RSS

Muallaf Menyikapi Tradisi

03 Feb

Teringat imlek yang telah berlalu, walau sudah melewati momentum Imlek, namun penulis memutuskan untuk membahas mengenai imlek sebagai salah satu studi kasus untuk membahas topik yang sering ditanyakan oleh para muallaf dan mungkin juga non-muallaf. Yaitu bagimana muallaf menyikapi tradisi? Apakah boleh merayakan atau melakukan tradisi tertentu?

Bagaimana bila tradisi tersebut ternyata memang atau minimal mempunyai keterkaitan dengan ritual agama tertentu (bukan Islam)?

Penulis membahas ini bukan dengan kemampuan kapasitas sebagai ahli agama, namun mencoba berbagi hasil perenungan dari mengikuti berbagai pengajian, berdialog dan berdiskusi dengan beberapa orang, dan membaca beberapa artikel, majalah, kitab kajian, dan sejenisnya. Dan mohon maaf kepada semua, bila tulisan kali ini dirasa agak panjang dan berbobot cukup berat, terutama untuk rekan-rekan muallaf. Penulis hanya ingin berbagi dengan para pembaca khususnya muallaf untuk dapat memahami bagaimana runut pemikiran ulama dalam memberikan pandangan dan pernyataan (fatwa) terhadap tradisi. Ada pun kepastian fatwa tersebut, para pembaca harus mendapatkannya langsung ke pihak yang berkompeten, dalam hal ini para ‘ulama. Sehingga jelas tidaklah cukup hanya dengan berbekal tulisan ini, kita bisa berfatwa terhadap masalah seputar tradisi. Apalagi masalah tradisi membutuhkan kajian yang komprehensif, baik dari sudut pandang agama, maupun sosial-kultur, dan lain sebagainya. Sama seperti dalam masalah kesehatan. Seseorang sangat diharapkan banyak membaca banyak kajian kesehatan, dengan harapan mempunyai wawasan yang luas terkait masalah kesehatan, dan memahami sudut pandang para praktisi ahli kesehatan.

Tetapi jelas belum cukup hanya berbekalkan bacaan tersebut untuk dapat menangani masalah kesehatan, terlebih yang rumit. Kita harus berkonsultasi dengan para pakar praktisi ahli kesehatan, atau belajar dari mereka sehingga mempunyai kemampuan yang minimal mendekati mereka. Sesungguhnya persoalan-persoalan itu ada tiga macam, yaitu persoalan yang jelas bagimu kebenarannya maka ikutilah, persoalan yang jelas bagimu sesatnya maka jauhilah, dan persoalan yang terdapat perselisihan di dalamnya maka serahkanlah (kembalikan penentuan hukumnya) kepada yang alim (ilmuwan).

(HR. Ath-Thabrani) “…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS 16:43) Dalam setiap pembahasan tradisi sebagai buah dari suatu kebudayaan, anak dari suatu peradaban, ada beberapa hal penting yang mempengaruhi pembahasan tersebut, terutama jika dikaitkan dengan kajian KeIslaman. Yaitu kaidah atau prinsip utama yang harus dicermati dan diikuti, terutama:

[1]. Niat,

motivasi yang melatari untuk melakukan tradisi tersebut. Sudah jelas bahwa niat sangat mempengaruhi prilaku seseorang, mempengaruhi bobot nilai suatu perbuatan. Bahkan agama mengajarkan bahwa suatu perbuatan yang sekilas bukan merupakan ibadah ritual, tetapi diniatkan untuk kebaikan atau menjauhi keburukan, dapat bernilai ibadah. Inilah dalilnya bahwa perbuatan yang bukan ibadah ritual (mahdhoh) semacam sholat, puasa, zakat, haji, dan sejenisnya, ternyata bisa bernilai ibadah: Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu.

(HR. Ahmad) Dari Abu Dzar rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Ada sekelompok sahabat Rasulullah melapor, “Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.

” Beliau bersabda, “Bukankah Alloh telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah dan pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.”

Mereka bertanya. “Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun mendatangkan pahala?” Beliau bersabda, “Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Dan itu semua terpulang kepada niatnya. Inilah dalil bahwa segala sesuatu tergantung niatnya:

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’

(Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits). Berarti apa pun perbuatan tersebut, bila dilandasi dengan niatan yang tidak baik, maka secara otomatis menjadi perbuatan yang buruk, walau secara sekilas, secara lahiriah termasuk perbuatan baik.

Contoh kasus,

perbuatan baik dengan tujuan ingin mendapatkan pujian, pamer, riya, dan sum’ah, dinilai buruk. Bahkan agama mengajarkan riya sebagai salah satu jenis syirik yang tersembunyi. Sedangkan syirik jelas perkara besar dan terlarang dalam agama.

Contoh kasus lainnya,

minum air putih tetapi diniatkan sebagaimana menikmati khomr, maka dinilai buruk. Demikian beberapa analisa dan fatwa dari para ahli fiqih.

[2]. Ada atau tidaknya,

serta Jelas (eksplisit) atau Samar (Implisit) tuntunan agama terkait tradisi tersebut. Agama Islam telah dijamin kesempurnaan syariatnya, sebagaimana Allah berfirman berikut ini: “..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. …” (QS 5:3) Perintah, larangan, semua sudah dijabarkan, terutama prinsip-prinsip dasarnya. Contoh, pada masalah makanan, pada prinsipnya Allah mengharamkan yang buruk, dan menghalalkan yang baik. Begitu pula untuk urusan di luar makanan, pada dasarnya segala perbuatan buruk, keji, munkar, itu semua terlarang. Inilah prinsip dasarnya. Kita bisa simak prinsip tersebut pada ayat-ayat berikut: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS 16:90) “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. …” (QS 5:5)

Juga bisa dilihat seruan yang serupa pada QS 2:172, QS 16:114, QS 2:168-169, QS 5:88 Namun demikian, memang ada hal-hal yang Allah ‘diamkan’ sebagai rahmat untuk kita, maka pada area tersebut, janganlah kita mempersulit diri dengan menentukan kedudukan hukumnya, padahal jelas Allah mendiamkannya. “…Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu..” (QS 6:119)

Rasulullah Shallallau ‘Alaihi wa Sallam bersabda:“Apa- apa yang Allah halalkan dalam kitabNya adalah halal, dan apa-apa yang diharamkan dalam kitabNya adalah haram, dan apa-apa yang didiamkanNya adalah dimaafkan. Maka, terimalah kemaafan dari Allah, karena sesungguhnya Allah tidak lupa terhadap segala sesuatu.” Kemudian beliau membaca (Maryam: 64): “Dan tidak sekali-kali Rabbmu itu lupa.” (HR. Al Hakim dari Abu Darda’, beliau menshahihkannya. Juga diriwayatkan oleh Al Bazzar)

Sabda lainnya:“Sesungguhny a Allah telah menentukan kewajiban-kewajiban maka janganlah kamu menyia-nyiakannya, dan menetapkan batasan-batasan maka janganlah kamu melanggarnya, dan Dia diamkan beberapa perkara sebagai rahmat buat kamu, bukan karena Dia lupa, maka janganlah kamu mencari-carinya.” (HR. Daruquthni dari Abu Tsa’labah al Khusyani, dihasankan oleh Imam An Nawawi dalam Arbain) “

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.” Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?”” (QS 10:59).

Baca juga ayat yang mempunyai pesan yang sama dengan ayat di atas pada QS 5:87, QS 16:116. “…Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS 22:78)

Berarti, sesuatu dilarang bila ada tuntunan yang jelas untuk melarangnya. Atau sesuatu dilarang bila dianalisa dengan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip dasar yang jelas dan telah diterangkan/ dijabarkan agama, hal tersebut bisa dipastikan mempunyai kesesuaian dengan hal yang terlarang, sehingga bisa diputuskan sebagai hal yang terlarang juga. Selain itu, bila tidak ada tuntunannya secara jelas, dan memang tidak ada kaidah atau prinsip dasar secara implisit yang dapat dipastikan bisa diterapkan untuk menerangkan hal tersebut, maka sangat dianjurkan untuk ‘diam’. Ini karena Allah pun ‘mendiamkannya’ , apalagi dikhawatirkan kita bila tidak ‘diam’, kita mempersulit diri sendiri. Kita akan melampaui batas, dan hal ini tidak disukai Allah. Bahkan bisa jadi kita akan menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal, dan ini merupakan dosa besar di sisi Allah. Contoh kasus yang ringkas: mengkonsumsi babi, darah, bangkai jelas dilarang karena jelas larangannya. Contoh kasus lain yang ringkas: wiski, bir, vodka, ini semua dilarang untuk diminum. Kendati tidak ada larangan yang jelas-jelas menuliskan pelarangan nama-nama minuman di atas, namun karakter minuman tersebut bila dianalisa jelas sama dengan khomr, sedangkan khomr jelas dilarang oleh agama, maka hurumnya adalah sama, yaitu haram.

[3]. Manfaat dari tradisi tersebut.

Pada prinsipnya, kita diperintahkan dan dituntun untuk melakukan segala sesuatu yang bermanfaat. Dan dianjurkan menghindari perbuatan yang kurang bermanfaat. Bahkan dilarang untuk melakukan perbuatan yang mendatangkan kerugian, bahaya, dan kerusakan. Berikut ini dalil yang menerangkan kaidah di atas: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburka n (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS 17:26-27)

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS 28:77)

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan;” (QS 28:183)

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Termasuk baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” Riwayat Tirmidzi. Ia berkata: Hadits hasan. Dari Sa’id Sa’d bin Malik bin Sinan Al-Khudri rodhiallohu ‘anhu, bahwa Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Dilarang segala yang bahaya dan menimpakan bahaya.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Daruquthni, dan yang lainnya dengan disanadkan dan diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwatha’ secara mursal, dari Amr bin Yahya, dari bapaknya, dari Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam dengan meniadakan Abu Sa’id. Hadits ini menguatkan satu dengan yang lainnya)

Contoh kasus:

membuat tato jelas terlarang, karena menyakiti diri sendiri, resiko kesehatan yang tinggi, dan tidak ada gunanya secara keseluruhan.

Selain itu juga, bila dikaitkan dengan kaidah no 2 di atas, memang ada larangan untuk bertato, yaitu: “Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan yang mentatoo dan minta ditatoo, dan yang mengikir gigi dan yang minta dikikir giginya.” (Riwayat Thabarani) Contoh kasus lagi: merokok jelas terlarang, karena pemborosan, mengancam kesehatan diri pribadi dan lingkungan sekitarnya, dan tidak ada manfaatnya secara keseluruhan. Kendati tidak ada tertulis dengan jelas larangan merokok, namun dengan kaidah, mayoritas ‘ulama mengharamkan merokok, terlebih di masa modern ini, yang banyak mendapatkan bukti-bukti ilmiah terkait bahayanya rokok.

[4]. Peniruan tradisi kaum lain,

khususnya dari mayoritas non-muslim.

Ada tuntunan agama untuk menghindari tradisi kaum lain, terutama yang mayoritasnya non-muslim, karena dikhawatirkan kita akan meniru mereka dari sisi agama. Padahal jelas agama Islam adalah agama yang benar dan sempurna di sisi Allah, serta paling sesuai dengan fitrah manusia. Dan kita dilarang mengikuti ajaran agama lain karena agama-agama tersebut bathil, tidak sempurna, tidak diridhoi Allah. Bahkan mereka cenderung membenci ajaran agama Islam lantaran perbedaan yang mendasar antara ajaran agama mereka dengan Islam, dan lantaran ketidaksukaan terhadap kebenaran dan kesempurnaan ajaran Islam. Karena itu, sekali lagi penulis menegaskan, kita dilarang kembali kafir, keluar dari Islam. Dan sekali lagi, penulis menegaskan, kita dilarang meniru tradisi agama mereka, karena khawatir jadi jauh dari ajaran Islam, bahkan kembali kafir.

Na’uudzu Billaahi Min Dzaalika. Berikut ini sekumpulan dalil terkait tuntunan di atas: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS 3:19)

“..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. …” (QS 5:3)

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 2:256)

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS 30:30)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS 3:85)

Pesan yang setema atau yang saling berkaitan juga bisa kita baca pada QS 6:70, QS 6:153, QS 21:93, QS 3:105, QS 98:1, QS 98:4, QS 22:78, QS 2:130, QS 3:67, QS 2:135, QS 2:109, QS 5:82, QS 2:120, QS 10:19, QS 23:52, QS 21:92, QS 21:24, QS 2:132, QS 3:79-80.

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk mereka.” Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban. Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya. Para sahabat lantas bertanya, “Siapa ‘mereka’ yang baginda maksudkan itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Bukhari)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Khaalifuu al musyrikiin wa waffiruu al lihaa wahfuu asy syawariba, artinya:“Berbedalah dengan orang musyrik, biarkanlah jenggot, dan potonglah kumis.” (HR. Imam Bukhari X/295,296. Imam Muslim no. 254,259. Imam at Tirmidzi no. 2764. Imam An Nasa’i I/129. Imam Ahmad II/16)

Dalam shohih Bukhori ada satu riwayat dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu yang menjelaskan tentang firman Allah Subhanahu wata’ala : “Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata : janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Tuhan-tuhan kamu, dan janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq maupun Nasr” (QS. 71: 23).

Beliau (Ibnu Abbas) mengatakan : “Ini adalah nama orang-orang sholeh dari kaum Nabi Nuh, ketika mereka meniggal dunia, syetan membisikan kepada kaum mereka agar membikin patung-patung mereka yang telah meninggal di tempat-tempat dimana disitu pernah diadakan pertemuan-pertemuan mereka, dan mereka disuruh memberikan nama-nama patung tersebut dengan nama-nama mereka, kemudian orang-orang tersebut menerima bisikan syetan, dan saat itu patung-patung yang mereka buat belum dijadikan sesembahan, baru setelah para pembuat patung itu meninggal, dan ilmu agama dilupakan, mulai saat itulah patung-patung tersebut mulai disembah”. Diriwayatkan dari Umar Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : Abdullah (hamba Allah) dan Rasulullah (Utusan Allah)” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu majah dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu) .

Tsabit bin Dhohhak Radhiallahu’anhu berkata : “Ada seseorang yang bernadzar akan menyembelih onta di Buwanah, lalu ia bertanya kepada Rasulullah, maka Nabi bertanya : “Apakah di tempat itu ada berhala-berhala yang pernah disembah oleh orang-orang jahiliyah ? para sahabat menjawab : tidak, dan Nabipun bertanya lagi : “Apakah di tempat itu pernah dirayakan hari raya mereka ? para sahabatpun menjawab : tidak, maka Nabipun menjawab : “Laksanakan nadzarmu itu, karena nadzar itu tidak boleh dilaksanakan dalam bermaksiat kepada Allah, dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh seseorang” (HR. Abu Daud, dan Isnadnya menurut persyaratan Imam Bukhori dan Muslim).

Contoh kasus: mengucapkan syukur dengan memberikan sesajen. Walau pun secara lahir dikatakan sesajen ini ditujukan hanya kepada Allah, sebagai ungkapan rasa syukur, jelas tetap terlarang. Karena jelas meniru orang non-muslim dalam ritual ibadahnya, apalagi non-muslim biasanya melakukan sesajen ditujukan kepada selain Allah. Contoh kasus lain: memakai semua ucapan kosa kata agama Yahudi dan Kristiani. Seperti memanggil ‘alim ‘ulama dengan sebutan pendeta, father, atau rabbi (ditegaskan di sini kata ‘rabbi’, bukan ‘murobbi’); atau memanggil orang sholih dengan sebutan saint (santa); atau memanggil Allah dengan sebutan Yehova, Allah Bapak. Ini semua jelas terlarang, karena kita meniru tradisi mereka. Hal-hal di atas akan ditambah lagi dengan beberapa aspek pertimbangan yang cukup mempengaruhi proses penilaian dan pengambilan keputusan, seperti berikut ini:

[1]. Kehati-hatian.

Karakter manusia beragam, dan ini mempengaruhi cara pandang mereka, cara mereka menganalisa, sampai mengambil kesimpulan dan keputusan, serta bertindak. Ada kubu orang-orang yang ketat, terlebih dalam urusan agama. Mereka sangat ketat terhadap suatu perihal yang tidak ada tuntunannya secara jelas (eksplisit) dalam urusan agama (ingat, ini dalam urusan agama, terutama ibadah mahdhoh, bukan urusan dunia), karena khawatir tergelincir kepada urusan Bid’ah. Dari Ibunda kaum mu’minin, Ummu Abdillah ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha,

dia berkata: ”Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: ”Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu (amalan) dalam urusan (agama) kami yang bukan dari kami, maka (amalan) itu tertolak.” (HR. Bukhori dan Muslim). Dan dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak.” “Jauhilah perkara-perkara yang baru,karena sesungguhnya setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”(HR Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah) Selain itu juga, mereka khawatir tergelincir ke dalam masalah Syubhat, yang ujung-ujungnya ada kemungkinan membuat mereka tergelincir ke dalam hal-hal yang dilarang/diharamkan oleh Allah.

An-Nu’man bin Basyir berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (syubhat / samar, tidak jelas halal-haramnya) , yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.'” (HR. Bukhori) Tetapi di kubu lain, ada orang yang lebih fleksibel, mencari kemudahan selama tidak ada larangan yang jelas sekali terhadap hal tersebut.

Aisyah ra menyebutkan bahwa: “Nabi tidak pernah diberi dua pilihan, kecuali beliau memilih yang paling mudah, selama hal tersebut bukan berupa dosa. Jika hal tersebut adalah dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauhi hal tersebut “. (Fathu al-Bari, X, 524) “Sesungguhnya agama ini (Islam) adalah mudah. Dan tidaklah seorang yang mencoba untuk menyulitkannya, maka ia pasti dikalahkan”. (Fathu al-Bari, I, 93) Rasulullah Shallallau ‘Alaihi wa Sallam bersabda:“Apa- apa yang Allah halalkan dalam kitabNya adalah halal, dan apa-apa yang diharamkan dalam kitabNya adalah haram, dan apa-apa yang didiamkanNya adalah dimaafkan. Maka, terimalah kemaafan dari Allah, karena sesungguhnya Allah tidak lupa terhadap segala sesuatu.” Kemudian beliau membaca (Maryam: 64): “Dan tidak sekali-kali Rabbmu itu lupa.” (HR. Al Hakim dari Abu Darda’, beliau menshahihkannya.

Juga diriwayatkan oleh Al Bazzar) Sabda lainnya:“Sesungguhny a Allah telah menentukan kewajiban-kewajiban maka janganlah kamu menyia-nyiakannya, dan menetapkan batasan-batasan maka janganlah kamu melanggarnya, dan Dia diamkan beberapa perkara sebagai rahmat buat kamu, bukan karena Dia lupa, maka janganlah kamu mencari-carinya.” (HR. Daruquthni dari Abu Tsa’labah al Khusyani, dihasankan oleh Imam An Nawawi dalam Arbain) “…Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS 22:78) Dan dalam shohih Muslim, Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu berkata : bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Binasalah orang-orang yang bersikap berlebih-lebihan” (diulanginya ucapan itu tiga kali). Sejak zaman dahulu, kedua kubu ini sudah terbentuk. Misalnya pada era shahabat ra, ada Abdullah Ibnu Umar ra yang cenderung ketat, dan ada Abdullah Ibnu Abbas ra yang cenderung lebih lentur. Dan setiap orang mempunyai orientasi pemikiran, akan berlabuh ke mana. Dan keduanya benar, karena memang masih di batas koridor yang benar dan mempunyai dalil yang kuat. Satu hal yang perlu diperhatikan, tidak selamanya sesuatu yang ketat itu berarti keharusan mutlak, bisa jadi hanya merupakan anjuran atau mempunyai koridor pengecualian.

Contoh kasus adalah penyair dan syairnya, serta membaca syair, khususnya membaca syair di masjid. Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485) Keketatan sahabat Umar ra, ayah dari Abdullah ibnu Umar ra terhadap masalah syair bukan berarti mutlak melarang semua pembacaan syair di semua tempat, termasuk di masjid. Namun untuk berjaga-jaga agar manusia tidak lalai, agar manusia tidak terlalu fokus dan menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya demi syair belaka. Apalagi mengingat ada beberapa ayat Al-Quran yang menegur hal tersebut: “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS 31:6) “Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.

Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan( nya)?” (QS 26:224-226) Terlebih untuk membaca syair di masjid, karena masjid adalah tempat ibadah, tempat majelis ilmu dan dzikir, tempat I’tikaf untuk ibadah. “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS 24:36) Bila kita memperhatikan dalil ayat Al-Quran di atas, maka tampaklah sekilas mutlak larangan menjadi penyair, membuat syair, dan membacakan syair serta yang sejenisnya, terlebih di dalam masjid. Dan ini menjadi kecenderungan pilihan sikap bagi banyak orang. Namun walau terdapat banyak teguran dan larangan terkait syair, terlebih bila diucapkan di dalam masjid, ternyata masih ada pengecualian. Syair yang memuji Allah swt dan Rasulullah saw diperbolehkan, bahkan Rasulullah saw mendirikan mimbar khusus untuk Hassan bin Tsabit ra di masjid agar ia melantunkan syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058, sunan Attirmidzi hadits no.2846). Aisyah ra pun membelanya. Bahwa ketika ada beberapa sahabat yg mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata : “Jangan kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw”(Musnad Abu Ya’la Juz 8 hal 337). Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman.

Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. (QS 26:227) Sehingga walau ketentuan umum mencela penyair dan syairnya, ada pengecualian, yaitu pembolehan terhadap penyair dan syair yang mengagungkan Allah swt dan Rasulullah saw, yang meninggikan Kalimat Allah, memperluas syiar agama. Bahkan termasuk perbuatan yang dipuji.

[2]. Bank data untuk kajian suatu masalah.

Bisa jadi seseorang akan mengambil kesimpulan yang berbeda dengan orang lain, walau pun memakai metodologi dan kaidah atau prinsip yang sama. Ini dikarenakan perbedaan bank data yang digunakan untuk mengkaji suatu masalah. Hal ini mesti diperhatikan oleh kita, terutama muallaf. Sehingga menjadi suatu keharusan seseorang untuk selalu melakukan pencarian data dan fakta terkait sesuatu hal, dan dilakukan dengan komprehensif. Juga hal ini menegaskan kompetensi, yaitu seseorang tidak boleh sembrono mengambil kesimpulan untuk menilai sesuatu sebelum lengkap pengetahuannya, apalagi macam orang awam seperti kita para muallaf. Berikut ini contoh kasus perbedaan bank data mengakibatkan perbedaan kesimpulan. Pernah sekali Imam Malik bin Anas ditanya adakah perlu membasuh jari-jari kaki ketika berwudhu’. Beliau menjawab “Itu tidak perlu”. Setelah berakhirnya majlis kuliah tersebut, seorang anak murid Malik, bernama Ibn Wahhab berkata “Aku mengetahui akan suatu hadis berkenaan soalan tadi.” Bertanya Imam Malik: “Hadis apakah itu ?”, Ibn Wahhab berkata: “Laits ibn Sa‘ad, Ibn Luhai‘ah dan ‘Amr bin al-Harits meriwayatkan dari jalan Yazid bin ‘Amr, dari Mustawrid bin Shaddad; di mana mereka telah berkata: ‘Kami melihat Rasulullah menggosok antara jari-jari kakinya ketika berwudhu dengan anak jarinya’.” Berkata Imam Malik: “Riwayat ini adalah sahih. Aku tidak pernah mendengarnya hingga seketika tadi.” Ibn Wahhab seterusnya menerangkan bahawa Imam Malik kemudian mengajar orang ramai untuk menggosok jari-jari kaki mereka apabila berwudhu’. (Riwayat Ibn Abi Hatim di dalam kitabnya – al-Jarh wa al-Ta’dil, ms. 31-32)

Contoh kasus lain: Dan diriwayatkan pula bahwa bacaan Alqur’an di kuburan adalah Bid’ah, dan hal itu adalah ucapan Imam Ahmad bin hanbal, lalu muncul riwayat lain bahwa Imam Ahmad melarang keras hal itu. Maka berkatalah padanya Muhammad bin Qudaamah : Wahai Abu Abdillah (nama panggilan Imam Ahmad), apa pendapatmu tentang Mubasyir (seorang perawi hadits), Imam Ahmad menjawab : Ia Tsiqah (kuat dan terpercaya riwayatnya). Maka berkata Muhammad bin Qudaamah sungguh Mubasyir telah meriwayatkan padaku dari ayahnya bahwa bila wafat agar dibacakan awal surat Baqarah dan penutupnya, dan bahwa Ibn Umar berwasiat demikian pula!”. Maka berkata Imam Ahmad :”katakan pada orang yg tadi kularang membaca Al-Qur’an dikuburan agar ia terus membacanya lagi..”. (Al Mughniy Juz 2 hal : 225)

[3]. Metodologi pengambilan keputusan.

Kendati mempunyai bank data yang sama, juga mungkin karakter yang sama, metodologi pengambilan keputusan akan mempengaruhi hasilnya. Keraguan akan muncul pada orang mengambil suatu keputusan tanpa metodologi analisa yang baik, dan teruji. Dan mustahil seseorang mengambil keputusan dalam hal penting tanpa suatu metodologi. Dalam istilah agama, metodologi ini sering disebut sebagai Madzhab. Segala pemahaman dan pengambilan kesimpulan dalam masalah agama harus berdasarkan Madzhab. Tanpa berdasarkan suatu madzhab, baik secara penuh atau mengadopsi sebagian besar madzhab tersebut, maka diragukan kekuatan dan kebenaran kesimpulannya. Kalau pun bertepatan, itu hanya kebetulan belaka.

Sebagai contoh: ada 2 anak kecil diberi pertanyaan aritmatika sederhana, yaitu berapa hasil 5 x 3? Keduanya menjawab 15.

Namun belum tentu keduanya kita bisa nyatakan benar. Kalau anak yang pertama menjawab 15 karena asal tebak, dan kebetulan secara tidak sengaja mendengar perkataan segala sesuatu yang dikalikan 5 maka hasilnya selalu berujung 5.

Sedangkan anak yang kedua menjawab 15 karena menyimpulkan bahwa 5 x 3 adalah penjumlahan nilai 3 sebanyak 5 kali, yaitu 3 + 3 + 3 + 3 + 3, yang hasilnya adalah 15. Dengan demikian jelaslah bahwa anak kedua yang benar, anak pertama yang salah jawabannya, walau sekilas bertepatan.

Maka dengan demikian penulis menegaskan bahwa pentingnya kita belajar agama, khususnya madzhab untuk membantu penilaian dan pengambilan keputusan seputar masalah agama. Jika belum sampai kemampuannya, hendaklah mencari orang yang berkompeten, mempunyai kemampuan menurut suatu madzhab, mencari orang yang terpercaya, mempunyai integritas tinggi dan amanah serta cerdas, untuk membantu meminta penilaian dan pandangan (fatwa) terkait urusan masalah agama. Ini mengingatkan sekali lagi kepada pemisalan (analogi, qiyas) penulis di atas terkait masalah kesehatan. Di dalam masalah hukum agama (fiqih), dikenal 4 madzhab besar yang teruji metodologinya dan bertahan serta dianut mayoritas umat Islam di seluruh dunia, dan menjadi pegangan dalam fiqih.

4 Madzhab tersebut adalah: Madzhab Hanafi yang dirintis oleh Imam Abu Hanifah (An-Nu’man bin Tsabit) rah, Madzhab Maliki yang dirintis oleh Imam Malik bin Anas rah, Madzhab Syafi’i yang dirintis oleh Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i rah, dan Madzhab Hambali yang dirintis oleh Imam Ahmad bin Hanbal rah. Di Indonesia serta Asia Tenggara pada umumnya mayoritas cenderung atau bahkan berpegang penuh kepada Madzhab Syafi’i. Keempat Madzhab ini bersumber dari fiqih salafus-sholih, generasi awal. Inti dari keempat madzhab ini adalah berpegang pada dalil dan kaidah yang terdapat pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw, lalu Ijma (kesepakatan) , kemudian Qiyas (analogi). Tetapi cara mereka memahami, memberikan bobot pada setiap tingkatan dalil, juga perspektif dan pengalaman terhadap realita yang terjadi di sekitar mereka menjadikan adanya perbedaan (khilafiyah) , seperti cabang ranting (furu’) pada dahan dan batang pohon yang sama (ushul). Sebagai contoh: Perbedaan penempatan tingkatan dalil. Imam Malik mendahulukan Hadits Ahad (Hadits yang jalur riwayatnya sedikit) daripada analogi (qiyas). Dan Imam Malik mendahulukan praktek perbuatan penduduk madinah, khususnya generasi awal, ketimbang Hadits Ahad. Tetapi Imam Syafi’i menolak mendahulukan praktek perbuatan penduduk madinah ketimbang Hadits Ahad, terlebih Hadits Ahad yang Shohih.

Contoh yang lain: perbedaan pemahaman suatu kata yang bisa mempunyai banyak makna, atau mengandung makna kiasan. Imam Syafi’i dan Imam Malik mengartikan kata Quru’ dalam QS 2:228 sebagai suci dari haid, sedangkan Imam Abu Hanifah mengartikannya sebagai haid. Dan memang kata Quru’ bisa berarti suci dari haid atau haid itu sendiri. Kata Lamasa pada QS 4:43 dan QS 5:06 bisa berarti menyentuh perempuan secara harfiyah, atau kiasan dari bersetubuh. Imam Syafi’I mengartikan secara harfiyah sehingga wudhu batal bila bersentuhan dengan lawan jenis. Sedang Imam Malik dan Imam Ahmad mengartikan secara kiasan, sehingga wudhu belum terhitung batal bila sekedar bersinggungan dengan lawan jenis, kecuali bila diiringi syahwat. Dari beberapa paparan di atas, penulis bisa mencontohkan secara ringkas, beberapa pandangan, fatwa, dan keputusan terkait suatu tradisi khususnya warisan dari masa lalu, atau tradisi dari komunitas yang mayoritasnya non-muslim. Untuk contoh kasus, penulis mengambil masalah tradisi perayaan natal, tradisi perayaan valentine, dan tradisi perayaan imlek. Kemudian juga tradisi era jahiliyyah yang menjadi bagian dari ritual ibadah Haji semacam sa’i pada shofa-marwah, tradisi bulan Haram yang juga merupakan tradisi era jahiliyyah, juga puasa Asyuro yang awalnya merupakan tradisi Yahudi dan tradisi Jahiliyyah. Untuk tradisi perayaan natal, dan tradisi perayaan valentine, semua sepakat mengharamkannya. Karena dipandang dari segi niat, perayaan tersebut jelas untuk ritual, memuji dan mengagunkan tokoh agama lain. Dipandang dari segi manfaat, jelas nyaris tiada, karena cenderung kepada hura-hura dan pemborosan, bahkan juga pada kegiatan minum minuman keras dan khusus pada perayaan valentine cenderung pada kegiatan seks bebas. Dipandang dari peniruan, jelas terlihat tradisi peniruan kegiatan yang bernuansa ritual atau ibadah dari golongan Kristiani, sedang kita diperintahkan berbeda dengan mereka, dan tidak mengikuti jejak mereka, khususnya dalam kegiatan yang berorientasi kepada agama. Dipandang dari segi dalil, jelas ada kaidah yang melarang mengagungkan seseorang hingga ke tingkat menuhankan atau kultus berlebihan.

Dipandang dari segi kehati-hatian, jelas kita harus berhati-hati, bahkan kegiatan perayaan ini bisa mengarah kepada kategori Bid’ah. Dengan demikian, sekali lagi perayaan natal dan valentine terhukum haram. Terkait Perayaan Imlek, berselisih para ulama, namun di Indonesia, umumnya membolehkan dengan catatan tertentu. Dipandang dari segi niat, bila sekedar menunjukkan rasa bersyukur, gembira, menyambut pergantian tahun, memasuki musim semi baru, maka tidak bermasalah. Tetapi bila diniatkan untuk berdoa kepada para dewa dan leluhur, pengkultusan leluhur, maka terlarang. Dipandang dari segi manfaat, umumnya terdapat nilai yang baik, antara lain semangat berbagi melalui angpao, semangat silaturahmi, saling mengucapkan selamat dan saling mendoakan, maka hal ini menjadikan salah satu alasan kurang kuatnya pelarangan tradisi perayaan imlek. Dan memang secara umum tradisi ini mempunyai banyak nilai moral yang baik. Namun bila dalam perayaan diisi dengan acara yang melalaikan, maka hal ini kurang baik. Dan bila dalam perayaan diisi dengan acara yang dilarang agama, seperti mengkonsumsi babi, meminum arak (ciu) yang merupakan minuman keras, juga berdoa menurut cara non-muslim, maka ini terlarang. Maka catatan penting dalam tradisi perayaan imlek adalah menjauhi hal-hal yang melalaikan dan pemborosan, serta tidak melakukan hal terlarang macam mengkonsumsi makanan dan minuman haram, berdoa menurut cara non-muslim, dan sebagainya. Dipandang dari segi dalil, belum ditemukan ada dalil yang secara eksplisit melarang tradisi pergantian tahun menurut sebagian ulama. Dan bila dibandingkan dengan dalil dan prinsip tuntunan agama pun bagi sebagian ulama belum dapat dijadikan landasan yang kuat untuk melarang tradisi pergantian tahun semacam imlek. Lagi pula tradisi perayaan pergantian tahun semacam imlek tidak dianggap bagian dari ritual agama atau dijadikan ritual baru dalam agama, sehingga sulit untuk dikatakan Bid’ah menurut sebagian ulama. Sehingga bersilang pendapat, ada yang mengatakan tidak apa, ada yang mengatakan sebaiknya dihindari (makruh), ada yang mengatakan terlarang. Dari segi peniruan, ini yang menjadi polemik, karena menurut kajian sejarah, awalnya tradisi perayaan imlek murni sekedar syukuran.

Tetapi seiring perjalanan waktu (memakan waktu ribuan tahun), maka disisipi tradisi pengkultusan leluhur, mendewakan leluhur, juga tradisi tahayul. Karena itu bersilang pendapat, bagi yang melihat unsur syukuran yang dominan, maka cenderung tidak melarang. Sedang yang cenderung melihat unsur pengkultusan dan tahayul, maka cenderung melarang. Karena dalil yang melarang pengkultusan dan tahayul telah jelas, dan tradisi untuk meniru atau bahkan menghidupkan kembali adalah terlarang, untuk menutup celah kemusyrikan. Maka disimpulkan sebaiknya tradisi perayaan Imlek dihindari, atau boleh merayakan Imlek dengan catatan niat yang benar hanya untuk syukuran, dan diisi dengan kegiatan yang bermanfaat serta tidak dilarang agama, juga menjauhi dan menghindari tradisi pengkultusan dan tahayul. Bagaimana dengan tradisi bulan Haram dan beberapa ritual era jahiliyyah yang kerap dilakukan dan menjadi bagian dari ritual Haji,

contohnya adalah sa’i pada shofa-marwah? Dipandang dari segi niat, jelas tidak ada unsur terlarang, karena murni ibadah, menghormati tradisi yang berasal dari Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as, dan Siti Hajar as. Dipandang dari segi manfaat, terdapat banyak pelajaran moral yang mendidik. Dipandang dari segi dalil, sangat kuat dalil yang melindungi tradisi bulan Haram dan tradisi ritual era jahiliyyah seperti sa’i pada shofa-marwah yang menjadi bagian dari ritual ibadah haji. Bisa dibaca kajian dan tafsir seputar QS 2:194, QS 2:217, QS 5:2, QS 5:97, QS 9:36 untuk masalah bulan Haram, dan QS 2:158 untuk masalah sa’i pada shofa-marwah.

Dari sudut pandang peniruan, jelas tidak meniru tradisi jahiliyyah yang tercela dan menyalahi ajaran agama Islam, tetapi lebih meniru dan menghidupkan kembali tradisi agama Islam pada era Ibrahim as. Jadi tradisi bulan Haram dan sa’i pada shofa-marwah merupakan bagian dari syariat agama, harus dijalankan semampunya. Untuk puasa Asyuro, bagaimana kajiannya? Dari segi niat, tujuannya adalah untuk menghormati keutamaan yang terdapat pada hari tersebut – 10 Muharrom, diantaranya adalah menghormati dan merayakan kemenangan Nabi Musa as serta Bani Israel dari kejaran Firaun dan bala tentaranya. Maka dibenarkan menurut sudut pandang ini.

Dari segi manfaat, puasa adalah ibadah dan memiliki banyak manfaat yang rasanya penulis tidak perlu untuk menjabarkannya.

Dari segi dalil, sangat kuat dalil yang menganjurkan (tapi bukan mewajibkan) puasa Asyuro, sebagai berikut: Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Adalah kaum Quraisy pada zaman Jahiliyah selalu berpuasa pada hari Asyura’ dan Rasulullah saw. juga berpuasa pada hari itu. Ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabat untuk berpuasa pada hari itu. Namun ketika diwajibkan puasa bulan Ramadan, beliau bersabda: Barang siapa yang ingin berpuasa, maka berpuasalah dan barang siapa yang tidak ingin berpuasa, maka ia boleh meninggalkannya. (Shahih Muslim No.1897) Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi melaksanakan puasa hari Asyura’. Ketika ditanyakan tentang hal itu, mereka menjawab: Hari ini adalah hari kemenangan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Musa as. dan Bani Israel atas Firaun.Karena itulah pada hari ini kami berpuasa sebagai penghormatan padanya. Mendengar jawaban itu Rasulullah saw. bersabda: Kami lebih berhak atas Musa dari kalian, maka beliau menyuruh para sahabat untuk berpuasa. (Shahih Muslim No.1910)

Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata: Has.ri Asyura’ adalah hari yang dimuliakan orang-orang Yahudi dan dijadikannya sebagai hari raya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Berpuasalah kalian pada hari Asyura’ tersebut. (Shahih Muslim No.1912) Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.: Ibnu Abbas ra. pernah ditanya tentang puasa pada hari Asyura’, dia menjawab: Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. berpuasa sehari untuk mencari keutamaan hari itu atas hari-hari yang lain selain pada hari ini. Begitu pula (saya tidak pernah melihat beliau) berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan ini, bulan Ramadan. (Shahih Muslim No.1914)

Dari segi peniruan, puasa Asyuro adalah puasa yang telah dijalankan oleh Nabi Muhammad saw sebelum datangnya kewajiban puasa Romadhon. Dan puasa Asyuro adalah tradisi Yahudi dan tradisi Jahiliyyah yang sebenarnya berakar dari syariat Islam pada era sebelum Nabi Muhammad saw. Jadi jelas puasa Asyuro tidak meniru tradisi yang mencemari dan menyalahi ajaran Islam. Demikian paparan dan sharing penulis yang jauh dari sempurna terkait analisa masalah tradisi, khususnya tradisi warisan dan/atau tradisi dari komunitas yang mayoritas non-muslim. Dan sekali lagi penulis menegaskan bahwa dibuatnya tulisan ini hanya untuk sharing sekaligus memperluas wawasan. Serta sekali lagi penulis menegaskan bahwa kita, khususnya yang awam, terlebih yang muallaf, harus menuntut ilmu dan belajar agama dari para ‘alim ulama langsung, dari mereka yang memang berkompetensi dalam bidang agama, serta amanah, dan berintegritas tinggi.

Walloohu A’lam Bis-Showaab.

Alloohumma Sholli wa Sallim wa Baarik ‘alaa Habiibika Sayyidinaa wa Nabiyyinaa Muhammad, wa ‘alaa Aalihii wa Shohbihi wa Man Tabi’ahum bi Ihsaanin Ilaa Yaumid-Diin. Subhaanakalloohumma wa bihamdika, Nasyhadu an Laa Ilaaha Illaa Anta, Nastaghfiruuka wa Natuubu Ilaika. Subhaana Robbika Robbil ‘Izzati ‘Amaa Yashifuun. Wa Salaamun ‘alal Mursaliin. Walhamdu Lillaahi Robbil ‘Aalamiin. Aamiin, Yaa Robbal ‘Aalamiin. Dari Muallaf, Oleh Muallaf, Untuk Muallaf Dan seperti ucapan sahabat ‘Abdullah ibnu Mas’ud ra., penulis pun mengikutinya:

Ini adalah pendapat dan curahan hati penulis semata. Jika benar, maka itu dari petunjuk Allah swt. Jika salah, maka itu dari diriku dan dari bisikan setan, sedangkan Allah swt dan Rasulullah saw bebas dari padanya.

Referensi:

• Al-Quran Digital versi 2.1

• Hadits Web versi 3.0

• Majalah Tarbawi

• Pedoman-pedoman Bermadzhab Dalam Islam karya Hafiz Firdaus Abdullah versi e-book

• Terjemahan Halal dan Haram Dalam Islam karya Syeikh Yusuf Al-Qorodhowi bersi e-book

• Terjemahan Kitab Tauhid karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi versi e-book

http://www.eramuslim.com

http://www.majelisrasulullah.org

http://www.mui.or.id

http://www.muslim.or.id

http://www.pesantrenvirtual.com

http://www.syariahonline.com

http://www.warnaislam.com

• Terjemahan Mukhtashor (Ringkasan) Tafsir Ibnu Katsir versi Salim Bahreisy

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 3, 2009 in Islam, Seputar Mualaf

 

One response to “Muallaf Menyikapi Tradisi

  1. Imam Syatibi

    Februari 3, 2009 at 5:37 am

    sekilas saja saya bacanya… menurut saya, imlek merupakan sebuah tradisi dari negeri cina yang intinya merayakan tahun baru cina, kalau tradisi tersebut tidak menyalahi ajaran agama, mengapa tidak untuk diteruskan? toh itu adalah saah satu sarana untuk mengingat nenek moyang :mrgreen:

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: