RSS

Perbedaan antara Fakir dan Miskin

23 Feb

Fakir dan miskin adalah orang yang membutuhkan, yaitu orang yang tidak memiliki apa yang dibutuhkannya. Jika diucapkan kata ‘fakir’ secara terpisah, maka termasuk ke dalamnya miskin. Demikian sebaliknya, jika digabungkan penyebutan keduanya dalam satu kalimat, seperti dalam ayat tentang pihak-pihak yang berhak menerima zakat, maka masing-masing memiliki makna yang berbeda (Shahih Fiqih Sunnah Jilid 3, hal. 83)

Sebagaimana firman-Nya,

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, …” (QS. At Taubah : 60).

Tentang orang miskin, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling meminta-minta, lalu diberi sesuap atau dua suap, satu buah kurma atau dua buah”

Mereka bertanya, “Kalau begitu, siapakah orang miskin itu ya Rasulullah ?”. Beliau ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam menjawab,

“Alladzii laa yajidu ghinan yu’niiHi, wa laa yufthaanu laHu fayutashaddaqa ‘alayHi wa laa yas-alun naasa syai-an” yang artinya “Orang yang tidak memiliki sesuatu yang dapat menutupi kebutuhannya, dan kondisinya tidak diketahui sehingga diberi shadaqah. Maka ia diberi zakat dan dia tidak meminta-minta” (HR. al Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu).

Dan orang-orang miskin adalah orang-orang yang bekerja serta memiliki pendapatan, namun tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. Allah Ta’ala berfirman,

“Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut” (QS. Al Kahfi : 79).

Pada ayat tersebut di atas mereka disifati dengan sifat miskin, padahal mereka memiliki kapal laut dan memperoleh pendapatan.

Sementara itu tentang definisi orang fakir para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda, namun demikian salah satu pendapat yang selaras dengan penjelasan sebelumnya adalah salah satu perkataan Imam Ibnu Katsir rahimahullah,

“Qatadah berkata, ‘Orang fakir adalah orang yang butuh dan memiliki penyakit menahun, sedangkan orang miskin adalah orang yang butuh tetapi badannya sehat’” (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, hal. 150)

Maka dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa orang miskin ialah, orang yang membutuhkan, berbadan sehat, bekerja, memiliki pendapatan serta tidak meminta-minta. Sedangkan fakir merupakan kebalikannya, yaitu orang yang membutuhkan, berpenyakit menahun sehingga bisa menyebabkan tidak dapat bekerja dan tidak memiliki pendapatan serta biasanya meminta-minta di jalanan. WallaHu a’lam. Sehingga para fuqaha dari kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa fakir lebih membutuhkan daripada miskin (Shahih Fiqih Sunnah Jilid 3, hal. 83).

Namun sekali lagi, perbedaan makna dari fakir dan miskin hanya terjadi jika kedua kata tersebut disebutkan di dalam satu kalimat. Dan jika dipisah, misalnya ‘fakir’ saja dalam suatu kalimat maka orang miskin sudah masuk ke dalam maknanya, sebagaimana contoh hadits berikut ini,

Dari Ibnu Abbas radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Ath thala’tu fil jannati fara-aytu aktsara aHliHal fuqaraa-a yang artinya “Aku melihat ke dalam surga ternyata kebanyakan dari penduduknya adalah orang-orang fakir” (HR. al Bukhari dan Muslim, hadits no. 493 pada Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 1)

Hadits di atas menggunakan lafazh ‘fakir’, namun dalam hadits yang lain dengan makna yang sama, yang digunakan adalah lafazh ‘miskin’. Dari Usamah bin Zaid radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Qumtu ‘alaa baabil jannati, fakaana ‘amata ma dakhalaHal masaakiin yang artinya “Aku berdiri di pintu surga, ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah orang-orang miskin” (HR. al Bukhari dan Muslim, hadits no. 494 pada Tarjamah Riyadush Shalihin Jilid 1).

Maraji’ :

Shahih Fiqih Sunnah Jilid 3, Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Pustaka at Tazkia, Jakarta , Cetakan Pertama, Shafar 1428 H/Maret 2007 M.

Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq alu Syaikh, Pustaka Imam asy Syafi’i, Cetakan Ketiga, Sya’ban 1427 H/Agustus 2006 M.

Tarjamah Riyadush Shalihin Jilid 1, Imam an Nawawi, Duta Ilmu, Surabaya , Cetakan Kedua, Oktober 2004, Edisi Revisi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 23, 2009 in Islam, Refleksi Jiwa

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: