RSS

Arsip Bulanan: Maret 2009

Sedikit komentar mengenai tragedi Gintung,

situ-gintung sebelum bencanaBerikut ada tulisan sangat menarik dari DR Moh. Hasroel Thayib APU di salahsatu milis, Ketua Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Lingkungan di Universitas Indonesia, yang patut jadi perhatian dan pemikiran kita semua, terutama yang memang peduli akan penanggulangan banjir Jakarta/Jabodetabek …

Sedikit komentar mengenai tragedi Gintung,mudah2an ada tambahan informasi.

Saya 10 tahun tinggal di daerah Situ Gintung, bukan di bawah dari tanggul tapi di sebelah barat danau, yang sekarang menjadi kompleks perumahan dosen UI. Selama tinggal di sana, karena academic curiosity saya, saya amati dan perhatikan segala sesuatunya lingkungan di danau itu. Pertama-tama, Situ Gintung adalah satu dari 198 danau yang sengaja dibuat oleh pemerintah kolonial dulu di sekitar Jakarta utk tempat parkiran air jika curahan hujan tinggi. Sdr Samsuhadi memperkirakan ada 11,5 milliar m3 air yang turun di basin Bogor-Jakarta, karena itu, selain adanya pintu2 air di sungai2 yang melewati Jakarta, building coverage yang tidak lebih dari 40% utk Jakarta proper dan 20% utk Jakarta Selatan, diadakannya 198 danau utk parkiran air adalah penting utk mitigasi dampak banjir di Jakarta.

Situ Gintung terjadi karena dibangunnya tanggul melintang alur drainase yang dalamnya ± 30 meter. Tanggul hanya berupa padatan tanah tanpa penguatan dengan semen atau bahan2 tembok lainnya. Situ Gintung sekaligus digunakan utk menaikkan permukaan air untuk irigasi persawahan yang ada di daerah Kampung Utan dan Bintaro. Saluran air dari pintu air di Situ Gintung itu dahulu adalah berupa gorong-gorong yang memotong jalan raya Ciputat Raya. Rasanya gorong2 itu sudah tidak digunakan lagi. Karena air tidak lagi digunakan utk persawahan, maka air tetap ada di Situ Gintung. Jika hujan lebat di daerah itu atau di daerah hulunya, air Situ Gintung akan naik, dan konstruksi tanah padat dari tanggul bendungan tidak sesuai lagi dengan peruntukan danau semula. Ya tentu saja tanggul bendungan jebol! Seharusnya PU membuat spillway dan selokan yang cukup memadai utk mengalirkan air ke sungai kecil (asli) yang ada di dasar lembah di bawah tanggul bendungan Situ Gintung.

Tapi sekarang justru areal alur drainase di hilir Situ Gintung itu dijadikan pemukiman, bahkan juga Universitas Muhamadiyah membangun gedung beberapa Jurusan di dasar alur dalam itu. Karena tanggul hanya terbuat dari padatan tanah lateritik tanpa penguat yang memadai, ya tentu saja se waktu2 dapat tergerus oleh air atau tidak akan dapat menahan air yang volumenya sekitar 60.000 x 20 m3. Situ Gintungnya sendiri mutlak harus direhabilitasi, dikembalikan menjadi danau parkiran air, tapi di daerah di bawah tanggul tidak boleh ada pemanfaatan utk pemukiman atau konversi apapun, tapi harus tetap kosong dan menjadi daerah konservasi, termasuk sebagian dari Universitas Muhamadiyah. Banyak klaim yang seakan menyalahkan Situ Gintung dijadikan Taman Rekreasi. Apa salahnya? Taman di sekitar Situ Gintung nya bukan penyebab bobolnya tanggul. Tanggul antara lain juga digunakan untuk jalan menyeberang dari Jalan Ciputat Raya ke Kampung Gunung dan Cireundeu di sebelah timur situ. Tentu saja goncangan2 akan mengganggu stabilitas tanggul tanah yang tebalnya Cuma sekitar 10 meter itu! Jaman baheula ada larangan keras untuk berjalan diatas tanggul itu! Para penggembala kerbau juga sering dikejar-kejar polisi jika menggembala kerbau di tanggul atau di bantaran situ.

Sekarang ini kan jaman sudah berubah. Sayangnya perubahan itu bukan ke arah perbaikan, tapi ke arah yang menyebabkan kerusakan. Dahulu juga dikembangkan mitos atau ceritera bahwa di Situ Gintung itu ada penghuni makhluk halus, ada buaya putih, ada jin gagu dan lain2 yang sebenarnya banyak membantu kelestarian situ. Seharusnya itu dipahami sebagai upaya untuk melestarikan situ. Para aktivis lingkungan semestinya mengupayakan adanya kemasan baru yang modern sesuai jaman dari yang dilakukan orang baheula itu. Bagaimana dengan PSL Universitas Muhamadiyah? Perhatikan danau2 buatan yang kira-kira serupa tipologinya dengan Situ Gintung: Situ Pamulang, Situ Kuru di dekat UIN, dan beberapa situ lainnya.

Saya meragukan kebenaran klaim dari pejabat PU atau pejabat pengairan Ciliwung-Cisadane yang katanya melakukan monitoring tanggul Situ Gintung. Tanyakan saja kepada para penduduk asli di daerah itu! Selama ini sebenarnya juga tidak ada yang peduli pada apa yang pernah saya kemukakan ke para pamong desa dan kecamatan. Sayang para Lurah lama (Lurah Nasan, Lurah Udi, Lurah Awi) sudah tiada! Kalau pak Kemed (Mandor Legoso) atau Sdr Keron (yang tinggal di dekat pintu air Situ Gintung masih ada, tentu mereka dapat mengingat-ingat apa yang pernah saya katakan. Yang saya bingung itu adalah: bagaimana fakultas Teknik Univ. Muhamadiyah, terutama jurusan Teknik Sipil nya, kok ya tidak melakukan antisipasi, bahkan malahan membangun di daerah limpasan air situ. Menyedihkan! Saya sih tidak sependapat dengan para pejabat PU – Pengairan yang menyatakan situ sudah tua.

Dari dulu juga sering ada hujan lebat lebih dari 8 jam di daerah itu. Hal itu terjadi karena tidak ada yang memasukkan pertimbangan lingkungan dalam perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 31, 2009 in Islam, Refleksi Jiwa