nya Al-Qur’an (padahal saat itu Muhammad dan Al-Qur’an belum ada).
4. Yang disalib bukan Yesus, tetapi Yahudza al-Askharyuti (Judas Iskariot) sang penghianat yang wajahnya diserupakan oleh Allah dengan wajah Yesus.
5. Menetapkan pokok-pokok keyakinan yang tidak terjamah oleh tangan-tangan jahil yang gemar mengubah-ubah.

Meskipun demikian, gereja tetap menolak untuk mengakui Injil Barnabas, hanya karena isinya tidak sejalan dengan akidah yang telah ditambah, dikurangi ataupun dirobah, yang telah (terlanjur) diterima oleh seluruh dewan gereja di dunia

Alkitab Menurut Para Peneliti

Berikut adalah pendapat dari para peneliti, penyelidik, dan pengkaji dari kalangan cendikiawan dunia tentang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang dikutip dari buku Muhammad dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an, yang ditulis oleh Ibrahim Khalil Ahmad (seorang pendeta Nasrani dan misionaris tingkat dunia yang masuk Islam saat berusaha mendapatkan gelar doktor dalam disiplin Ilmu Falsafah dan Ketuhanan di Bronstone University, Amerika Serikat):
1. Sir Arthur Findly, dalam bukunya Alam Yang Terbentang, halaman 119, mengatakan: “Hendaknya setiap insan mengetahui bahwa tidak ada satu pun naskah asli yang berkenaan dengan kisah kehidupan Almasih.”

2. Herder, pada tahun 1796 M pernah menyatakan:“Penjelasan tentang Almasih dalam Injil Matius, Injil Markus, dan Injil Lukas, sangat berbeda dengan penjelasan yang terdapat dalam Injil Yohanes.”

3. Doktor W. F. Albert, seorang pakar ilmu kepurbakalan (arkeolog dunia), ketika membuat pernyataan atas ditemukannya kertas berisi tulisan tangan kuno yang disembunyikan dalam sebuah gentong yang ditanam di sebuah galian di bawah gunung dekat Laut Mati, mengatakan: “Tidak ada sedikit pun keraguan tentang kebenaran tulisan tangan yang tertanam itu (keasliannya), yang akan membuat revolusi atas pemikiran kita tentang agama Masehi.”

4. Pendeta Dr. Charles Francis Buto, dalam bukunya Tahun-Tahun Yesus Yang Hilang Telah Ditemukan, pada halaman 127 mengatakan: “Kita sekarang memiliki bukti-bukti yang cukup, yang menunjukkan bahwa tulisan tangan itu pada hakikatnya merupakan anugerah Allah bagi umat manusia. Sebab, setiap lembaran yang kita buka (dari kertas kuno yang ditemukan di Laut Mati itu) menjadi bukti baru bahwa Yesus, seperti ia mengatakan tentang dirinya, adalah anak manusia (bukan anak Tuhan). Injil Barnabas yang tidak dianggap bahkan dilecehkan, ternyata peninggalan berupa tulisan tangan yang ditemukan di Laut Mati itu malah menguatkannya.”

5. Pada tahun 1958 M, ditemukan lagi sebuah tulisan tangan kuno di Sinai. Para penyelidik berkata: “Peninggalan berupa tulisan tangan yang terakhir itu tertulis dalam bahasa Ad-Diimuuthiiqiyah, yang ditulis oleh yang mulia Markus, salah seorang Hawariyyin. Di dalamnya dikisahkan sejarah perjalanan Yesus yang tidak sesuai dengan yang dikisahkan dalam ajaran Masehi yang sekarang.”

Polusi Akidah dari Romawi dan Yunani

Setelah kepergian Yesus, ajarannya mulai meluas ke berbagai daerah, antara lain ke Afrika Utara dan Asia Barat. Dalam masa perkembangannya itu, ajaran Yesus mulai bersentuhan dengan kebudayaan-kebudayaan lain, sehingga terjadi konflik yang sulit terhindarkan antara para pengikut Yesus (yang masih murni) dengan para penguasa setempat.

Terutama di Yunani, agama ini sedikit demi sedikit mengalami “metamorfosa”, yaitu perubahan bentuk, dengan warna kebudayaan dan filsafat Yunani. Padahal, bangsa Yunani pada waktu itu mempercayai adanya banyak tuhan (polytheisme). Dari proses “metamorfosa” itulah akhirnya Yesus “diangkat” menjadi salah satu unsur dari trinitas, yang diidentikkan sebagai tuhan mitra yang mengalami kesengsaraan karena menebus dosa manusia.

Sejarah mencatat bahwa kaisar-kaisar Romawi sebelum Konstantin, adalah para Paganisme, yaitu para pemuja dewa-dewa dan dewi-dewi menurut mitologi Yunani dan Romawi. Seperti terhadap Dewa Zeus (Jupiter), Dewi Hera (Juno), Dewa Apollon (Apollo), Dewi Artemis (Diana), Dewa Ares (Mars), Dewi Aphrodite (Venus), Dewa Dionysos (Bacchus), dan lain lain.

Sementara di kalangan rakyat umum, telah berkembang secara meluas ajaran misteri (mystery religions) dengan upacara-upacara misteri yang biasa dilakukan oleh masing-masing kelompok. Sebuah mitologi yang sangat terkenal dari ajaran misteri itu adalah, bahwa Dewa Adonis sengaja mengorbankan dirinya untuk kepentingan manusia, sehingga membuat sang Ibu (Mater Dolorosa) amat berdukacita karenanya. Tetapi dikatakan, bahwa itu adalah atas kehendak Dewa-Bapa yang menaruh belas kasihan atas penderitaan umat manusia.

Kaisar Caligula (37-41 M), dengan berani mengatakan bahwa dirinya adalah Putra Dewa (Son of God), lalu memaksa rakyat umum dalam wilayah-wilayah imperium Roma untuk melakukan pemujaan terhadap patungnya. Sejarah juga mencatat bahwa kaisar-kaisar Roma selanjutnya sering melakukan penganiayaan dan pembunuhan terhadap umat Nasrani maupun umat Yahudi.

Alkitab Menurut Penelitian Ilmiah dan Sejarah

Para peneliti dan pengajar kitab Peranjian Lama dan Perjanjian Baru, telah membuktikan ketetapannya bahwa sesuai aturan main yang berlaku, dan berdasarkan penelitian ilmiah yang obyektif (bebas dari kemunafikan dan taklid buta), menyatakan tidaklah benar dan tidak sah penisbatan setiap bagian dari bagian yang ada dalam kedua kitab tersebut (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) kepada para nabi atau rasul yang di dalamnya disebutkan kenisbatannya kepada mereka.

Para peneliti yang mengkaji kedua kitab tersebut, menemukan banyak sekali kesalahan di dalamnya. Selain itu, antara nash yang satu dengan yang lainnya dalam kedua kitab itu tidak beraturan. Mereka pun memberikan contoh-contohnya (lihat kitab Izhaar al-Haqq, karya Rahmatullah al-Hindi).

Kalangan sejarawan Ahli Kitab menyatakan bahwa Taurat, Zabur dan semua isi kitab Perjanjian Lama – yang menjadi pegangan bangsa Yahudi sebelum kekuasaan Nebukadnezar – semuanya dinyatakan telah hilang setelah serbuan Raja Babilonia (Raja Babil) terhadap Yahudi. Akibat serbuan ini, orang Yahudi porak-poranda dan terusir dari bumi Palestina ke Babil. Orang-orang Yahudi mendakwa bahwa Uzraa, sang dukun (kahin), berhasil mengulang penulisannya setelah mendapat restu dari Raja Persia yang menaklukan penduduk Babil dan menduduki negeri mereka lalu mengembalikan bangsa Yahudi ke Palestina setelah mereka berada di pengasingan selama 50 tahun.

Injil yang merupakan kitab Rabbani yang Allah turunkan kepada Yesus (Nabi Isa ‘alaihissalam), telah sirna sejak abad pertama kedatangan agama Nasrani. Hal ini dikisahkan sendiri oleh ayat-ayat dalam Injil Matius dan Injil Markus (lihat kitab Muhadharat fi an-Nashraniyah, karya Syaikh Muhammad Abu Zahlah).

Penganut agama Nasrani (yang murni) berkali-kali mengalami penindasan, yaitu sejak diangkatnya Isa Almasih ke sisi-Nya hingga awal-awal abad ke-4 M. Peristiwa-peristiwanya persis seperti yang terjadi pada saat dakwah Yesus yang berakhir dengan usaha menyalibnya. Penindasan-penindasan tersebut dilakukan oleh kaisar-kaisar Romawi yang sebagiannya dipengaruhi atau didorong oleh orang-orang Yahudi. Penindasan-penindasan yang dilakukan oleh Imperium Romawi tersebut tercatat dalam sejarah sebagai berikut:
1. Pada masa Kaisar Nero (tahun 54-68 M). Ia menyebarkan fitnah bahwa mereka (pemeluk agama Nasrani) akan membakar kota Roma. Akibatnya, para pemeluk agama Nasrani kemudian dianiaya, disiksa bahkan dibantai.

2. Pada masa Kaisar Turjan/Trajanus (tahun 98-117M). Di masa kaisar ini, untuk menghindari kekejamannya maka para pemeluk agama Nasrani melakukan kebaktian agama secara sembunyi-sembunyi. Maka selanjutnya, penguasa ini mengeluarkan larangan kepada orang-orang yang melakukan kegiatan tersebut dengan ancaman hukuman berat dan siksaan pedih bagi pelanggarnya. Bahkan, sebagian penguasa (setempat) pada masa itu, menetapkan hukuman mati kepada setiap orang yang terbukti memeluk agama Nasrani.

3. Pada masa Kaisar Dickius (tahun 249-251 M), dikeluarkan perintah untuk melakukan penyiksaan massal kepada para pemeluk agama Nasrani.

4. Pada masa Kaisar Deklid Yanus/Diolectianus (tahun 284-305 M), dikeluarkan perintah untuk menghancurkan seluruh gereja umat Nasrani di Mesir, membakar semua kitab suci mereka, dan memenjarakan para uskup dan pendetanya. Para sejarawan dunia menyebutkan, akibat kekejaman ini 300 ribu orang dari bangsa Qibthi terbunuh.

Karena penindasan dan penganiayaan ini, umat Nasrani berdakwah semakin sembunyi-sembunyi. Kitab suci mereka banyak yang hilang sehingga mengancam eksistensi agama mereka. Kondisi yang demikian ini memberi peluang kepada musuh-musuh mereka, terutama dari kalangan Yahudi, untuk mengubah-ubah dan mengganti isi kitab suci agama Nasrani dengan berpura-pura memeluk agama Nasrani. Akibat pengubahan isi kitab suci ini, maka umat Nasrani terpecah menjadi beberapa golongan.

Di antaranya ada yang masih tetap meyakini bahwa Yesus adalah hamba dan utusan Allah. Kemudian ada yang meyakini bahwa Isa adalah sosok yang mencapai derajat ketuhanan. Dan ada pula yang percaya bahwa Isa adalah anak Tuhan.

Dalam kondisi yang tidak menguntungkan seperti itulah maka sanad sejarah agama Nasrani terputus. Tidak ada pertalian sejarah antara kitab suci dan penulisannya dengan orang-orang yang menurut mereka “yang menyusun kitab tersebut”. Maka sesuai aturan main yang berlaku (setelah melalui penelitian yang obyektif, bebas dari kemunafikan dan taklid buta) di kalangan cendikiawan dunia, dengan hilangnya sanad sejarah, maka secara otomatis nash-nash kedua kitab tersebut tidak bisa dipakai sebagai dalil.

Perkembangan agama Masehi ke berbagai daerah pada masa itu, merupakan ancaman bagi penguasa Romawi yang sedang menjajah Palestina. Maka agar tidak menggoyahkan kekuasaan Romawi di negara itu, para pengikut Yesus pun dikejar-kejar oleh tentara Romawi dengan dibantu oleh Yahudi Farisi dan Seduki.

Setelah itu, Paulus dari Tarsus yang mengaku mendapat mandat dari Yesus untuk menyebarkan Injil, berhasil menyusup ke jemaat pengikut setia Yesus. Hingga pada akhirnya ia dapat menggiring umat Nasrani untuk mempercayai bahwa Yesus adalah anak Tuhan, yang menebus dosa manusia dengan cara mengorbankan dirinya di tiang salib. Dan kelak, murid Paulus yang bernama Markus, menulis Injil Markus yang ternyata malah disahkan oleh gereja.

MULAI KAPAN YESUS DIYAKINI SEBAGAI TUHAN

Konstantin Menyelenggarakan Konsili Nicea 325 M

Kaisar Romawi, Konstantin Agung Pertama (306-337 M), memeluk agama Nasrani pada tahun 312 M karena ia merasa iba kepada kaum Nasrani yang terus menerus mengalami penindasan. Ia pun lalu memberikan keleluasaan kepada mereka untuk melakukan kebaktian secara terbuka.

Ketika itu, ia melihat permusuhan dan pertikaian antar kelompok Nasrani yang perlu segera diselesaikan. Maka ia menganggap perlu untuk campur tangan dalam urusan gereja. Untuk menyelesaikan pertikaian itu, ia bermaksud menjadikan satu kelompok Nasrani saja yang akan diakui dari sekian banyak kelompok yang ada. Sehubungan dengan itulah maka pada tahun 325 M ia memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Dewan Gereja se Dunia yang pertama (Konsili Nicea).

Konsili Nicea dihadiri oleh utusan dari segala penjuru negeri. Dalam acara yang dihadiri oleh 2.048 uskup itu, berlangsung dialog dan perdebatan tentang sosok Yesus. Dalam pertemuan itu terlihat bahwa pengikut Yesus terbagi menjadi beberapa kelompok, di antaranya:
1. Kelompok yang berpendapat bahwa Yesus adalah hamba dan rasul Allah sebagaimana para nabi dan rasul lainnya.
2. Kelompok yang berpendapat bahwa Yesus dan ibunya adalah tuhan selain Allah. Mereka yang berpendapat seperti ini adalah kaum Barbariah.
3. Kelompok yang berpendapat bahwa Yesus adalah bapak yang kedudukannya bagai bara api yang terpisah dari sumber bara api, yang cahayanya tidak berkurang karenanya. Pencetus ide ini adalah Sapilious.
4. Kelompok yang berpendapat bahwa Yesus adalah Tuhan. Yaitu kelompok yang berpegang kepada perkataan-perkataan Paulus.

Konstantin Menetapkan Yesus Sebagai Tuhan Sejak 325 M

Konstantin merasa bingung dengan keragaman pendapat para delegasi tersebut. Untuk memilih dan menetapkan pendapat yang dianggapnya paling baik, maka Konstantin memerintahkan para anggota delegasi untuk melakukan adu argumentasi.

Setelah adu argumentasi selesai, maka kaisar yang memeluk agama Nasrani semata-mata hanya karena dorongan rasa iba dan sama-sekali tidak mengenal pokok-pokok agamanya, kemudian cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Yang menurut pandangannya, pendapat ini lebih mendekati keyakinannya yang terdahulu sebelum memeluk agama Nasrani.

Konstantin lalu mengumpulkan kelompok yang cenderung kepada penuhanan Yesus dan mendudukkan mereka di hadapannya. Lalu sambil mengeluarkan cincin dan pedangnya ia berkata, “Aku mendukung kalian dengan kekuasaanku untuk berbuat apa saja demi tegaknya agama dan demi kebaikan orang-orang yang mengimaninya.” Sang kaisar kemudian memberkati mereka sambil mengayun-ayunkan pedangnya. Mereka berkata kepada sang kaisar, “Tegakkanlah agama Nasrani dan lindungilah dia!”

Selanjutnya Konstantin mengeluarkan dekrit yang tidak bisa diganggu-gugat berisi perintah membakar dan memusnahkan semua kitab yang menyalahi dan bertentangan dengan pemikiran yang telah ditetapkan. Dalam pertemuan itu juga diputuskan untuk menerima kitab Perjanjian Baru kecuali beberapa risalah. Namun pada pertemuan selanjutnya, dewan gereja sepakat menerimanya secara utuh.

Meskipun usaha tersebut telah dilaksanakan, perbedaan dan perselisihan paham terus berlangsung. Para penganut Nasrani yang murni masih melakukan ritual keagamaan tauhid. Hanya saja, dalam beberapa kurun waktu, para penguasa lebih cenderung kepada pemikiran bahwa Isa Almasih adalah Tuhan, sehingga semakin mengukuhkan akidah Nasrani yang baru itu dan semakin menguasai gereja-gereja. Seperti kita ketahui, bahwa akidah baru bagi agama Nasrani itu pertama kali dicetuskan oleh Paulus, lalu dikukuhkan dalam Konsili Nicea melalui “keputusan” Konstantin.

Demikianlah, mereka menetapkan semua karya tulis yang cocok dengan akidah baru itu dan menolak serta memusnahkan semua tulisan yang bertentangan dengannya atau menyalahinya. Padahal, siapa tahu di antara yang dimusnahkan itu justru terdapat salinan naskah Injil asli yang Allah turunkan kepada Nabi Isa AS.

Yang Menolak Ketuhanan Yesus Harus Dibunuh

Bishop Athanasius (293-373 M), yang menjabat sebagai Bishop (Uskup) di Alexandria, sebagai salah seorang yang memperkenalkan tuhan bapa dalam trinitas (divine trinity) juga tidak percaya terhadap doktrin itu. Dia sendiri sudah berusaha memaksakan pikiran dan hatinya untuk merenungkan konsep ketuhanan Yesus, tetapi ternyata dirinya sendiri tidak mau menerima Yesus sebagai Tuhan. Maka akhirnya ia berkeyakinan bahwa mustahil Tuhan itu tritunggal.

Patriarch Arius (wafat 336 M), yang menjabat Patriarch (Uskup Agung) di ibukota imperium Roma Timur, Constantinopel, paling gigih menentang konsep ketuhanan trinitas yang disahkan oleh Konstantin itu. Dia memperingatkan kepada seluruh pendeta bahwa Yesus itu bukan Tuhan, melainkan manusia biasa yang mendapat tugas dari Allah untuk membimbing bani Israel ke jalan Tuhan.

Karena sebagian besar pendeta Nasrani masih tidak mau menerima doktrin trinitas, maka Kaisar Konstantin dan gereja pengikut Paulus dengan menggunakan tentara kekaisaran Romawi berusaha membinasakan orang-orang yang menolak ketuhanan Yesus. Mereka menyiksa dengan kejam dan membunuh secara membabi-buta tanpa mengindahkan nilai kemanusiaan. Beribu-ribu orang menjadi korban keganasan mereka hanya karena mengingkari doktrin trinitas. Itulah contoh “kasih tuhan” yang dilakukan oleh “generasi awal” dewan gereja pengikut Paulus.

Pada saat itu, hanya ada dua pilihan bagi umat Nasrani, yaitu mempertahankan keyakinan bahwa Yesus bukan Tuhan dengan resiko disiksa dan dibunuh, atau menanggalkan keyakinannya (murtad) supaya selamat. Dan ternyata lebih banyak yang murtad. Dalam keadaan serba ketakutan seperti itu, mereka lupa bahwa Yesus telah meramalkan kejadian tersebut. Yesus berkata:
“Waspadalah, jangan sampai kalian tertipu. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata, ‘Aku (Yesus)-lah Raja Penyelamat (Juru Selamat)!’ “ (Matius 24: 4-5)
“Kemudian kalian akan ditangkap dan dibunuh. Seluruh dunia akan membenci kalian karena kalian pengikutku[3]. Pada waktu itu banyak orang akan murtad, dan membenci satu sama lain.” (Matius 24: 9-10)

Insya Allah bersambung…. (Jazakallah khair akhi Muhammad Herman)
——————–
Foot note:
[1] Penelitian terhadap jenis kertas yang digunakan dan cara penjilidannya, membuktikan bahwa naskah itu berasal dari abad ke-16 M. Kemungkinan, ada seorang Kristen yang hidup di abad tersebut yang menemukan Injil Barnabas yang asli lalu ia masuk Islam, kemudian menyalin naskah tersebut ke dalam bahasa Italia. Lalu karena suatu hal yang tidak diketahui, naskah itu jatuh ke tangan pihak Vatikan dan tersembunyi di sana.

[2] Injil Barnabas (The Gospel of Barnabas) yang penulis dapat, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Lonsdale dan Laura Ragg dari naskah berbahasa Itali yang ditemukan di The Imperial Library Wina, dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Rahnip M, BA., dengan diberi notasi ayat-ayat Al-Qur’an di bagian akhir buku.

[3] Pengikut Yesus yang meyakini bahwa Yesus bukan Tuhan atau bukan Anak Tuhan akan disiksa dan dibunuh.

SISTEM PENGABARAN INJIL DEWASA INI

Menjelaskan Ketuhanan Dengan Perumpamaan

Di masa sekarang, para misionaris gereja menyebarkan Injil melalui berbagai cara. Di antaranya melalui “diakona” (pelayanan masyarakat) agar orang tertarik atas kebaikan misionaris Nasrani. Mereka juga melakukan “brain washing” (cuci otak) dengan menggunakan teologi dan filsafat pada manusia, yaitu berupa pendapat-pendapat pribadi buatan manusia yang sudah barang tentu tidak ada ayatnya di dalam Alkitab. Di antara mereka ada yang berkata bahwa orang tidak akan dapat memahami dogma trinitas sebelum memeluk agama Nasrani.

Sebagai contoh, mereka mengatakan bahwa apabila seseorang hanya melihat sebuah rumah dari luar, tanpa memasuki rumah itu, maka orang itu tidak akan dapat mengetahui hakikat rumah itu. Orang itu tidak akan dapat melihat keindahan ruang tamu, bentuk kamar dan lain sebagainya. Begitu pula setiap manusia, dia tidak akan dapat mengenali kebenaran trinitas kecuali dengan masuk agama Nasrani.

Para teolog Nasrani memberi perumpamaan Trinitas dengan sebuah ruangan. Satu ruangan harus terdiri dari tiga unsur, yaitu panjang, lebar dan tinggi. Jika salah satunya tidak ada maka tidak akan ada ruangan. Begitu pula tuhan, Ia harus terdiri dari tiga oknum, jika salah satunya tidak ada maka tidak akan ada Tuhan.

Ada juga yang memberi perumpamaan trinitas dengan H2O, yaitu bisa berupa air, uap dan es. Tetapi pada hakikatnya, ketiga wujud itu adalah satu yaitu H2O. Demikian pula Tuhan Allah, walaupun berbeda wujud (Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus), tetapi pada hakikatnya mereka adalah satu.

Argumentasi tersebut seakan-akan benar. Tetapi masalahnya, di dalam Alkitab telah dikatakan bahwa Allah tidak bisa disamakan atau diumpamakan dengan apa pun juga (Mazmur 86: 8; Yesaya 40: 25; 2 Samuel 7: 22).

Maka jika perumpamaan di atas tetap dipakai untuk membuktikan kebenaran trinitas, kesalahannya justru akan semakin fatal. Sebab:
1. Jika Tuhan diidentifikasikan dengan ruangan yang harus terdiri dari tiga unsur, berarti Tuhan terdiri dari tiga unsur juga. Sekaligus menunjukkan bahwa Tuhan terbentuk dari tiga unsur. Artinya, Tuhan tercipta dari unsur-unsur. Bukan sebagai pencipta. Ini jelas menyesatkan.

2. Jika Tuhan diumpamakan dengan air, uap dan es yang pada hakikatnya adalah H2O, maka perlu disadari bahwa molekul H2O juga terdiri dari tiga unsur, yaitu dua atom hidrogen dan satu atom oksigen. Artinya, Tuhan tercipta dari unsur-unsur. Bukan sebagai pencipta. Ini juga jelas menyesatkan.

3. Mengenai orang tidak bisa memahami trinitas sebelum masuk agama Nasrani, maka dapat dikatakan bahwa doktrin trinitas itu hanyalah ilusi yang dipaksakan pada diri seseorang. Sehingga siapa saja yang telah terjerat dalam ilusi tersebut, maka dia tidak akan dapat, atau minimal sulit untuk keluar lagi.

Melakukan Perubahan Dalam Alkitab

Di dalam Alkitab dikatakan, siapa pun tidak boleh merubah, mengurangi atau menambahkan perkataan apa pun di dalam Alkitab (Wahyu 22: 18-19), tetapi ternyata, mereka sendiri yang melanggarnya. Sebagai contoh:

Dalam Alkitab tahun 1968 yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, Imamat 11: 7 berbunyi:
“Demikian juga babi, meskipun berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu.”

Sedangkan dalam Alkitab tahun 1979 berbunyi:
“Demikian juga babi hutan, karena berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu.”

Samakah antara babi dengan babi hutan? Sudah pasti tidak sama. Karena jika yang dimaksud adalah babi, maka artinya: babi apa saja, haram untuk dimakan. Tapi bila sudah ditambah walau hanya satu kata, menjadi babi hutan, maka maknanya telah berubah, yaitu: babi apa saja (termasuk babi peliharaan) boleh dimakan, kecuali babi hutan. Atau, bisa saja nanti diganti lagi menjadi babi planet Mars, sehingga babi jenis apa pun yang ada di planet bumi ini boleh dimakan.

Dalam The Holy Bible, New International Version , Ulangan 18: 18 berbunyi:
“I will raise up for them a prophet like you from among their brothers. I will put My words in his mouth, and he will tell them everything I command him.”

(Aku akan membangkitkan bagi mereka seorang nabi seperti kamu dari antara saudara mereka. Aku akan menempatkan firman-Ku dalam mulutnya, dan dia akan mengatakan kepada mereka apa yang Aku perintahkan kepadanya)

Dalam The Children’s Living Bible , Ulangan 18: 18 berbunyi:
“I will raise up from among them a prophet, an Israeli like you. I will tell him what to say and he shall be My spokesman to the people.”

(Aku akan membangkitkan seorang nabi dari antara mereka, seorang Israel seperti kamu. Aku akan mengatakan kepadanya apa yang harus dikatakan, dan dia akan menjadi juru bicara-Ku kepada manusia)

Samakah antara an Israeli (seorang bangsa Israel) dengan their brothers (saudara-saudara mereka)? Sudah pasti tidak sama. Untuk memudahkan melihat perbedaannya, dapat dijabarkan sebagai berikut:

Ishak X Saudaranya Ishak (Ismail)
Saudaranya Ishak (Ismail) bukanlah Ishak

Bangsa Israel X Saudaranya bangsa Israel (Arab)
Bangsa Arab bukanlah bangsa Israel

Di dalam Alkitab yang sekarang, Markus 16 berakhir pada ayat 20.
Tetapi pada The Children Counselor’s New Testament , Markus 16 berakhir hanya sampai ayat 8 (copy dari aslinya terlampir, lihat: Lampiran I). Pada bagian akhir terdapat footnote yang berbunyi,
“This verses are omitted by the better MSS. An alternative shorter ending is found in some.”

(Ayat-ayat ini dihapus oleh terjemah MSS yang lebih baik/terbaik. Pemotongan seperti ini dapat ditemukan dalam beberapa versi Alkitab).

Tetapi anehnya, meskipun sudah tahu pada dua manuskrip tertua tidak terdapat ayat 9-20 pada Markus 16, dan ini sudah dinyatakan di dalam Alkitab itu sendiri, ternyata Markus 16: 9-20 masih dicantumkan pula. Silakan lihat dalam The Holy Bible, New International Version . Di sana dapat kita lihat adanya garis pemisah antara Markus 16: 8 dengan ayat 9-20. Lalu di bawah garis tersebut tertulis, “The two reliable early manuscripts do not have Markus 16: 9-20.” (lihat: Lampiran II).

Sementara di dalam Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, kita dapat melihat adanya ayat 9-20.

Silakan lihat penjelasan dari Lembaga Biblika Indonesia pada Lampiran III, dan simpulkan sendiri bagaimana sikap para pemuka agama Nasrani terhadap masalah tersebut.

Mengikuti Ajaran Paulus yang Semanis Madu

Apabila kita membaca ayat-ayat yang ada di dalam Alkitab, dengan mudah akan kita saksikan bahwa Alkitab itu terdiri dari tiga kriteria, yaitu: (1) Firman Allah; (2) Sabda Rasul Allah; (3) Karangan Manusia Biasa.

Karena itulah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran , padahal kamu mengetahui?” (Ali ‘Imran, QS 3: 71)

“Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya .” (Al Maa-idah, QS 5: 13)

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakan, ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al Baqarah, QS 2: 79)

Dari tiga kriteria ayat-ayat Alkitab, yang dijadikan pegangan umat Nasrani sampai saat ini ternyata dari kriteria yang ketiga, yaitu Karangan Manusia Biasa (tulisan Paulus), meskipun isinya jelas-jelas bertentangan dengan dua kriteria lainnya.

Beberapa di antara ayat “ciptaan” Paulus, yang kemudian dijadikan sebagai pegangan adalah:

1. Yesus Sebagai “Anak Allah”
Di dalam surat yang ditujukan kepada Jemaat di Roma dan Galatia, Paulus mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah; dalam surat yang ditujukan kepada Jemaat di Korintus, dikatakan bahwa Allah Bapa yang bertahta di surga itu mempunyai Anak Sulung yang sudah ada sebelum segala sesuatu diciptakan dan segala sesuatu diciptakan melalui dia. Yaitu dalam ayat:
“Kabar Baik itu mengenai Anak Allah, Tuhan kita Yesus Kristus. Secara manusiawi, ia adalah keturunan Daud. Tetapi secara ilahi Ia ternyata adalah Anak Allah.” (Roma 1: 3-4)

“Sekarang bukan lagi saya yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri saya. Hidup ini yang saya hayati sekarang adalah hidup oleh iman kepada Anak Allah yang mengasihi saya dan telah mengurbankan dirinya untuk saya.” (Galatia 2: 20)

“Tetapi bagi kita, Allah hanya satu. Ia Bapa yang menciptakan segala sesuatu. Untuk Dialah kita hidup. Dan Tuhan hanya satu juga, yaitu Yesus Kristus. Melalui Dia segala sesuatu diciptakan, dan karena Dialah maka kita hidup.” (1 Korintus 8: 6)

2. Cukup Percaya ‘Yesus Itu Tuhan’ Akan Selamat

Di dalam surat yang ditujukan kepada Jemaat di Roma, Paulus mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan siapa saja yang mau percaya bahwa Yesus adalah 100%Tuhan (yang juga 100% manusia), maka orang itu akan selamat, meskipun selalu berbuat maksiat (melanggar larangan-larangan yang ada di dalam Alkitab); dan di dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia, dikatakan tidak perlu beribadah, cukup percaya saja.

“Sebab kalau saudara mengaku dengan mulutmu bahwa ‘Yesus itu Tuhan’, dan saudara percaya dalam hatimu bahwa Allah sudah menghidupkan Yesus dari kematian, maka saudara akan selamat.” (Roma 10: 9)

“Meskipun begitu kami tahu bahwa orang berbaik kembali dengan Allah hanya karena percaya kepada Yesus Kristus, dan bukan karena menjalankan hukum agama. Kami sendiri pun percaya kepada Yesus Kristus, supaya kami berbaik dengan Allah melalui iman kami itu, bukan karena kami menjalankan hukum agama. Sebab dengan menjalankan hukum agama, tidak seorang pun bisa berbaik kembali dengan Allah.” (Galatia 2: 16)

Itulah ayat-ayat buatan Paulus yang sampai saat ini dijadikan pegangan oleh umat Nasrani meskipun jelas-jelas bertentangan dengan apa yang telah disampaikan oleh Yesus sendiri di dalam Alkitab. Yesus berkata,
”Ingatlah! Semua hak sebagai umat Allah akan dicabut daripadamu dan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menjalankan perintah-perintah Allah (bukan hanya mengimani saja).” (Matius 21: 43).
Dari sini jelaslah sudah, bahwa sebenarnya umat Nasrani sekarang ini bukanlah pengikut Yesus, melainkan pengikut Paulus.

Maka tidak perlu heran kalau Michael H. Hart, seorang ilmuwan terkemuka dunia mengatakan,
”Paulus, lebih dari orang-orang lainnya, bertanggung jawab terhadap peralihan agama Kristen dari sekte Yahudi menjadi agama besar di dunia. Ide sentralnya tentang kesucian Yesus dan pengakuan berdasarkan percaya semata tetap merupakan dasar pemikiran Kristen sepanjang abad-abad berikutnya. Belakangan semua teolog Kristen, termasuk Agustine, Aquinas, Luther, dan Calvin terpengaruh Paulus. Sampai-sampai banyak sarjana beranggapan bahwa Paulus-lah pendiri agama Kristen, bukannya Yesus.” (The 100, A Ranking of the Most Influential Persons in History, edisi Indonesia: Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, hlm. 60-61).

Mengatakan Al-Qur’an Bukan Wahyu Allah

Untuk menggoyahkan akidah umat Islam, tak jarang dan tak sedikit dari mereka yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu bukan wahyu Allah (bukan firman Tuhan), tetapi hanya karangan Muhammad saja. Ada pula yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah hasil jiplakan Alkitab. Tetapi liciknya, semua tuduhan itu dilontarkan tanpa bukti-bukti yang konkrit dan ilmiah.

Bagi umat Islam, sebenarnya tidak menjadi masalah bila orang-orang non-Muslim meragukan keaslian Al-Qur’an sebagai wahyu Allah atau mengatakan hasil jiplakan Alkitab bila itu dikatakan di kalangan mereka sendiri. Tetapi akan menjadi masalah bila tuduhan tanpa bukti itu dijadikan sebagai “modal” untuk memurtadkan umat Islam, terutama yang masih awam terhadap ajarannya sendiri.

Karena itu, bila ada di antara umat Islam yang bertemu dengan salah seorang dari mereka yang mengeluarkan tuduhan-tuduhan tersebut, penulis sarankan, sampaikanlah kepada mereka dua ayat saja dari Al-Qur’an, dan mintalah mereka untuk membuktikan dengan “ilmu” yang mereka miliki, secara ilmiah berikut dalil-dalilnya, bahwa ayat-ayat tersebut adalah karangan Muhammad atau hasil menjiplak dari Alkitab. Sebelumnya, katakan kepada mereka, “Kalau kamu orang yang benar, buktikan 2 ayat saja dari Al-Qur’an, bahwa itu adalah karangan Muhammad atau hasil jiplakan Alkitab. Tetapi kalau kamu tidak bisa, dan kamu pasti tidak akan bisa, berarti kamu bukanlah orang yang benar, melainkan orang yang sesat.”

Dua ayat tersebut adalah:
1. Surat Ar Rahman, QS 55: 19-21:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِ فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Dia (Allah) mengalirkan dua (macam) laut (air tawar dan air asin) bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampauinya (sehingga keduanya tidak bercampur). Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?”

Air Asin / — (batas)— / Air Tawar

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sekolah, tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Bagaimana mungkin beliau bisa tahu (kalau bukan dari Allah) bahwa bila air asin dan air tawar bertemu, maka keduanya tidak akan bercampur, atau tidak terjadi osmosis? Apalagi sejak dulu tanah Arab miskin air. Sanggupkah seorang yang tidak sekolah, tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis, mengarang ayat dengan kandungan ilmiah yang baru bisa diketahui oleh para ilmuwan setelah lebih dari seribu tahun kemudian? Atau, adakah di dalam Alkitab ayat yang sama seperti itu sehingga bisa dijiplak?

2. Surat Al An’aam, QS 6: 125:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ

“Maka barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (tetap dalam) kesesatan, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki (naik) ke langit.”

Bagaimana mungkin Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa tahu (kalau bukan dari Allah) bahwa apabila manusia naik ke langit (ke angkasa), maka dadanya akan sempit dan sesak, karena tidak ada oksigen? Apakah beliau pernah menjadi astronout? Atau, adakah dalam Alkitab ayat yang sama seperti itu sehingga bisa dijiplak?

Karena Al-Qur’an itu adalah wahyu Allah, maka kebenarannya akan tetap terjaga sampai akhir zaman, sehingga mustahil ilmu pengetahuan setinggi apa pun menggugurkan kandungannya. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu semakin menguatkannya. Sedangkan Alkitab, terbukti bahwa satu demi satu ayatnya akan gugur, karena sudah tidak sesuai lagi dan bahkan bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

Sebagai pembuktian bahwa ayat-ayat Al-Qur’an akan selalu terjaga kebenarannya sampai akhir zaman dan selalu sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, akan penulis kemukakan satu pokok permasalahan, yaitu mengenai Alam Semesta. Kita lihat bagaimana Al-Qur’an berbicara tentang masalah tersebut.

Para ilmuwan membutuhkan waktu berabad-abad lamanya untuk mengetahui bahwa matahari, bumi, planet-planet dan benda-benda angkasa lainnya, pada awalnya berupa nebula (sekumpulan bintang di langit yang tampak seperti massa debu dan gas berpijar yang bercahaya di ruang angkasa). Kemudian, bumi terpisah dari kumpulan tersebut. Dalam hal ini, para ilmuwan mengatakan,
“Milyaran tahun yang lalu alam semesta kita adalah sebuah bagian zat, dan kemudian terjadi sebuah ‘Big Bang’ (ledakan besar) di pusat gumpalan zat raksasa tersebut dan bongkahan zat yang kuat itu mulai beterbangan ke segala arah. Dari ‘Big Bang’ tersebut sistem solar kita berasal, begitu juga galaksi, dan sejak itu tidak ada pertahanan di angkasa terhadap momentum yang dibangkitkan oleh ledakan awal, bintang-bintang dan planet-planet berotasi dalam orbitnya.”

Siapa pun mengetahui, bahwa pengetahuan tersebut mustahil diketahui orang yang hidup 14 abad yang lalu. Tetapi lihatlah, apa yang dikatakan Al-Qur’an 14 abad yang lalu,

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ

“Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al Anbiyaa’, QS 21: 30).

Di dalam Alkitab dikatakan,
“Segala sesuatu harus diuji, dan yang baik (yang lebih benar) harus diikuti.” (1 Tesalonika 5: 21)

Demikianlah, apa yang penulis sampaikan di atas, semua hanya akan semakin mengukuhkan firman-Nya,

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ثُمَّ كَفَرْتُمْ بِهِ مَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ هُوَ فِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ

“Katakanlah: ‘Bagaimana pendapatmu jika (Al-Qur’an) itu datang dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya. apakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?’” (Fushshilat, QS 41: 52).

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.” (Fushshilat, QS 41: 53).

Menyembah Thaghut Berarti Menyembah Syaitan.

Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa kecuali syirik. Sedangkan perbuatan menyembah Yesus, adalah termasuk perbuatan syirik yang tak mungkin diampuni Allah kecuali orang tersebut meninggalkannya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisaa’, QS 4: 48)

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang dikehendakinya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (An Nisaa’, QS 5: 116)

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلا شَيْطَانًا مَرِيدًا

“Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka.” (An Nisaa’, QS 4: 117)

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلا غُرُورًا أُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلا يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصًا

“Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka. Mereka itu tempatnya Jahanam dan mereka tidak memperoleh tempat lari daripadanya.” (An Nisaa’, QS 4: 120-121)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الأرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

”Sungguh telah kafir mereka yang berkata, ’Sesungguhnya Allah ialah Almasih putra Maryam.’ Katakanlah, ’Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Almasih putra Maryam itu beserta ibunya dan orang-orang yang ada di bumi seluruhnya?’ Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi beserta apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang dikehendakinya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Maa-idah, QS 5: 17)

Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an di atas, jelaslah sudah bahwa Thaghut yang disembah oleh orang-orang non-Muslim, tidak lain adalah syaitan yang hanya dapat memberikan janji dan angan-angan kosong dengan tipuan belaka.

Tidak akan ada keselamatan terutama di akhirat nanti bagi umat manusia di zaman ini, termasuk jin, kecuali dengan beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wan sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلا

“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya (selain) dari Allah?” (An Nisaa’, QS 4: 122)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya (kecuali syirik). Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengampun.” (Az Zumar, QS 39: 53)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 27, 2009 in Kristologi, Seputar Mualaf

 

2 responses to “PEGANGAN AHLI KITAB DAN KONTROVERSINYA

  1. Mujahid

    Januari 20, 2011 at 2:17 am

    YA akhi,,, beruntunglah Allah telah memilih antum menjadi muslim, kami yang sedari kecil dilahirkan menjadi muslim (itupun karena keturunan) belum tentu terpilih menjadi muslim beneran bila kami tidak mendapat hidayah dari allah,,, masya allah..

     
  2. teguh wrihatno

    Februari 3, 2011 at 3:38 pm

    Assalammu’alaikum wr.wb.

    Subhanallah….lengkap dan indah sekali paparannya….
    Boleh ane kopi paste or ambil beberapa kalimat tuk pencerahan ane….tentunya ane cantumkan sumbernya…
    Jazakumullhan Khairan Katsira….
    Wassalamu’alaikum wr.wb

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: