RSS

Arsip Harian: November 17, 2008

Mualaf Chinese yang tersingkirkan

Tidak terlintas sedikit pun dalam benak A Meng alias Parlan (28) yang menjadi muslim sejak 2002 akan dikucilkan, bahkan tidak diakui oleh orangtua, sanak keluarga dan oleh lingkungan etnis Tionghoa. Rongrongan demi rongrongan datang dari orang tua dan sanak keluarga ketika dirinya harus memutuskan akan keluar dari kepercayaan sebelumnya. Tetapi dengan keteguhan dan kemantapan yang ia yakini akhirnya dia memutuskan menjadi mualaf.

Meskipun harus “terbuang”, terusir dari keluarga besarnya dan lingkungan sekitar yang tidak lagi menganggap A Meng yang dulu lagi, melainkan sosok manusia yang berubah setelah memeluk agama Islam menurut pandangan etnis Tionghoa.

Tetapi hari demi hari ia lewati dengan penuh duka. Berbekal baju “sehelai sepinggang”, ia meninggalkan rumah dan sanak keluarga yang berada di Wajok Hilir, Kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak, Kalbar, yang berjarak belasan kilometer dari Ibu Kota Pontianak.

Ketika itu ia masih belum membina rumah tangga, sehingga sempat hidup terlunta-lunta tanpa tahu kemana hendak menjejakkan langkah kakinya untuk menyongsong masa depan.

“Saya waktu itu sempat tidur di sebuah masjid di kawasan Wajok Hilir dalam beberapa minggu, yang terkadang makan satu atau dua kali dalam sehari itu pun atas belas kasihan warga yang prihatin melihat kondisi saya,” kata Parlan yang kini sudah mempunyai dua anak buah hati pernikahannya dengan Sumiati (25).

Karena ada warga yang prihatin melihat kondisinya, maka ia ditawarkan bekerja di sebuah perusahaan kayu, PT Liberty, di Wajok Hilir. Setelah mendapat pekerjaan, kondisinya lambat laun mulai membaik.

Hari demi hari ia lalui dengan penuh suka-cita sambil memperdalam agama Islam. Hingga tibalah ujian yang kedua yang ia alami yaitu ketika terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran oleh pemilik perusahaan pada tahun 2005.

Ia salah satu dari ratusan karyawan yang terkena PHK, akibatnya Parlan harus banting stir untuk meneruskan hidupnya. Dalam masa sulit itulah ia bertemu dengan Sumiati yang kini menjadi pendamping hidupnya.

“Setelah saya kawin, lantas membuka usaha jual goreng pisang di kawasan Siantan, karena usaha yang ditekuni berjalan lancar, hingga kini saya masih berjualan goreng pisang, dan Alhamdulillah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Menurut dia, kisah etnis Tionghoa mualaf seperti yang ia alami, hampir terjadi di kebanyakan warga Tionghoa yang menjadi muslim. Karena itu, pengalaman pahitnya, hendaknya tidak dialami oleh orang lain yang memutuskan akan memeluk agama Islam.

Bagai berlian Kecil Tapi Berharga

Sementara menurut Chau Joe Him alias Amin Andika (43), mualaf Tionghoa hendaknya bisa menjadi berlian. “Walau pun kecil namun berharga di mata kaum muslim dan kalangan Tionghoa non-muslim.

Amin adalah sosok mualaf yang sangat berperan aktif dalam memberikan motivasi kepada para mualaf lain yang hidup dalam kesusahan akibat terbuang dari keluarga dan lingkungan karena berpindah keyakinan.

“Kami mualaf dari Tionghoa minoritas dari minoritas. Tetapi dari jumlah yang sedikit itu saya berharap bisa seperti berlian, biar kecil tetapi berharga di mata kaum muslim itu sendiri serta di kalangan Tionghoa yang non-muslim,” kata Amin Andika, yang juga Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kalimantan Barat.

Ia menjelaskan, para mualaf Tionghoa harus bisa membuktikan bahwa dengan berpindah keyakinan, bukan berarti putus segalanya. Melainkan lebih mempererat tali silaturahmi antarkeluarga yang tidak mungkin bisa dipisahkan.

Amin Andika lantas mempertanyakan, mengapa jika pindah agama selain Islam, bisa diterima di kalangan keluarga? Tetapi ketika berpindah ke agama Islam, ditolak keras oleh keluarga dan lingkungan. “Bahkan tidak sedikit dari kami yang tidak diakui sebagai anak oleh orangtuanya,” kata pria berkulit putih tersebut.

Atas pertimbangan adanya penolakan dari keluarga dan sahabat itulah, PITI dibentuk sejak tahun 1986 di Kalbar. Misinya, tak lain adalah menggalang keutuhan beragama di kalangan mualaf dari Tionghoa yang memang sangat membutuhkan pertolongan dari kaumnya.

“Apalagi 95 persen dari sekitar 14 ribu mualaf dari Tionghoa adalah kalangan kelas sosial masyarakat menengah ke bawah. Ekonomi lemah atau miskin, karena kebanyakan yang masuk Islam diusir dari keluarga tanpa membawa harta benda,” katanya.

Menurut pria yang memiliki kegemaran memelihara ikan hias itu, peranan PITI sangat dibutuhkan untuk membimbing para mualaf yang kehidupannya di bawah garis kemiskinan, sehingga mereka bisa memegang teguh pilihan yang telah mereka tentukan untuk masa depannya.

“Kondisi mualaf Tionghoa saat ini masih banyak yang hidup memprihatinkan, kita berharap mereka tidak dikucilkan dari keluarga hanya karena perbedaan aqidah,” katanya pria dengan tiga putra itu.

Amin menyatakan, anggota PITI Kalbar saat ini sudah berjumlah 14 ribu umat. Sementara etnis Tionghoa berjumlah sekitar 12 persen dari total penduduk Kalbar yang mencapai 5 juta jiwa.

Ketua PITI yang juga seorang pengusaha ikan hias kelahiran Pontianak, 1964 silam, itu menaruh harapan besar agar teman-temannya, sesama Tonghoa muslim, kini mendapat tempat yang layak di lingkungan keluarga mereka.

Demi meningkatkan taraf kehidupan mualaf Tionghoa, Amin kini juga mempunyai berbagai usaha yang diperuntukkan bagi mualaf Tionghoa yang tergolong tidak mampu.

Bersama seorang istri, Sri Lianti (38) yang setia mendampingi, di usia yang memasuki setengah abad, Amin Andika, menyebarkan agama Islam di kalangan Tionghoa dan keluarga. Bersama tiga buah hatinya, Rihat Andika (17), Malsul Vernanta Andika (15), dan Insarel Andika (12), mereka tinggal di Jl Parit Haji Husin II, Kecamatan Pontianak Selatan.

Ia menceritakan, bagaimana pengalamannya ketika akan berpindah agama, yaitu dengan melakukan pendekatan kepada keluarga dan memberikan pengertian, dengan kepindahannya tidak akan merusak hubungan keluarga yang selama ini sudah terbina

“Saya berharap mualaf Tionghoa bisa diterima di kalangan etnis Tionghoa, sehingga tidak ada perbedaan di antara kita,” katanya penuh harap.

Tidak Berbeda

Menanggapi ungkapan para mualaf Tionghoa itu, Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kalbar, Erick S. Martio mengatakan, perbedaan kepercayaan merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya. Jangan sampai masyarakat memandang perbedaan kepercayaan dalam satu rumah tangga menjadi perpecahan, tetapi jadikanlah sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Ia mengatakan, pandangan bahwa Tionghoa yang memutuskan memeluk agama Islam harus dikucilkan, suatu pandangan yang salah besar, karena tidak sedikit dijumpai saat ini, Tionghoa yang memeluk agama Islam.

“Bahkan tidak sedikit pengurus MABT yang beragama Islam. Semua agama sama yang penting bagaimana seseorang membawa dan mengamalkannya sehingga berguna bagi diri sendiri dan orang lain,” kata Erick.

Sejak MABT didirikan tahun 2004, keanggotaannya memang dari kalangan Tionghoa, tetapi tidak ada batasan agama, siapa saja boleh masuk anggota asal dia dari etnis Tionghoa. “Kita tidak membedakan agama, bahkan MABT membantu salah satu kegiatan sosial PITI dalam memberikan bantuan sembilan bahan pokok bagi masyarakat tidak mampu,” katanya.

Ia menyatakan, adalah penilaian yang salah besar kalau banyak orang memandang mualaf dari Tionghoa harus dikucilkan, bahkan agama Islam pertama kali dibawa ke Indonesia oleh Tionghoa.

Sebagai contoh bentuk kepedulian itu, ia wujudkan dengan ikut sertanya dalam kegiatan buka puasa bersama. “Saya tidak terusik dengan bulan Ramadan bagi umat muslim. Malah saya sering mengikuti buka bersama yang diselenggarakan oleh teman-teman mualaf,” katanya.

Cerminan toleransi beragama juga sangat terasa di Pontianak saat ini. Sejumlah tokoh Tionghoa membuat acara khusus mengundang rekan, kolega, dan relasi untuk berbuka puasa bersama. Suasana sejumlah tempat makan di Kota Pontianak juga mewujudkan toleransi itu dengan memasang tabir penutup, sehingga tidak menyinggung warga yang sedang berpuasa.

Erick mengajak adanya warna-warni perbedaan itu sebagai kekayaan. Dan jangan melihatnya sebagai perbedaan yang pada akhirnya menjadi perpecahan. “Jadikanlah perbedaan sebagai wujud kebersamaan untuk membangun Kalbar di masa mendatang,” katanya.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 17, 2008 in Refleksi Jiwa, Seputar Mualaf

 

Mencari wanita yang sholehah

wanita-jilbabBaru-baru ini ana ditawarkan lagi oleh beberapa orang muslimat, seperti biasa ana cuma akan mampu menolak secara baik….

sangat susah mencari jodoh zaman ini, sangat susah mencari pasangan idaman hati dan lebih derita hidup seorang diri….seorang ustaz tetap seorang manusia, punyai hasrat untuk berteman dan beristeri seperti orang lain.

Ana mendapat tahu ramai sudah sahabat dan rakan seumur yang sudah berhasil mempunyai 2-3 orang anak apatah lagi yang berumahtangga. Adapun Kita ini masih bujang di luar negara, masih solo kata orang muda…ada yang kata ana terlalu memilih, mungkin mereka benar….ada yang kata ana ini tidak setia pada yang satu, mungkin mereka benar…..ada yang kata ana ini begini dan begitu….

sebenarnya apabila sahabat ana bertanya ana, akan ciri-ciri wanita pilihan ana dan muslimat yang ana cari sekian lama maka jawab ana ialah berikut :

1) ana mencari seorang muslimat yang solehah-

ciri-cirinya :
a) Tidak musafir seorang diri tanpa mahram (kaum keluarganya) –
“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhirat melakukan safar (bepergian) selama satu hari satu malam yang tidak disertai mahramnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.” (Q.S. Al-Ahzab: 33)

maknanya ana inginkan seorang muslimat yang solehah yang tidak keluar dari rumah ke pekan atau bandar atau ke mana-mana tanpa mahramnya dan tanpa keperluan.

(jadi wujudkan muslimat spt ini ??? sekarang ???)
b) menjaga amal ibadahnya dan sangat cinta kepada Allah dan rasul
c) menutup aurat dan sangat menjaga kesucian dirinya terutama dari tercemar oleh maksiat dan noda.
(wujudkah muslimat spt ini sekarang ?? ramailah yg pakai tudung tapi bkn menutup aurat sebaliknya hanya terbiasa sbg budaya atau sekadarnya…)
sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Q.S An-Nur: 31)
d) tidak terdedah kpd fitnah dan hubungan bebas dengan lelaki baik melalui telepon, sms, pertemuan, percakapan dan email dll…
e) muslimat yg sangat minat kpd Islam dan ilmu, minat kepada perjuangan Islam, cinta kepada Ilmu dan pengajian.
f) melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan apa yg dilarang
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :“Apa yang dikatakan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Al Hasyr : 7)
g) Mentaati suami dan ibubapa
macam mana sahabat, anta jumpakah ciri-ciri muslimat spt yg ana impikan ini di Malaysia ???? setakat ini ana belum jumpa dan sekian lama ana mencari…
f) muslimat pemalu
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:((إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاءُ))“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”
2) Muslimat yang cerdik dan bijaksana
ciri-cirinya :
a) tahu memainkan peranan yg sepatutnya menurut keadaan dan tempat
b) sentiasa tahu menjaga diri
c) tidak mudah terpedaya oleh godaan fesyen, televisyen, filem, adat dan persekitaran
3) Muslimat yg cantik dan pembersih
ciri-cirinya :
a) berpakaian kemas dan bersih
b) menyukai keindahan dan kesucian
c) sentiasa dlm wudhuk dan berzikir kpd Allah
d) fikirannya bersih dr perkara kotor dan keji
e) tdk pernah melihat kemungkaran dan keji, tdk dengar nasyid dan lagu, tdk bercakap buruk dan cakap yg tdk baik.
4) Muslimat yg penyayang
ciri-cirinya :
a) sayangkan ibu dan ayahnya
b) sayangkan binatang dan haiwan dan tdk menyeksa mereka
c) tdk boros dan penjimat
d) seorg yg dermawan dan tdk kedekut
5) muslimat yg sanggup berkorban
a) sanggup hidup susah dan miskin
b) SANGGUP MATI KRN PERJUANGKAN AGAMA aLLAH
c) tdk pentingkan diri sendiri
d) tdk mudah menangis dan banyak senyum pada suami
Wallahua;lam….
setakat ini, ciri-ciri inilah yg ana cari……
ana tak kisah bentuk badan, slim atau tidak, putih atau malap, tinggi atau rendah, kaya atau miskin, cantik atau hodoh….
tapi ciri-ciri yg ana sebutkan itu yg ana cari dan sehingga skrg belum ana jumpai…rasanya mungkin tak akan jumpa kot ..jadi janganlah tanya dan tawar ana lagi melainkan sahabat jumpa ciri-ciri di atas…
ana pun berusaha menjaga diri, menjadi yg terbaik, sebaik hamba kepada Allah dan bertaubat di atas dosa-dosa lalu….
selamat tinggal kenangan silamku…….bab kata anak muda 🙂 ana mula hidup baru menjadi sebaik hamba kpd Allah, sealim ulamak kepada ummah dan sebagus anak kepada bonda ana…
suami ? itu mungkin lambat lagi kot atau mungkin sudah terlambat ?? insyaAllah dalam masa terdekat Allah akan bukakan hati seorang muslimat yg solehah untuk mencintai ana dan mempermudahkan jalan untuk ana menjadi suami yg soleh.
andai kita mencintai Allah maka seluruh bumi dan langgit akan mencintai kita….lalu setakat sebuah hati dari seorang hamba yg bergelar wanita…insyaAllah akan dipermudahkan Allah.
hmm, syukran sahabat atas keperihatinan anta..ana just ukirkan di sini bagi anta baca dan faham…doakan ana bertemu ketenangan hakiki dari Allah atas pertunjuk sunnah selamanya kita berada.
asalamualaikum (dari blog ustaz)

“kalau lah cowo-cewe barat ini memiliki akhlat dan bergaya layak nya muslim sejati walah pasti perfect sekali ya, body2 yang aduhai dan mempesona di balut ke imanan yang tinggi, tapi memang tidak ada yang sempurna di dunia ini, alhamdulilah”

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada November 17, 2008 in Islam, Refleksi Jiwa

 

Herman Halim (d/h Lim Xiao Ming), Mualaf dari Bank Maspion

hermanhalimAllah memang berhak untuk membuka hati siapa saja untuk menerima ajaran Islam secara kaffah. Begitu juga dengan Herman Halim, Presdir Bank Maspion ini terbuka hatinya dan memutuskan untuk menjadi Muslim. “Saya masuk Islam Tanggal 27 Agustus. Saya bersyahadat di Masjid Ceng Hoo Surabaya dan disaksikan oleh banyak orang,” tuturnya kepada NURANI saat ditemui di kantornya.

Ketertarikan Herman Halim akan Islam memang berangkat dari perenungan panjang. Namun, ia mengaku lebih banyak dipengaruhi Andrew anak keduanya.

Herman menerangkan bahwa saat dirinya bersyahadat, ia tidak disertai dengan keluarganya. “Saya berangkat ke sana sendiri. Untungnya, teman saya di PITI Masjid Ceng Hoo banyak. Jadi sudah dipersiapkan. Bahkan Pak Ali Markus, memberikan selamat ketika saya sudah bersyahadat,” terangnya sambil tersenyum.

Saat ditanya tentang tanggapan keluarga ketika dirinya menjadi Muslim, Herman Halim menerangkan bahwa pihak keluarga sebenarnya mengkritik, namun tidak berani secara frontal. “Setahu saya, mereka hanya berani mengkritik atau menyindir. Mereka tidak berani bertanya secara frontal. Mungkin karena saya saudara tertua. Jadi mereka segan dengan saya,” ungkapnya.

Ditanya soal ketertarikannya kepada Islam, pemilik nama Lim Xiao Ming ini mengatakan bahwa dirinya mengenal Islam sejak enam tahun lalu, dari kesukaannya membaca buku-buku agama. “Saya memang senang membaca segala buku agama, mulai dari agama Budha, Kong Hucu, Kristen, dan Islam,” terangnya.

Ayah dua anak ini mengatakan bahwa dari kesukaannya membaca buku-buku agama inilah dia mulai menyerap intisari dari agama. “Dari pembacaan dan perenungan semua intisari agama yang saya serap, bahwa semua agama itu benar dan mengajarkan kebaikan (namanya juga mualaf – amanah). Cuma penyampaiannya bermacam-macam,’ terangnya

Setelah merenung sekian lama, akhirnya pimpinan Bank Maspion ini memilih Islam menjadi keyakinannya setelah ia memeluk agama Kristen. “Saya melihat Islam adalah agama terakhir, dan ia mengambil dari semua intisari agamayang telah ada. Sehingga ajaran Islam begitu lugas dan mudah diserap secara kaidah,” terangnya.

Ketika ditanya tentang latar belakang agama keluarga Herman Halim, ia menjelaskan bahwa keluarganya memeluk beberapa agama. “Dalam keluarga saya tidak fanatik memeluk satu agama. Saya dulu agamanya Kristen. Sedangkan saudara saya ada yang Budha ada juga yang Kong Hucu. Malah, istri saya beragama Budha,” terangnya.

Sikap inilah yang dipegang teguh Herman Halim dalam membentuk karakter keluarganya. Bahkan soal menganut agama, ia tidak pernah memaksakan kepada kedua anaknya. “Anak saya, saya bebaskan dalam memilih agama. Saya tidak pernah melarang hal itu,” ujarnya.

Terpengaruh Anak

Ketertarikan Herman Halim akan Islam memang berangkat dari perenungan panjang. Namun, ia mengaku lebih banyak dipengaruhi Andrew anak keduanya. Awalnya Herman Halim keget dan menanyakan tentang keinginan anak keduanya memeluk agama Islam. Namun, Andrew bisa meyakinkan ayah dan keluarganya tentang niatnya menjadi Muslim.

“Apa perbedaannya dengan agama yang kamu yakini selama ini ?” tanya Herman Halim kepada Andrew saat itu. “Saya pernah mencoba memeluk beberapa agama. Namun Islamlah yang membuat saya lebih tenang dan pas. Dan saya bisa lebih gampang menangkap ajaran Islam daripada yang lain,” ujar Herman yang menirukan pendapat Andrew.

Dari diskusi antara anak dan ayah inilah, Herman terus mencari dan mencari jawaban atas argumen yang dikemukakan oleh Andrew. “Saya mengenal Islam lebih banyak setelah Andrew menerangkan kepada saya dan keluarga tentang ajaran Islam sesungguhnya,” ujarnya.

“Saya juga heran, padahal ia sejak kecil sudah ada di Australia. Namun ia begitu kuat saat menerangkan tentang bagaimana ajaran Islam,” tambahnya. Herman menerangkan, dalam menjelaskan agama Islam, Andrew Halim ini membawa Al Quran dan Injil. “Ia membandingkan antara ayat per ayat. Bahkan, beberapa dari paman dan bibinya tidak bisa menyela dan menjawab pertanyaan Andrew,” terangnya.

Dari pertemuan antara Andrew dan keluarga yang juga dihadiri oleh Herman Halim itulah akhirnya wacana tentang kebenaran Islam mulai terungkap. “Sejak itu saya jadi tekun belajar Islam. Saya baca Al Quran yang terjemahan dari Bahasa Inggris dan Tionghoa. Saya terus mencari apa yang dikatakan Andrew,” terangnya.

Menurut Herman Halim, Andrew bukan tipe orang yang mudah percaya dengan sesuatu. “Andrew itu, untuk percaya dan yakin biasanya sudah melalui penelitian dan perbandingan antara baik dan buruknya,” terangnya.

Makanya, Herman Halim yakin bahwa apa yang diyakini anaknya adalah suatu kebenaran yang pasti. “Saat saya beritahu saya menjadi Muslim, ia begitu senang. Ia menyebut lafal Allahu Akbar berulang-ulang. Ia begitu senang saya masuk Islam,” paparnya.

Lebih Tenang

Herman Halim saat ini mengaku lebih tenang batinnya setelah mengucapkan dua kalimat Syahadat. “Pertama kali saya melaksanakan salat, hati saya rasanya tenteram dan damai. Tidak pernah saya merasakan hal seperti ini sebelumnya. Meski saya tidak fasih cara melafalkan Arabnya, namun saya tahu arti Bahasa Indonesianya,” paparnya sembari memejamkan mata.

“Saat shalat hati saya damai, sehingga bisa melepas kejenuhan dan stres saat bekerja. Saya lebih mantap dalam mengerjakan tugas-tugas kerja,” tambahnya.

Yang paling menarik bagi bagi pemilik nama asli Lim Xiao Ming ini dalam mempelajari Islam adalah cara menghafal bacaan salat. “Kalau salatnya sih sudah bisa dipelajari. Tapi kalau melafalkannya, ini saya masih kaku. Butuh waktu yang banyak,” ujarnya. “Kalau lupa bacaannya, bukunya saya baca, lalu saya kembalikan lagi. Lucu pokoknya kalau melihat saya belajar salat,” tambahnya sambil tertawa.

Namun, Bapak dari Albert Halim dan Andrew Halim ini tidak menyerah. Ia bertekad untuk bisa melafalkan bacaan Al Quran serta belajar membaca Al Quran. “Saya berencana mendatangkan guru privat Bahasa Arab. Dan saya ingin sekali bisa melafalkan bacaan salat,” niatnya.

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada November 17, 2008 in Refleksi Jiwa, Seputar Mualaf

 

Dirut PT. MMID cibitung mualaf

toshiro_kobi-b0Ditengah hujatan terhadap Islam, Mr.  Yoshihiro Kobi mendapat hidayah Allah SWT, berikut petikannya :

Alhamdulillah, telah kembali kepada islam, Presiden Direktur Pengelola Kawasan MM 2100 Mr. Toshihiro Kobi. Beliau masuk islam dihadapan Ketua MPR DR. Hidayat Nur Wahid, MA., Lc. dan jamaah masjid AHM (Astra Honda Motor) plant-3.

Mr. Toshihiro Kobi ini terhitung baru menjabat sebagai Predir PT. MMID (Pengelola kawasan MM2100 Cibitung) baru kurang lebih 1 tahun, namun beliau sangat lancar berbahasa Indonesia.

Ketertarikan Beliau terhadap Islam juga terbilang baru, menurut cerita dari yang kerja disitu.

Beliau juga yang mendorong dan memberikan dukungan penuh atas pembangunan Masjid Raya Baitul Mushafa ini setelah sempat direncanakan 16 tahun yang lalu namun karena dukungan dari Managementnya kurang maka tertunda.

Syahadat Beliau dilakukan di Masjid PT AHM didepan Pak Hidayat,sebelumnya Pak Hidayat melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid ini dan kemudian menjadi Khotib Jum’at di Masjid AHM.

Rencana masuk Islamnya sendiri sebenarnya tidak dijadwalkan saat itu, namun ternyata Pintu Hidayah Allah datang lebih cepat menyelamatkan beliau. Sesaat setelah selesai Sholat Jum’at, melalui seorang Direkturnya yang juga Ketua Panitia Pembangunan Masjid tsb, Beliau meminta untuk segera mengucapkan Syahadat didepan Pak Hidayat.

Subhanallah, Allahuakbar, orang-orang yang hadir begitu kaget karena tentunya masuk Islamnya orang nomor 1 dikawasan dengan 100 lebih perusahaan asing (Jepang terutama) yang berada dikawasan ini tentunya menjadi sebuah nilai kondusif yang baik terhadap perkembangan Islam, ditengah-tengah gencarnya serangan terhadap Islam.

KeIslaman Mr.Toshihiro Kobi ini disambut gembira oleh para Direktur beserta karyawannya serta rekan-rekan Jepangnya yang sebelumnya telah memeluk Islam.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada November 17, 2008 in Seputar Mualaf

 

kenyataan kejadian 9/11

assalamualaikum

coba saksikan disini bagai mana kejadian 9/11 itu dari analisa yang sesungguhnya, kecelakaan atau hanya dibuat buat???,, kalau koneksi pelan tunggu sampai selesai loading terus klik reload, lalu silahkan saksikan dan silahkan berargumen

wassalam

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 17, 2008 in Islam, Uncategorized