RSS

Obat Hati

14 Nov

Mata yang mengantuk mungkin dapat diobati dengan tidur, namun hati yang resah gelisah tidak dapat diobati kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah.

Orang-orang saleh hatinya merindu untuk selalu bersama Allah. Seperti orang yang jatuh cinta, selalu terbayang wajah sang kekasih. Kerinduannya yang mendalam membetot dirinya masuk ke dalam lingkaran ibadah dan munajat yang hampir tidak terputus. Mereka sedikit sekali tidur.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabb-nya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang Kami berikan.” (QS. as-Sajdah: 15-16).

Kata tatajaafa (jauh) berasal dari kata jafwah yang mengandung arti bahwa lambung mereka tidak menyukai tempat tidur. Mereka tidak tahan jika berada di tempat tidur. Karena, kerinduan kepada Allah Swt. telah menyebabkan mereka resah dan tidak tenang, di mana keresahan dan ketidaktenangan itu hanya dapat dihilangkan dengan mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan berada di hadapan-Nya.

Di saat orang lain terlelap tidur, dia menangisi dosa-dosanya, meratap penuh belas kasihan akan ampunan dan rahmat Tuhannya. Berdiri shalat, membaca al-Quran dengan khusyu, dan berdzikir dalam keheningan malam. Matanya sembab. Hatinya gerimis. Ia berusaha menahan tangis karena takut ada orang yang mendengarnya, tapi tidak bisa! Ia begitu takut sekaligus mencintai-Nya. Tangisannya meledak seperti halnya bendungan air yang jebol maka keluarlah air dengan deras. Suaranya tidak bisa lagi ditahan. Suaranya terdengar bukan lagi karena ingin mengharapkan pujian, tapi benar-benar larut dengan perasaan yang mendalam. Hanyut dalam air sungai mahabbah dan muhasabah.

Di saat orang lain mengigau karena bermimpi, dia melafazkan dzikir, “Ya Allah… Ya Rahman… Ya Rahim…” Dia tenggelam dalam dzikir itu. Dia teringat pada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Nikmat-Nya begitu banyak tercurah padanya, namun begitu sedikitnya dia bersyukur. Airmatanya kembali tumpah. Dirinya semakin rindu dan cinta kepada-Nya. Tuhannya tidak pernah meminta kepada hamba-hamba-Nya, tetapi selalu memberi, memberi, dan memberi. Apakah engkau sangka apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya adalah untuk-Nya? Tidak! Semua itu adalah untuk kita; untuk kebaikan hamba-hamba-Nya. Inilah kekasih hati yang sudah seharusnya mendekam di hati. Kekasih-kekasih dunia tercabut dari akarnya. Yaitu kekasih uang dan materi. Kekasih perbudakan pada selain-Nya. Kekasih kepalsuan dan kemunafikan. Semua itu menyingkir, tunduk, kalah. Hati hanya dipenuhi dengan cinta Ilahi.

Cobalah engkau melakukan shalat tahajud selama seminggu, mintalah pertolongan kepada-Nya selama itu, dan aturlah waktu seminggu itu dengan baik, niscaya engkau akan menikmati hasilnya sepanjang hidupmu.

Penutup dari rangkaian ayat-ayat as-Sajdah di atas adalah firman Allah Swt. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. as-Sajdah: 17).

Lihatlah akhir yang membahagiakan yang telah menantimu!

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 14, 2008 in Refleksi Jiwa

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: