RSS

SYARAT DITERIMANYA AMAL

07 Mei

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang (ikhlas) menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan…” (An Nisaa’, QS 4: 125)

Berdasarkan ayat di atas, suatu perbuatan baru dapat dikatakan sebagai amal shalih dan hanya akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala jika memenuhi dua rukun, yaitu:

1. Harus didasari keikhlasan dan niat yang murni (karena Allah semata), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya amalan itu hanya akan dinilai bila disertai dengan niat. Dan sesungguhnya masing-masing orang akan mendapatkan pahala sesuai yang dia niatkan.” (HR. Bukhari – Muslim)

2. Harus mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tidak mengerjakan apa yang tidak ada contohnya) sebagaimana dalam sabdanya, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim) Dalam kaitannya dengan masalah ini, Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkomentar tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“…Agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.”

(Huud, QS 11: 7).

Menurutnya, yang dimaksud dengan “lebih baik amalnya”, adalah amal yang didasari keikhlasan dan sesuai contoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ia ditanya, “Wahai Abu Ali, apa yang dimaksud dengan amal yang ikhlas dan benar?” Maka ia menjawab, “Sesungguhnya amal yang dilandasi keikhlasan tetapi tidak benar, tidak diterima oleh Allah. Sebaliknya, amal yang benar tetapi tidak dilandasi keikhlasan, juga tidak diterima oleh Allah.

Amal perbuatan itu baru diterima oleh Allah jika didasari dengan keikhlasan dan dilakukan dengan benar. Yang dimaksud dengan “ikhlas” yaitu amal perbuatan itu dikerjakan semata-mata karena Allah, dan yang dimaksud dengan “benar” yaitu amal perbuatan itu harus sesuai contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Setelah itu, Abu Ali membacakan ayat,

“…Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (Al Kahfi, QS 18: 110).

Dari sinilah kemudian kita kenal istilah, “Barangsiapa mengamalkan Al-Qur’an tidak sesuai dengan praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (tdk ada contohnya), maka ia tidak dapat dikatakan telah mengamalkan Al-Qur’an.” (As-Sunnah Qablat Tadwin, Dr. Muhammad Ajaj Al-Khathib).

Apabila seorang muslim tidak memahami kaidah tersebut, maka ia akan terjerumus kepada perbuatan bid’ah sebagaimana banyak dilakukan orang-orang sufi. Di antara contohnya adalah dzikir mereka yang tidak sesuai dengan sunnah, yaitu dzikir dengan menyebut lafal tunggal “Allah”, karena berdalil dengan ayat,

“…ingatlah Allah dalam keadaan berdiri, dalam keadaan duduk dan dalam keadaan berbaring.” (An Nisaa’, QS 4: 103).

Dan ayat,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab, QS 33: 21).

Karena kurangnya pemahaman mereka tentang As-Sunnah, maka mereka berdzikir dengan mengatakan, “Allah..Allah..Allah”. Padahal, Rasulullah TIDAK PERNAH melakukan dzikir dengan lafal tunggal “Allah”, tetapi dengan ucapan “Laa ilaaha Illallah”. Atau dengan dzikir lain seperti “Subhanallah”, “Alhamdulillah”, “Allahu Akbar”, dll.

Di antara contoh lain yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum adalah: tahlilan pada saat kematian maupun sesudah kematian, peringatan Maulid Nabi, peringatan Isra’ Mi’raj, ucapan shadaqallahul adzhim setelah membaca Al-Qur’an, bersalaman setelah shalat, mengusap wajah setelah salam (usai shalat), mengucapkan Alhamdulillah setelah bersendawa, berta’awudz setelah menguap, dzikir bersama dengan menyatukan suara, berdakwah dengan nyanyian dan alat musik, menetapkan masuknya bulan Ramadhan dan Syawwal dengan cara hisab, berdzikir dengan biji tasbih, mengadakan acara Hari Ulang Tahun, Hari Ibu, Hari Keluarga, Hari Valentine, Khataman Al-Qur’an, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Mengenai banyaknya orang yang melakukan, tidak bisa dijadikan sebagai ukuran dan pembenaran, karena setiap yang berkaitan dengan ibadah sifatnya adalah tauqifi (harus berdasarkan syari’at, yaitu ada dalilnya dan TELAH dilakukan/dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.”

(Al An’aam, QS 6: 116).

Kita pun dilarang taqlid buta (mengekor/ikut-ikutan) kepada firqah-firqah (kelompok/golongan/partai), sesuai firman-Nya:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai…” (Ali ‘Imran, QS 3: 103).

“..dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar Ruum, QS 30: 31-32).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “…barangsiapa hidup (lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu, berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang (mereka itu) mendapat petunjuk. Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya. Dan hati-hatilah terhadap setiap perkara yang DIADA-ADAKAN, karena semua perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, sedang SETIAP BID’AH adalah SESAT (dan setiap yang sesat tempatnya di dalam neraka).” (Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih).

Dalam hal ini, bid’ah (hal baru) yang dilarang adalah hal yang diada-adakan dalam agama ataupun dalam cara beragama, bukan dalam hal baru yang sifatnya duniawi. Sehingga hal yang dianggap baru seperti speaker, mobil, pesawat terbang dan lain-lain bukanlah termasuk bid’ah yang dimaksud oleh hadits tersebut. Selama agama ini sempurna dan tidak memerlukan tambahan, maka tidak diperlukan lagi adanya bid’ah (sesuatu yang baru) di dalam agama.

Siapa saja yang membuat bid’ah dan menganggapnya baik, berarti dia telah membuat syari’at tambahan; seolah syari’at Islam belum lengkap dan seakan-akan dirinya lebih tahu daripada Allah dan Rasul-Nya, maka cukuplah itu menjadi cap buruk baginya. Tetapi musuh-musuh Islam dan mereka yang tidak senang bila Islam yang haq menyebar, menjadikan bid’ah sebagai sesuatu yang indah di mata manusia; padahal baik disadari maupun tidak, perbuatannya itu merusak agama, sehingga sunnah menjadi aneh dan ditinggalkan, lalu kedudukkannya diganti dengan bid’ah yang harus dijaga. Sunnah dibuang jauh-jauh dan hanya dijadikan sebagai bacaan tanpa arti. Untuk itulah maka menghidupkan sunnah dan memerangi bid’ah merupakan perkara yang harus dilakukan oleh seluruh kaum Muslimin, khususnya oleh para ulama dan para penuntut ilmu. Karena, bid’ah adalah perbuatan munkar yang harus dirubah sesuai dengan kemampuan, baik dengan tangan, lisan, tulisan, maupun hati.

Untuk itu, marilah kita menghidupkan sunnah dan meninggalkan segala amalan yang tidak pernah dilakukan oleh generasi awal Islam yang merupakan sebaik-baik generasi dari umat ini. Semoga Allah merahmati Imam Malik yang berkata, “Tidaklah akhir dari umat ini menjadi baik kecuali dengan berpegang pada apa yang membuat baik awal umat ini. Apa yang saat itu bukan sebagai ajaran agama, maka saat ini pun tetap bukan ajaran agama.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Islam pada permulaannya asing (aneh) dan akan kembali menjadi asing seperti permulaannya. Maka keuntungan besarlah bagi orang-orang yang (dianggap) asing.” (HR. Muslim). “Senantiasa ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah.” (HR. Muslim)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 7, 2009 in Islam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: