RSS

Arsip Harian: Juni 27, 2009

Hadist hadist palsu tentang puasa dan amalan di bulan rajab

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Apabila kita memperhatikan hari-hari, pekan-pekan, bulan-bulan, sepanjang tahun serta malam dan siangnya, niscaya kita akan mendapatkan bahwa Allah Yang Maha Bijaksana mengistimewakan sebagian dari sebagian lainnya dengan keistimewaan dan keutamaan tertentu. Ada bulan yang dipandang lebih utama dari bulan lainnya, misalnya bulan Ramadhan dengan kewajiban puasa pada siangnya dan sunnah menambah ibadah pada malamnya. Di antara bulan-bulan itu ada pula yang dipilih sebagai bulan haram atau bulan yang dihormati, dan diharamkan berperang pada bulan-bulan itu.

Allah juga mengkhususkan hari Jum’at dalam sepekan untuk berkumpul shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah yang berisi peringatan dan nasehat.

Ibnul Qayyim menerangkan dalam kitabnya, Zaadul Ma’aad,[1] bahwa Jum’at mempunyai lebih dari tiga puluh keutamaan, kendatipun demikian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengkhususkan ibadah pada malam Jum’at atau puasa pada hari Jum’at, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at untuk beribadah dari malam-malam yang lain dan jangan pula kalian mengkhususkan puasa pada hari Jum’at dari hari-hari yang lainnya, kecuali bila bertepatan (hari Jum’at itu) dengan puasa yang biasa kalian berpuasa padanya.” [HR. Muslim (no. 1144 (148)) dan Ibnu Hibban (no. 3603), lihat Silsilatul Ahaadits ash-Shahihah (no. 980)]

Allah Yang Mahabijaksana telah mengutamakan sebagian waktu malam dan siang dengan menjanjikan terkabulnya do’a dan terpenuhinya permintaan. Demikian Allah mengutamakan tiga generasi pertama sesudah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka dianggap sebagai generasi terbaik apabila dibandingkan dengan generasi berikutnya sampai hari Kiamat. Ada beberapa tempat dan masjid yang diutamakan oleh Allah dibandingkan tempat dan masjid lainnya. Semua hal tersebut kita ketahui berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan contoh yang benar.

Adapun tentang bulan Rajab, keutamaannya dalam masalah shalat dan puasa padanya dibanding dengan bulan-bulan yang lainnya, semua haditsnya sangat lemah dan palsu. Oleh karena itu tidak boleh seorang Muslim mengutamakan dan melakukan ibadah yang khusus pada bulan Rajab.

Di bawah ini akan saya berikan contoh hadits-hadits palsu tentang keutamaan shalat dan puasa di bulan Rajab.

HADITS PERTAMA
“Artinya : Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku”

Keterangan: HADITS INI “ MAUDHU’

Kata Syaikh ash-Shaghani (wafat th. 650 H): “Hadits ini maudhu’.” [Lihat Maudhu’atush Shaghani (I/61, no. 129)]. Hadits tersebut mempunyai matan yang panjang, lanjutan hadits itu ada lafazh:

“Artinya : Janganlah kalian lalai dari (beribadah) pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab, karena malam itu Malaikat menamakannya Raghaaib…”
Keterangan: HADITS INI MAUDHU’

Kata Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H): “Hadits ini diriwayatkan oleh ‘Abdur Rahman bin Mandah dari Ibnu Jahdham, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad bin Sa’id al-Bashry, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin ‘Abdullah as-Shan’any, dari Humaid Ath-Thawil dari Anas, secara marfu’. [Al-Manaarul Muniif fish Shahih wadh Dha’if (no. 168-169)]

Kata Ibnul Jauzi (wafat th. 597 H): “Hadits ini palsu dan yang tertuduh memalsukannya adalah Ibnu Jahdham, mereka menuduh sebagai pendusta. Aku telah mendengar Syaikhku Abdul Wahhab al-Hafizh berkata: “Rawi-rawi hadits tersebut adalah rawi-rawi yang majhul (tidak dikenal), aku sudah periksa semua kitab, tetapi aku tidak dapati biografi hidup mereka.” [Al-Maudhu’at (II/125), oleh Ibnul Jauzy]
Imam adz-Dzahaby berkata: “ ’Ali bin ‘Abdullah bin Jahdham az-Zahudi, Abul Hasan Syaikhush Shuufiyyah pengarang kitab Bahjatul Asraar dituduh memalsukan hadits.”
Kata para ulama lainnya: “Dia dituduh membuat hadits palsu tentang shalat ar-Raghaa’ib.” [Periksa: Mizaanul I’tidal (III/142-143, no. 5879)]

HADITS KEDUA
“Artinya : Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan lainnya seperti keutamaan al-Qur’an atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya’ban seperti keutamaanku atas para Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan seperti keutamaan Allah atas semua hamba.”
Keterangan: HADITS INI MAUDHU’

Kata al Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany: “Hadits ini palsu.” [Lihat al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’ (no. 206, hal. 128), oleh Syaikh Ali al-Qary al-Makky (wafat th. 1014 H)]

HADITS KETIGA:
“Artinya : Barangsiapa shalat Maghrib di malam pertama bulan Rajab, kemudian shalat sesudahnya dua puluh raka’at, setiap raka’at membaca al-Fatihah dan al-Ikhlash serta salam sepuluh kali. Kalian tahu ganjarannya? Sesungguhnya Jibril mengajarkan kepadaku demikian.” Kami berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, dan berkata: ‘Allah akan pelihara dirinya, hartanya, keluarga dan anaknya serta diselamatkan dari adzab Qubur dan ia akan melewati as-Shirath seperti kilat tanpa dihisab, dan tidak disiksa.’”
Keterangan: HADITS MAUDHU’

Kata Ibnul Jauzi: “Hadits ini palsu dan kebanyakan rawi-rawinya adalah majhul (tidak dikenal biografinya) .” [Lihat al-Maudhu’at Ibnul Jauzy (II/123), al-Fawaa’idul Majmu’ah fil Ahaadits Maudhu’at oleh as-Syaukany (no. 144) dan Tanziihus Syari’ah al-Marfu’ah ‘anil Akhbaaris Syanii’ah al-Maudhu’at (II/89), oleh Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad bin ‘Araaq al-Kinani (wafat th. 963 H).]

HADITS KEEMPAT
“Artinya : Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab dan shalat empat raka’at, di raka’at pertama baca ‘ayat Kursiy’ seratus kali dan di raka’at kedua baca ‘surat al-Ikhlas’ seratus kali, maka dia tidak mati hingga melihat tempatnya di Surga atau diperlihatkan kepadanya (sebelum ia mati)”
Keterangan: HADITS INI MAUDHU’

Kata Ibnul Jauzy: “Hadits ini palsu, dan rawi-rawinya majhul serta seorang perawi yang bernama ‘Utsman bin ‘Atha’ adalah perawi matruk menurut para Ahli Hadits.” [Al-Maudhu’at (II/123-124) .]
Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany, ‘Utsman bin ‘Atha’ adalah rawi yang lemah. [Lihat Taqriibut Tahdziib (I/663 no. 4518)]

HADITS KELIMA
“Artinya : Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab (ganjarannya) sama dengan berpuasa satu bulan.”
Keterangan: HADITS INI SANGAT LEMAH

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hafizh dari Abu Dzarr secara marfu’. Dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama al-Furaat bin as-Saa’ib, dia adalah seorang rawi yang matruk. [Lihat al-Fawaa-id al-Majmu’ah (no. 290)]
Kata Imam an-Nasa’i: “Furaat bin as-Saa’ib Matrukul hadits.” Dan kata Imam al-Bukhari dalam Tarikhul Kabir: “Para Ahli Hadits meninggalkannya, karena dia seorang rawi munkarul hadits, serta dia termasuk rawi yang matruk kata Imam ad-Daraquthni.” [Lihat adh-Dhu’afa wa Matrukin oleh Imam an-Nasa’i (no. 512), al-Jarh wat Ta’dil (VII/80), Mizaanul I’tidal (III/341) dan Lisaanul Mizaan (IV/430).]

HADITS KEENAM
“Artinya : Sesungguhnya di Surga ada sungai yang dinamakan ‘Rajab’ airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu, barangsiapa yang puasa satu hari pada bulan Rajab maka Allah akan memberikan minum kepadanya dari air sungai itu.”
Keterangan: HADITS INI BATHIL

Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Dailamy (I/2/281) dan al-Ashbahany di dalam kitab at-Targhib (I-II/224) dari jalan Mansyur bin Yazid al-Asadiy telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Imran, ia berkata: “Aku mendengar Anas bin Malik berkata, …”
Imam adz-Dzahaby berkata: “Mansyur bin Yazid al-Asadiy meriwayatkan darinya, Muhammad al-Mughirah tentang keutamaan bulan Rajab. Mansyur bin Yazid adalah rawi yang tidak dikenal dan khabar (hadits) ini adalah bathil.” [Lihat Mizaanul I’tidal (IV/ 189)]
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany berkata: “Musa bin ‘Imraan adalah majhul dan aku tidak mengenalnya.” [Lihat Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (no. 1898)]

HADITS KETUJUH.
“Artinya : Barangsiapa berpuasa tiga hari pada bulan Rajab, dituliskan baginya (ganjaran) puasa satu bulan, barangsiapa berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka Allah tutupkan baginya tujuh buah pintu api Neraka, barangsiapa yang berpuasa delapan hari pada bulan Rajab, maka Allah membukakan baginya delapan buah pintu dari pintu-pintu Surga. Dan barang siapa puasa nishfu (setengah bulan) Rajab, maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah.”
Keterangan: HADITS INI PALSU

Hadits ini termaktub dalam kitab al-Fawaa’idul Majmu’ah fil Ahaadits al-Maudhu’ah (no. 288). Setelah membawakan hadits ini asy-Syaukani berkata: “Suyuthi membawakan hadits ini dalam kitabnya, al-Laaliy al-Mashnu’ah, ia berkata: ‘Hadits ini diriwayatkan dari jalan Amr bin al-Azhar dari Abaan dari Anas secara marfu’.’” Dalam sanad hadits tersebut ada dua perawi yang sangat lemah:

[1]. ‘Amr bin al-Azhar al-‘Ataky.
Imam an-Nasa-i berkata: “Dia Matrukul Hadits.” Sedangkan kata Imam al-Bukhari: “Dia dituduh sebagai pendusta.” Kata Imam Ahmad: “Dia sering memalsukan hadits.” [Periksa, adh-Dhu’afa wal Matrukin (no. 478) oleh Imam an-Nasa-i, Mizaanul I’tidal (III/245-246) , al-Jarh wat Ta’dil (VI/221) dan Lisaanul Mizaan (IV/353)]

[2]. Abaan bin Abi ‘Ayyasy, seorang Tabi’in shaghiir.
Imam Ahmad dan an-Nasa-i berkata: “Dia Matrukul Hadits (ditinggalkan haditsnya).” Kata Yahya bin Ma’in: “Dia matruk.” Dan beliau pernah berkata: “Dia rawi yang lemah.” [Periksa: Adh Dhu’afa wal Matrukin (no. 21), Mizaanul I’tidal (I/10), al-Jarh wat Ta’dil (II/295), Taqriibut Tahdzib (I/51, no. 142)]

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Syaikh dari jalan Ibnu ‘Ulwan dari Abaan. Kata Imam as-Suyuthi: “Ibnu ‘Ulwan adalah pemalsu hadits.” [Lihat al-Fawaaidul Majmu’ah (hal. 102, no. 288).

Sebenarnya masih banyak lagi hadits-hadits tentang keutamaan Rajab, shalat Raghaa’ib dan puasa Rajab, akan tetapi karena semuanya sangat lemah dan palsu, penulis mencukupkan tujuh hadits saja.

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
_________
Foote Note
[1]. Zaadul Ma’aad (I/375) cet. Muassasah ar-Risalah.

 

dalam catatan lain tulisan abu fuadhail

1. حديث : رجب شهر الله, وشعبان شهري, ورمضان شهر أمتى. فمن صام من رجب يومين. فله من الأجر ضعفان, ووزن كل ضعف مثل جبال الدنيا, ثم ذكر أجر من صام أربعة أيام, ومن صام ستة أيام, ثم سبعة أيام ثم ثمانية أيام, ثم هكذا: إلى خمسة عشر يوما منه.

Artinya : “Rajåb adalah bulan Allåh, Sya`ban bulan Saya (Rasulullah ShållAllåhu `alaihi wa Sallam), sedangkan Ramadhan bulan ummat Saya. Barang siapa berpuasa di bulan Råjab dua hari, baginya pahala dua kali lipat, timbangan setiap lipatan itu sama dengan gunung gunung yang ada di dunia, kemudian disebutkan pahala bagi orang yang berpuasa empat hari, enam hari, tujuah hari, delapan hari, dan seterusnya, sampai disebutkan ganjaran bagi orang berpuasa lima belas hari.

Hadits ini “Maudhu`” (Palsu). Dalam sanad hadits ini ada yang bernama Abu Bakar bin Al Hasan An Naqqaasy, dia peråwi yang dituduh pendusta, dan Al-Kasaaiy – råwi yang tidak dikenal (Majhul). Hadits ini juga diriwayatkan oleh pengarang Allaalaiy dari jalan Abi Sa`id Al Khudriy dengan sanad yang sama, juga Ibnu Al Jauziy nukilan dari kitab Allaalaiy.

2. حديث : من صام ثلاثة أيام من رجب, كتب له صيام شهر, من صام سبعة أيام من رجب, أغلق الله عنه سبعة أبواب من النار, ومن صام ثمانية أيام من رجب, فتح الله له ثمانية أبواب من الجنة, ومن صام نصف رجب حاسبه الله حسابا يسيرا.

Artinya : “Barang siapa berpuasa tiga hari di bulan Råjab, sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh, barang siapa berpuasa tujuh hari Allåh Subhana wa Ta`ala akan menutupkan baginya tujuh pintu neraka, barang siapa berpuasa delapan hari di bulan Råjab Allåh Ta`ala akan membukakan baginya delapan pintu sorga, siapapun yang berpuasa setengah dari bulan Råjab itu Allåh akan menghisabnya dengan hisab yang mudah sekali.”

Diterangkan di dalam kitab Allaalaiy setelah pengarangnya meriwayatkannya dari Abaan kemudian dari Anas secara Marfu` : Hadits ini tidak Shåhih, sebab Abaan adalah peråwi yang ditinggalkan, sedangkan `Amru bin Al Azhar pemalsu hadits, kemudian dia jelaskan : Dikeluarkan juga oleh Abu As Syaikh dari jalan Ibnu `Ulwaan dari Abaan, adapun Ibnu `Ulwaan pemalsu hadits.

3. حديث : إن شهر رجب شهر عطيم. من صام منه يوما كتب له صوم ألف سنة – إلخ.
Artinya : “Sesungguhnya bulan Råjab adalah bulan yang mulia. Barang siapa berpuasa satu hari di bulan tersebut berarti sama nilainya dia berpuasa seribu tahun-dan seterusnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Syaahin dari `Ali secara Marfu`. Dan dijelaskan dalam kitab Allaalaiy : Hadits ini tidak Shåhih, sedangkan Haruun bin `Antarah selalu meriwayatkan hadits-hadits yang munkar.

4. حديث : من صام يوما من رجب, عدل صيام شهر-إلخ
Artinya : “Barang siapa yang berpuasa di bulan Råjab satu hari sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh dan seterusnya”.

Diriwayatkan oleh Al Khathiib dari jalan Abi Dzarr Marfu`. Di sanadnya ada peråwi : Al Furååt bin As Saaib, dia ini peråwi yang ditinggalkan.

Berkata Al Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya “Al Amaaliy” : sepakat diriwayatkan hadist ini dari jalan Al Furååt bin As Saaib, Rusydiin bin Sa`ad, dan Al Hakim bin Marwaan, ketiga peråwi ini lemah.

Sesungguhnya Al Baihaqiy juga meriwayatkan hadits ini di kitabnya : “Syu`abul Iman” dari hadits Anas, yang artinya : “Siapapun yang berpuasa satu hari di bulan Råjab sama nilainya dia berpuasa satu tahun.” Di menyebutkan hadits yang sangat panjang, akan tetapi di sanad hadits ini juga ada peråwi ; `Abdul Ghafuur Abu As Shåbaah Al AnShåriy, dia ini peråwi yang ditinggalkan. Berkata Ibnu Hibbaan : “Dia ini termasuk orang orang yang memalsukan hadits”.

5. حديث : من أحيا ليلة من رجب, وصام يوما. أطعمه الله من ثمار الجنة – إلخ.
Artinya : “Barang siapa yang menghidupkan satu malam bulan Råjab dan berpuasa di siang harinya, Allåh Ta`ala akan memberinya makanan dari buah buahan sorga- dan seterusnya.”

Diriwayatkan dalam kitab Allaalaiy dari jalan Al Husain bin `Ali Marfu`: Berkata pengarang kitab : Hadits ini Maudhu` (palsu).

6. ديث : أكثروا من الاستغفار فى شهر رجب. فإن لله فى كل ساعة منه عتقاء من النار, وإن لله لا يدخلها إلا من صام رجب.
Artinya : “Perbanyaklah Istighfar di bulan Råjab. Sesungguhnya Allåh Ta`ala membebaskan hamba hambanya setiap sa`at di bulan itu, dan Sesungguhnya Allåh Ta`ala mempunyai kota kota di Jannah-Nya yang tidak akan dimasuki kecuali oleh orang yang berpuasa di bulan itu.

Dikatakan dalam “Adz dzail” : Dalam sanadnya ada råwi namanya Al Ashbagh : Tidak bisa dipercaya.

 

7. حديث : فى رجب يوم وليلة, من صام ذلك اليوم, وقام تلك الليلة. كان له من الأجر كمن صام مائة-إلخ.

Artinya : “Di bulan Råjab ada satu hari dan satu malam, siapapun yang berpuasa di hari itu, dan mendirikan malamnya. Maka sama nilainya dengan orang yang berpuasa seratus tahun dan seterusnya.

Dikatakatan dalam “Adz dzail” : Di dalam sanadnya ada nama råwi Hayyaj, dia adalah råwi yang ditinggalkan.

Dan demikian disebutkan tentang : “Berpuasa satu hari atau dua hari di bulan itu.”

Disebutkan juga dalam “Adz dzail : Sanad hadits ini penuh dengan kegelapan sebahagian atas sebahagian lainnya, di dalam sanadnya ada peråwi peråwi yang pendusta : Dan demikian diriwayatkan : “Bahwa Nabi ShållAllåhu `alaihi wa Sallam berkhutbah pada hari jum`at sepekan sebelum bulan Råjab. Rasulullah ShållAllåhu `alaihi wa Sallam berkata : “Hai sekalian manusia! Sesungguhnya akan datang kepada kalian satu bulan yang mulia. Råjab bulan adalah bulan Allåh yang Mulian, dilipat gandakan kebaikan di dalamnya, do`a do`a dikabulkan, kesusahan kesusahan akan di hilangkan.” Ini adalah Hadist yang Munkar.

Dan dalam hadits yang lain : “Barang siapa berpuasa satu hari di bulan Råjab, dan mendirikan satu malam dari malam malamnya, maka Allåh Tabaraka wa Ta`ala akan membangkitkannya dalam keadaan aman nanti di hari Kiamat- dan seterusnya.”

Di dalam sanad hadits ini : Kadzaabun (para peråwi pendusta).

Demikian juga hadits : “Barang siapa yang menghidupkan satu malam di bulan Råjab, dan berpuasa di siang harinya: Allåh akan memberikan makanan buatnya buah buahan dari Sorga- dan seterusnya.”

Didalam sanadnya : Para peråwi pembohong/pemalsu hadits.

Demikian juga hadits : “Råjab bulan Allåh yang Mulia, dimana Allåh mengkhususkan bulan itu buat diri-Nya. Maka barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan itu dengan penuh keimanan dan mengharapkan Ridho Allåh, dia akan dimasukan ke dalam Jannah Allåh Ta`ala- dan seterusnya.”

 

Didalam sanadnya : Para peråwi yang ditinggalkan.

 

Demikian juga hadits : “Råjab bulan Allåh, Sya`ban bulan Saya (Rasulullahu ShållAllåhu `alaihi wa Sallam, Ramadhan bulan ummat Saya.” Demikian juga hadits : “Keutamaan bulan Råjab di atas bulan bulan lainnya ialah : seperti keutamaan Al Quran atas seluruh perkataan perkataan lainnya- dan seterusnya.”
Berkata Al Imam Ibnu Hajar : Hadits ini Palsu.
Berkata `Ali bin Ibrååhim Al `Atthor dalam satu risalahnya : “Sesungguhnya apa apa yang diriwayatkan tentang keutamaan tentang puasa di bulan Råjab, seluruhnya Palsu dan Lemah yang tidak ada aShål sama sekali. Berkata dia : “`Abdullah Al AnShåriy tidak pernah puasa di bulan Råjab, dan dia melarangnya, kemudian berkata : “Tidak ada yang Shåhih dari Nabi Muhammad ShållAllåhu `alaihi wa Sallam satupun hadist mengenai keutamaan bulan Råjab.” Kemudian dia berkata : Dan demikian juga : “Tentang amalan amalan yang dikerjakan pada bulan ini : Seperti mengeluarkan Zakat di dalam bulan Råjab tidak di bulan lainnya.” Ini tidak ada aShål sama sekali.

Dan demikian juga, “Dimana penduduk Makkah memperbanyak `Umrah di bulan ini tidak seperti bulan lainnya.” Ini tidak ada asal sama sekali sepanjang pengetahuan saya. Dia berkata : “Diantara yang diada-adakan oleh orang yang `awwam ialah : “Berpuasa di awal kamis di bulan Råjab,” yang keseluruhannya ini adalah : Bid`ah.

Dan diantara yang mereka ada adakan juga di bulan Råjab dan Sya`ban ialah : “Mereka memperbanyak ketaatan kepada Allåh melebihi dari bulan bulan lainnya.”

Adapun yang diriwayatkan tentang : “Bahwa Allåh Ta`ala memerintahkan Nabi Nuh `Alaihi wa Sallam untuk membuat kapalnya di bulan Råjab ini, serta diperintahkan kamu Mu`minin yang bersama dia untuk berpuasa di bulan ini.” Ini Hadits Maudhu` (Palsu).

Diantara bid`ah-bid`ah yang menyebar di bulan ini adalah :

1. Shålat Ar Raghaaib

Shålat Ar Raghaaib ini diamalkan di setiap awal Jum`at di bulan Råjab.

Ketahuilah semoga Allåh Tabaraka wa Ta`ala merahmatimu- bahwa mengagungkan hari ini, malam ini sesungguhnya diadakan ke dalam Din Islam ini setelah abad keempat Hijriyah. (Lihat literatur berikut ini tentang bid`ahnya Shålat Raghaib :

1. “Iqtida` As Shiratul Mustaqim” : hal.283. Dan “Tulisan Ilmiyah diantara dua orang Imam ; Al `Izz bin `Abdus Salam dan Ibnu As Shålah sekitar Shålat Raghaaib.”
2. “Al Ba`itsu `Ala Inkari Al Bida` wa Al Hawaadist” : hal. 39 dan seterusnya.
3. “Al Madkhal” oleh Ibnu Al Haaj : 1/293.
4. “As Sunan wal Mubtadi`aat” : hal. 140.
5. “Tabyiinul `Ujab bima warada fi Fadhli Råjab” : hal. 47.
6. “Fataawa An Nawawiy” : hal. 26.
7. “Majmu` Al Fataawa oleh Ibnu Taimiyah” : 2/2.
8. “Al Maudhuu`aat” : 2/124.
9. “Allaalaaiy Al mashnu`ah” : 2/57.
10. “Tanzihus Syari`ah” : 2/92.
11. “Al Mughni `anil Hifdzi wal Kitab” : hall. 297- serta bantahannya : Jannatul Murtaab.
12. “Safarus Sa`adah” : hal. 150.

Sepakat `Ulama tentang hadits-hadits yang diriwayatkan mengenai keutamaan bulan Råjab adalah palsu, sesungguhnya telah diterangkan oleh sekelompok Al Muhaditsin tentang palsunya hadits Shålat Ar Raghaaib diantara mereka ialah : Al Haafidz Ibnu hajar, Adz Dzahabiy, Al `Irååqiy, Ibnu Al Jauziy, Ibnu Taimiyah, An Nawawiy dan As Sayuthiy dan selain dari mereka.

Kandungan dari hadits-hadits yang palsu itu ialrååh mengenai keutamaan berpuasa pada hari itu, mendirikan malamnya, dinamakan “shalat Ar Raghaaib,” para ahli Tahqiiq dikalangan ahli ilmu telah melarang mengkhususkan hari tersebut untuk berpuasa, atau mendirikan malamnya melaksanakan Shålat dengan cara yang bid`ah ini, demikian juga pengagungan hari tersebut dengan cara membuat makanan makanan yang enak-enak, mengishtiharkan bentuk bentuk yang indah indah dan selain yang demikian, dengan tujuan bahwa hari ini lebih utama dari hari hari yang lainnya.

2. Shålat Ummu Daawud di pertengahan bulan Råjab.

Demikian juga hari terakhir dipertengahan bulan Råjab, dilaksanakan Shålat yang dinamakan Shålat “Ummu Daawud” ini juga tidak ada aShålnya sama sekali. “Iqtidaus Shirååtul Mustaqim” : hal. 293.

Berkata Al Imam Al Hafidz Abu Al Khatthaab : “Adapun Shålat Ar Raghaaib, yang dituduh sebagai pemalsu hadits ini ialah : `Ali bin `Abdullah bin jahdham, diamemalsukan hadits ini dengan menampilkan råwi råwi yang tidak dikenal, tidak terdapat diseluruh kitab.”

Pembahasan Abu Al Khatthaab ini terdapat dalam “Al Baa`its `Ala Inkaril Bida` wal Ahadist” : hal. 40.
Abul Hasan : `Ali bin `Abdullah bin Al Hasan bin Jahdham, As Shufiy, pengarang kitab : “Bahjatul Asråår fit Tashauf”.
Berkata Abul Fadhal bin Khairuun : Dia pendusta.
Berkata selainnya : Dia dituduh sebagai pemalsu hadits Shålat Ar-Raghaaib.

Lihat terjemahannya dalam : “Al `Ibir fi Khabar min Ghubar.” : (3/116), “Al Mizan” : (3/142), “Al Lisaan” : (4/238), “Marååtul Jinaan” (3/28), “Al Muntadzim” : (8/14), “Al `Aqduts Tsamiin” : (6/179).

Asal daripada Shålat ini sebagaimana diceritakan oleh :

At Thurthuusyiy dalam “kitabnya” : “Telah mengkhabarkan kepada saya Abu Muhammad Al Maqdisiy, berkata Abu Syaamah dalam “Al Baa`its” : hal. 33 :

“Saya berkata : Abu Muhammad ini perkiråån saya adalah `Abdul `Aziz bin Ahmad bin `Abdu `Umar bin Ibrååhim Al Maqdisiy, telah meriwayatkan darinya Makkiy bin `Abdus Salam Ar Rumailiy As Syahiid, disifatkan dia sebagai As Syaikh yang dipercaya, Allåhu A`lam.”

Berkata dia: Tidak pernah sama sekali dikalangan kami di Baitul Maqdis ini diamalkan Shålat Ar Raghaaib, yaitu Shålat yang dilaksanakan di bulan Råjab dan Sya`ban. Inilah bid`ah yang pertama kali muncul di sisi kami pada tahun 448 H, dimana ketika itu datang ke tempat kami di Baitil Maqdis seorang laki laki dari Naabilis dikenal dengan nama Ibnu Abil Hamråå`, suaranya sangat bagus sekali dalam membaca Al Quran.”

Pada malam pertengahan (malam keenam belas) di bulan Sya`ban dia mendirikan Shålat di Al Masjidil Aqsha dan Shålat di belakangnya satu orang, lalu bergabung dengan orang ketiga dan keempat, tidaklah dia menamatkan bacaan Al Quran kecuali telah Shålat bersamanya jama`ah yang banyak sekali, kemudian pada tahun selanjutnya, banyak sekali manusia Shålat bersamanya, setelah itu menyebarlah di sekitar Al Masjidil Aqsha Shålat tersebut, terus menyebar dan masuk ke rumah rumah manusia lainnya, kemudian tetaplah pada zaman itu diamalkan Shålat tersebut yang seolah-olah sudah menjadi satu sunnah di kalangan masyarakat sampai pada hari kita ini. Dikatakan kepada laki laki yang pertama kali mengada-adakan Shålat itu setelah dia meninggalkannya, sesungguhnya kami melihat kamu mendirikan Shålat ini dengan jama`ah. Dia menjawab dengan mudah : “Saya akan minta ampun kepada Allåh Ta`ala.”

Kemudian berkata Abu Syaamah : “Adapun Shålat Råjab, tidak muncul di sisi kami di Baitul Maqdis kecuali setelah tahun 480 H, kami tidak pernah melihat dan mendengarnya sebelum ini.” (Al Baa`itsu : hal. 32-33).

Fatwa Ibnu As Shålaah tentang Shålat Ar Raghaaib, Malam Nishfu Sya`ban

3. Shålat Al Alfiah.

Sesungguhnya As Syaikh Taqiyuddin Ibnu As Shålaah rahimahullah Ta`ala pernah dimintai fatwa tentang hal ini, lalu beliau menjawab :

“Adapun tentang Shålat yang dikenal dengan Shålat Ar Raghaaib adalah bid`ah, hadits yang diriwayatkan tentangnya adalah palsu, dan tidaklah Shålat ini dikenal kecuali setelah tahun 400 H, tidak ada keutamaan malamnya dari malam malam yang lainnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 27, 2009 in Islam, Refleksi Jiwa

 

SOMBONG VS TAWADHU

Sifat sombong adalah sesuatu yang sangat tercela. Karena Al Qur’an dan As Sunah mencelanya dan mengajak kita untuk meninggalkannya. Bahkan orang yang mempunyai sifat ini diancam tidak masuk ke dalam surga. Sebaliknya, di dalam Al Qur’an Allah memuji hamba-hamba-Nya yang rendah hati dan tawadhu’ kepada sesama. Allah ta’ala berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Celaan Terhadap Kesombongan dan Pelakunya

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Allah ta’ala juga berfirman,

تِلْكَ الدَّارُ الْآَخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا

“Itulah negeri akhirat yang Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak berambisi untuk menyombongkan diri di atas muka bumi dan menebarkan kerusakan.” (QS. Al Qashash: 83)

Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri kepada manusia dengan ilmunya, dia merasa hebat dengan kemuliaan yang dia miliki. Orang semacam ini tidaklah bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Karena barang siapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan membuatnya rendah hati dan menumbuhkan kehusyu’an hati serta ketenangan jiwa. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya. Bahkan di setiap saat dia selalu berintrospeksi diri dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia pasti akan terlempar keluar dari jalan yang lurus dan binasa. Barang siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga-banggaan dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, sungguh ini tergolong kesombongan yang paling besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sekecil dzarrah (anak semut), la haula wa la quwwata illa billah.” (lihat Al Kaba’ir ma’a Syarh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 75-76 cet. Darul Kutub ‘Ilmiyah. Sayangnya di dalam kitab ini saya menemukan kesalahan cetak, seperti ketika menyebutkan ayat dalam surat An Nahl di atas, di sana tertulis An Nahl ayat 27 padahal yang benar ayat 23. Wallahul muwaffiq)

Ilmu Menumbuhkan Sifat Tawadhu’

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.”

Beliau melanjutkan, “Dan tanda kebinasaan yaitu tatkala semakin bertambah ilmunya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakannya. Dan setiap kali bertambah amalnya maka bertambahlah keangkuhannya, dia semakin meremehkan manusia dan terlalu bersangka baik kepada dirinya sendiri. Semakin bertambah umurnya maka bertambahlah ketamakannya. Setiap kali bertambah banyak hartanya maka dia semakin pelit dan tidak mau membantu sesama. Dan setiap kali meningkat kedudukan dan derajatnya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakan dirinya. Ini semua adalah ujian dan cobaan dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Sehingga akan berbahagialah sebagian kelompok, dan sebagian kelompok yang lain akan binasa. Begitu pula halnya dengan kemuliaan-kemuliaan yang ada seperti kekuasaan, pemerintahan, dan harta benda. Allah ta’ala meceritakan ucapan Sulaiman tatkala melihat singgasana Ratu Balqis sudah berada di sisinya,

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku. Apakah aku bisa bersyukur ataukah justru kufur.” (QS. An Naml: 40).”

Kembali beliau memaparkan, “Maka pada hakikatnya berbagai kenikmatan itu adalah cobaan dan ujian dari Allah yang dengan hal itu akan tampak bukti syukur orang yang pandai berterima kasih dengan bukti kekufuran dari orang yang suka mengingkari nikmat. Sebagaimana halnya berbagai bentuk musibah juga menjadi cobaan yang ditimpakan dari-Nya Yang Maha Suci. Itu artinya Allah menguji dengan berbagai bentuk kenikmatan, sebagaimana Allah juga menguji manusia dengan berbagai musibah yang menimpanya. Allah ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ . وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ . كَلَّا …

“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya dengan memuliakan kedudukannya dan mencurahkan nikmat (dunia) kepadanya maka dia pun mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakan diriku.’ Dan apabila Rabbnya mengujinya dengan menyempitkan rezkinya ia pun berkata, ‘Rabbku telah menghinakan aku.’ Sekali-kali bukanlah demikian…” (QS. Al Fajr : 15-17)

Artinya tidaklah setiap orang yang Aku lapangkan (rezekinya) dan Aku muliakan kedudukan (dunia)-nya serta Kucurahkan nikmat (duniawi) kepadanya adalah pasti orang yang Aku muliakan di sisi-Ku. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezkinya dan Aku timpakan musibah kepadanya itu berarti Aku menghinakan dirinya.” (Al Fawa’id, hal. 149)

Ketawadhu’an ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu’anhu

Disebutkan di dalam Al Mudawwanah Al Kubra, “Ibnul Qasim mengatakan, Aku pernah mendengar Malik membawakan sebuah kisah bahwa pada suatu ketika di masa kekhalifahan Abu Bakar ada seorang lelaki yang bermimpi bahwa ketika itu hari kiamat telah terjadi dan seluruh umat manusia dikumpulkan. Di dalam mimpi itu dia menyaksikan Umar mendapatkan ketinggian dan kemuliaan derajat yang lebih di antara manusia yang lain. Dia mengatakan: Kemudian aku berkata di dalam mimpiku, ‘Karena faktor apakah Umar bin Al Khaththab bisa mengungguli orang-orang yang lain?” Dia berkata: Lantas ada yang berujar kepadaku, ‘Dengan sebab kedudukannya sebagai khalifah dan orang yang mati syahid, dan dia juga tidak pernah merasa takut kepada celaan siapapun selama dirinya tegak berada di atas jalan Allah.’ Pada keesokan harinya, laki-laki itu datang dan ternyata di situ ada Abu Bakar dan Umar sedang duduk bersama. Maka dia pun mengisahkan isi mimpinya itu kepada mereka berdua. Ketika dia selesai bercerita maka Umar pun menghardik orang itu seraya berkata kepadanya, “Pergilah kamu, itu hanyalah mimpi orang tidur!” Lelaki itupun bangkit meninggalkan tempat tersebut. Ketika Abu Bakar telah wafat dan Umar memegang urusan pemerintahan, maka beliau pun mengutus orang untuk memanggil si lelaki itu. Kemudian Umar berkata kepadanya, “Ulangi kisah mimpi yang pernah kamu ceritakan dahulu.” Lelaki itu menjawab, “Bukankah anda telah menolak cerita saya dahulu?!” Umar mengatakan, “Tidakkah kamu merasa malu menyebutkan keutamaan diriku di tengah-tengah majelis Abu Bakar sementara pada saat itu dia sedang duduk di tempat itu?!” Syaikh Abdul Aziz As Sadhan mengatakan, “Umar radhiyallahu ‘anhu tidak merasa ridha keutamaan dirinya disebutkan sementara di saat itu Ash Shiddiq (Abu Bakar) -dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu jelas lebih utama dari beliau- hadir mendengarkan kisah itu. walaupun sebenarnya dia tidak perlu merasa berat ataupun bersalah mendengarkan hal itu, akan tetapi inilah salah satu bukti kerendahan hati beliau radhiyallahu ‘anhu.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 103-104)

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 27, 2009 in Islam

 

PEGANGAN AHLI KITAB DAN KONTROVERSINYA

KITAB SUCI AGAMA NASRANI

Kitab suci agama Nasrani disebut Bibel. Dalam bahasa Inggris disebut The Holy Bible. Di Indonesia disebut Alkitab. Terdiri dari dua kitab, yaitu Perjanjian Lama (Old Testament) dan Perjanjian Baru (New Testament).

Perjanjian Lama

Perjanjian lama, dalam bahasa Ibrani dinamakan Tanakh (ta-nun-kha), yang tiap-tiap suku katanya merupakan rumusan bermakna. Suku kata “ta” adalah rumusan bagi makna Taurat, “nun” adalah rumusan bagi makna perjalanan nabi-nabi terdahulu (dari risalah para nabi sebelumnya), dan “kha” adalah rumusan bagi segala yang termaktub. Itulah tiga bagian pokok dari kitab Perjanjian Lama yang belakangan lebih dikenal sebagai: Torah, Nebiim dan Kethubiim.
Isi kitab Perjanjian Lama terbagi sebagai berikut:
1. Kejadian (Genesis)
2. Keluaran (Exodus)
3. Imamat (Leviticus)
4. Bilangan (Numbers)
5. Ulangan (Deuteronomy)
6. Yosua (Joshua)
7. Hakim-hakim (Judges)
8. Rut (Ruth)
9. 1 Samuel (1 Samuel)
10. 2 Samuel (2 Samuel)
11. 1 Raja-raja (1 Kings)
12. 2 Raja-raja (2 Kings)
13. 1 Tawarikh (1 Chronicles)
14. 2 Tawarikh (2 Chronicles)
15. Ezra (Ezra)
16. Nehemia (Nehemiah)
17. Ester (Esther)
18. Ayub (Job)
19. Mazmur (Psalms)
20. Amsal (Proverbs)
21. Pengkhotbah (Ecclesiastes)
22. Kidung Agung (Song of Songs)
23. Yesaya (Isaiah)
24. Yeremia (Jeremiah)
25. Ratapan (Lamentations)
26. Yehezkiel (Ezekiel)
27. Daniel (Daniel)
28. Hosea (Hosea)
29. Yoel (Joel)
30. Amos (Amos)
31. Obaja (Obadiah)
32. Yunus (Jonah)
33. Mikha (Micah)
34. Nahum (Nahum)
35. Habakuk (Habakuk)
36. Zefanya (Zephaniah)
37. Hagai (Haggai)
38. Zakharia (Zechariah)
39. Maleakhi (Malachi)

Untuk kalangan gereja Katolik, selain yang sudah disebutkan di atas, masih ada 7 kitab tambahan lagi yang disebut Apokripa/Deuterokanonika, yaitu:
1. Tobit
2. Yudit
3. Mekabi (Makabe) 1
4. Mekabi (Makabe) 2
5. Hikmah (Kebijaksanaan)
6. Yasoa bin Siirakh (Sirakh)
7. Barukh

Perjanjian Baru

Kitab Perjanjian Baru yang ada sekarang ini, disusun, ditetapkan dan dipakai, sejak Konferensi Dewan Gereja se Dunia I (Konsili Nicea 325 M), yang terbagi sebagai berikut:
I. Injil (Gospel), terdiri dari:
1. Injil Matius (Matthew)
2. Injil Markus (Mark)
3. Injil Lukas (Luke)
4. Injil Yohanes (John)

II. Kisah Rasul-Rasul (Acts of Apostles, tulisan Lukas)

III. Surat-Surat (Epistles) terdiri dari:
A. Tiga Belas Surat Paulus, yang ditujukan kepada:
1. Jemaat di Roma (Romans)
2. Jemaat di Korintus yang ke-1 (1 Corinthians)
3. Jemaat di Korintus yang ke-2 (2 Corinthians)
4. Jemaat di Galatia (Galatians)
5. Jemaat di Efesus (Ephesians)
6. Jemaat di Filipi (Philippians)
7. Jemaat di Kolose (Colosians)
8. Jemaat di Tesalonika yang ke-1 (1 Thessalonians)
9. Jemaat di Tesalonika yang ke-2 (2 Thessalonians)
10. Timotius yang ke-1 (1 Timothy)
11. Timotius yang ke-2 (2 Timothy)
12. Titus (Titus)
13. Filemon (Philemon)
B. Surat kepada Orang Ibrani (Hebrews). Mereka sendiri tidak tahu siapa yang menulisnya (?)
C. Surat Yakobus (James)
D. Surat Petrus yang ke-1 (1 Peter)
E. Surat Petrus yang ke-2 (2 Peter)
F. Surat Yohanes yang ke-1 (1 John)
G. Surat Yohanes yang ke-2 (2 John)
H. Surat Yohanes yang ke-3 (3 John)
I. Surat Yudas (Jude)

IV. WAHYU (Revelations)

Dari susunan di atas, terlihat dengan sangat jelas bahwa surat-surat yang ada di dalam kitab Perjanjian Baru, sekitar 50% ditulis oleh Paulus.

Gambaran Singkat Empat Injil yang Diakui Gereja

Berikut adalah gambaran singkat mengenai empat Injil yang diakui oleh gereja sejak Konsili Nicea tersebut:
1. Injil Matta (Matius).

Umat Nasrani sepakat mengatakan bahwa Matius menulis dengan bahasa Ibrani atau Suryani setelah kepergian Yesus dari muka bumi. Kumpulan Injil Matius tertua yang pernah ditemukan, ditulis dalam bahasa Yunani. Itu pun telah hilang tidak diketahui di mana rimbanya.
Beberapa sarjana teologi Kristen mengatakan bahwa Matius yang menulis Injil Matius itu bukanlah Matius si pemungut pajak yang termasuk dalam 12 murid utama Yesus, tetapi orang keturunan Yahudi yang tidak dikenal asal-usulnya. Dalam hal ini, K. Riedel mengatakan,
“Menurut pendapat kami, pengarang Injil Matius bukannya seorang dari keduabelas rasul, melainkan seorang Kristen berbangsa Yahudi yang tidak dikenal.” (Tafsiran Injil Matius, BPK Jakarta, hlm. 14)
J. B. Phillips mengatakan,
“Early tradition ascribed this gospel to apostle Matthew, but scholars nowadays almost all reject this view. The author, whom we still can conveniently call Matthew…He was used Mark’s Gospel freely, though he has rearranged the order of events and has in several instances used different words for what is plainly in the same story.” (The Gospel Translated into Modern English).
(Tradisi kuno menganggap bahwa Injil ini berasal dari rasul Matius, tetapi hampir semua ilmuwan menolak pendapat ini. Pengarangnya, yang masih kita sebut Matius…telah mencontek secara bebas Injil Markus, meskipun dia telah merubah urutan kejadian dan dalam beberapa kesempatan menggunakan kata yang berbeda untuk cerita yang sama).
Para professor pakar Tafsir Alkitab menyatakan,
“Jelas sekali bahwa Matius mencakup hampir seluruh Injil Markus, kendati dia meringkas cerita-cerita Markus tentang mukjizat untuk menyediakan tempat bagi banyak bahan yang tidak dilaporkan oleh Markus.” (The New Bible Dictionary, edisi Indonesia: Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, cet. 3, 1997, hlm. 38).

2. Injil Markus.

Umat Nasrani sepakat mengatakan bahwa kitab ini ditulis dalam bahasa Yunani sekitar 23 tahun setelah pengangkatan Yesus. Namun terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa penulis sebenarnya. Sebagian mengatakan Petrus, dan sebagian lagi mengatakan Markus yang menulis setelah wafatnya Petrus dan Paulus. Tetapi yang jelas, ada keraguan tentang siapa yang membukukan Injil Markus. Di sisi lain, mereka sepakat bahwa bukan Yesus yang mendiktekannya secara langsung, karena Markus bukanlah murid utama Yesus atau bukan termasuk 12 apostles.

Sedangkan yang termasuk 12 apostles itu adalah:
“Simon (yang juga disebut Petrus) dengan saudaranya yaitu Andreas, Yakobus bin Zebedeus dan saudaranya yaitu Yohanes bin Zebedeus, kemudian Filipus, Bartolomeus, Thomas, Matius si penagih pajak, Yakobus bin Alfeus, Tadeus, Simon si Patriot, dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus.” (Matius 10: 2-4)

3. Injil Lukas.

Lukas adalah murid kesayangan dan pendamping setia Paulus. Sebagian sejarawan dunia menyebutkan bahwa ia lahir di Anttiokia, dan sebagian lagi menyebutkan bahwa ia berasal dari Rumania, lahir di Italia dan dikenal sebagai pelukis. Namun mereka semua sepakat bahwa Lukas bukan murid Yesus dan bukan pula murid dari muridnya Yesus.

Yang pasti adalah bahwa ia murid Paulus. Sedangkan, Paulus sendiri tidak pernah bertemu Yesus dan tidak pernah mendengar secara langsung dari Yesus. Artinya, Paulus sendiri bukan murid langsung dari Yesus (bukan 12 murid utama Yesus atau bukan salah satu dari 12 Apostles).

Paulus berperan penting dalam mengubah ajaran agama Nasrani dan bertanggung-jawab penuh atas praktek penyimpangan dari kebenaran. Ia adalah seorang Yahudi keturunan Persia yang lahir di Tarsus atau Rumania. Sejarawan Masehi menyebutkan bahwa Paulus telah melakukan berbagai penindasan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap penganut agama Masehi, sebelum ia secara tiba-tiba memeluk agama Masehi.

Murid Paulus yang bernama Lukas, pada akhir kisah perjalanan gurunya mengatakan, “Ketika ia (Paulus) berkhutbah dan memberi nasehat, ia menyebutkan bahwa Isa Almasih adalah putra Allah.” Padahal, pemikiran seperti itu belum pernah dikenal dalam ajaran Masehi sebelumnya.
Yang disepakati oleh seluruh sejarawan Masehi, adalah bahwa Lukas menuliskan kitabnya dalam bahasa Yunani sekitar 20 tahun setelah pengangkatan Yesus, dan bukan Yesus yang mendiktekannya secara langsung.

4. Injil Yohanes.

Kalangan sejarawan Masehi berbeda pendapat tentang masa penulisan kitab ini. Ada yang mengatakan tahun 65 M, dan ada yang mengatakan tahun 98 M atau 32 tahun setelah pengangkatan Yesus. Mayoritas dari pemuka agama Nasrani dan para peneliti di kalangan mereka menolak penisbatan kitab ini kepada Yohanes bin Zebedeus. Bahkan Sadlyn, mengatakan bahwa seluruh Injil Yohanes adalah buatan murid sekolah di Aleksandria. Pada awal abad 2 M, mereka mengingkari injil ini berikut semua yang dinisbatkan kepada Yohanes.

Ensiklopedia Brittanica, yang ditulis oleh lebih dari 500 ilmuwan dan cendikiawan Nasrani menyebutkan,
“Injil Yohanes tidak diragukan lagi merupakan kitab palsu. Penulis palsu ini mendakwa bahwa dia adalah Yohanes anggota Hawariyyin, lalu mencantumkan namanya dalam kitab ini. Sungguh, kita merasa kasihan kepada mereka yang berjuang keras mengaitkan penulis kitab itu – filosof abad ke-2 M – dengan Yohanes sang Nelayan yang mulia itu. Sesungguhnya segala jerih payahnya akan sia-sia.”
Penulis inilah yang mencantumkan ketuhanan Yesus dalam Injil, yang kemudian disahkan oleh gereja. Sementara yang disepakati oleh seluruh cendikiawan Nasrani adalah, Injil Yohanes ditulis bukan dari hasil pendiktean secara langsung dari Yesus.

Injil Barnabas yang Tidak diakui Gereja

Selain empat Injil yang telah disebutkan, ada sebuah Injil yang tidak diakui keabsahannya oleh gereja, yaitu Injil Barnabas. Berikut adalah kisah tentang Injil Barnabas:
1. Tulisan Bishop Irenaeus (120 – 202 M), seorang dari Smyrna yang kemudian menjabat bishop di kota Lyon pada tahun 177 M, ada menyebut-nyebut Injil Barnabas (Gospel of Barnabas). Beberapa fragmen dari tulisan Bishop Irenaeus yang ditemukan itu berjudul Adverse Haereses.

2. Sejarawan Nasrani bernama Dr. Sa’ada (seorang Kristen) menyebutkan bahwa Paus St. Gelasius I yang menduduki kursi kepausan pada tahun 492 – 496 M mengeluarkan larangan terhadap sejumlah kitab, di antaranya adalah Injil Barnabas. Maka sejak itu, Injil Barnabas tersembunyi (sampai tahun 1709 M). Dari sini jelas bahwa pada masa dulu Injil Barnabas itu memang ada.

3. Suatu ketika, seorang pendeta bernama Framino (Ferramino) menemukan Surat-surat Larianus yang isinya berupa bantahan terhadap tulisan Paulus yang ada di dalam Injil. Terdorong rasa ingin tahu yang kuat, pendeta ini berhasil mendekati orang kepercayaan Paus Sectus V (Paus Sixtus V, naik tahta 1885-1890 M) sehingga bisa mendapatkan (meminjam) Injil Barnabas untuk menelitinya secara mendalam dan sembunyi-sembunyi. Setelah selesai, ternyata dia memutuskan masuk Islam.

4. Pada abad ke 16 M, ditemukan sebuah naskah kuno, yaitu Injil Barnabas dalam bahasa Itali. Naskah kuno tersebut ditemukan oleh seorang Father dalam Vatican Library. Ia lalu menyelundupkannya keluar.

5. Pada tahun 1709 M, naskah paling kuno tentang Injil Barnabas – yang ditulis dalam bahasa Italia itu[1] – dipinjam oleh Kreamer (Kremer/Craemer), salah seorang penasehat Raja Prusia (Jerman), dari salah seorang bangsawan tua yang dihormati di Amsterdam (Belanda). Kemudian orang tersebut menghadiahkan naskah tersebut kepada Prince Iyougen Safway (Prince Jugen Savoy) pada tahun 1713 M. Lalu pada tahun 1738 M, naskah tersebut berpindah dari perpustakaan Prince Iyougen ke perpustakaan kerajaan di Fienna (Wina)[2]. Di sini naskah itu kemudian disalin oleh seorang sarjana Inggris ke dalam bahasa Inggris.
Belakangan ditemukan naskah Injil Barnabas dalam bahasa Spanyol, lalu dipinjam oleh Dr. Holm, seorang Orientalis dari Hardley di Hampshire, dan naskah itu kemudian pindah tangan kepada Dr. Minkhauss, seorang anggota (peneliti) King’s College di Oxford yang lalu menyalinnya ke dalam bahasa Inggris.

6. Pada tahun 1784 M, naskah Injil Barnabas berbahasa Spanyol dan salinannya yang dalam bahasa Inggris diserahkan kepada Dr. White. Kemudian Dr. White membandingkannya dengan salinan Injil Barnabas bahasa Inggris yang disalin dari Injil Barnabas berbahasa Italia. Ternyata tidak dijumpai perbedaan isi di antara kedua salinan tersebut. Kedua Injil tersebut menyatakan bahwa Yesus Kristus tidak disalib, karena yang tertangkap dan disalibkan itu adalah Judas Iskariot. Di dalamnya juga tidak disebut-sebut tentang ilahiat Yesus Kristus.

7. Kitab Injil Barnabas diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Doktor Khalil Sa’ada.

Berikut adalah pernyataan Alkitab tentang Barnabas:
“Barnabas ini orang yang baik hati dan dikuasai Roh Allah serta sangat percaya kepada Tuhan sehingga banyak orang mengikuti Tuhan.” (Kisah Rasul-rasul 11: 24)
“Maka Paulus dan Barnabas bertengkar keras sehingga mereka berpisah…” (Kisah Rasul-rasul 15: 39)

Kitab Injil Barnabas mengungkapkan sejarah perjalanan hidup Yesus dengan susunan kalimat yang sangat indah dan terperinci. Dalam Injil yang dinisbatkan kepadanya ini, disebutkan bahwa ia adalah salah seorang dari 12 Hawariyyin (12 Apostles atau 12 murid utama Yesus). Lingkup penjelasannya sangat luas dan jauh berbeda dengan keempat Injil lain yang diakui oleh gereja. Di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Yesus adalah hamba Allah dan rasul utusan Allah. Ditegaskan bahwa ia bukan Tuhan dan juga mengingkari sebagai anak Tuhan.
2. Adz-Dzabiih’ yang diperintahkan Allah untuk disembelih oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah Nabi Ismail ‘alaihissalam.
3. Akan datang Muhammad (disebutkan namanya dengan jelas) dan terdapat pembenaran tentang bakal didatangkan-Nya Al-Qur’an (padahal saat itu Muhammad dan Al-Qur’an belum ada).
4. Yang disalib bukan Yesus, tetapi Yahudza al-Askharyuti (Judas Iskariot) sang penghianat yang wajahnya diserupakan oleh Allah dengan wajah Yesus.
5. Menetapkan pokok-pokok keyakinan yang tidak terjamah oleh tangan-tangan jahil yang gemar mengubah-ubah.

Meskipun demikian, gereja tetap menolak untuk mengakui Injil Barnabas, hanya karena isinya tidak sejalan dengan akidah yang telah ditambah, dikurangi ataupun dirobah, yang telah (terlanjur) diterima oleh seluruh dewan gereja di dunia

Alkitab Menurut Para Peneliti

Berikut adalah pendapat dari para peneliti, penyelidik, dan pengkaji dari kalangan cendikiawan dunia tentang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang dikutip dari buku Muhammad dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an, yang ditulis oleh Ibrahim Khalil Ahmad (seorang pendeta Nasrani dan misionaris tingkat dunia yang masuk Islam saat berusaha mendapatkan gelar doktor dalam disiplin Ilmu Falsafah dan Ketuhanan di Bronstone University, Amerika Serikat):
1. Sir Arthur Findly, dalam bukunya Alam Yang Terbentang, halaman 119, mengatakan: “Hendaknya setiap insan mengetahui bahwa tidak ada satu pun naskah asli yang berkenaan dengan kisah kehidupan Almasih.”

2. Herder, pada tahun 1796 M pernah menyatakan:“Penjelasan tentang Almasih dalam Injil Matius, Injil Markus, dan Injil Lukas, sangat berbeda dengan penjelasan yang terdapat dalam Injil Yohanes.”

3. Doktor W. F. Albert, seorang pakar ilmu kepurbakalan (arkeolog dunia), ketika membuat pernyataan atas ditemukannya kertas berisi tulisan tangan kuno yang disembunyikan dalam sebuah gentong yang ditanam di sebuah galian di bawah gunung dekat Laut Mati, mengatakan: “Tidak ada sedikit pun keraguan tentang kebenaran tulisan tangan yang tertanam itu (keasliannya), yang akan membuat revolusi atas pemikiran kita tentang agama Masehi.”

4. Pendeta Dr. Charles Francis Buto, dalam bukunya Tahun-Tahun Yesus Yang Hilang Telah Ditemukan, pada halaman 127 mengatakan: “Kita sekarang memiliki bukti-bukti yang cukup, yang menunjukkan bahwa tulisan tangan itu pada hakikatnya merupakan anugerah Allah bagi umat manusia. Sebab, setiap lembaran yang kita buka (dari kertas kuno yang ditemukan di Laut Mati itu) menjadi bukti baru bahwa Yesus, seperti ia mengatakan tentang dirinya, adalah anak manusia (bukan anak Tuhan). Injil Barnabas yang tidak dianggap bahkan dilecehkan, ternyata peninggalan berupa tulisan tangan yang ditemukan di Laut Mati itu malah menguatkannya.”

5. Pada tahun 1958 M, ditemukan lagi sebuah tulisan tangan kuno di Sinai. Para penyelidik berkata: “Peninggalan berupa tulisan tangan yang terakhir itu tertulis dalam bahasa Ad-Diimuuthiiqiyah, yang ditulis oleh yang mulia Markus, salah seorang Hawariyyin. Di dalamnya dikisahkan sejarah perjalanan Yesus yang tidak sesuai dengan yang dikisahkan dalam ajaran Masehi yang sekarang.”

Polusi Akidah dari Romawi dan Yunani

Setelah kepergian Yesus, ajarannya mulai meluas ke berbagai daerah, antara lain ke Afrika Utara dan Asia Barat. Dalam masa perkembangannya itu, ajaran Yesus mulai bersentuhan dengan kebudayaan-kebudayaan lain, sehingga terjadi konflik yang sulit terhindarkan antara para pengikut Yesus (yang masih murni) dengan para penguasa setempat.

Terutama di Yunani, agama ini sedikit demi sedikit mengalami “metamorfosa”, yaitu perubahan bentuk, dengan warna kebudayaan dan filsafat Yunani. Padahal, bangsa Yunani pada waktu itu mempercayai adanya banyak tuhan (polytheisme). Dari proses “metamorfosa” itulah akhirnya Yesus “diangkat” menjadi salah satu unsur dari trinitas, yang diidentikkan sebagai tuhan mitra yang mengalami kesengsaraan karena menebus dosa manusia.

Sejarah mencatat bahwa kaisar-kaisar Romawi sebelum Konstantin, adalah para Paganisme, yaitu para pemuja dewa-dewa dan dewi-dewi menurut mitologi Yunani dan Romawi. Seperti terhadap Dewa Zeus (Jupiter), Dewi Hera (Juno), Dewa Apollon (Apollo), Dewi Artemis (Diana), Dewa Ares (Mars), Dewi Aphrodite (Venus), Dewa Dionysos (Bacchus), dan lain lain.

Sementara di kalangan rakyat umum, telah berkembang secara meluas ajaran misteri (mystery religions) dengan upacara-upacara misteri yang biasa dilakukan oleh masing-masing kelompok. Sebuah mitologi yang sangat terkenal dari ajaran misteri itu adalah, bahwa Dewa Adonis sengaja mengorbankan dirinya untuk kepentingan manusia, sehingga membuat sang Ibu (Mater Dolorosa) amat berdukacita karenanya. Tetapi dikatakan, bahwa itu adalah atas kehendak Dewa-Bapa yang menaruh belas kasihan atas penderitaan umat manusia.

Kaisar Caligula (37-41 M), dengan berani mengatakan bahwa dirinya adalah Putra Dewa (Son of God), lalu memaksa rakyat umum dalam wilayah-wilayah imperium Roma untuk melakukan pemujaan terhadap patungnya. Sejarah juga mencatat bahwa kaisar-kaisar Roma selanjutnya sering melakukan penganiayaan dan pembunuhan terhadap umat Nasrani maupun umat Yahudi.

Alkitab Menurut Penelitian Ilmiah dan Sejarah

Para peneliti dan pengajar kitab Peranjian Lama dan Perjanjian Baru, telah membuktikan ketetapannya bahwa sesuai aturan main yang berlaku, dan berdasarkan penelitian ilmiah yang obyektif (bebas dari kemunafikan dan taklid buta), menyatakan tidaklah benar dan tidak sah penisbatan setiap bagian dari bagian yang ada dalam kedua kitab tersebut (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) kepada para nabi atau rasul yang di dalamnya disebutkan kenisbatannya kepada mereka.

Para peneliti yang mengkaji kedua kitab tersebut, menemukan banyak sekali kesalahan di dalamnya. Selain itu, antara nash yang satu dengan yang lainnya dalam kedua kitab itu tidak beraturan. Mereka pun memberikan contoh-contohnya (lihat kitab Izhaar al-Haqq, karya Rahmatullah al-Hindi).

Kalangan sejarawan Ahli Kitab menyatakan bahwa Taurat, Zabur dan semua isi kitab Perjanjian Lama – yang menjadi pegangan bangsa Yahudi sebelum kekuasaan Nebukadnezar – semuanya dinyatakan telah hilang setelah serbuan Raja Babilonia (Raja Babil) terhadap Yahudi. Akibat serbuan ini, orang Yahudi porak-poranda dan terusir dari bumi Palestina ke Babil. Orang-orang Yahudi mendakwa bahwa Uzraa, sang dukun (kahin), berhasil mengulang penulisannya setelah mendapat restu dari Raja Persia yang menaklukan penduduk Babil dan menduduki negeri mereka lalu mengembalikan bangsa Yahudi ke Palestina setelah mereka berada di pengasingan selama 50 tahun.

Injil yang merupakan kitab Rabbani yang Allah turunkan kepada Yesus (Nabi Isa ‘alaihissalam), telah sirna sejak abad pertama kedatangan agama Nasrani. Hal ini dikisahkan sendiri oleh ayat-ayat dalam Injil Matius dan Injil Markus (lihat kitab Muhadharat fi an-Nashraniyah, karya Syaikh Muhammad Abu Zahlah).

Penganut agama Nasrani (yang murni) berkali-kali mengalami penindasan, yaitu sejak diangkatnya Isa Almasih ke sisi-Nya hingga awal-awal abad ke-4 M. Peristiwa-peristiwanya persis seperti yang terjadi pada saat dakwah Yesus yang berakhir dengan usaha menyalibnya. Penindasan-penindasan tersebut dilakukan oleh kaisar-kaisar Romawi yang sebagiannya dipengaruhi atau didorong oleh orang-orang Yahudi. Penindasan-penindasan yang dilakukan oleh Imperium Romawi tersebut tercatat dalam sejarah sebagai berikut:
1. Pada masa Kaisar Nero (tahun 54-68 M). Ia menyebarkan fitnah bahwa mereka (pemeluk agama Nasrani) akan membakar kota Roma. Akibatnya, para pemeluk agama Nasrani kemudian dianiaya, disiksa bahkan dibantai.

2. Pada masa Kaisar Turjan/Trajanus (tahun 98-117M). Di masa kaisar ini, untuk menghindari kekejamannya maka para pemeluk agama Nasrani melakukan kebaktian agama secara sembunyi-sembunyi. Maka selanjutnya, penguasa ini mengeluarkan larangan kepada orang-orang yang melakukan kegiatan tersebut dengan ancaman hukuman berat dan siksaan pedih bagi pelanggarnya. Bahkan, sebagian penguasa (setempat) pada masa itu, menetapkan hukuman mati kepada setiap orang yang terbukti memeluk agama Nasrani.

3. Pada masa Kaisar Dickius (tahun 249-251 M), dikeluarkan perintah untuk melakukan penyiksaan massal kepada para pemeluk agama Nasrani.

4. Pada masa Kaisar Deklid Yanus/Diolectianus (tahun 284-305 M), dikeluarkan perintah untuk menghancurkan seluruh gereja umat Nasrani di Mesir, membakar semua kitab suci mereka, dan memenjarakan para uskup dan pendetanya. Para sejarawan dunia menyebutkan, akibat kekejaman ini 300 ribu orang dari bangsa Qibthi terbunuh.

Karena penindasan dan penganiayaan ini, umat Nasrani berdakwah semakin sembunyi-sembunyi. Kitab suci mereka banyak yang hilang sehingga mengancam eksistensi agama mereka. Kondisi yang demikian ini memberi peluang kepada musuh-musuh mereka, terutama dari kalangan Yahudi, untuk mengubah-ubah dan mengganti isi kitab suci agama Nasrani dengan berpura-pura memeluk agama Nasrani. Akibat pengubahan isi kitab suci ini, maka umat Nasrani terpecah menjadi beberapa golongan.

Di antaranya ada yang masih tetap meyakini bahwa Yesus adalah hamba dan utusan Allah. Kemudian ada yang meyakini bahwa Isa adalah sosok yang mencapai derajat ketuhanan. Dan ada pula yang percaya bahwa Isa adalah anak Tuhan.

Dalam kondisi yang tidak menguntungkan seperti itulah maka sanad sejarah agama Nasrani terputus. Tidak ada pertalian sejarah antara kitab suci dan penulisannya dengan orang-orang yang menurut mereka “yang menyusun kitab tersebut”. Maka sesuai aturan main yang berlaku (setelah melalui penelitian yang obyektif, bebas dari kemunafikan dan taklid buta) di kalangan cendikiawan dunia, dengan hilangnya sanad sejarah, maka secara otomatis nash-nash kedua kitab tersebut tidak bisa dipakai sebagai dalil.

Perkembangan agama Masehi ke berbagai daerah pada masa itu, merupakan ancaman bagi penguasa Romawi yang sedang menjajah Palestina. Maka agar tidak menggoyahkan kekuasaan Romawi di negara itu, para pengikut Yesus pun dikejar-kejar oleh tentara Romawi dengan dibantu oleh Yahudi Farisi dan Seduki.

Setelah itu, Paulus dari Tarsus yang mengaku mendapat mandat dari Yesus untuk menyebarkan Injil, berhasil menyusup ke jemaat pengikut setia Yesus. Hingga pada akhirnya ia dapat menggiring umat Nasrani untuk mempercayai bahwa Yesus adalah anak Tuhan, yang menebus dosa manusia dengan cara mengorbankan dirinya di tiang salib. Dan kelak, murid Paulus yang bernama Markus, menulis Injil Markus yang ternyata malah disahkan oleh gereja.

MULAI KAPAN YESUS DIYAKINI SEBAGAI TUHAN

Konstantin Menyelenggarakan Konsili Nicea 325 M

Kaisar Romawi, Konstantin Agung Pertama (306-337 M), memeluk agama Nasrani pada tahun 312 M karena ia merasa iba kepada kaum Nasrani yang terus menerus mengalami penindasan. Ia pun lalu memberikan keleluasaan kepada mereka untuk melakukan kebaktian secara terbuka.

Ketika itu, ia melihat permusuhan dan pertikaian antar kelompok Nasrani yang perlu segera diselesaikan. Maka ia menganggap perlu untuk campur tangan dalam urusan gereja. Untuk menyelesaikan pertikaian itu, ia bermaksud menjadikan satu kelompok Nasrani saja yang akan diakui dari sekian banyak kelompok yang ada. Sehubungan dengan itulah maka pada tahun 325 M ia memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Dewan Gereja se Dunia yang pertama (Konsili Nicea).

Konsili Nicea dihadiri oleh utusan dari segala penjuru negeri. Dalam acara yang dihadiri oleh 2.048 uskup itu, berlangsung dialog dan perdebatan tentang sosok Yesus. Dalam pertemuan itu terlihat bahwa pengikut Yesus terbagi menjadi beberapa kelompok, di antaranya:
1. Kelompok yang berpendapat bahwa Yesus adalah hamba dan rasul Allah sebagaimana para nabi dan rasul lainnya.
2. Kelompok yang berpendapat bahwa Yesus dan ibunya adalah tuhan selain Allah. Mereka yang berpendapat seperti ini adalah kaum Barbariah.
3. Kelompok yang berpendapat bahwa Yesus adalah bapak yang kedudukannya bagai bara api yang terpisah dari sumber bara api, yang cahayanya tidak berkurang karenanya. Pencetus ide ini adalah Sapilious.
4. Kelompok yang berpendapat bahwa Yesus adalah Tuhan. Yaitu kelompok yang berpegang kepada perkataan-perkataan Paulus.

Konstantin Menetapkan Yesus Sebagai Tuhan Sejak 325 M

Konstantin merasa bingung dengan keragaman pendapat para delegasi tersebut. Untuk memilih dan menetapkan pendapat yang dianggapnya paling baik, maka Konstantin memerintahkan para anggota delegasi untuk melakukan adu argumentasi.

Setelah adu argumentasi selesai, maka kaisar yang memeluk agama Nasrani semata-mata hanya karena dorongan rasa iba dan sama-sekali tidak mengenal pokok-pokok agamanya, kemudian cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Yang menurut pandangannya, pendapat ini lebih mendekati keyakinannya yang terdahulu sebelum memeluk agama Nasrani.

Konstantin lalu mengumpulkan kelompok yang cenderung kepada penuhanan Yesus dan mendudukkan mereka di hadapannya. Lalu sambil mengeluarkan cincin dan pedangnya ia berkata, “Aku mendukung kalian dengan kekuasaanku untuk berbuat apa saja demi tegaknya agama dan demi kebaikan orang-orang yang mengimaninya.” Sang kaisar kemudian memberkati mereka sambil mengayun-ayunkan pedangnya. Mereka berkata kepada sang kaisar, “Tegakkanlah agama Nasrani dan lindungilah dia!”

Selanjutnya Konstantin mengeluarkan dekrit yang tidak bisa diganggu-gugat berisi perintah membakar dan memusnahkan semua kitab yang menyalahi dan bertentangan dengan pemikiran yang telah ditetapkan. Dalam pertemuan itu juga diputuskan untuk menerima kitab Perjanjian Baru kecuali beberapa risalah. Namun pada pertemuan selanjutnya, dewan gereja sepakat menerimanya secara utuh.

Meskipun usaha tersebut telah dilaksanakan, perbedaan dan perselisihan paham terus berlangsung. Para penganut Nasrani yang murni masih melakukan ritual keagamaan tauhid. Hanya saja, dalam beberapa kurun waktu, para penguasa lebih cenderung kepada pemikiran bahwa Isa Almasih adalah Tuhan, sehingga semakin mengukuhkan akidah Nasrani yang baru itu dan semakin menguasai gereja-gereja. Seperti kita ketahui, bahwa akidah baru bagi agama Nasrani itu pertama kali dicetuskan oleh Paulus, lalu dikukuhkan dalam Konsili Nicea melalui “keputusan” Konstantin.

Demikianlah, mereka menetapkan semua karya tulis yang cocok dengan akidah baru itu dan menolak serta memusnahkan semua tulisan yang bertentangan dengannya atau menyalahinya. Padahal, siapa tahu di antara yang dimusnahkan itu justru terdapat salinan naskah Injil asli yang Allah turunkan kepada Nabi Isa AS.

Yang Menolak Ketuhanan Yesus Harus Dibunuh

Bishop Athanasius (293-373 M), yang menjabat sebagai Bishop (Uskup) di Alexandria, sebagai salah seorang yang memperkenalkan tuhan bapa dalam trinitas (divine trinity) juga tidak percaya terhadap doktrin itu. Dia sendiri sudah berusaha memaksakan pikiran dan hatinya untuk merenungkan konsep ketuhanan Yesus, tetapi ternyata dirinya sendiri tidak mau menerima Yesus sebagai Tuhan. Maka akhirnya ia berkeyakinan bahwa mustahil Tuhan itu tritunggal.

Patriarch Arius (wafat 336 M), yang menjabat Patriarch (Uskup Agung) di ibukota imperium Roma Timur, Constantinopel, paling gigih menentang konsep ketuhanan trinitas yang disahkan oleh Konstantin itu. Dia memperingatkan kepada seluruh pendeta bahwa Yesus itu bukan Tuhan, melainkan manusia biasa yang mendapat tugas dari Allah untuk membimbing bani Israel ke jalan Tuhan.

Karena sebagian besar pendeta Nasrani masih tidak mau menerima doktrin trinitas, maka Kaisar Konstantin dan gereja pengikut Paulus dengan menggunakan tentara kekaisaran Romawi berusaha membinasakan orang-orang yang menolak ketuhanan Yesus. Mereka menyiksa dengan kejam dan membunuh secara membabi-buta tanpa mengindahkan nilai kemanusiaan. Beribu-ribu orang menjadi korban keganasan mereka hanya karena mengingkari doktrin trinitas. Itulah contoh “kasih tuhan” yang dilakukan oleh “generasi awal” dewan gereja pengikut Paulus.

Pada saat itu, hanya ada dua pilihan bagi umat Nasrani, yaitu mempertahankan keyakinan bahwa Yesus bukan Tuhan dengan resiko disiksa dan dibunuh, atau menanggalkan keyakinannya (murtad) supaya selamat. Dan ternyata lebih banyak yang murtad. Dalam keadaan serba ketakutan seperti itu, mereka lupa bahwa Yesus telah meramalkan kejadian tersebut. Yesus berkata:
“Waspadalah, jangan sampai kalian tertipu. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata, ‘Aku (Yesus)-lah Raja Penyelamat (Juru Selamat)!’ “ (Matius 24: 4-5)
“Kemudian kalian akan ditangkap dan dibunuh. Seluruh dunia akan membenci kalian karena kalian pengikutku[3]. Pada waktu itu banyak orang akan murtad, dan membenci satu sama lain.” (Matius 24: 9-10)

Insya Allah bersambung…. (Jazakallah khair akhi Muhammad Herman)
——————–
Foot note:
[1] Penelitian terhadap jenis kertas yang digunakan dan cara penjilidannya, membuktikan bahwa naskah itu berasal dari abad ke-16 M. Kemungkinan, ada seorang Kristen yang hidup di abad tersebut yang menemukan Injil Barnabas yang asli lalu ia masuk Islam, kemudian menyalin naskah tersebut ke dalam bahasa Italia. Lalu karena suatu hal yang tidak diketahui, naskah itu jatuh ke tangan pihak Vatikan dan tersembunyi di sana.

[2] Injil Barnabas (The Gospel of Barnabas) yang penulis dapat, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Lonsdale dan Laura Ragg dari naskah berbahasa Itali yang ditemukan di The Imperial Library Wina, dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Rahnip M, BA., dengan diberi notasi ayat-ayat Al-Qur’an di bagian akhir buku.

[3] Pengikut Yesus yang meyakini bahwa Yesus bukan Tuhan atau bukan Anak Tuhan akan disiksa dan dibunuh.

SISTEM PENGABARAN INJIL DEWASA INI

Menjelaskan Ketuhanan Dengan Perumpamaan

Di masa sekarang, para misionaris gereja menyebarkan Injil melalui berbagai cara. Di antaranya melalui “diakona” (pelayanan masyarakat) agar orang tertarik atas kebaikan misionaris Nasrani. Mereka juga melakukan “brain washing” (cuci otak) dengan menggunakan teologi dan filsafat pada manusia, yaitu berupa pendapat-pendapat pribadi buatan manusia yang sudah barang tentu tidak ada ayatnya di dalam Alkitab. Di antara mereka ada yang berkata bahwa orang tidak akan dapat memahami dogma trinitas sebelum memeluk agama Nasrani.

Sebagai contoh, mereka mengatakan bahwa apabila seseorang hanya melihat sebuah rumah dari luar, tanpa memasuki rumah itu, maka orang itu tidak akan dapat mengetahui hakikat rumah itu. Orang itu tidak akan dapat melihat keindahan ruang tamu, bentuk kamar dan lain sebagainya. Begitu pula setiap manusia, dia tidak akan dapat mengenali kebenaran trinitas kecuali dengan masuk agama Nasrani.

Para teolog Nasrani memberi perumpamaan Trinitas dengan sebuah ruangan. Satu ruangan harus terdiri dari tiga unsur, yaitu panjang, lebar dan tinggi. Jika salah satunya tidak ada maka tidak akan ada ruangan. Begitu pula tuhan, Ia harus terdiri dari tiga oknum, jika salah satunya tidak ada maka tidak akan ada Tuhan.

Ada juga yang memberi perumpamaan trinitas dengan H2O, yaitu bisa berupa air, uap dan es. Tetapi pada hakikatnya, ketiga wujud itu adalah satu yaitu H2O. Demikian pula Tuhan Allah, walaupun berbeda wujud (Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus), tetapi pada hakikatnya mereka adalah satu.

Argumentasi tersebut seakan-akan benar. Tetapi masalahnya, di dalam Alkitab telah dikatakan bahwa Allah tidak bisa disamakan atau diumpamakan dengan apa pun juga (Mazmur 86: 8; Yesaya 40: 25; 2 Samuel 7: 22).

Maka jika perumpamaan di atas tetap dipakai untuk membuktikan kebenaran trinitas, kesalahannya justru akan semakin fatal. Sebab:
1. Jika Tuhan diidentifikasikan dengan ruangan yang harus terdiri dari tiga unsur, berarti Tuhan terdiri dari tiga unsur juga. Sekaligus menunjukkan bahwa Tuhan terbentuk dari tiga unsur. Artinya, Tuhan tercipta dari unsur-unsur. Bukan sebagai pencipta. Ini jelas menyesatkan.

2. Jika Tuhan diumpamakan dengan air, uap dan es yang pada hakikatnya adalah H2O, maka perlu disadari bahwa molekul H2O juga terdiri dari tiga unsur, yaitu dua atom hidrogen dan satu atom oksigen. Artinya, Tuhan tercipta dari unsur-unsur. Bukan sebagai pencipta. Ini juga jelas menyesatkan.

3. Mengenai orang tidak bisa memahami trinitas sebelum masuk agama Nasrani, maka dapat dikatakan bahwa doktrin trinitas itu hanyalah ilusi yang dipaksakan pada diri seseorang. Sehingga siapa saja yang telah terjerat dalam ilusi tersebut, maka dia tidak akan dapat, atau minimal sulit untuk keluar lagi.

Melakukan Perubahan Dalam Alkitab

Di dalam Alkitab dikatakan, siapa pun tidak boleh merubah, mengurangi atau menambahkan perkataan apa pun di dalam Alkitab (Wahyu 22: 18-19), tetapi ternyata, mereka sendiri yang melanggarnya. Sebagai contoh:

Dalam Alkitab tahun 1968 yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, Imamat 11: 7 berbunyi:
“Demikian juga babi, meskipun berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu.”

Sedangkan dalam Alkitab tahun 1979 berbunyi:
“Demikian juga babi hutan, karena berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu.”

Samakah antara babi dengan babi hutan? Sudah pasti tidak sama. Karena jika yang dimaksud adalah babi, maka artinya: babi apa saja, haram untuk dimakan. Tapi bila sudah ditambah walau hanya satu kata, menjadi babi hutan, maka maknanya telah berubah, yaitu: babi apa saja (termasuk babi peliharaan) boleh dimakan, kecuali babi hutan. Atau, bisa saja nanti diganti lagi menjadi babi planet Mars, sehingga babi jenis apa pun yang ada di planet bumi ini boleh dimakan.

Dalam The Holy Bible, New International Version , Ulangan 18: 18 berbunyi:
“I will raise up for them a prophet like you from among their brothers. I will put My words in his mouth, and he will tell them everything I command him.”

(Aku akan membangkitkan bagi mereka seorang nabi seperti kamu dari antara saudara mereka. Aku akan menempatkan firman-Ku dalam mulutnya, dan dia akan mengatakan kepada mereka apa yang Aku perintahkan kepadanya)

Dalam The Children’s Living Bible , Ulangan 18: 18 berbunyi:
“I will raise up from among them a prophet, an Israeli like you. I will tell him what to say and he shall be My spokesman to the people.”

(Aku akan membangkitkan seorang nabi dari antara mereka, seorang Israel seperti kamu. Aku akan mengatakan kepadanya apa yang harus dikatakan, dan dia akan menjadi juru bicara-Ku kepada manusia)

Samakah antara an Israeli (seorang bangsa Israel) dengan their brothers (saudara-saudara mereka)? Sudah pasti tidak sama. Untuk memudahkan melihat perbedaannya, dapat dijabarkan sebagai berikut:

Ishak X Saudaranya Ishak (Ismail)
Saudaranya Ishak (Ismail) bukanlah Ishak

Bangsa Israel X Saudaranya bangsa Israel (Arab)
Bangsa Arab bukanlah bangsa Israel

Di dalam Alkitab yang sekarang, Markus 16 berakhir pada ayat 20.
Tetapi pada The Children Counselor’s New Testament , Markus 16 berakhir hanya sampai ayat 8 (copy dari aslinya terlampir, lihat: Lampiran I). Pada bagian akhir terdapat footnote yang berbunyi,
“This verses are omitted by the better MSS. An alternative shorter ending is found in some.”

(Ayat-ayat ini dihapus oleh terjemah MSS yang lebih baik/terbaik. Pemotongan seperti ini dapat ditemukan dalam beberapa versi Alkitab).

Tetapi anehnya, meskipun sudah tahu pada dua manuskrip tertua tidak terdapat ayat 9-20 pada Markus 16, dan ini sudah dinyatakan di dalam Alkitab itu sendiri, ternyata Markus 16: 9-20 masih dicantumkan pula. Silakan lihat dalam The Holy Bible, New International Version . Di sana dapat kita lihat adanya garis pemisah antara Markus 16: 8 dengan ayat 9-20. Lalu di bawah garis tersebut tertulis, “The two reliable early manuscripts do not have Markus 16: 9-20.” (lihat: Lampiran II).

Sementara di dalam Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, kita dapat melihat adanya ayat 9-20.

Silakan lihat penjelasan dari Lembaga Biblika Indonesia pada Lampiran III, dan simpulkan sendiri bagaimana sikap para pemuka agama Nasrani terhadap masalah tersebut.

Mengikuti Ajaran Paulus yang Semanis Madu

Apabila kita membaca ayat-ayat yang ada di dalam Alkitab, dengan mudah akan kita saksikan bahwa Alkitab itu terdiri dari tiga kriteria, yaitu: (1) Firman Allah; (2) Sabda Rasul Allah; (3) Karangan Manusia Biasa.

Karena itulah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran , padahal kamu mengetahui?” (Ali ‘Imran, QS 3: 71)

“Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya .” (Al Maa-idah, QS 5: 13)

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakan, ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al Baqarah, QS 2: 79)

Dari tiga kriteria ayat-ayat Alkitab, yang dijadikan pegangan umat Nasrani sampai saat ini ternyata dari kriteria yang ketiga, yaitu Karangan Manusia Biasa (tulisan Paulus), meskipun isinya jelas-jelas bertentangan dengan dua kriteria lainnya.

Beberapa di antara ayat “ciptaan” Paulus, yang kemudian dijadikan sebagai pegangan adalah:

1. Yesus Sebagai “Anak Allah”
Di dalam surat yang ditujukan kepada Jemaat di Roma dan Galatia, Paulus mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah; dalam surat yang ditujukan kepada Jemaat di Korintus, dikatakan bahwa Allah Bapa yang bertahta di surga itu mempunyai Anak Sulung yang sudah ada sebelum segala sesuatu diciptakan dan segala sesuatu diciptakan melalui dia. Yaitu dalam ayat:
“Kabar Baik itu mengenai Anak Allah, Tuhan kita Yesus Kristus. Secara manusiawi, ia adalah keturunan Daud. Tetapi secara ilahi Ia ternyata adalah Anak Allah.” (Roma 1: 3-4)

“Sekarang bukan lagi saya yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri saya. Hidup ini yang saya hayati sekarang adalah hidup oleh iman kepada Anak Allah yang mengasihi saya dan telah mengurbankan dirinya untuk saya.” (Galatia 2: 20)

“Tetapi bagi kita, Allah hanya satu. Ia Bapa yang menciptakan segala sesuatu. Untuk Dialah kita hidup. Dan Tuhan hanya satu juga, yaitu Yesus Kristus. Melalui Dia segala sesuatu diciptakan, dan karena Dialah maka kita hidup.” (1 Korintus 8: 6)

2. Cukup Percaya ‘Yesus Itu Tuhan’ Akan Selamat

Di dalam surat yang ditujukan kepada Jemaat di Roma, Paulus mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan siapa saja yang mau percaya bahwa Yesus adalah 100%Tuhan (yang juga 100% manusia), maka orang itu akan selamat, meskipun selalu berbuat maksiat (melanggar larangan-larangan yang ada di dalam Alkitab); dan di dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia, dikatakan tidak perlu beribadah, cukup percaya saja.

“Sebab kalau saudara mengaku dengan mulutmu bahwa ‘Yesus itu Tuhan’, dan saudara percaya dalam hatimu bahwa Allah sudah menghidupkan Yesus dari kematian, maka saudara akan selamat.” (Roma 10: 9)

“Meskipun begitu kami tahu bahwa orang berbaik kembali dengan Allah hanya karena percaya kepada Yesus Kristus, dan bukan karena menjalankan hukum agama. Kami sendiri pun percaya kepada Yesus Kristus, supaya kami berbaik dengan Allah melalui iman kami itu, bukan karena kami menjalankan hukum agama. Sebab dengan menjalankan hukum agama, tidak seorang pun bisa berbaik kembali dengan Allah.” (Galatia 2: 16)

Itulah ayat-ayat buatan Paulus yang sampai saat ini dijadikan pegangan oleh umat Nasrani meskipun jelas-jelas bertentangan dengan apa yang telah disampaikan oleh Yesus sendiri di dalam Alkitab. Yesus berkata,
”Ingatlah! Semua hak sebagai umat Allah akan dicabut daripadamu dan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menjalankan perintah-perintah Allah (bukan hanya mengimani saja).” (Matius 21: 43).
Dari sini jelaslah sudah, bahwa sebenarnya umat Nasrani sekarang ini bukanlah pengikut Yesus, melainkan pengikut Paulus.

Maka tidak perlu heran kalau Michael H. Hart, seorang ilmuwan terkemuka dunia mengatakan,
”Paulus, lebih dari orang-orang lainnya, bertanggung jawab terhadap peralihan agama Kristen dari sekte Yahudi menjadi agama besar di dunia. Ide sentralnya tentang kesucian Yesus dan pengakuan berdasarkan percaya semata tetap merupakan dasar pemikiran Kristen sepanjang abad-abad berikutnya. Belakangan semua teolog Kristen, termasuk Agustine, Aquinas, Luther, dan Calvin terpengaruh Paulus. Sampai-sampai banyak sarjana beranggapan bahwa Paulus-lah pendiri agama Kristen, bukannya Yesus.” (The 100, A Ranking of the Most Influential Persons in History, edisi Indonesia: Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, hlm. 60-61).

Mengatakan Al-Qur’an Bukan Wahyu Allah

Untuk menggoyahkan akidah umat Islam, tak jarang dan tak sedikit dari mereka yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu bukan wahyu Allah (bukan firman Tuhan), tetapi hanya karangan Muhammad saja. Ada pula yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah hasil jiplakan Alkitab. Tetapi liciknya, semua tuduhan itu dilontarkan tanpa bukti-bukti yang konkrit dan ilmiah.

Bagi umat Islam, sebenarnya tidak menjadi masalah bila orang-orang non-Muslim meragukan keaslian Al-Qur’an sebagai wahyu Allah atau mengatakan hasil jiplakan Alkitab bila itu dikatakan di kalangan mereka sendiri. Tetapi akan menjadi masalah bila tuduhan tanpa bukti itu dijadikan sebagai “modal” untuk memurtadkan umat Islam, terutama yang masih awam terhadap ajarannya sendiri.

Karena itu, bila ada di antara umat Islam yang bertemu dengan salah seorang dari mereka yang mengeluarkan tuduhan-tuduhan tersebut, penulis sarankan, sampaikanlah kepada mereka dua ayat saja dari Al-Qur’an, dan mintalah mereka untuk membuktikan dengan “ilmu” yang mereka miliki, secara ilmiah berikut dalil-dalilnya, bahwa ayat-ayat tersebut adalah karangan Muhammad atau hasil menjiplak dari Alkitab. Sebelumnya, katakan kepada mereka, “Kalau kamu orang yang benar, buktikan 2 ayat saja dari Al-Qur’an, bahwa itu adalah karangan Muhammad atau hasil jiplakan Alkitab. Tetapi kalau kamu tidak bisa, dan kamu pasti tidak akan bisa, berarti kamu bukanlah orang yang benar, melainkan orang yang sesat.”

Dua ayat tersebut adalah:
1. Surat Ar Rahman, QS 55: 19-21:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِ فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Dia (Allah) mengalirkan dua (macam) laut (air tawar dan air asin) bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampauinya (sehingga keduanya tidak bercampur). Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?”

Air Asin / — (batas)— / Air Tawar

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sekolah, tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Bagaimana mungkin beliau bisa tahu (kalau bukan dari Allah) bahwa bila air asin dan air tawar bertemu, maka keduanya tidak akan bercampur, atau tidak terjadi osmosis? Apalagi sejak dulu tanah Arab miskin air. Sanggupkah seorang yang tidak sekolah, tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis, mengarang ayat dengan kandungan ilmiah yang baru bisa diketahui oleh para ilmuwan setelah lebih dari seribu tahun kemudian? Atau, adakah di dalam Alkitab ayat yang sama seperti itu sehingga bisa dijiplak?

2. Surat Al An’aam, QS 6: 125:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ

“Maka barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (tetap dalam) kesesatan, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki (naik) ke langit.”

Bagaimana mungkin Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa tahu (kalau bukan dari Allah) bahwa apabila manusia naik ke langit (ke angkasa), maka dadanya akan sempit dan sesak, karena tidak ada oksigen? Apakah beliau pernah menjadi astronout? Atau, adakah dalam Alkitab ayat yang sama seperti itu sehingga bisa dijiplak?

Karena Al-Qur’an itu adalah wahyu Allah, maka kebenarannya akan tetap terjaga sampai akhir zaman, sehingga mustahil ilmu pengetahuan setinggi apa pun menggugurkan kandungannya. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu semakin menguatkannya. Sedangkan Alkitab, terbukti bahwa satu demi satu ayatnya akan gugur, karena sudah tidak sesuai lagi dan bahkan bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

Sebagai pembuktian bahwa ayat-ayat Al-Qur’an akan selalu terjaga kebenarannya sampai akhir zaman dan selalu sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, akan penulis kemukakan satu pokok permasalahan, yaitu mengenai Alam Semesta. Kita lihat bagaimana Al-Qur’an berbicara tentang masalah tersebut.

Para ilmuwan membutuhkan waktu berabad-abad lamanya untuk mengetahui bahwa matahari, bumi, planet-planet dan benda-benda angkasa lainnya, pada awalnya berupa nebula (sekumpulan bintang di langit yang tampak seperti massa debu dan gas berpijar yang bercahaya di ruang angkasa). Kemudian, bumi terpisah dari kumpulan tersebut. Dalam hal ini, para ilmuwan mengatakan,
“Milyaran tahun yang lalu alam semesta kita adalah sebuah bagian zat, dan kemudian terjadi sebuah ‘Big Bang’ (ledakan besar) di pusat gumpalan zat raksasa tersebut dan bongkahan zat yang kuat itu mulai beterbangan ke segala arah. Dari ‘Big Bang’ tersebut sistem solar kita berasal, begitu juga galaksi, dan sejak itu tidak ada pertahanan di angkasa terhadap momentum yang dibangkitkan oleh ledakan awal, bintang-bintang dan planet-planet berotasi dalam orbitnya.”

Siapa pun mengetahui, bahwa pengetahuan tersebut mustahil diketahui orang yang hidup 14 abad yang lalu. Tetapi lihatlah, apa yang dikatakan Al-Qur’an 14 abad yang lalu,

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ

“Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al Anbiyaa’, QS 21: 30).

Di dalam Alkitab dikatakan,
“Segala sesuatu harus diuji, dan yang baik (yang lebih benar) harus diikuti.” (1 Tesalonika 5: 21)

Demikianlah, apa yang penulis sampaikan di atas, semua hanya akan semakin mengukuhkan firman-Nya,

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ثُمَّ كَفَرْتُمْ بِهِ مَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ هُوَ فِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ

“Katakanlah: ‘Bagaimana pendapatmu jika (Al-Qur’an) itu datang dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya. apakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?’” (Fushshilat, QS 41: 52).

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.” (Fushshilat, QS 41: 53).

Menyembah Thaghut Berarti Menyembah Syaitan.

Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa kecuali syirik. Sedangkan perbuatan menyembah Yesus, adalah termasuk perbuatan syirik yang tak mungkin diampuni Allah kecuali orang tersebut meninggalkannya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisaa’, QS 4: 48)

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang dikehendakinya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (An Nisaa’, QS 5: 116)

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلا شَيْطَانًا مَرِيدًا

“Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka.” (An Nisaa’, QS 4: 117)

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلا غُرُورًا أُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلا يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصًا

“Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka. Mereka itu tempatnya Jahanam dan mereka tidak memperoleh tempat lari daripadanya.” (An Nisaa’, QS 4: 120-121)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الأرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

”Sungguh telah kafir mereka yang berkata, ’Sesungguhnya Allah ialah Almasih putra Maryam.’ Katakanlah, ’Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Almasih putra Maryam itu beserta ibunya dan orang-orang yang ada di bumi seluruhnya?’ Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi beserta apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang dikehendakinya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Maa-idah, QS 5: 17)

Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an di atas, jelaslah sudah bahwa Thaghut yang disembah oleh orang-orang non-Muslim, tidak lain adalah syaitan yang hanya dapat memberikan janji dan angan-angan kosong dengan tipuan belaka.

Tidak akan ada keselamatan terutama di akhirat nanti bagi umat manusia di zaman ini, termasuk jin, kecuali dengan beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wan sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلا

“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya (selain) dari Allah?” (An Nisaa’, QS 4: 122)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya (kecuali syirik). Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengampun.” (Az Zumar, QS 39: 53)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 27, 2009 in Kristologi, Seputar Mualaf