RSS

Kreativitas

14 Nov

Sejak saya membaca buku “Bengkel Kreativitas” karya Jordan E. Ayan, saya semakin menyadari bahwa saya adalah orang yang kurang kreatif. Salah satu contohnya adalah ketika Jordan E. Ayan mengajukan pertanyaan berikut ini:
“Dalam satu menit, pikirkan semua manfaat yang mungkin didapatkan dari sebuah kaleng kosong. Tulis jawaban Anda pada secarik kertas tersendiri. Cobalah memunculkan sebanyak mungkin manfaat yang bisa didapatkan.”
Menjawab pertanyaan ini, saya menuliskan banyak hal yang tentang kegunaan kaleng kosong, tapi semua jawaban itu ternyata seragam – tak sama tapi serupa. Yaitu menganggap kaleng kosong tak lebih dari sebagai “wadah”.
Dan dengan menggunakan Model Berpikir Kreatif Torrance, ternyata saya dikategorikan sebagai orang yang tidak kreatif. Uji Torrance ini mengukur empat keterampilan kreatif utama yang berkaitan dengan pemikir divergen. Dalam contoh kaleng di atas, jawaban dapat dinilai berdasarkan empat kategori berikut:
  1. Kepiawaian – kemampuan memunculkan banyak ide yang beragam. Dengan kata lain, seberapa banyak ide yang Anda hasilkan secara keseluruhan.
  2. Keluwesan – kemampuan memunculkan ide dalam beberapa kategori. Berapa macam manfaat yang di dapat dari sebuah kaleng kosong? Jawaban yang paling umum adalah sebagai sebuah wadah, namun kaleng tersebut juga bisa digunakan sebagai mainan, perangkat komunikasi, dan banyak lagi.
  3. Keorisinalan – kemampuan memunculkan ide yang unik dan aneh. Jawaban yang terkait dengan kegunaan yang sudah umum tidak akan mendapatkan nilai. Kegunaan unik, seperti “kaleng kosong untuk boneka” akan diberi nilai dua poin.
  4. Pengembangan – kemampuan menambahkan detail atau memperluas kegunaan benda yang dimaksud. Ide yang mengharuskan dilakukannya penambahan atau perubahan bentuk akan mendapatkan tambahan nilai. Misalnya, jika suatu ide mengharuskan kaleng tersebut dicairkan, dilebur, dicat, atau bahkan dikombinasikan dengan kaleng lain, nilai yang di dapat akan lebih tinggi lagi.

Jordan E. Ayan juga menanyakan pertanyaan yang sama pada anak-anak dan membandingkan jawaban anak-anak tersebut dengan jawaban orang-orang dewasa. Beliau menyimpulkan bahwa jawaban anak-anak lebih kreatif ketimbang jawaban orang dewasa. Seperti inilah jawaban anak-anak yang duduk di kelas dua SD: Sarang serangga, Sarang semut, Topi untuk boneka, Kolam renang boneka barbie, Telepon, Alat musik, Bank, Untuk mainan bola sepak, Mesin cuci untuk orang kerdil, Lebur dan “ubah” menjadi Power Ranger.

Bagi saya, jawaban anak-anak ini begitu mengejutkan, terkesan aneh dan lucu. Dan mungkin kebanyakan orang dewasa setuju dengan pendapat saya ini. Tapi disitulah letak masalahnya, kita cenderung memandang aneh dan lucu hasil sebuah kreativitas. Kita sudah menertawakan orang yang aneh dan lucu tersebut, padahal mereka adalah orang-orang yang telah menggunakan akalnya sebagaimana mestinya.

Pada akhirnya – karena takut dipandang gila, takut dihina, takut ditertawakan, takut gagal, dan ketakutan-ketakutan lainnya – kita tidak mau lagi berpikir kreatif atau memaksimalkan pikiran kreatif kita. Sehebat-hebatnya ide dan gagasan kita, banyak tapi serupa. Ide dan gagasan kita belum sampai pada tingkat orisinalitas apalagi mampu mengembangkannya dalam bentuk yang lain. Ide dan gagasan kita hampir tak lebih dari “plagiat” dari ide kreatif orang lain.

Ketika saya menyadari kekurangkreatifan saya, saya kembali mengingat masa kanak-kanak saya dulu. Saya belajar merangkak, kemudian berdiri, berjalan, jatuh, berjalan lagi, jatuh lagi. Entah sudah berapa kali saya jatuh, mungkin terbentur suatu benda, hingga akhirnya saya dapat berjalan dengan baik. Pada saat itu saya benar-benar merasa menjadi orang yang kreatif dan tak kenal lelah dalam berjuang. Tapi kini setelah dewasa, semua itu seolah terkubur dalam diri saya sendiri.

Pada saat saya belajar berjalan itu, antara jatuh-bangunnya saya, orang terdekat dengan saya mengapreasiasi secara positif usaha saya. Namun setelah dewasa, sedikit demi sedikit apresiasi itu berkurang. Apalagi ketika saya “jatuh” yang hadir hanya teguran keras atau kesan-kesan negatif lainnya.

Tapi itu masa lalu saya. Bukan saatnya lagi mengeluh. Yang lalu telah berlalu! Saya memikirkan masa depan saya. Jika Allah mengizinkan, saya akan merawat dan mendidik anak saya sebaik-baiknya. Saya akan memberi “energi-energi” positif pada dirinya, sehingga kreativitas yang dia miliki selagi kecil sama besarnya ketika dia telah dewasa.

Setelah saya membaca lebih lanjut buku Jordan E. Ayan tersebut, saya menyadari, tampaknya kejadian yang saya alami juga terjadi pada banyak orang. Menurut hasil riset menandaskan bahwa kreativitas mulai hilang pada masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Salah satu kajian mencerminkan kemampuan memunculkan ide orisinal. Nilai perbandingan jawaban “orisinal” (unik) dan “standar” (biasa) yang dihasilkan adalah sebagai berikut:Umur 5 atau kurang 90 % keorsinalanUmur 7 20 % keorsinalanOrang dewasa 2 % keorsinalan.

Tingkat keorsinalan kita hanya 2 %? Sungguh mengagetkan karena tidak kita sadari sebelumnya. Kita telah mengubur kreativitas kita. Mungkin kita hanya memberi sedikit nafas lagi bagi kreativitas itu. Tapi terlihat seperti orang mati. Angka 2 % menunjukkan angka yang mendekati 0. Dan kalau sampai menyentuh angka 0, habislah kita. Kita akan tertinggal jauh dari orang lain. Dan dalam lingkup internasional, kita akan dengan mudah dijajah oleh bangsa lain. Mau diperbudak? Ngga kan? Nah, mulai dari sekarang mari kita berusaha menjadi orang yang kreatif!

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 14, 2008 in Refleksi Jiwa

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: