RSS

Arsip Harian: November 11, 2008

Seputar Trinitas

Sebenarnya ajaran trinitas tidak dikenal di dalam agama Kristen itu sendiri. satu-satunya ayat yang dianggap mendukung doktrin trinitas adalah Kitab Yohanes pasal 5 ayat 7: “Sebab ada 3 yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; ketiganya adalah satu.”

Ayat trinitas ini dianggap palsu dalam The Holy Bible New International Version hl. 1242. Disebutkan didalamnya, bahwa ayat ini “not found in any Greek manuscript before the sixteenth century” (tidak dijumpai dalam naskah Yunani sebelum abad ke-16).

Jika doktrin trinitas tidak terdapat dalam kitab suci, berarti trinitas bukan ajaran Tuhan. Melalui pengetahuan sejarah akan tersingkap bahwa trinitas adalah buatan manusia biasa.

Doktrin trinitas diciptakan jauh setelah Yesus tidak ada di dunia, yaitu pada konsili Konstantinopel tahun 381 M yang diadakan oleh Kaisar Theodosius untuk merevisi Konsili Nicea 328 M. Konsili ini melahirkan formula trinitas yang dikenal dengan pengakuan Iman Nicea Konstantinopel (Credo Niceano Constantinopolitanum), yang oleh umat Kristen saat ini dikenal dengan sebutan “12 pengakuan Iman Rasuli” atau “Sahadat Iman Rasuli”. (DR. R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, BPK Gunung Mulia, Jakarta, Cet. X, 1996, hlm. 123; Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen (pent. Dr. A. A. Yewangoe), BPK Gunung Mulia, Jakarta, Cet. II, 1994, hlm. 81). Isinya adalah berikut ini:

“Aku percaya kepada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi, segala yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal, yang lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah yang sejati dari Allah yang sejati, diperanakan bukan dibuat, hakikat dengan Sang Bapa…”

Pengakuan Iman Rasuli yang menyatakan bahwa Yesus adalah Allah yang sejati dan sehakikat dengan Allah adalah tidak berdasar sama sekali dalam kitab suci. Bahkan kontradiktif dengan kitab suci Kristen sendiri: “Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah.” (Yesaya 45: 5-6).

Dalam Matius 4: 10 tertulis bahwa Yesus pun mengajarkan kepada Iblis untuk bertauhid (mengesakan Allah): “Maka berkatalah Yesus kepadanya: ‘Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

Meski tidak mengamalkan keyakinannya, tapi Iblis tahu bahwa Yesus bukan Tuhan karena Yesus mengajarkan bahwa Tuhan itu hanya Allah saja. Maka suatu ironi yang besar jika orang yang mengaku pengikut Yesus tidak mengetahui tauhid ajaran Yesus. Apakah berarti Iblis lebih pandai daripada manusia yang tidak bertauhid?

Al-Quran sendiri telah meluruskan penyimpangan kaum Kristen ini. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam’, padahal al-Masih (sendiri) berkata: ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu’. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. al-Maidah: 72).

Salah satu yang membedakan Islam dan Kristen terletak pada ajaran ketuhanan. Dalam pandangan Kristen, wujud dari kasih sayang Tuhan, Dia menjelma menjadi manusia Yesus yang turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Tuhan Kristiani Maha Tahu, karena tuhan pernah menjelma menjadi manusia untuk merasakan bagaimana rasanya “mati”.

Menurut orang Kristen, Tuhan dalam Kristiani lebih Maha Tahu dibandingkan dengan Tuhan dalam Islam, karena Tuhan Kristiani pernah merasakan mati, sedangkan Tuhan dalam Islam tidak demikian.

Benarkah Yesus Tuhan? Menurut al-Quran, Yesus jelas bukan Tuhan. Kafir hukumnya mengatakan Yesus itu Tuhan (QS. al-Maidah: 72). Sedangkan menurut Alkitab, fakta-fakta dalam berbagai ayat menjelaskan, Yesus adalah murni manusia yang memiliki sifat-sifat emosional manusiawi. Yesus minta pertolongan (Matius 27: 46), susah hati (Matius 26: 38), menangis (Yohanes 11: 35), ketakutan (Lukas 22: 44), kelaparan (Matius 21: 18), diolok-olok, diludahi, disesah dan dibunuh (Markus 10: 34).

Di samping itu, Yesus juga dikendalikan oleh Tuhan, mendengar firman Tuhan, bersyukur dan berdoa kepada Tuhan. Yesus dikendalikan Tuhan. “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang aku dengar, dan penghakimanku adil, sebab aku tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku.” (Yohanes 5: 30).

Yesus berdoa kepada Tuhan (Lukas 5: 16; Lukas 22: 41, 45: Matius 26: 36). Ketergantungan Yesus kepada Tuhan ini menunjukkan bahwa Yesus benar-benar manusia yang sama sekali berbeda dengan Tuhan.

Choan Seng Song, Direktur Sekretariat Komisi Iman dan Tata Gereja di Dewan Gereja-Gereja Sedunia (WCC) dalam bukunya The Compassionate God (edisi Indonesia: Allah Yang Turut Menderita) melukiskan tragisnya kematian Yesus di tiang salib. “Dan kematian Yesus bukanlah suatu kematian biasa. Ini adalah suatu kematian penuh aib pada salib yang mengerikan. Ini adalah penghinaan terhadap seluruh pengajarannya tentang kebaikan dan keindahan. Ia membuat semua perkataannya tentang kehidupan yang kekal tidak masuk akal. Ia mengakhiri pengharapan akan kedatangan kerajaan Allah di muka bumi. Kematian pada salib adalah kematian yang mutlak.” (hlm. 125).

Menurut Alkitab (Bibel), Yesus mati di atas salib menyerahkan nyawanya kepada Tuhan. Inilah yang dikenal dengan istilah The Dead Theology. “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku.’ Dan sesudah berkata demikian dia menyerahkan nyawanya.” (Lukas 23: 46).

“Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut.” (Timotius 6: 16).

Ayat ini jelas menegaskan bahwa karakteristik Tuhan tidak takluk kepada kematian. Karena Yesus menurut Alkitab telah mati. Kalau begitu, Yesus bukanlah Tuhan.

Islam Meluruskan
Islam mengajarkan bahwa Allah Yang Maha Pencipta (al-Khaliq) memiliki nama-nama yang baik (al-Asma al-Husna), di antaranya adalah Maha Hidup Abadi (al-Hayyu), Maha Mengatur alam semesta (al-Qayyum). Allah juga memiliki sifat Maha Mengetahui (al-Alim). Karena Allah menciptakan makhluk, otomatis Dia Maha Tahu atas aktivitas makhluk-Nya. Jadi, untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi manusia, Allah tidak harus menjelma menjadi manusia. Segala ilmu dikuasai Allah. Allah Maha Tahu atas segala yang kelihatan dan yang gaib. “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Al-Mu’min: 19).

Allah Swt. Adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Tapi, Islam tidak membenarkan keyakinan Kristiani bahwa karena Allah Maha Kuasa, Dia bias saja berubah wujud menjadi apa saja (Matius 27: 50); Markus 15: 37; Lukas 23: 46; Yohanes 19: 30).

Karena, selain memiliki sifat al-Hayyu yang mustahil bisa mati, sifat Allah juga berbeda dengan makhluknya. “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (Allah).” (QS. Al-Ikhlas: 4).

Perbedaan Islam dan Kristen dalam hal ketuhanan sangat kontras. Karena Kristen tidak mengajarkan adanya al-Asma al-Husna. Sehingga banyak sekali sifat-sfat aneh Tuhan dalam Alkitab. Misalnya, Tuhan kelihatan kaki-Nya (Keluaran 24: 10), Tuhan kelihatan punggung-Nya (Keluaran 33: 23), Tuhan ragu (Kejadian 18: 17), Tuhan pelupa sehingga tidak ingat alas kaki-Nya ketika marah (Ratapan Yeremia 2: 1), Tuhan mencukur kepala dan bulu paha (Yesaya 7: 20), Tuhan mengaum suatu pekik seperti pekikkan pengirik-pengirik buah anggur (Yeremia 25: 30), Tuhan bersiul (Zakharia 10: 8), dan sebagainya.

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada November 11, 2008 in Kristologi

 

Bersyukur dengan Tahajud

Matanya bengkak karena banyak menangis. Telapak kakinya pecah-pecah karena lama berdiri shlat. Begitulah yang terjadi pada diri Rsulullah ketika beliau mengerjakan shalat tahajud. Dan hal itu disaksikan sendiri oleh Aisyah Ra., istrinya. Aisyah sangat khawatir melihat keadaan Rasulullah, bukankah beliau adalah orang yang telah diampuni dosanya baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Lalu, mengapa Rasulullah beribadah sehebat itu? Aisyah menanyakan masalah itu pada beliau, dan beliau pun bersabda, “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?”


Subhanallah! Jawaban yang sangat singkat namun padat. Jawaban yang menghadirkan definisi terbaik tentang makna syukur. Bersyukur tidak hanya diucapkan lewat lisan, tetapi juga melalui perbuatan, seperti yang dilakukan Rasulullah itu. Rasulullah telah menjadi teladan bagi orang-orang yang mau bersyukur. Jika Rasulullah mengerjakan shalat tahajud, bagaimana dengan kita? Bukankah dosa-dosa kita banyak dan belum tentu diampuninya?


Berhentilah menjadi orang munafik! Lakukan apa yang diajarkan Rasulullah kepadamu. Apakah engkau yakin dosa-dosamu diampuninya? Baiklah, jika memang Allah mengampunimu, apakah engkau setiap saat, setiap ketika memohon ampunan-Nya? Karena seiring dengan berjalannya waktu, ada dosa yang terselip didalamnya, namun sering kali tidak engkau sadari.


Bertahajudlah sebagaimana Rasulullah bertahajud. Bersyukurlah sebagaimana Rasulullah bersyukur. Beristighfarlah sebagaimana Rasulullah beristighfar. Bahkan Rasulullah beristighfar ketika mendapat kemenangan, sebagaimana yang tercantum dalam surat an-Nasr: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”


Karena dibalik kemenangan bisa jadi terselip kesombongan sehingga dapat mengotori kemenangan itu sendiri. Dan juga dosa-dosa yang lain yang mungkin tidak kita sadari. Dari sinilah kemudian kemenangan itu berulang. Yaitu dengan syukur dan istighfar. Mereka tahu bahwa kemenangan itu, kekuatan itu, dan pertolongan itu datangnya dari Allah.


Tidak pantas kiranya kita menjadi Qarun, yang mengatakan bahwa apa yang dia dapatkan berasal dari ilmu yang dimilikinya sendiri. Sebab, justru dari sanalah datangnya bahaya, yaitu azab dan kekalahan yang menyakitkan. Seluruh harta kekayaan qarun ludes ditelan bumi, dan Qarun mati mengenaskan. Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (QS. al-Qashash: 78).


Masihkah engkau ingat bagaimana kaum muslimin menderita kekalahan yang cukup menyakitkan pada perang Uhud? Sebabnya tidak lain adalah kesombongan yang ada dalam diri mereka. “…karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan.” (QS. Ali Imran: 153).


Bertahajudlah! Karena, itu salah satu langkahmu untuk membuktikan rasa syukur kepada Nya. Kelak akan engkau rasakan kenikmatan-kenikmatan datang menghampirimu. Ini adalah janji Allah, dan Allah tidak pernah mengingkari janji Nya.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada November 11, 2008 in Refleksi Jiwa

 

Jangan Pernah Malu Berdoa

Sepertiga malam adalah waktu yang paling baik untuk berdoa sebanyak-banyaknya. Rasulullah Saw. bersabda, “Tuhan kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi akan turun pada setiap malam ke langit dunia ini (yaitu) pada sepertiga malam yang terakhir, kemudian ia akan berfirman, ‘Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkan (doa)nya dalam setiap malam. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberikan kepadanya. Dan, barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya’.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi).

Berdoalah, berdoalah, berdoalah! Insya Allah doamu akan didengar dan dikabulkan meskipun dosa-dosamu sebanyak buih dilautan. Yang mesti engkau lakukan adalah bertaubat dan memperbanyak istighfar sebelum berdoa. Karena dengan cara itulah dosa-dosamu — meskipun mungkin tidak semua — sedikit demi sedikit terkikis.

Oleh karena itu, janganlah engkau khawatir doamu tidak dikabulkan karena setan pun tidak khawatir jika doanya tidak dikabulkan. Buktinya toh Allah mengabulkan keinginan Iblis untuk menggoda manusia hingga akhir zaman. Sufyan bin Uyainah berkata, “Janganlah engkau merasa khawatir Allah tidak akan mengabulkan doamu hanya karena engkau mengetahui bahwa dalam dirimu terdapat kejahatan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Swt. telah mengabulkan permintaan makhluk yang terjahat, yaitu Iblis ketika ia berkata: ‘…beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan’. (QS. al-A’raf: 14), kemudian Allah mengabulkan permintaannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh’. (QS. al-A’raf: 15).”

Sedangkan engkau? Dosa-dosamu tidak lebih banyak dari Iblis, tetapi mengapa engkau malu? Mengapa engkau merasa minder untuk berdoa kepada-Nya, sedangkan Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang?

Jangan terjebak pada rayuan setan yang mengatakan, “Malulah kamu, sudah banyak dosa tapi tetap saja berdoa kepada-Nya!” Itu bohong! Karena, doa itu 100% baik bagimu. Kamu tidak diminta malu dalam berdoa. Justru Allah sangat senang dengan hamba-Nya yang berdoa, dan Allah sangat murka dengan hamba-Nya yang enggan berdoa. Singkirkanlah rasa malumu dan mulailah berdoa, “Ya Allah ampunilah dosa-dosaku…Ya Allah berikanlah aku rezeki…Ya Allah kuatkanlah imanku…Ya Allah berilah aku petunjuk…Ya Allah perbaikilah akhlakku…”

Perhatikanlah doa para Nabi berikut ini dan jawaban atas doa itu dari Allah:

Nabi Nuh As. berdoa: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah aku (Ya Allah).” (QS, al-Qamar: 10). Kemudian Allah Swt. menjawab doa itu: “Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai belasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh).” (QS. al-Qamar: 11-14). Demikianlah, akhirnya Allah menyelamatkan Nuh dan kaumnya yang beriman.

Nabi Zakariya As. berdoa: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.” (QS. al-Anbiya: 89). Kemudian Allah Swt. menjawab doa itu: “Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. al-Anbiya: 90). Akhirnya Allah memberi Nabi Zakariya dan istrinya keturunan meskipun mereka sudah tua dan mandul.

Nabi Ayyub As. berdoa: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. al-Anbiya: 83). Kemudian Allah Swt. menjawab doa itu: “Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. al-Anbiya: 84). Nabi Ayyub As. yang semula sakit parah kemudian Allah sembuhkan.

Nabi Muhammad Saw. berdoa sambil menangis pada perang Badar: “Ya Allah, wujudkanlah apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau hancurkan segelintir orang ini maka Engkau tidak akan disembah (lagi) di bumi ini.” (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad). Ya, akhirnya doa itu dikabulkan-Nya. Hanya dengan segelintir orang mampu mengalahkan pasukan yang jumlahnya lebih banyak sepuluh kali lipat.

Perhatikanlah keadaan kaum muslimin ketika sedang dikepung oleh musuh-musuh mereka dalam perang Khandaq. Pada saat itu, mereka berkata, “Apa yang akan kita lakukan, wahai Rasulullah, sungguh mereka telah mengepung kita?” Rasulullah Saw. pun bersabda, “Katakanlah oleh kalian: ‘Ya Allah, tutuplah aurat-aurat kami dan amankanlah (lenyapkanlah) ketakutan-ketakutan kami’.” (HR. Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad). Sejak saat itu, para sahabat selalu membaca dan mengulang doa tersebut, dan belum lewat satu hari atau dua hari, Allah Swt. telah mengirimkan angin badai yang menghantam wajah orang-orang kafir.

Doamu akan memberikan kekuatan kepadamu yang sebelumnya kamu lemah karena dosa. Doamu akan memberikan maghfirah-Nya kepadamu yang sebelumnya Dia tidak mengampunimu. Doamu akan memberikan rezeki kepadamu yang sebelumnya tersendat karena kedurhakaanmu kepada-Nya.

Biarkan rasa malumu berganti dengan airmata penyesalan dan pengharapan. Karena, itulah rasa malu yang sesungguhnya. Yusuf As. malu kepada Allah sehingga dia tidak mau diajak berzina walaupun kesempatan begitu terbuka lebar. Malik bin Dinar yang semula adalah orang yang berbuat maksiat kemudian bertaubat dan rajin berdoa dan beribadah. Rasa malumu kepada-Nya bukannya menyurutkanmu untuk beribadah kepada-Nya, tapi justru menyemangatimu dan mendorongmu untuk lebih intensif memuja-Nya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 11, 2008 in Refleksi Jiwa

 

Ketika Nikmat Berbicara

Memang Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sekalipun kita durhaka kepada-Nya, tetap saja Dia memberi kita banyak kenikmatan. Namun Dia tidak memberikan “iman” kepada hamba-hamba-Nya yang durhaka. Sudah seharusnya kita merenungkan hal ini. Apakah kita akan menjual iman dengan harga yang murah, padahal harga iman itu setara dengan surga.

Kita menjadi makhluk-Nya yang kufur setelah kita melalui kenikmatan itu tanpa berterima kasih kepada-Nya. Jika kita berterima kasih kepada orang yang memberikan bantuan kepada kita, sesungguhnya Allah-lah yang lebih berhak dan lebih banyak kita haturkan terima kasih. Karena kenikmatan yang Dia berikan, tiada terhitung jumlahnya. Mulai dari udara yang kita hirup, mata yang berkedip, hingga kita dapat mengeluarkan kotoran dari anus kita. Semua itu kenikmatan yang tiada ternilai harganya. Jika Anda mengucapkan kata “Alhamdulillah” ketika memperoleh kenikmatan, itu sudah cukup bagi Allah, tapi jika dibandingkan nikmat pemberian-Nya, jauh sekali dari standar yang semestinya.

Pada hakikatnya, rasa syukur kita bukan untuk Allah, melainkan untuk diri kita sendiri. Kekuasaan Allah tidak akan bertambah dengan banyaknya orang yang bersyukur dan tidak akan berkurang dengan banyaknya orang yang kufur. Begitupun dengan perintah-perintah Allah yang harus kita jalankan dalam kehidupan ini, semuanya adalah untuk diri kita sendiri. Bukankah jika kita bersyukur, Allah akan menambahkan kenikmatan untuk kita? Dan bukankah jika kita kufur, azab-Nya amatlah pedih?

Begitu tingginya maqam syukur, sehingga banyak ulama yang mengatakan bahwa syukur adalah separoh dari iman. Mengapa? Karena syukur adalah pintu gerbang untuk mengenal Allah dan mengenal diri kita sendiri. Ketika kita mengucapkan “Alhamdulillah”, sesungguhnya kita sedang mengatakan bahwa seluruh puji-pujian hanyalah milik Allah – Tuhan semesta alam. Ketika kita memperlihatkan kenikmatan yang diberikan-Nya, sesungguhnya kita sedang mengatakan – dengan bahasa tubuh kita – bahwa semua itu berasal dari-Nya, bukan dari usaha kita sendiri. Jika Allah menghendaki kehinaan pada diri seseorang, maka tak akan ada orang yang sanggup membuatnya mulia. Kehinaan tetap melekat padanya seumur hidupnya.

Mari kita renungkan enam kenikmatan besar berikut ini, dan semoga kita dapat menjadi bagian dari orang-orang yang bersyukur setelah mengetahuinya.

Nikmat iman dan Islam
Inilah nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Inilah nikmat yang mengantarkan seseorang ke surga-Nya – puncak kebahagiaan dan keabadian. Kita bersyukur telah dilahirkan sebagai seorang muslim, sementara masih banyak orang di luar sana tersesat jalan hidupnya. Kita juga dengan sangat mudah mengerjakan shalat atau menggenakan jilbab di depan keluarga kita, karena keluarga kita muslim. Sementara ada orang yang berusaha menyembunyikan keislamannya karena bila ketahuan, ia akan dihukum, disiksa, dan dikucilkan oleh keluarganya yang notabene kafir.

Karena keimananlah, Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup oleh Namrudz, Nabi Yahya digergaji tubuhnya hingga syahid, Nabi Yusuf rela tidak mendapatkan kenikmatan bersetubuh dengan wanita secantik Zulaikha, Nabi Muhammad dihina dan dicaci maki oleh pamannya sendiri, Bilal rela tubuhnya dihimpit batu besar ditengah sahara, Sumayyah dan Yasir syahid dengan penuh luka disekujur tubuhnya, dan Ammar – anaknya – menangis sejadi-jadinya melihat kondisi kedua orangtuanya tersebut.

Karena keimananlah, Ibnu Taimiyah dipenjara hingga wafatnya, Hasan al-Banna syahid diterjang peluru durjana, Sayyid Quthb digantung oleh thagut, Abdullah Azzam dan putranya syahid dalam sebuah ledakan besar, Ahmad Yasin tak pernah berhenti berjuang walau separuh tubuhnya lumpuh. Dimanakah kita berada saat mereka mengikrarkan kalimat iman dan Islam dalam perjuangan mereka? Dimanakah kita berada saat ruh, jiwa, dan tubuh mereka bersimbah darah?

Subhanallah, sudah seharusnya kita menjadi bagian dari mereka. Airmata ini sudah selayaknya bercucuran ketika mengenang perjuangan mereka. Wahai sahabatku, janganlah engkau gadaikan imanmu dengan harga yang murah, yaitu menjadi murtad dan membelakangi para mujahid. Istiqomahlah dan berpegang teguhlah! Islam ibarat intan berlian, dilihat dari sisi manapun tetap memancarkan kemilau. Islam adalah kebenaran yang nyata, tak terbantahkan!

Nikmat sehat
Ada yang sakit hingga tubuhnya rebah dipembaringan; ada yang lumpuh hingga tak dapat menggerakkan salah satu anggota tubuhnya; ada yang bisu hingga tak dapat berbicara; ada yang buta hingga tak dapat melihat; ada yang kaki dan tangannya diamputasi karena sebuah kecelakaan; ada yang tidak bisa membuang kotoran dalam tubuhnya; bahkan ada yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berbaring menunggu ajal!

Lebih dari yang kita rasakan ketika kita sakit, sakit kita tak seberapa tapi kita banyak mengeluh; pusing sedikit, mengeluh; panas sedikit, mengeluh; uang sedikit, mengeluh; apakah kita hanya bisa mengeluh? Bukankah masih banyak saudara-saudara kita yang lebih parah dari kita? Lebih miskin dari kita? Tapi mereka toh tidak mengeluh!

Oh, mujahid Palestina, Irak, dan Afghan, serta mujahid dibelahan bumi manapun, sesungguhnya kami malu pada kalian. Setiap hari ada saja luka menganga akibat terjangan peluru atau pecahan bom, tapi kalian tetap bersabar. Hari-hari kalian begitu mencekam dan dilalui dengan huru-hara peperangan, tetapi wajah kalian tetap memancarkan keceriaan. Karena kalian memiliki iman yang lurus, maka kalian menjadi orang yang tidak pernah menyerah.

Nikmat harta
Orang-orang kaya belum tentu bahagia, demikian kata Donald Trump, pengusaha terkenal AS, buktinya, dia merasa tidak bahagia dan ada orang yang miskin namun tetap bahagia. Engkau lihat, para petani begitu asyik dengan lauk pauk yang dihidangkan istrinya ditengah hamparan luas sawah dan ladang. Namun, engkau lihat orang kaya yang dilarang makan ini dan itu oleh dokternya karena suatu penyakit yang kronis, atau tak berselara dengan segala bentuk hidangan menggiurkan karena stres.

Harta yang sedikit tapi dapat dinikmati dengan sepenuh jiwa, lebih baik daripada banyak tapi hanya menambah penyakit jiwa.

Jika Allah memberimu banyak harta, itu adalah kenikmatan yang seluruhnya berasal dari-Nya, bukan dari hasil usahamu. Janganlah engkau seperti Qarun yang mengatakan bahwa harta yang ia peroleh sepenuhnya berasal dari usahanya sendiri, bukan dari pemberian Allah. Cara bersyukurmu adalah dengan memberikan sebagiannya untuk zakat dan sedekah. Dengannya kenikmatan itu akan bertambah, bukan hanya bertambahnya harta, tapi yang lebih penting adalah bertambahnya pahala, keberkahan, dan keimanan.

Nikmat ilmu
Allah akan mempermudah jalan ke surga bagi muslim yang menuntut ilmu. Kenikmatan menuntut ilmu terlihat dari konsistensi dalam menuntut ilmu dan aktivitas amal shalih yang kerap kita lakukan. Begitu asyiknya membaca hingga kita banyak mendapatkan pengetahuan dan pencerahan. Selepas membaca buku ini, kita membaca buku yang lain, begitulah seterusnya; kita tenggelam dalam lautan buku. Jika kita tenggelam di tengah lautan, kita akan mati. Tapi tidak jika kita tenggelam dalam lautan buku, kita akan bertambah haus dan rasa keingintahuan kita semakin bertambah.

Penelitian menunjukkan bahwa banyak membaca dapat memberikan kesehatan pada tubuh kita, salah satunya terhindar dari kepikunan (dimensia). Engkau dapat mengetahuinya dari para ulama yang tetap produktif menulis dan berkarya walau usianya sudah sepuh. Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam usianya yang ke 81, tetap aktif berkarya dan menulis. Bandingkan dengan orang-orang yang seusia dengannya namun otaknya sudah “beku” dan hanya bisa merepotkan orang lain saja.

Jika engkau mendapatkan nikmat ilmu, berbahagialah dan bersyukurlah, karena – kata Imam Ibnu al-Jauzy – tidak ada kenikmatan inderawi yang lebih besar daripada kenikmatan dalam menuntut ilmu.

Nikmat ibadah
Selepas shalat fardhu, doa dan dzikir dilafadzkan, lalu shalat sunat dikerjakan, dengan hati yang khusyu dan syahdu. Jiwa dan raga ini berpaut menjadi satu memeluk kehangatan ibadah kepada-Nya. Jika demikian, tiada yang dapat menghalanginya beribadah meskipun kesenangan-kesenangan duniawi di depan mata.

Selepas berbuka dengan dua buah korma, ada hidangan begitu menggiurkan di atas meja. Air liur pun bisa saja turun membasahi kerongkongan. Tapi bagi orang yang merasakan nikmatnya ibadah, panggilan Allah untuk shalat jauh lebih menggiurkan baginya. Begitulah ciri khas orang yang merasakan nikmatnya ibadah. Dia merasakan jika tidak beribadah, seolah-olah seluruh tubuhnya lumpuh dan jiwanya mati rasa.

Nikmat waktu
Detik demi detik berlalu. Jam demi jam berlalu hingga kita mati! Kita pasti mati, tapi kini kita masih hidup! Oh waktu, sudah berlalu sekian lamanya. Yang lalu tak mungkin kembali lagi. Yang akan datang masih dalam angan-angan. Sudah banyak waktu yang terbuang percuma, tapi tetap kita merasa aman-aman saja. Bukankah disana ada seribu pedang yang siap menyayat-nyayat tubuh?

Motivator terkenal, John C. Maxwell dalam bukunya, mengutip sebuah penelitian yang menyebutkan tentang bagaimana rata-rata orang Amerika yang mencapai usia 72 tahun menggunakan waktu mereka:
21 tahun untuk tidur
14 tahun untuk bekerja
7 tahun untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan
6 tahun untuk makan
6 tahun untuk melakukan perjalanan
5 tahun untuk menunggu giliran
4 tahun untuk belajar
3 tahun untuk menghadiri pertemuan
2 tahun untuk menjawab telepon
1 tahun untuk mencari barang-barang yang hilang
3 tahun untuk kegiatan-kegiatan lainnya

Selanjutnya beliau mengatakan, “Bila kita menargetkan untuk mencapai keberhasilan selama masa kerja kita berarti kita hanya punya waktu yang singkat untuk melakukannya, yakni kurang dari seperlima dari seluruh waktu yang kita miliki.”

Nikmat waktu ini adalah nikmat yang berharga dalam hidup kita. Itu artinya, masih ada waktu untuk bertaubat, beribadah, menuntut ilmu, dan mengerjakan amal-amal shalih lainnya.

Demikianlah nikmat, begitu banyaknya melekat pada diri kita dan kehidupan kita, membuat Allah menegur kita secara berulang-ulang – dengan nada bertanya – dalam surat ar-Rahman: “Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan”. Ketika Rasulullah dihina oleh orang-orang kafir dengan sebutan “batara”, yang artinya keturunannya terputus karena anak laki-laki beliau semuanya mati. Lalu Allah menurunkan ayat yang berbunyi: “Inna a’thaina kal kautsar – sesungguhnya Allah telah memberimu kenikmatan yang banyak,” sebagai hiburan kepada Rasulullah Saw.. Dan jika memang demikian adanya, mengapa kita mesti bersedih dengan hilangnya satu nikmat? Bukankah Allah telah banyak memberi kita kenikmatan yang lain, yang jauh lebih besar dari kenikmatan yang hilang itu?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 11, 2008 in Refleksi Jiwa

 

bersabarlah

Karena Sabar, Mereka Besar

Allah menyebut kata “sabar” di 90 tempat dalam al-Quran. Ini menunjukkan betapa pentingnya sabar bagi kita. Menurut para ulama tafsir, jika satu kata/ kalimat sering diulang-ulang dalam al-Quran, itu artinya kata/ kalimat tersebut harus kita camkan baik-baik.

Sudahkah kita bersabar? Sungguh, ini bukan perkara mudah, bagi siapapun orangnya. Karena makna sabar sendiri adalah separuh dari iman. Sedangkan iman itu sangat luas cakupannya. Artinya, sabar meliputi setiap sisi kehidupan.

Sabar menurut para ulama terbagi menjadi tiga jenis: Pertama, sabar dalam menghadapi musibah. Kedua, sabar dalam menjauhi segala bentuk maksiat. Dan ketiga, sabar dalam menaati perintah Allah.

Sementara tingkat kesabaran terbagi menjadi tiga: Pertama, sabarnya para Nabi dan Rasul. Kedua, sabarnya orang-orang shiddiq dan shalih. Dan ketiga, sabarnya orang-orang awam.

Kesabaran Nabi dan Rasul ditempatkan pada tempat tertinggi karena merekalah yang mendapat ujian dan cobaan terbesar yang pernah dialami umat manusia. Dengan kata lain, kesabaran sangat erat kaitannya dengan keimanan seseorang. Semakin tinggi iman seseorang, semakin ia diuji dan dicoba. Ketinggian iman para Nabi dan Rasul sudah tidak diragukan lagi.

Kita harus banyak mengetahui keutamaan sabar, karena dengannya kita menjadi lebih termotivasi untuk bersabar. Kesabaran para Nabi dan Rasul adalah kesabaran ideal yang hendaknya kita melihat, mencontoh dan meneladaninya. Berikut ini teladan kesabaran empat orang Nabi. Sengaja saya hanya mengambil empat orang Nabi karena mereka mewakili jenis-jenis kesabaran yang ada.

Kesabaran Nabi Ayyub As.
Pada mulanya Nabi Ayub As. dikenal sebagai orang yang sangat kaya raya, gagah nan tampan rupawan, dan juga beristri banyak, namun secara sangat cepat pula semuanya hilang. Allah memberinya ujian dan cobaan berupa penyakit kulit yang susah untuk disembuhkan.

Berkat kesabaran dan sikap berserah dirinya kepada Allah, kemudian Allah menyembuhkan penyakitnya dengan memerintahkannya agar dia menghentakkan kakinya ke bumi. Nabi Ayyub menaati perintah itu maka keluarlah air dari bekas kakinya atas petunjuk Allah, Nabi Ayyub pun mandi dan minum dari air itu, sehingga sembuhlah dia dari penyakitnya, dikembalikan segala apa yang dipunya sebelumnya, ditambah lagi kemuliaannya, dan dicatat sebagai orang yang sabar. “…Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).” (QS. Shaad: 44).

Nabi Ayyub adalah contoh teladan seorang Nabi dalam menghadapi cobaan berupa penyakit. Sesungguhnya mereka yang kini sedang terbaring sakit atau yang sedang menderita suatu penyakit, mestilah membaca kisah tentang Nabi Ayyub ini, mudah-mudahan dapat memberi motivasi untuk lebih bersabar.

Kesabaran Nabi Yusuf As.
Kehidupan Nabi Yusuf As. dipenuhi dengan ujian dan cobaan, mulai dari masa remajanya yang menjadi budak, hadirnya seorang wanita cantik yang mengajaknya berzina, hingga kemudian difitnah dan dipenjara.

Penolakannya terhadap ajakan berzina Zulaikha telah menjadi “legenda” yang dikenang sepanjang masa. Padahal saat itu kesempatan untuk berzina sangat terbuka lebar. Tapi Nabi Yusuf dengan kekuatan imannya, menolak dengan tegas dan berkata: “Ma’adzallahi, innahu rabbii ahsana matswaay – Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Hingga akhirnya Zulaikha menarik baju Yusuf bagian belakang hingga koyak, yang pada saat itu Yusuf As. hendak menjauh dari Zulaikha. “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24).

Sosok pejuang yang sabar dalam menundukkan hawa nafsu telah melekat pada diri Nabi Yusuf As.. Namanya menjadi mulia dan kedudukannya terus naik menjulang. Hingga beliau diangkat menjadi seorang menteri yang cerdas dan memiliki kemampuan dalam menyingkap tabir mimpi.

Hendaknya kita menjadikan kisah Nabi Yusuf As. ini sebagai motivasi untuk bersabar dalam menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Allah Swt. berfirman dalam surat Yusuf ayat 7: “Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.”

Kesabaran Nabi Zakariya As.
Nabi Zakariya As. sudah sangat tua dan istrinya wanita yang mandul, tapi keinginannya sangat kuat untuk memiliki seorang anak. Beliau terus berikhtiar, bersabar, dan sering berdoa dengan doa: “Rabbi habli min ladunka dzurriyyatan thayyibah. Innaka samii’ud du’aa’ – Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.”

Kemudian Allah mengabulkan doa Nabi Zakariya tersebut. Terlahirlah kelak seorang anak yang shaleh, yang menjadi teladan, pejuang kebenaran dan keadilan, dan mujahid yang syahid, Yahya As..

Bagaimana kehamilan itu bisa terjadi? Bukankah pintu kemungkinan itu – secara rasional – sudah tertutup? Allah Swt. berfirman dalam surat Ali Imran ayat 40: “Kadzalikallahu yaf’alu maa yasyaa’ – Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”

Bagi mereka yang kini belum diberi keturunan, bersabarlah! Dekatkanlah dirimu kepada Allah. Kencangkanlah doa-doamu seperti Nabi Zakariya berdoa. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah kalau kita sudah mengikuti apa yang diperintahkan-Nya.

Kesabaran Nabi Muhammad Saw.
Hampir tidak terhitung banyaknya ujian dan cobaan yang mendera Nabi, mulai dari penghinaan, penyiksaan, penindasan, pemboikotan, wafatnya kedua orang yang dicintai saat beliau sangat membutuhkan pembelaan keduanya, hingga wafatnya satu demi satu putra-putra beliau, sehingga orang-orang kafir mengejeknya dengan gelar “batara” (terputus), yaitu terputus keturunannya karena semua anak laki-lakinya wafat.

Namun kemudian sesudah gelapnya malam penderitaan, datanglah fajar kebahagiaan. Nabi Saw. menuai hasil apa yang selama ini diyakininya; dakwah Islam semakin tersebar luas, pahala yang tak terputus-putus (wainna laka la ajron ghayra mamnuun), Makkah dapat direbut dari tangan kafir Quraisy, kemenangan demi kemenangan di medan tempur, dan harta ghanimah yang semakin melimpah. Dan penghargaan yang jauh lebih hebat dari itu semua adalah namanya disandingkan dengan nama Allah dalam kalimat syahadat dan Allah memujinya dengan berfirman: “Wa innaka la’alaa khuluqin adziim – Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Pelajaran Berharga
Entah bagaimana jadinya jika Nabi Ayyub As. tidak mau bersabar dengan penyakitnya; Nabi Yusuf As. tidak bersabar dalam menundukkan hawa nafsunya, Nabi Zakariya tidak bersabar dalam menanti buah hatinya tercinta; dan Nabi Muhammad Saw. tidak bersabar dalam mengemban dakwah Islam untuk umat sepanjang masa.

Nabi Ayyub pasti akan menjadi orang yang berputus asa dan karena itulah penyakitnya bisa bertambah parah, karena penyakit kulit bisa bertambah parah jika penderitanya mengalami stres dan tekanan mental. Nabi Yusuf pasti akan menjadi anak jalanan atau pelacur yang mengobral nafsunya dimana-mana. Nabi Zakariya pasti akan berhenti berharap memiliki seorang anak yang kelak menjadi sosok teladan umat manusia. Nabi Muhammad pasti akan menghentikan dakwahnya dan mengurung diri di dalam rumah, hingga tak ada generasi beriman dikemudian hari, termasuk kita!

Wahai sahabatku, reguklah mata air kecemerlangan dari kesabaran empat orang Nabi itu. Dekatkanlah dirimu kepada Allah dan kuatkanlah kesabaranmu dengan berlipat ganda. Karena dari sanalah engkau akan merasakan manisnya iman dan bersinarnya matahari kebahagiaan di dalam hatimu.

Apa yang tidak mungkin bagi Allah? Sesungguhnya engkau bergantung pada Zat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Zat yang mampu membuat dingin api yang membakar tubuh Nabi Ibrahim. Zat yang membelah lautan untuk menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya. Zat yang membolak-balikkan hati dari kafir menjadi beriman; dari keras menjadi lembut seperti yang terjadi pada diri Umar bin Khaththab. Zat yang dapat memenangkan pasukan beriman meskipun jumlah pasukan musuh berlipat-lipat seperti yang terjadi pada perang Badar.

Syaratnya hanya satu: kembalilah kepada Allah dengan sebenar-benarnya kembali. Janganlah engkau berpaling dari selain-Nya. Sesungguhnya kemenangan itu sangatlah dekat masanya, hanya saja kita sering sekali tergesa-gesa dan mudah berputus asa. Padahal bisa jadi, setelah kita berhenti berharap, justru disana terdapat kejayaan.

Ya Allah Ya Tuhan kami, berikanlah kesabaran kepada kami dan jadikanlah kami bagian dari orang-orang yang sabar. Janganlah Engkau sesatkan kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami. Kuatkanlah iman kami. Kokohkan akidah kami. Teguhkanlah pendiri kami diatas jalan-Mu yang lurus, Ya Allah Ya Arhamar Rahimin

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 11, 2008 in Refleksi Jiwa

 

7 tanda kebahagiaan Dunia

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat
telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah
secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun
Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid.
Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya
Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia.

Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah),
sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah
nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai
bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga
apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan
keputusan Allah.

Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW
yaitu :
“Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari
kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan
memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya
dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel”
dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan
kemudahan yang lebih besar lagi.

Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan
keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai
imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri
dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri
bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk
mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula
seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan
yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya
kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang
memiliki seorang istri yang sholeh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan
seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf
Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu
itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya
mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia
dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya
ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu
sisanya saya selalu menggendongnya” . Lalu anak muda itu bertanya: ”
Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah
berbakti kepada orang tua ?”
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah
ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi
anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”.
Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita
ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua
kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang
soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin
dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.

Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat
iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya.
Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada
disekitarnya.

Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang
yang sholeh.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi
halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.

Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW
pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat
tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang
makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara
haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang
yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah.
Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka
hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan
dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan
teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu
agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk
belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-
Nya.

Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin
ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya
kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya
bagi hatinya.

Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati
yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam
dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat
memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh,
yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang
mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya
akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa
mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power
syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya
menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap
kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila
ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan
orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk
akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia
untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan
bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk
meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan
keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah.
Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka
berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator
kebahagiaan dunia.

Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah
indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk
memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan
se-khusyu’ mungkin membaca doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling
sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa
tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya
Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai makna bahwa
kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan
dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur,
pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau
lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami
ajaran agama, dan umur yang baroqah.

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam
genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja
sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil
aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”),
untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan
akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah.
Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk
surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari
puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk
surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup
kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan
kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan
Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun
juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau
begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali
menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan
Allah semata”.

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya
bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan
rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah,
Amiin).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 11, 2008 in Refleksi Jiwa

 

Ingat lah selalu pada ALLAH SWT

Diriwayatkan dalam sebuah hadits, keledai Nabi Saw. terjatuh, lalu salah seorang sahabat berkata, “Celakalah setan!” Lalu Nabi bersabda, “Janganlah kau katakan, ‘Celakalah setan’. Sebab bila kamu mengatakannya maka setan akan menjadi semakin besar tubuhnya dan mengatakan, ‘Dengan kekuatanku, aku akan mengalahkannya.’ Namun apabila kamu mengatakan bismillah maka dia akan mengecil sehingga menjadi sekecil lalat.” (HR. Ahmad).

Sahabatku, hadits di atas menjadi dalil bahwa hati ini bilamana berdzikir kepada Allah maka setan akan mengecil dan kalah. Namun bila tidak berdzikir, maka setan akan menjadi besar dan menang.

Berdzikir kepada Allah bisa dengan berbagai bentuk dan bisa dilakukan kapan saja. Dalam hal bentuk, misalnya, dengan melakukan shalat, menyebut asma Allah, membaca al-Quran dan ibadah-ibadah lainnya. Karena pada intinya, ibadah adalah dzikir kepada Allah.

Dengan tekunnya kita beribadah, itu sudah menunjukkan kedekatan kita kepada Allah dan kecilnya pengaruh setan pada hati kita. Karena setan tidak mungkin rela jika manusia banyak mengingat-Nya.

Apabila pengaruh Allah kuat pada diri kita, setiap kata dan tindakan kita takkan jauh dari ajaran-ajaran- Nya. Mata kita yang mengingat Allah adalah mata yang senantiasa melihat kebesaran-Nya dan menjauhi segala pemandangan yang diharamkan-Nya. Mulut yang mengingat Allah adalah mulut yang rajin menyebut asma-Nya, membaca ayat-ayat-Nya, dan terjaga dari perkataan yang sia-sia. Begitupun dengan anggota tubuh yang lain, semua tunduk pada aturan Allah.

Jadikan setiap aktivitasmu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ingatlah Allah dikala senang, niscaya Allah akan mengingatmu dikala susah.

Seorang ulama bernama Abu Said al-Kharraz adalah seorang tukang pintal. Setiap kali memintal, dia berdzikir menyebut asma-Nya. Tak ada yang luput dari dzikrullah sekalipun sedang bekerja. Sebelum dan sesudah tidur, ingatlah Allah! Ketika ada waktu luang, ingatlah Allah! Dikala kamu sedang naik kendaraan, ingatlah Allah! Ingatlah Allah di mana kamu berada, baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.

Jika seorang petani berdzikir setiap kali mencangkul dan membajak sawah; jika seorang ilmuwan berdzikir saat melakukan penelitian; jika seorang pelajar berdzikir sebelum dan sesudah belajar, tentu hati ini akan merasakan kedamaian, ketentraman dan kebahagiaan. Allah akan mengarahkan kita pada jalan keselamatan (ihdinash shirothol mustaqim). Allah akan mengingat kita di saat kita banyak mengingat-Nya. Mengapa tidak? Sedangkan Dia Maha Melihat lagi Maha Mendengar.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 11, 2008 in Islam