RSS

Arsip Harian: November 12, 2008

Intelektualitas Jihad

Kala itu, tahun 1967, tengah terjadi ketegangan antara bangsa Arab dan Israel. Tiba-tiba pada 8 Juni 1967, Israel menyerang Kapal Induk USS Liberty. Serangan diam-diam itu menewaskan 34 perwira muda AS, 171 orang terluka, 821 roket dan senjata mesin AS tenggelam.

Tetapi, reaksi yang muncul adalah tudingan kepada kelompok muslim Arab sebagai pelaku. Amerika dan sekutunya marah. Negara-negara Arab kembali diserang. Israel menang dan bertambah luas wilayah jajahannya. Begitulah James M. Ennes, penulis buku Assault on The Liberty (Random House 1980), salah satu saksi hidup dalam peristiwa itu menuturkan keprihatinannya. Harga kematian para perwira itu adalah sebesar kepentingan mereka yang berada di balik penyerangan itu.

Di tempat terpisah dan di waktu yang berbeda, Timothy Mc Veigh, seorang mantan marinir Amerika, yang mengebom bagian depan gedung federal Alfred P. Murrah, di Oklahoma City, Amerika, dengan sebuah bom truk, pada tahun 1995. 168 orang tewas. Untuk dan atas nama kematian orang-orang itu, seorang muslim tua dan buta bernama Omar Abdurrahman langsung ditangkap. Tetapi enam tahun lebih 55 hari kemudian, sepuluh wakil keluarga para korban itu bisa menyaksikan langsung pelaksanaan hukuman mati atas Mc Veigh, pelaku pemboman yang sesungguhnya.

Dari dua kisah di atas, sudah sepatutnya kita mengambil pelajaran, bahwa sangat penting bagi kita, selaku muslim, untuk check and recheck atas setiap berita-berita yang datangnya dari orang-orang yang memusuhi kita. Janganlah kita memandang mereka sebagai orang yang serba hebat, serba bisa, pintar, cerdik, dan puji-pujian lainnya yang sebenarnya terlalu berlebihan. Banyak pengamat mengatakan, bahwa sesungguhnya peradaban Barat sedang menunggu masa kehancurannya. Sekalipun penampilan mereka sangatlah luar biasa; dengan dipersenjatai peralatan canggih dan modern, namun jiwa mereka sangatlah rapuh dan labil.

Penyakit rendah diri (inferiority complex) sangat memandulkan daya pikir kita (jumud). Pada akhirnya kita hanya bisa membebek (muqallid), mengikuti pola pikir mereka; apa yang dikatakan mereka benar atau salah, bunga atau duri, kita telan bulat-bulat. Kita tidak lagi kritis dan memiliki rasa keingintahuan yang besar atas kebenaran yang sesungguhnya. Hal itu tentu saja membuat mental kita mengidap kemalasan yang akut (mental ignorance). Kita menjadi malas membaca, meneliti dan mengamati pelbagai berita yang berseliweran di hadapan kita.

Semua itu menghalangi kita menerima kebenaran yang sesungguhnya. Karena secara tidak langsung, kita sudah di doktrin (baca: dicuci otaknya) oleh musuh-musuh kita sendiri. Namun karena sudah berlangsung lama, kita tidak menyadarinya. Oleh karena itulah, Allah memberikan petunjuk kepada kita, agar jangan menjadikan orang-orang kafir harbi sebagai wali (pemimpin) karena apa yang mereka katakan sulit dipercaya.

Wahai generasi dakwah, bangkitlah untuk menulis; mengungkapkan kebenaran dan menjunjung tinggi keadilan. Betapa banyak ulama-ulama yang dipenjara namun masih menyempatkan diri menulis. Dinding-dinding yang membatasi mereka dengan dunia luar tidak menghalangi mereka untuk terus berkarya. Karya-karya mereka yang ditulis “di dunia yang sempit” itu justru kelak dibaca oleh generasi-generasi selanjutnya. Apa yang mereka lakukan adalah bagian dari jihad, sebagaimana sebuah hadits menyebutkan, bahwa di akhirat nanti tinta para ulama akan disejajarkan dengan darah para syuhada.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 12, 2008 in Refleksi Jiwa

 

Waktu Paling Berkesan

Apakah engkau ingin bacaan Quranmu meresap dihati? Salah satu faktor utamanya adalah membacanya di sepertiga malam. Karena disaat itulah kita dekat dengan Allah, di mana hanya ada kita dengan Allah, kita mencurahkan segenap perasaan, keluh kesah kita, air mata kita, kesedihan kita kepada-Nya tanpa ada rasa malu dan riya’ didalamnya.

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. al-Muzammil: 6).

Jika engkau merasa malu ibadahmu, tangisanmu, doa-doamu, bacaan Quranmu dilihat orang, sepertiga malam adalah waktu yang tepat bagimu untuk mmengerjakan semua itu. Saat itu engkau hanya berduaan dengan Allah, riya itu berganti rasa khusyuk yang mendalam, cinta hanya kepada Nya, ikhlas beribadah kepada-Nya, dan tunduk atas segenap titah-Nya tanpa sedikitpun ada orang yang melihatnya. Engkau beribadah ikhlas karena Allah, karena suaramu yang mendengar hanya Allah, sujudmu yang lama yang melihat hanya Allah, bacaanmu yang panjang yang melihat hanya Allah, rakaat sholatmu yang berbilang banyak yang melihat hanya Allah, ratapan tangismu yang menyayat hati yang mendengar hanya Allah.

Dengan cara seperti itu, bagaimana hati tidak berkesan, bagaimana air mata tidak meleleh, bagaimana antusias beribadah tidak tumbuh. Sesungguhnya tiada yang lebih indah bagi para ahli ibadah selain waktu disepertiga malam. Inilah waktu yang sangat mahal harganya. Mereka yang melewatinya dengan tanpa ibadah adalah orang yang merugi. Orang-orang saleh menangis jika waktu itu terlewat darinya, dengan tangisan kesedihan lebih dahsyat daripada kehilangan dunia beserta isinya. Jika mereka melewatinya begitu saja, mereka akan menghukum diri mereka dan membayar “denda” (iqob) berupa sedekah, berzikir ribuan kali, dan memperbanyak salat sunah.

Jika engkau ingin merasakan manisnya iman dan lezatnya ibadah, waktu inilah yang paling tepat untuk merasakannya. Jangan heran jika mereka yang mengerjakan salat tahajud, witir dan ibadah-ibadah lainnya, wajah mereka tampak bercahaya, semangat hidup mereka begitu terlihat, keyakinan mereka begitu kuat, mereka masuk dalam keadaan lemah karena rasa kantuk dan lelah, namun setelah mereka keluar, kekuatan merasuk pada diri mereka, seperti orang yang kelaparan kemudian dia mendapat makan, atau orang yang kehausan kemudian mendapat minum. Bagaimana mungkin mereka mampu mengemban amanah al-Quran, sementara mereka tidak beribadah di sepertiga malam?

“Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (QS. al-Muzammil: 5). Perkataan yang berat itu adalah al-Quran. Untuk mengemban amanahnya — kata Syaikh Amru Khalid — seorang mukmin membutuhkan bekal yang cukup sehingga ia dapat menanggung kesulitan atau kepayahan yang akan dihadapinya, dan ia dapat berdiri berhadapan dengan perbuatan-perbuatan maksiat dan hal-hal yang dapat menggodanya sambil memperlihatkan senjatanya. Ketahuilah bahwa kita tidak akan mampu untuk hidup didunia ini tanpa melakukan salat tahajud di sepertiga malam.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 12, 2008 in Refleksi Jiwa

 

saatnya hati yang menulis

Menulislah – pada saat awal – dengan hati. Setelah itu, perbaikilah tulisan Anda dengan pikiran. Kunci pertama dalam menulis adalah bukan berpikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang dirasakan

William Forrester


Pada saat ini banyak orang mengatakan menulislah dengan hati, menulislah dengan perasaan. Maksudnya, biarkan hati kita yang “menggerakan” pena kita untuk menulis. Karena, hati adalah raja yang dapat menggerakan seluruh indera yang ada di dalam diri kita.

Hati memang sesuatu yang tersembunyi. Kita tidak bakal tahu isi hati seseorang. Kita hanya mampu melihat segala sesuatu dari segi lahiriahnya saja. Itulah yang membuat hati orisinal, istimewa, dan membuat satu orang dengan orang yang lain tampak berbeda. Jika kita menulis dengan hati, maka orisinalitas itu akan terlihat. Kita tidak lagi menggunakan gaya orang lain dalam menulis. Tapi, kita yakin bahwa di dalam diri kita ada jiwa-jiwa kreatif seperti yang dimiliki penulis-penulis besar.

Tidak Mengenal Bad Mood

Menulis dengan hati tidak mengenal bad mood. Menulis dengan hati selalu bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada. Ketika kita sedang marah, hati dapat menuliskan kemarahan itu. Begitupun ketika kita sedang sedih, kecewa, bahagia, gembira, menangis, rindu, benci, cinta, kita dapat menuliskannya sama cepat dan sama hebat.

Penulis buku-buku terkenal sangat menaruh perhatian pada hal ini, walaupun mereka tidak menyebut apa yang mereka lakukan itu dengan istilah “menulis dengan hati”. Jika saja Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Sayyid Quthb, HAMKA, dan Dr. Aidh al-Qarni malas menulis ketika berada di dalam penjara, mungkin mereka tidak akan menghasilkan satu karya spesial pun. Namun, penjara bukan halangan bagi mereka. Penjara hanya memenjarakan fisik mereka, tidak hati mereka. Hati mereka tetap merdeka, bebas berkelana, tercerahkan, hidup, dan tergerakan. Mereka berhasil menulis buku-buku yang mengundang decak kagum, menggugah, dan telah memesona jutaan orang.

Dalam situasi apapun kini Anda berada, Anda dapat menulis dengan lancar. Suarakan apa yang Anda keluhkan. Suarakan kesedihan Anda. Suarakan rasa rindu dan cinta Anda. Jalaluddin Rumi menulis puluhan ribu bait syair karena rindu dengan sahabatnya, Syams Tabriz, yang menghilang entah kemana. Khalil Gibran mengalami putus cinta dengan seorang kekasihnya, dia menulis cerpen “sayap-sayap patah”. Muhammad Abduh menulis sebuah buku serius hanya dalam waktu satu hari karena merasa marah dengan seorang orientalis yang telah menghina Islam. Siapapun bisa seperti itu. Bahkan, jika Anda benar-benar melakukannya dan selalu konsisten melakukannya, tulisan Anda akan benar-benar hebat.

Keterlibatan

Menulis dengan hati adalah terlibat dengan perasaan Anda, dengan dunia Anda. Saat Anda menulis, dunia luar seolah diam. Yang bergerak adalah hati Anda. Yang bersuara adalah suara hati Anda. Anda sedang asyik dengan dunia Anda sendiri. Tenggelam dengan perasaan Anda. Hanyut terbawa ombak perasaan Anda. Dengan cara ini, Anda dapat duduk menulis berjam-jam lamanya. Tulisan Anda mengalir deras bagaikan air bah. Anda membawa berjuta-juta perasaan, ilmu, dan kecerdasan Anda yang mungkin baru Anda ketahui bahwa ternyata Anda orang yang hebat. Orang yang memiliki gagasan orisinil.

Ternyata otak Anda masih mengingat informasi-informasi yang Anda baca bertahun-tahun yang lalu. Hati telah menarik pengetahuan Anda seperti halnya kail menarik ikan-ikan. Hati memaksa otak Anda untuk bekerja lebih maksimal. Hati juga “mencambuk” tangan Anda untuk menulis lebih cepat dan lancar. Hati adalah raja yang menguasai bala tentara. Ketika raja memerintahkan berperang, maka seluruh tentara pun akan berperang. Ketika hati memerintahkan “menulislah dengan cepat”, “menulislah dengan indah” maka seluruh indera yang ada dalam diri kita bekerja untuk mewujudkannya. Bukankah hal ini sesuatu yang menakjubkan? Yuk, kita menulis dengan hati!
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 12, 2008 in Refleksi Jiwa

 

Berangkat Haji dengan Bekal Harta Haram

Berangkat Haji dengan Bekal Harta Haram

Ibadah haji adalah sebuah ibadah yang suci nan sakral. Ini adalah ibadah perjumpaan dengan Allah Swt Yang Maha Suci di rumahNya yang disucikan. Maka setiap hamba Allah yang hadir di sana hendaknya menyibukkan diri untuk selalu mensucikan diri. Suci lahir dan batin termasuk bekal yang ia bawa untuk ke sana.

Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang sudah tidak sungkan berjumpa dengan Allah Swt di rumahNya dalam ritual haji dan umrah dengan membawa bekal yang syubhat dan haram. Harta dari hasil menipu, memperdaya orang lain, korupsi, mencuri, hasil riba, dan lain-lain. Belakangan saya mendengar ada seorang ibu di Jawa Timur yang telah berkali-kali berangkat haji ke Baitullah sebab dia seorang rentenir ‘sukses’ di daerahnya. Naudzubillah! Rupanya manusia seperti ini menyangka bahwa mereka akan mendapat ampunan Allah Swt atas semua kezhaliman dan dosa yang telah mereka perbuat dengan cara berhaji atau umrah.

Lalu bagaimana hukum haji atau umrah yang seperti ini? Menurut hukum fiqh orang-orang seperti ini yang berhaji dengan nafkah non-halal maka kewajiban haji mereka telah gugur. Mereka sudah dianggap menunaikan rukun Islam yang kelima, namun ibadah haji yang mereka lakukan tidak diterima oleh Allah Swt. Hal ini serupa dengan orang yang menjalankan puasa namun masih senang menggunjing, berghibah, berdusta dan lain-lain. Sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah Saw dalam sabdanya: “Siapa yang tidak mampu meninggalkan ucapan & tindakan kotor, maka Allah Swt tidak akan menerima (pengorbanannya) untuk meninggalkan makan dan minum saat berpuasa.” HR. Bukhari & Muslim.

Serupa dengan penuturan Rasulullah Saw di atas tentang orang berpuasa yang masih kerap berbuat dosa lalu amalnya tidak diterima oleh Allah Swt. Maka hal yang sedemikian berlaku bagi orang yang berhaji ke Baitullah dengan bekal harta yang haram. Di sisi Allah Swt segala bentuk pengorbanan yang mereka lakukan saat berhaji dan seluruh aktifitasnya maka tidak akan menjumpa balasan kebaikan. Seolah menjadi sebuah aktifitas sia-sia belaka!

Kini harus menjadi perhatian bagi para calon tamu Allah yang akan berangkat haji tahun ini untuk memperhatikan bekal yang mereka bawa. Sebab semua ibadah yang mereka lakukan akan tertolak oleh Allah Swt.

Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah yang menuturkan tentang seseorang yang menempuh perjalanan jauh dalam ibadah. Tubuhnya lesu dan rambutnya kusut. Seharusnya kondisi safar dan terdesak (mudhthar) ini semestinya membuat Allah akan mengijabah doanya.

Pria ini hampir putus asa dalam melanjutkan perjalanan. Ia menengadahkan kedua tangannya ke arah langit seraya meminta kepada Allah Yang Maha Kaya. Ia memanggil Allah dengan ucapannya, “Ya Rabbi…., Ya Rabbi!” Namun sayang Allah Swt tidak berkenan untuk mengijabah doanya.

Apakah yang membuat Allah Swt tidak berkenan mengijabah doanya, bukankah Allah Swt berjanji untuk mengabulkan setiap doa hambaNya? Ternyata hal yang membuat Allah tidak berkenan mengijabah doa adalah karena orang ini senantiasa makan dan minum dari harta yang haram. Pakaian yang ia gunakan dibeli dari uang haram. Dan dari kecil ia selalu diberi makan oleh orang tua dari hasil nafkah haram.

Kemudian hadits itu diakhiri dengan sebuah kalimat tanya dari Rasulullah Saw yang berbunyi, “Bila demikian kondisinya, lalu bagaimana doanya bisa dikabulkan?”

Perhatikanlah dengan seksama hadits di atas bagaimana nafkah haram akan membuat ibadah kita ditolak oleh Allah Swt! Oleh karenanya, hendaklah setiap hamba Allah yang berniat haji di tahun ini memperhatikan bekal yang mereka bawa. Haji mungkin hanya sekali seumur hidup kita lakukan. Bila yang sekali itu tidak akan diterima oleh Allah Swt sebab ulah kita, lalu mengapa tidak kita lakukan dengan cara yang terbaik?! Jangan pernah mengundang ridha Allah Swt dengan melakukan apa yang diharamkanNya. Semoga Allah Swt memberi kita nafkah yang cukup dan berkah serta mendatangkan keridhaanNya. Amien!

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada November 12, 2008 in Islam

 

Konsili, dasar dasar lahirnya kristen dan missionaris

Gaius Flavius Valerius Aurelius Constantinus

Gaius Flavius Valerius Aurelius Constantinus

Konsili Nicea Pertama, yang diselenggarakan di Nicaea, Bithynia (sekarang İznik di Turki), dan yang dihimpunkan oleh Kaisar Romawi Konstantinus Agung (Gaius Flavius Valerius Aurelius Constantinus) pada tahun 325, merupakan Konsili Ekumenis yang pertama[1] dari Gereja Kristiani, dan hasil utamanya adalah keseragaman dalam doktrin Kristiani, yang disebut Kredo Nicea. Dengan diciptakannya kredo ini, terbentuk suatu preseden bagi konsili-konsili umum (ekumenis) para uskup (sinode-sinode) untuk menciptakan pokok-pokok pernyataan iman dan kanon-kanon ortodoksi doktrinal— guna mewujudkan kesatuan iman bagi seluruh umat Kristiani.

Tujuan diselenggarakannya konsili ini adalah untuk menyelesaikan perbedaan pendapat dalam Gereja Aleksandria mengenai hakikat Yesus dalam hubungannya dengan Sang Bapa; khususnya, mengenai apakah Yesus memiliki substansi yang sama dengan Allah Bapa ataukah sekedar memiliki substansi yang serupa belaka dengan Allah Bapa. St. Aleksander dari Aleksandria dan Athanasius berpegang pada pendapat yang pertama; sedangkan seorang presbiter populer bernama Arius, yang dari namanya muncul istilah Arianisme, berpegang pada pendapat yang kedua. Konsili memutuskan bahwa pendukung Arius telah keliru (dari kira-kira 250-318 peserta, seluruhnya kecuali 2 orang, memberi suara menentang Arius[2]). Hasil lain dari konsili ini adalah kesepakatan mengenai waktu perayaan Kebangkitan Kristus (Paskha dalam Bahasa Yunani; Paskah dalam Bahasa Indonesia), hari raya terpenting dalam kalender gerejawi. Konsili memutuskan untuk merayakan hari Kebangkitan Kristus pada hari Minggu pertama sesudah bulan purnama pertama terhitung sejak vernal equinox, lepas dari Penanggalan Ibrani (lihat pula Quartodecimanisme). Konsili memberikan wewenang kepada Uskup Aleksandria (yang menggunakan Kalender Aleksandrian) untuk setiap tahun mengumumkan tanggal perayaan Paskah kepada rekan-rekan uskupnya.

Konsili Nicea signifikan secara historis karena konsili ini adalah upaya pertama untuk mencapai konsensus dalam Gereja melalui suatu permusyawaratan yang mewakili keseluruhan umat Kristiani.[3] “Konsili ini adalah kesempatan pertama bagi pengembangan Kristologi teknis.”[3] Lebih dari pada itu, “Konstantinus, dengan menghimpun dan memimpin konsili ini, menandakan adanya kendali kekaisaran atas Gereja.”[3] Suatu preseden telah ditetapkan bagi konsili-konsili umum berikutnya untuk menciptakan kredo-kredo dan kanon-kanon.

Konsili Ekumenis dalam Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur adalah pertemuan seluruh uskup keseluruhan Gereja untuk membahas dan mengambil keputusan yang menyangkut doktrin Gereja dan aturan praktisnya. Kata ekumene berasal dari bahasa Yunani Οικουμένη (oikumene), secara harafiah berarti ‘didiami’ atau ‘dihuni’, berasal dari istilah yang dipakai untuk menunjukkan wilayah Kekaisaran Romawi, karena konsili-konsili yang pertama dilaksanakan dalam teritori Kekaisaran Romawi. Kata ekumene selanjutnya mengalami perluasan makna, menunjukkan seluruh tempat yang dihuni oleh umat manusia, dengan kata lain, seluruh dunia.

“Keseluruhan Gereja” di sini dipahami oleh kebanyakan orang Kristen Ortodoks Timur berarti mencakup seluruh yurisdiksi Ortodoks Timur dalam persekutuan penuh satu asma lain. Ini tidak mencakup Gereja Katolik Roma atau para anggotanya dari Ritus Timur. Segelintir kaum Ortodoks menganggap sebuah konsili sepenuhnya ekumenis hanya apabila konsili itu melibatkan semua patriarkhat kuno, termasuk Roma. Namun ini bukan pandangan arus utama Ortodoks. Demikian pula, Gereja Katolik Roma memahami keseluruhan Gereja dalam arti “hanya” mereka yang berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik (Roma). Lagi-lagi, beberapa orang Katolik menganggap bahwa sebuah konsili ekumenis harus melibatkan Gereja-gereja Timur, dalam pengertian selengkap-lengkapnya. Seperti yang sering dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II, Gereja perlu bernapas “dengan kedua paru-parunya” (namun beliau tidak merujuk kepada gereja-gereja Ritus Timur yang berada dalam persekutuan penuh dengan Roma). Pertemuan-pertemuan yang lebih bersifat setempat disebut “sinode”, namun perbedaan antara sinode dengan konsili tidak begitu jelas dan tajam. Namun demikian, kedua Gereja ini, dan banyak Gereja Protestan, memang mengakui keabsahan “Ketujuh Konsili Ekumenis”, kecuali Konsili Quinisext yang ditolak oleh Katolik namun dianggap sebagai bagian dari Konsili ke-6 oleh Ortodoks.

Kata Yunani “sinode” (σύνοδος) berasal dari kata “sun” (bersama-sama) dan “hodos” (jalan), jadi sinode berarti berkumpulnya bersama-sama sejumlah orang yang memiliki suatu kesamaan, dalam hal ini para uskup Kristen.

Kisah para Rasul mencatat Sidang Yerusalem, yang membahas ketegangan antara mempertahankan praktik-praktik Yahudi dalam komunitas Kristen perdana dan orang-orang Kristen baru yang berasal dari latar belakang non-Yahudi. Meskipun keputusan-keputusannya diterima oleh semua orang Kristen dan tampaknya sesuai denagn sejumlah definisi di kemudian hari tentang konsili ekumenis, tak satu Gereja Kristen pun yang mencantumkannya dalam kategori konsili ekumenis mereka.

Konsili Efesus diselenggarakan di Efesus, Asia Kecil pada tahun 431 oleh Kaisar Theodosius II, cucu Theodosius I. Diperkirakan ada 200 uskup yang hadir. Penyelenggaraannya berlangsung dalam suasana panas karena silang pendapat dan tuding-menuding antar peserta. Konsili ini merupakan Konsili Ekumenis Ke-3 dan terutama berkaitan dengan bidaah Nestorianisme.

Nestorianisme menitikberatkan hakikat manusiawi Yesus dengan mengecilkan hakikat ilahi-Nya. Konsili ini menolak dan menyatakan sesat ajaran Patriark Nestorius. Nestorius mengajarkan bahwa Maria, bunda Yesus melahirkan seorang manusia, Yesus, bukan Allah, Logos (Sang Sabda, Putera Allah). Logos hanya berdiam dalam Kristus, sebagaimana dalam sebuah bait (Oleh karena itu, Kristus hanyalah Theophoros, kata dari Bahasa Yunani untuk “Pembawa Allah”. Konsekuensinya, Maria harus disebut Christotokos, kata Yunani untuk “Bunda Kristus” dan bukan Theotokos, kata Yunani untuk “Bunda Allah.” Karena itulah nama tersebut menjadi suatu kontroversi Kristologis. Ada pula nilai sejarahnya mengingat bahwa Efesus adalah kota dari Dewi Artemis, lihat juga kis. 19:28.

Konsili ini menyatakan bahwa Yesus adalah satu pribadi, bukan dua “orang” yang terpisah: sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, memiliki tubuh dan jiwa yang rasional. Perawan Maria adalah Theotokos karena dia bukan melahirkan seorang manusia melainkan melahirkan Allah sebagai seorang manusia. Persatuan kedua hakikat Kristus terjadi sedemikian rupa sehingga yang satu tidak mengganggu yang lainnya.

Konsili ini juga menyatakan bahwa naskah Pengakuan Iman Nicea tahun 381 sudah lengkap dan melarang segala bentuk perubahan (penambahan maupun penghapusan) atasnya. Selain itu, Konsili juga mengutuk Pelagianisme

Dihasilkan 8 kanon :

  • Kanon 1 mengumumkan bagi seorang bidaah bernama Selestius (so Scholion), anathema.
  • Kanon 2-5 mengumumkan bagi Nestorianisme, anathema.
  • Kanon 6 mengumumkan bagi mereka yang tidak menerima kanon-kanon Efesus, ekskomunikasi.
  • Kanon 7 mengumumkan bagi mereka yang tidak menerima Konsili Nicea, anathema.
  • Kanon 8: “Hendaklah hak-hak tiap provinsi dilestarikan murni dan tanpa cacat. Jangan sampai berhasil upaya untuk memperkenalkan bentuk-bentuk yang bertentangan dengan semuanya ini.” Disebutkannya Kanon-Kanon para Rasul.

300px-konsili_khalsedonKonsili Khalsedon adalah sebuah konsili ekumenis yang berlangsung dari tanggal 8 Oktober sampai 1 November tahun 451 di Khalsedon (sebuah kota di Bithinia di Asia Kecil) yang kini merupakan bagian kota Istanbul di sisi Asia dari selat Bosforus dan dikenal sebagai distrik Kadıköy. Konsili ini adalah yang ke-4 dari tujuh Konsili Ekumenis dalam agama Kristen, dan oleh karena itu dianggap infalibel (tak bercela)dalam definisi dogmatisnya oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur. Konsili ini menolak doktrin monofisitisme dari kaum pengikut Eutikus, dan menetapkan Pengakuan Iman Khalsedon, yang menggambarkan kemanusiaan penuh dan keilahian penuh dari Yesus, pribadi kedua dari Tritunggal Kudus.

Konsili Konstantinopel Kedua, (553); mengukuhkan kembali keputusan-keputusan dan doktrin-doktrin yang dijelaskan oleh Konsili sebelumnya, mengutuk tulisan-tulisan baru Arian, Nestorian, dan Monofisit.Konsili Konstantinopel Ketiga, (680–681); menolak Monothelitisme, mengukuhkan bahwa Kristus mempunyai kehendak manusiawi dan Ilahi.

Konsili Quinisext (= Kelima dan Keenam) atau Konsili di Trullo, (692); umumnya sebuah konsili administrative yang mengangkat sejumlah kanon lokal ke dalam status ekumenis dan menetapkan prinsip-prinsip disiplin para pejabat gerejawi. Konsili ini tidak dianggap sebagai Konsili yang lengkap karena tidak menentukan masalah-masalah doktrin. Konsili ini diterima oleh Gereja Ortodoks Timur sebagai bagian dari Konsili Ekumenis VI, tetapi hal itu ditolak oleh Katolik Roma.

Konsili Nicea Kedua, (787); pemulihan penghormatan terhadap ikon-ikon dan mengakhiri ikonoklasme pertama (Ditolak oleh banyak denominasi Protestan, yang sebaliknya lebih memilih Konsili Konstantinopel 754, yang mengutuk penghormatan terhadap ikon-ikon.)

Konsili Konstantinopel Keempat, (869–870); menggulingkan Patriarkh Photios dari Konstantinopel (yang belakangan ditetapkan sebagai santo oleh Gereja Ortodoks) karena sejumlah penyimpangan yang terjadi dalam pengangkatannya sebagai patriarkh sedemikian rupa sehingga pendahulunya, St. Ignatius tidak secara sah disingkirkan. Penyingkiran ini tidak dapat diterima oleh Gereja Ortodoks Timur pada masa itu, tetapi terjadi dalam waktu beberapa tahun saja. Betapapun juga, setelah kematian St. Ignatius, Photios diangkat kembali sebagai Patriarkh dan berdamai dengan Kepausan.

Konsili Sutri, (1046); memecahkan pertikaian tentang kepausan.

Konsili Lateran Pertama, (1123); membahas salah satu masalah yang mendesak pada masa itu, persoalan hak-hak dari Gereja Katolik dan hak-hak Kaisar Romawi Suci sehubungan dengan pengangkatan uskup.

Dua konsili berikutnya dianggap ekumenis oleh sebagian pihak di kalangan Gereja Ortodoks tetapi tidak oleh orang Kristen Ortodoks Timur lainnya, yang sebaliknya menganggap mereka sebagai konsili lokal yang penting . Namun mereka diakui secara universal oleh semua Gereja Ortodok meskipun ekumenisitasnya tidak diakui.

Konsili Konstantinopel Keempat, (879–880); memulihkan St. Photius ke Takhta Sucinya di Konstantinopel dan mengutuk siapapun yang mengubah Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel.

Konsili Konstantinopel Kelima, (1341–1351); mengukuhkan teologi hesychastic menurut St. Gregorius Palamas dan mengutuk filsuf Barlaam dari Kalabria yang dianggap kebarat-baratan .

Sinode Yerusalem, (1672); mendefinisikan ortodoksi dalam hubungannya dengan Gereja Katolik Roma dan Protestanisme, mendefinisikan kanon Ortodoks Yunani.

Konsili Lateran Kedua, (1139); kebanyakan mengulangi Konsili Lateran Pertama. Pernikahan rohaniwan dinyatakan tidak sah, pakaian rohaniwan diatur, serangan-serangan terhadap kaum rohaniwan diganjar dengan ekskomunikasi

Konsili Lateran Ketiga, (1179); membatasi mereka yang berhak memilih paus hanya para kardinal, mengutuk simoni, melarang pengangkatan siapapun menjadi uskup sebelum berusia 30 tahun.

Konsili Lateran Keempat, (1215); membahas transubstansiasi, keutamaan Paus dan perilaku kaum rohaniwan. Juga memutuskan bahwa orang-orang Yahudi dan Muslim harus mengenakan pakaian khusus untuk membedakan mereka dari orang-orang Kristen.

Konsili Lyons Pertama, (1245); mengesahkan topi merah untuk para kardinal, dan pajak untuk Tanah Suci

Konsili Lyons Kedua, (1274); berusaha mempersatukan Gereja dengan Gereja-gereja Timur, menyetujui Ordo Fransiskan dan Dominikan, persepuluhan untuk mendukung perang salib, prosedur konklaf.

Konsili Wina, (1311–1312); membubarkan Ksatria Templar

Konsili Pisa, (1409) tidak diberikan nomor urut karena tidak dihimpunkan oleh seorang paus; konsili ini berusaha membatalkan skisma kepausan yang telah menciptakan Kepausan Avignon.

Konsili Konstanz, (1414–1418); memecahkan pertikaian tentang kepausan.

Konsili Siena, (1423–1424) dicabut dari daftar karena belakangan dicap sesat; merupakan puncak konsiliarisme, menekankan kepemimpinan para uskup yang berkumpul dalam Konsili.

Konsili Basel, Ferrara dan Firenze, (1431–1445); rekonsiliasi dengan Gereja Ortodoks, namun tidak diterima pada tahun-tahun berikutnya oleh orang-orang Kristen Timur. Dalam Konsili ini, juga dicapai kesatuan-kesatuan lain dengan berbagai Gereja Timur.

Konsili Lateran Kelima, (1512–1517); mengusahakan pembaruan Gereja.

Konsili Trente, (1545–1563, terputus-putus); tanggapan terhadap tantangan-tantangan dari Calvinisme dan Lutheranisme, memaksakan penyeragaman liturgi dalam Ritus Roma (“Misa Trente“), dengan jelas menetapkan kanon.

Konsili Vatikan Pertama, 1870; memperjelas doktrin infalibilitas kepausan; ditolak oleh Gereja Katolik Lama

Konsili Vatikan Kedua, (1962–1965); pembaruan terhadap liturgi Roma “sesuai dengan norma yang murni dari para Bapak Gereja “, dekrit-dekrit pastoral tentang hakikat Gereja dan hubungannya dengan dunia modern, pemulihan teologi tentang komuni, peningkatan studi Kitab Suci dan Alkitab, kemajuan ekumenis menuju rekonsilias dengan Gereja-gereja lain.

Penerimaan terhadap Konsili

Gereja Katolik Roma

Baik Gereja Katolik Roma maupun Gereja Ortodoks Timur mengakui tujuh Konsili pada tahun-tahun permulaan Gereja, tetapi Gereja Katolik juga mengakui empat belas konsili yang dihimpunkan pada tahun-tahun kemudian oleh Paus, yang otoritasnya ditolak oleh Gereja Ortodoks Timur karena mereka menganggap Roma saat ini berada di dalam skisma. Status dari konsili-konsili ini di hadapan rekonsiliasi Katolik-Ortodoks akan tergantung pada apakah orang menerima eklesiologi Katolik Roma (keutamaan paus) atau eklesiologi Ortodoks (kerekanan dari otosefalus – atau pimpinan – Gereja-gereja). Dalam kasus yang pertama, Konsili-konsili yang lainnya akan mendapatkan status ekumenis. Dalam kasus yang belakangan, mereka akan dianggap sebagai sinode-sinode lokal yang tidak memiliki otoritas di antara Gereja-gereja otosefalus yang lainnya.

Tujuh konsili pertama dihimpunkan oleh kaisar (mula-mula oleh Kaisar Roma Kristen dan belakangan yang disebut Kaisar Bizantium, yaitu Kaisar-kaisar Romawi yang beribu kota di Timur). Kebanyakan sejarahwan sepakat bahwa kaisar-kaisar menghimpunkan Konsili untuk memaksa para uskup Kristen untuk memecahkan masalah-masalah yang memecah-belah dan untuk mencapai konsensus. Mereka berharap bahwa mempertahankan kesatuan di dalam Gereja akan menolong mempertahankan kesatuan wilayah Kekaisaran. Hubungan antara Kepausan dengan keabsahan Konsili-konsili ini merupakan dasar dari banyak pertikaian antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur dan bagi para sejarahwan.

Gereja Ortodoks Timur

Sejauh menyangkut sejumlah Gereja Ortodoks Timur, sejak Konsili Ekumenis Ketujuh tidak ada lagi sinode atau konsili dengan cakupan yang sama dengan Konsili Ekumenis manapun. Rapat-rapat lokal dari para pejabat hierarkhi dinamai “pan-Ortodoks”, tetapi semua ini pada umumnya hanyalah sekadar rapat-rapat para pejabat hierarkhi lokal dari yurisdiksi Ortodoks Timur manapun yang menjadi bagian dari masalah lokal yang spesifik. Dari sudut pandangan ini, tidak ada Konsili yang sepenuhnya “pan-Ortodoks” (Ekumenis) sejak 787. Malangnya, penggunaan istilah “pan-Ortodoks” membingungkan bagi mereka yang bukan menjadi bagian dari Gereja Ortodoks Timur, dan hal ini membawa kepada kesan-kesan yang keliru bahwa semua ini adalah Konsili Ekumenis ersatz dan bukan semata-mata konsili lokal yang kepadanya para pejabat hierarkhi Ortodoks yang ada di dekatnya, apapun juga yurisdiksinya, diundang.

Yang lainnya, termasuk teolog abad ke-20 Metropolitan Hierotheos (Vlachos) dari Nafpaktos, Rm. John S. Romanides, dan Rm. George Metallinos (kesemuanya berulang-ulang merujuk kepada Konsili Ekumenis” Kedelapan dan Kesembilan), Rm. George Dragas, dan Ensiklik Para Patriarkh Timur 1848 (yang merujuk secara eksplisit kepada “Konsili Ekumenis Kedelapan” dan yang ditandatangani oleh para Patriarkh dari Konstantinopel, Yerusalem, Antiokhia, dan Alexandria serta Sinode-sinode Suci dari ketiga patriarkh yang pertama), menganggap sinode-sinode lainnya di luar Konsili Ekumenis Ketujuh sebagai konsili yang ekumenis. mereka yang menganggap konsili-konsili ini ekumenis seringkali menggambarkan keterbatasan dari Konsili Ekumenis hanya pada yang tujuh itu sebagai akibat dari pengaruh Yesuit di Rusia, sebagian dari apa yang disebut sebagai “Pembuangan Ortodoksi di Barat.”

Protestanisme

Banyak Gereja Protestan (khususnya Gereja-gereja yang tergolong pada tradisi magisterial, seperti Lutheranisme dan Anglikanisme) menerima ajaran-ajaran dari ketujuh Konsili yang pertama, tetapi tidak mengakui wibawa Konsili itu pada tingkat yang sama seperti yang diberikan oleh Gereja Katolik dan Ortodoks Timur.

Sebagian Gereja Protestan, termasuk sejumlah Gereja fundamentalis dan nontrinitarian, mengutuk Konsili Ekumenis karena alasan-alasan lain. Independensi atau kongregasionalisme di antara kaum Protestan mencakup penolakan terhadap struktur pemerintahan (atau otoritas apapun yang mengikat) di atas jemaat-jemaat lokal. Karena itu ketaatan kepada keputusan-keputusan dari konsili-konsili dianggap semata-mata bersifat suka rela dan Konsili harus dianggap mengikat sejauh bahwa doktrin-doktrin tersebut diambil dari Kitab Suci. Banyak dari Gereja-gereja ini menolak gagasan bahwa ada suatu otoritas lain di luar para penulis Kitab Suci yang dapat secara langsung memimpin orang-orang Kristen lain melalui otoritas ilahi yang asli; setelah Perjanjian Baru, demikian mereka menyatakan, pintu-pintu pewahyuan telah ditutup. Mereka menganggap doktrin-doktrin baru yang bukan berasal dari kanon Kitab Suci yang telah disegel tidak mungkin dan tidak perlu – entah diusulkan oleh Konsili Gereja ataupun oleh nabi-nabi yang lebih baru. Para pendukung Konsili berpendapat bahwa Konsili tidak menciptakan doktrin-doktrin baru melainkan semata-mata menerangi doktrin-doktrin yang sudah ada di dalam Kitab Suci yang telah terlupakan.

Persekutuan Ortodoks Oriental hanya menerima Nicea I, Konstantinopel I dan Konsili Efesus.

Gereja Asiria

Gereja Asiria di Timur hanya menerima Konsili Nicea Pertama dan Konsili Konstantinopel Pertama.

Mormonisme

Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir menolak Konsili Ekumenis pada abad-abad pertama karena apa yang mereka anggap sebagai upaya manusia yang sesat tanpa bantuan ilahi untuk memutuskan masalah-masalah doktrin seolah-olah doktrin harus diturunkan melalui perdebatan demokratis atau politik ketimbang melalui pewahyuan. Penghimpunan Konsili seperti itu bahkan dianggap sebagai cukup bukti bahwa Gereja Kristen yang asli telah jatuh ke dalam kemurtadan dan tidak lagi secara langsung dipimpin oleh otoritas ilahi. Mereka menganggap penghimpunan Konsili seperti itu, misalnya, oleh seorang Kaisar Roma, yang belum dibaptiskan (apalagi tidak ditahbiskan) sebagai sebuah tindakan yang absurd dan menegaskan bahwa kaisar-kaisar itu menggunakan Konsili untuk menunjukkan pengaruh mereka dalam membentuk dan melembagakan agama Kristen sesuai dengan selera mereka.

Gereja-gereja Nontrinitarian

Konsili yang pertama dan konsili-konsili yang berikutnya tidak diakui oleh Gereja-gereja nontrinitarian: Arian, Unitarian, Saksi-Saksi Yehuwa dll.

Hubungan antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur

Dalam beberapa puluh tahun terakhir banyak teolog Katolik Roma dan bahkan sejumlah Paus telah berbicara tentang ketujuh Konsili pertama sebagai ekumenis dalam pengertian “lengkap dan selayaknya”, mendapatkan penerimaan oleh Gereja Timur maupun Barat. Lebih dari itu, Paus Yohanes Paulus II, dalam ensikliknya Ut Unum Sint (“Agar mereka kiranya menjadi satu”), mengundang orang-orang Kristen lainnya untuk membicarakan bagaimana keutamaan Uskup Roma selayaknya diterapkan sejak sekarang. Beliau berkata bahwa masa depan mungkin dapat menjadi pembimbing yang lebih baik daripada masa lalu. Dalam cara ini, Uskup Roma memungkinkan pengembangan sebuah eklesiologi yang akan lebih dapat diterima oleh Timur dan Barat, yang akan memungkinkan rekonsiliasi antara Gereja Katolik Roma dan Gereja-gereja Ortodoks dan akan memberikan pemahaman bersama tentang wibawa Konsili yang disebut ekumenis.

Saling ekskomunikasi pada 1054 antara Paus Roma dan Patriarkh Konstantinopel dibatalkan pada 1965 oleh para pengganti mereka pada masa itu. Sementara Gereja-gereja ini kini berusaha menciptakan rekonsiliasi, pemulihan persekutuan yang penuh pun akan membutuhkan waktu.

Demikian pula pada 11 November 1994 dalam pertemuan antara Mar Dinkha IV, Patriarkh Babilonia, Selucia-Ctesiphon dan seluruh wilayah Timur (Chicago, Illinois), pemimpin Asiria atau Gereja “Nestorian“, dan Paus Yohanes Paulus II dari Gereja Katolik Roma di Vatikan, ditandatanganilah sebuah Pernyataan Kristologis Bersama, menjembatani sebuah skisma yang berasal dari Konsili Ekumenis Ketiga di Efesus. Pemisahan dari Gereja Koptik dari Gereja Katolik yang esa, kudus dan apostolik setelah Konsili Ekumenis Keempat di Khalsedon dibahas dalam sebuah “Deklarasi Bersama antara Paus Paulus VI dan Paus dari Alexandria Shenouda III” di Vatikan pada 10 Mei 1973 dan dalam sebuah “Pernyataan Persetujuan” yang disiapkan oleh “Komisi Bersama untuk Dialog Teologis antara Gereja Ortodoks dan Gereja-gereja Ortodoks Oriental” di Biara Anba Bishoy di Wadi El-Natroun, Mesir pada 24 Juni 1989.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 12, 2008 in Kristologi

 

The mesiah, Versi Iran, Yesus tidak pernah disalib !

Sebuah film tentang Yesus yang naskah skenarionya berdasarkan cara pandang Islam baru-baru ini dirilis di Iran. Film tersebut menimbulkan reaksi dari komunitas Kristen, karena Yesus diceritakan tidak mati disalib, tetapi digantikan oleh Yudas Iskariot. Film ini berjudul “The Messiah, The Spirit of God“, ditulis, diproduksi dan disutradarai oleh produser asal Iran, Nader Talebzadeh. Film ini dibuat di Iran dan Yesus pun dimainkan oleh seorang aktor Iran. Film ini dibuat berdasarkan ajaran Al Quran tentang Yesus dan berdasarkan isi kitab Injil Barnabas, sebuah kitab yang tidak termasuk dalam kanonisasi Alkitab. Pembuatan film ini didanai oleh sebuah channel TV milik pemerintah Iran.

Dr. Emir Caner, seorang dekan dari Southwestern Baptist Theological Seminary merekomendasikan untuk orang Kristen menonton film ini, karena didalamnya mengungkap banyak hal-hal baru, seperti kapan Yesus digantikan, kenapa ibu dan para murid Yesus tidak mengenali bahwa orang yang mereka ikuti itu telah ditukar sebelum berada di atas kayu salib, serta apa tujuan Allah’ membutakan semua kerumunan termasuk murid -murid Yesus dan Maria ibu Yesus, sehingga mereka tetap berpikir bahwa Yesus lah yang sedang disalibkan.

Caner, yang juga seorang professor bidang sejarah, mengatakan bahwa dia percaya pada akhirnya dengan cara ini, kita menonton sambil bertanya berdasarkan sudut pandang itu, kita bisa menerima film ini.

“Mungkin orang Muslim dan Kristen akan menyadari melalui film ini bahwa Alquran hanya menawarkan suatu kemungkinan cerita yang mungkin terjadi saat itu, walaupun Alkitab sudah dengan jelas menuliskan sejarah mendetail yang dapat dipercaya dan telah dibuktikan bahkan hingga saat ini.” Demikian Caner menuliskan pernyataannya.

Hampir secara keseluruhan “The Messiah,” penampilan Yesus dalam film ini mirip dengan versi Yesus yang dibuat oleh dunia barat. Rambut pirang dan melakukan mukjizat. Hanya yang berbeda adalah bagaimana Yudas tiba – tiba secara ajaib berubah menyerupai Yesus dan menggantikan Yesus disalibkan.

“Dia ( Yesus) bukan Anak Allah dan tidak pernah menjadi Anak Allah. Dia hanya nabi dan Dia tidak pernah disalibkan, itu adalah orang lain yang disalibkan menggantikan Dia,” Talebzadeh menyatakan kepada CNN.

Salah satu motif pembuatan film ini, menurut Talebzadeh, adalah sebagai jawaban atas film-film mengenai Yesus yang dibuat produser Barat, seperti film “the Passion of the Christ” yang dibintangi aktor Mel Gibson tahun 2004. Menurutnya, film ini menyajikan jalan cerita yang salah mengenai Yesus dari sisi ajaran islam.

Film fenomenal yang melibatkan hampir lebih dari 1000 orang ini merupakan sebuah film terbesar yang pernah dibuat di Iran. Film ini juga akan ditayangkan dalam 20 episode di channel-channel TV milik pemerintah Iran

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 12, 2008 in Kristologi

 

Kaligrafi yang menyesatkan, Waspadalah !!!

Bisa dipastikan, hampir tak seorang pun umat Islam yang tidak menyukai kaligrafi Islam yang memuat ayat-ayat tertentu dari Al-Qur an. Misalnya, kaligrafi khat Arab bacaan Allah, Muhammad, Basmalah, ayat Kursi, surat Al-Fatihah, dsb. Ini adalah hal yang baik dan perlu dilestarikan. Sebab memajang ayat-ayat dengan tulisan indah di rumah adalah salah satu ekspresi kecintaan kepada Al-Qur’an. Tetapi, untuk kaligrafi model satu ini dan kaligrafi lainnya yang sejenis, kaum Muslimin jangan tertipu oleh
musang berbulu ayam. Sebab kaligrafi ini pun indah dan dijual bebas di berbagai toko buku. Kaligrafi melingkar ukuran setengah meter persegi ini bagian tengahnya bertuliskan ‘abana’ yang berarti bapa kami. Dalam
teologi Kristen, kata ini berarti Allah (Allah Bapak). Lihat dibawah ini

kaligraphy sesat

Bila dibaca dengan teliti, maka bacaan yang lengkap adalah abana alladzi fis-samawati… dst. Tanyakanlah kepada ustadz yang hafal Al-Qur’an, ayat tersebut ada di surat
apa dan ayat berapa? Pasti ustadz tersebut akan geleng-geleng kepala seraya menjawab bahwa itu bukan ayat Al-Qur’an.
Jawaban ini tepat sekali, karena kaligrafi ini bukan Al-Qur’an, tapi ayat Bibel, salah satunya adalah tepatnya Injil Matius pasal 6 ayat 9-13 yang terjemahan Indonesianya demikian… Karena itu berdoalah demikian: Bapak kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.
Entah sudah berapa banyak kaum Muslimin yang menghiasi rumahnya dengan ayat Bibel berupa kaligrafi kristiani tersebut, mengingat kaligrafi itu dijual di seluruh Indonesia. Padahal sebutan Bapak Kami kepada Allah
SWT adalah kesalahan besar yang bertentangan dengan Al-Qur’an surat Al-Ikhlash.

lihat pula yang berikut ini, dari injil matius

surat matius di injil

Matius lingkaran

waspadalah…!!!

Sebarkan informasi ini kepada saudara saudara sesama Muslim

 

Note: 25 Mei 2015

saya mendapati ada warga muslim yang tidak tahu menahu dan membeli jacket ini, dan dia memang bisa baca Quran, namun tidak begitu tahu artinya, semoga menjadi pembelajaran untuk umat Muslim agar memahami Quran bukan sekedar bisa baca, namun juga memahami isinya dan artinya

mgaco

 
29 Komentar

Ditulis oleh pada November 12, 2008 in Islam, Kristologi, Uncategorized