RSS

Arsip Bulanan: November 2008

Lee Kang Hyun

Belajar Agama Melalui Korespondensi

lee-kang-hyunBeragam alasan mualaf menemukan kebenaran Illahiah melalui Islam. Bagi Lee Kang Hyun, Direktur PT Samsung Elektronic Indonesia, Islam dipilih karena dinilai sebagai agama yang mengajarkan keramahan dan solidaritas kepada sesama. Sekitar 10 tahun pria kelahiran Seoul Korea Selatan ini telah menjadi Muslim. Dan sepanjang waktu itu pula, dia merasa dorongan untuk beramal kian membesar.

Di tengah kesibukan sebagai orang nomor satu di perusahaan elektronik papan atas ini, ia menyempatkan diri untuk mengajarkan Islam pada kedua anaknya. ”Kegiatan itu cukup menyita waktu. Namun dengan demikian, sekaligus akan berarti saya juga terus belajar tentang Islam,” bilang Lee.

Mulai tertarik Islam sejak bersahabat dengan orang Indonesia pada penghujung 1980-an, Lee beruntung memiliki ayah mertua yang cukup banyak mengetahui Islam. Maka korespodensi hingga diskusi soal agama selalu mengisi waktunya bila dia bertemu mertua.

Kesan Islam sebagai agama damai, menurut Lee, dia dapatkan saat mulai lebih banyak belajar tentang Indonesia. Semakin dia ingin mengetahui soal Indonesia, kian terasakan betapa bangsa ini merupakan komunitas yang beragam namun memiliki semangat bersama dan saling berbagi.

Lee menjadi lebih dalam memperhatikan Islam, setelah dia mengenal keluarga Roshim Hamzah, mantan pejabat BNI, yang dilihatnya amat tekun beribadah. Yang dia ingat, bapak angkatnya itu selalu menjalankan shalat tepat waktu, dan membaca Alquran usai shalat. ”Selesai shalat atau membaca Quran, bapak itu rona mukanya terlihat amat segar dan tenang. Sepertinya membaca Alquran itu sebagai obat. Paling tidak obat stress karena pekerjaan,” kenang Lee.

Sejak 1988, Lee memang sering bertandang ke Indonesia. Awalnya kedatangan itu karena korespondensi dengan tamannya yang kebetulan mahasiswa Universitas Indonesia. Dia bahkan sempat tinggal beberapa minggu di rumah karibnya itu, Novianto. Dari persahabatan itu, dan pengalamannya mendatangi sejumlah tempat di Indonesia, keramahan dan keakraban masyarakat Indonesia amat membekas di dalam hatinya.

Situasi ini diakuinya, seperti kondisi Korea Selatan pada era 1970-an, saat ia masih anak-anak. Ketertarikannya kepada kehidupan masyarakat Indonesia yang kemudian semakin membuatnya tertarik ingin lebih tahu agama paling besar di sini, Islam.

Lee tak menyangka jika di kemudian hari, kedekatan batinnya dengan Indonesia mengantarnya untuk menduduki posisinya sekarang. Usai menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Hankuk University Korea Selatan pada 1991, dia kemudian bergabung dengan perusahaan elektronik terbesar di negaranya, Samsung.

Dua tahun menekuni bidang ekspor, diapun mendapat promosi jabatan. Karena dinilai banyak mengetahui Indonesia, maka penugasan berikutnya yang membawanya kembali ke Indonesia pada 1993. ”Saat itu adalah kali kedelapan saya ke Indonesia. Walaupun senang tapi tak terlalu surprise,” ujarnya.

Namun, lanjut pria ini, pada kesempatan ke Indonesia yang kedelapan itu dirinya memiliki beban psikologis lebih tinggi. Kalau sebelumnya, datang ke Indonesia karena berlibur dan belajar banyak hal, pada 1993 dia datang ke Indonesia dengan tanggung jawab lebih besar. Ini karena Lee ditunjuk sebagai Menejer Ekspor-Impor di PT Samsung Electronic Indonesia.

Walaupun berurusan dengan soal ekspor-impor, Lee juga mencoba dekat dengan para karyawannya. Terutama, ia ingin mendorong etos kerja buruh menjadi lebih baik. Ia pun menjadi ‘pengamat’. Dilihatnya, terdapat korelasi signifikan antara agama dengan prestasi kerja. ”Mereka yang tekun dan disiplin shalat ternyata adalah karyawan yang bisa berprestasi,” ujarnya.

Maka rasa ketertarikan kepada Islam pun kian menari dalam sanubarinya. Diakuinya pula, keinginan memeluk Agama Illahi yang paling sempurna itu juga karena keinginan lebih dekat dengan lebih 2.000 karyawan di pabrik Samsung di Cikarang Jawa Barat. ”Bukan karena unsur lain. Tapi memang kalau saja saya Islam, maka bila harus menyatukan diri dengan para karyawan, saya bakal lebih diterima. Namun intinya bukan karena mayoritas Islam terus saya jadi Islam. Bukan karena itu,” tegasnya.

Pria kelahiran 16 Juli 1966 ini mengaku sempat gamang dalam perjalanan menemukan kebenaran Islam. Perasaan itu justru kian menjadi setelah keinginannya memeluk Islam kian besar.

Beruntung, ia mendapat teman diskusi yang mumpuni, salah satunya Roshim Hamzah, mantan pejabat BNI yang berdarah Aceh. ”Pak Roshim tak pernah memaksakan kehendak. Dia malah lebih banyak hanya memberi contoh bagaimana bisa taat beragama dengan tetap bisa berkarya secara profesional,” kenang Lee. Maka belum setahun berkarya di Indonesia keputusan berislam pun diputuskan. Pada tahun 1994, Lee Kang Hyun resmi memeluk Islam setelah bersyahadat di Masjid Sunda Kelapa Jakarta.

Sebagai Muslim, ia mengaku masih banyak ‘bolong’-nya. Diakuinya, belum semua ketentuan waktu shalat diikutinya. ”Tapi setiap hari saya pasti shalat, walaupun memang belum lima waktu.” Shubuh adalah waktu shalat yang paling sering terlewatkan. Soalnya kebiasan tidur menjelang fajar menjadikan sulitnya dia terbangun di pagi hari.

Soal larangan mengonsumsi daging babi, menurut Lee, amat mudah dia tinggalkan selekas masuk Islam. Namun soal minuman beralkohol, belum sepenuhnya ditinggalkan, terutama saat ‘puulang kampung’ ke Korea. ”Minum Soju itu identik dengan budaya Korea dan rasa penghormatan terhadap semasa manusia. Maka jujur saja, saya belum bisa mencari jalan keluar untuk meninggalkan budaya itu. Tapi suatu sat saya yakin bisa,” ujarnya. Asal tahu saja, di Korea, Islam masih dianggap sebagai sekte aneh’.

Dua tahun ber-Islam, Lee mengaku mendapat berkah paling besar dengan menemukan jodohnya, wanita asal Sumedang, Jawa Barat. Mereka dikaruniai dua anak laki-laki, Bonny Lee (7) dan Boran Lee (2). Seiring pertumbuhan buah hatinya, ia makin terketuk untuk makin mendalami Islam. ”Soalnya bagaimana saya bisa mendidik anak dalam soal agama dengan baik, kalau saya sendiri pengetahuan Islamnya masih perlu diperdalam,” katanya.

Maka Allah pun memberi jalan mudah. Sang ayah mertua merelakan waktunya untuk berbagi pengetahuan Islam kepada menantunya yang masih berbangsa Korea ini. Sekarang, setiap Sabtu, dia selalu menerima surat dari ayah mertuanya yang berisikan topik bahasan Islam. ”Selain surat, ayah sering mengirimkan pula data-data dan dokumen lain soal Islam. Lalu saya selalu meluangkan waktu untuk mendiskusikannya dengan Bonny, yang sekarang mulai besar,” ceritanya.

Seiring dengan perjalanan karier Lee yang terus menanjak, hingga sekarang dipercaya menempati posisi Direktur PT Samsung Eelectronic Indonesia, kebiasaan ‘menyebar’ uang dan berbagi rezeki kepada kaum dhuafa terus menjadi kesehariannya. Namun ia menolak membicarakan hal itu. ”Saya hanya ingin berbagi dan mendidik anak-anak supaya tahu kewajiban saling membantu sesama,” tukasnya.

Satu lagi yang masih menjadi cita-citanya, pergi ke Tanah Suci untuk berhaji. ”Saya ingin ke Mekkah untuk berhaji. Tapi sampai sekarang belum mendapat izin cuti lebih sebulan,” tuturnya.


Nama: Lee Kang Hyun
Tempat tanggal lahir: Seoul, 16 Juli 1966
Status pernikahan : Menikah dengan dua anak

Pendidikan :
1991: Sarjana Manajemen Ekonomi Hankuk University (Korea), * 2000: Mendalami E-commerce di Carnegie Mellon University, Pittsburgh – USA

Pengalaman kerja:
* 1986 – 1988 : Military training requirement
* 1991: Samsung Electronics, Ltd (Export Team Audio-Video)
* 1993 : manajer ekspor-impor Samsung Electronics Indonesia
* 1998 – 2002 : Export-Import, Project General Manager
* 1999 – 2002 : General manager marketing Samsung Electronics Indonesia
* 2003 – sekarang : Direktur Samsung Electronics Indonesia

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada November 21, 2008 in Seputar Mualaf

 

Cat Stevens (Yusuf Islam)

42-17670417“Aku terlahir dari sebuah rumah tangga Nasrani yang berpandangan materialis. Aku tumbuh besar seperti mereka. Setelah dewasa, muncul kekagumanku melihat para artis yang aku saksikan lewat berbagai media massa sampai aku mengganggap mereka sebagai dewa tertinggi. Lantas akupun bertekad mengikuti pengalaman mereka. Dan benar, ternyata aku menjadi salah seorang bintang pop terkenal yang terpampang di berbagai media massa. Pada saat itu aku merasa bahwa diriku lebih besar dari alam ini dan seolah-olah usiaku lebih panjang daripada kehidupan dunia dan seolah-olah akulah orang pertama yang dapat merasakan kehidupan seperti itu.

Namun pada suatu hari aku jatuh sakit dan terpaksa di opname di rumah sakit. Pada saat itulah aku mempunyai kesempatan untuk merenung hingga aku temui bahwa diriku hanya sepotong jasad dan apa yang selama ini aku lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasad. Aku menilai bahwa sakit yang aku derita merupakan cobaan ilahi dan kesempatan untuk membuka mataku. Mengapa aku berada disini? Apa yang aku lakukan dalam kehidupan ini?

yusuf-islam1Setelah sembuh, aku mulai banyak memperhatikan dan membaca seputar permasalahan ini, lantas aku membuat beberapa kesimpulan yang intinya bahwa manusia terdiri dari ruh dan jasad. Alam ini pasti mempunyai Ilah. Selanjutnya aku kembali ke gelanggang musik namun dengan gaya musik yang berbeda. Aku menciptakan lagu-lagu yang berisikan cara mengenal Allah. Ide ini malah membuat diriku semakin terkenal dan keuntungan pun semakin banyak dapat aku raih. Aku terus mencari kebenaran dengan ikhlas dan tetap berada di dalam lingkungan para artis. Pada suatu hari temanku yang beragama Nasrani pergi melawat ke masjidil Aqsha.

Ketika kembali, ia menceritakan kepadaku ada suatu keanehan yang ia rasakan di saat melawat masjid tersebut. Ia dapat merasakan adanya kehidupan ruhani dan ketenangan jiwa di dalamnya.

Hal ini berbeda dengan gereja, walau dipadati orang banyak namun ia merasakan kehampaan di dalamnya. Ini semua mendorongnya untuk membeli al-Qur’an terjemahan dan ingin mengetahui bagaimana tanggapanku terhadap al-Qur’an. Ketika aku membaca al-Qur’an aku dapati bahwa al-Qur’an mengandung jawaban atas semua persoalanku, yaitu siapa aku ini? Dari mana aku datang? Apa tujuan dari sebuah kehidupan? Aku baca al-Qur’an berulang-ulang dan aku merasa sangat kagum terhadap tujuan dakwah agama ini yang mengajak untuk menggunakan akal sehat, dorongan untuk berakhlak mulia dan akupun mulai merasakan keagungan Sang Pencipta.

Semakin kuat perasaan ini muncul dari jiwaku, membuat perasaan bangga terhadap diriku sendiri semakin kecil dan rasa butuh terhadap Ilah Yang Maha Berkuasa atas segalanya semakin besar di dalam relung jiwaku yang terdalam.

yusuf-islam2Pada hari Jum’at, aku bertekad untuk menyatukan akal dan pikiranku yang baru tersebut dengan segala perbuatanku. Aku harus menentukan tujuan hidup. Lantas aku melangkah menuju masjid dan mengumumkan keislamanku.

Aku mencapai puncak ketenangan di saat aku mengetahui bahwa aku dapat bermunajat langsung dengan Rabbku melalui ibadah shalat. Berbeda dengan agama-agama lain yang harus melalui perantara.”

Demikianlah kisah Cat Stevens yang lagu “Morning Has Broken” sempat menduduki anak tangga Top 10 tingkat internasional dimasa kejayaannya. Sejak masuk Islam kemudian berganti nama menjadi Yusuf Islam, dan kini waktunya ia habiskan untuk melakukan aktifitas dakwah dan perjuangan untuk kemaslahatan agama ini. Ia ikut andil di dalam berbagai lembaga dan yayasan Islam yang bergerak di bidang dakwah dan sosial. Semoga Allah memberinya ganjaran yang baik atas sumbangsih yang telah ia berikan kepada kita, agama Islam dan kaum muslimin.

mau tau banyak tentang Yusuf Islam, Silahkan klik disini

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 21, 2008 in Uncategorized

 

H. AbdulKarim Oei (Oei Tjen Hien)

tokoh Muhammadiyah, pendiri Persatuan Tionghoa Indonesia

Melongok Masjid Lautze Pasar Baru, Masjidnya Warga Tionghoa
imageIa dikenal dengan nama Haji Abdurkarim, seorang tokoh Muhammadiyah mantan anggota Parlemen RI dan mendirikan organisasi etnis Tionghoa Islam dengan nama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia/PITI. Pada tahun 1967-1974 ia menjadi anggota Pimpinan Harian Masjid Istiqlal Jakarta yang diangkat oleh Presiden RI, menjadi anggota Dewan Panyantun BAKOM PKAB, dan anggota Pengurus Majelis Ulama Indonesia Pusat.

Ia lahir tahun 1905 di Padang Panjang dengan nama Oei Tjen Hien. Setelah lulus sekolah dasar kemudian mengikuti berbagai kursus, lalu bekerja sebagai pedagang hasil bumi. Disamping itu ia juga sebagai pandai emas, lalu ia pindah ke Bengkulu. Mula-mula ia mempelajari berbagai agama melalui bacaan buku, majalah dan suka bergaul dengan para pemeluk agama. Setelah mendapatkan pengetahuan dan keyakinan yang mantap, akhirnya dia yakin benar dan penuh kesadaran pada umur 20 tahun lalu masuk Islam.

Ia aktif di Muhammadiyah sampai tahun 1932 dan dalam kegiatan ini lalu kenal dengan Prof. Dr. HAMKA. Pergaulannya semakin luas dan pengalamannyapun semakin tambah lalu pada tahun 1961 beliau membentuk organisasi Islam bernama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia/PITI. Organisasi ini sebenarnya merupakan gabungan dari dua organisasi yang sejenis sebelumnya yakni Persatuan Islam Tionghoa dan Persatuan Tionghoa Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, maka organisasi PITI ini berubah menjadi Pembina Iman Tauhid Islam.

Dalam dunia bisnis, dia dikenal sebagai seorang etnis yang ulet dan memegang berbagai jabatan penting antara lain; Komisaris Utama BCA, Direktur Utama Asuransi Central Asia, Direktur PT Mega, Direktur Utama Pabrik Kaos Aseli 777, dan Direktur Utama Sumber Bengawan Mas. Sebagai seorang muslim yang taat dia selalu menghitung dengan teliti jumlah kekayaannya untuk dikeluarkan zakatnya. Pak Oei dikenal pula dengan si Baba (atau Babadek menurut orang Bengkulu) juga akrab dengan Bung Karno (Presiden I RI). Suatu ketika di Bengkulu, Pak Oei akan melakukan kunjungan ke cabang-cabang Muhammadiyah dengan mobil yang dikemudikan oleh seorang sopir. Mobil itu berjalan pelan-pelan karena di belakang ada Bung Karno yang sedang bersepeda sambil berbincang-bincang dengan Pak Oei. Sesampai di atas kota kedua sahabat karib itu berpisah, dan Bung Karno bersepeda kembali ke kota dan Pak Oei melanjutkan perjalanan ke daerah-daerah.

Haji Abdulkarim Oei sebagai salah seorang pionir keturunan Tionghoa yang aktif dalam upaya pembauran. Hal ini dia buktikan dengan kesadarannya menjadi warganegara Indonesia yang otomatis harus keluar dari hidup menyendiri di lingkungan etniknya. Ke Islamannya membawa Oei otomatius ke pola hidup baru ini. Dan keakrabannya dengan sejumlah tokoh seperti Buya Hamka akan lebih memotivasi Pak Oei dalam menggerakkan Muhammadiyah dan memperkuat upaya pembauran. Buya Hamka sendiri pernah menyatakan tentang diri Pak Oei ini dalam brosur “Dakwah dan Asimilasi” tahun 1979 “Dalam tahun 1929 mulailah saya berkenalan dekat dengan seorang muslim yang membaurkan dirinya ke dalam gerakan Muhammadiyah dan langsung diangkat oleh masyarakat Muhammadiyah di tempat tinggalnya, yaitu Bengkulu.

Ia menjadi Konsul Muhammadiyah Daerah tersebut sekarang namanya lebih terkenal dengan sebutan Bapak Haji Abdulkarim Oei. Telah 50 tahun kami berkenalan, sama faham, sama pendirian dan sama-sama bersahabat karib dengan Bung Karno. Persahabatan Saudara H. Abdulkarim dengan Bung Karno itu sangatlah menguntungkan bagi jiwa H. Abdulkarim sendiri”. Di samping dia menjadi seorang muslim yang taat, diapun dipupuk, diasuh dan akhirnya menjadi Nasionalis Indonesia sejati. Semasa pendudukan Jepang H. Abdulkarim diangkat sebagai Dewan Penasehat Jepang (Chuo Sangi Kai). Pada masa kemerdekaan ia diangkat sebagai KNI Bengkulu dan sebagai anggota DPR mewakili golongan minoritas. Dalam kepartaian dia memilih Partai Muslimin Indonesia/PARMUS sebagai wadah perjuangannya.

Pada tahun 1982 riwayat hidupnya yang berjudul “Mengabdi Agama, Nusa dan Bangsa” terbitan PT Gunung Agung Jakarta itu ditarik dari peredaran karena dinilai merugikan pihak-pihak tertentu. Bersama dengan Yunus Yahya, Oei melakukan pembinaan agama Islam kepada warga keturunan. Yunus Yahya nama aslinya adalah Lauw Chuan Tho termasuk tokoh pembaruan dari kalangan Cina Muslim di Indonesia dan pernah sekolah di Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam Belanda. Ia masuk Islam tahun 1979 dan diangkat sebagai Pengurus Majelis Ulama Indonesia tingkat nasional sejak 1980-1985.

Haji Abdulkarim Oei Tjen Hien meninggal dunia pada hari Jum`at dini hari tanggal 14 Oktober 1988 dalam usia 83 tahun karena sakit tua dengan beberapa komplikasi. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta dekat makam isterinya Maimunah Mukhtar yang meninggal tahun 1984 dengan meninggalkan 5(lima) putra-putri dan beberapa cucu

Masjid Lautze, Masjidnya Warga Tionghoa

imageMasjid Lautze didirikan oleh Yayasan Abdul Karim Oei dan diresmikan pada tahun 1994. Dalam waktu dekat fisik bangunan Masjid Lautze akan dipugar, namun masalah biaya menjadi ganjalan.

Liputan6.com, Jakarta: Masjid Lautze yang berlokasi di daerah Pecinan, Pasar Baru, Jakarta Pusat adalah sebuah masjid yang didirikan komunitas Tionghoa muslim di ibu kota. Dengan segala keterbatasan, masjid yang didirikan Yayasan Abdul Karim Oei dan diresmikan 1994 ini terus menjalankan fungsinya sebagai tempat syiar Islam.

Sepintas memang tak ada yang unik dari masjid yang berbentuk rumah toko layaknya ruko-ruko lain yang ada di sekitarnya. Bentuk bangunan Masjid Lautze pun bisa dibilang sangat sederhana. Namun kesan pertama yang tertangkap segera sirna bila Anda memasuki ruang masjid seperti yang dialami SCTV, baru-baru ini.

Ciri-ciri sebuah masjid begitu terasa di ruang dalam gedung berlantai empat itu. Lantai pertama dan kedua biasa digunakan untuk salat berjemaah. Sedangkan lantai tiga dan empat berfungsi sebagai kantor sekretariat Yayasan Abdul Karim Oei.

Warna merah yang disapukan pada beberapa bagian dinding bangunan menjadi satu-satunya sentuhan Tionghoa di Masjid Lautze. Selain itu tak terlihat lagi ornamen tradisional Cina lainnya. Namun di dalam ruang masjid tergantung pula beberapa foto Abdul Karim Oei.

Muhammad Ali Karim Oei, anak almarhum Abdul Karim Oei mengatakan, dalam waktu dekat fisik bangunan Masjid Lautze akan dipugar. Dia mengaku sudah memiliki gambaran masjid setelah dipugar nanti. Namun masalah biaya masih menjadi ganjalan.(ICH/Ariyo Ardi dan Budi Sukma)

Melongok Masjid Lautze di Yayasan Haji Karim Oei, Pasar Baru

Masjid ngontrak, pernahkah anda dengar? Mungkin Masjid Lautze masjid pertama di Indonesia yang pernah terpaksa mengontrak gedung demi tegaknya syi’ar agama Islam di kalangan etnis Cina. Karena sebagian besar jama’ah masjid adalah mu’alaf (orang yang baru masuk Islam), di saat bulan ramadhan pengajian mingguan banyak dilakukan di rumah-rumah pejabat. Apa sih uniknya mereka?

Berdiri di tengah-tengah daerah perdagangan, gedung berlantai empat di jalan Lautze No 87-89, Pasar Baru, Jakarta ini seperti layaknya ruko (rumah toko). Papan nama berwarna merah. Pintu-pintunya pun berwarna merah. Warna khas etnis Cina. Namun ada nuansa lain dalam bentuk bingkai pintunya yang melengkung.

Lengkungan itu seperti gaya bangunan seni Islam. Gambarannya pun serupa masjid. Ternyata, lantai bawah bangunan yang bertuliskan nama Yayasan Haji Karim Oei (baca: Karim Ui) memang berfungsi sebagai masjid, yaitu Masjid Lautze.

Yayasan Haji Karim Oei didirikan 9 April 1991. Nama Karim Oei diambil dari nama seorang tokoh Islam keturunan Tionghoa yang akrab dengan Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh-tokoh nasional lain saat itu. Nama yang terdengar bernuansa Cina ini dipilih untuk menyesuaikan diri dengan misi yayasan yang berupaya menyebarkan Islam di kalangan etnis Tionghoa.

Selain dikenal sebagai konsul Muhammadiyah karena ketaatannya menjalankan syari’at Islam dengan baik, H Karim Oei juga seorang bisnismen yang sukses. Ia merupakan salah satu pendiri Bank Central Asia (BCA), Preskom BCA dan pemilik berbagai perusahaan yang sukses, khususnya di bidang industri. “Karena itu, setelah bapak meninggal, Pak Yunus Yahya (tokoh pembauran) dan kawan-kawan mendirikan yayasan ini untuk mengenang almarhum. Tujuannya, agar lahir Karim Oei-Karim Oei baru yang Islamnya kuat, nasionalis tulen dan bisnismen sukses,” tutur H Ali Karim, SH, salah satu anak H Karim Oei dan menjadi Wakil Ketua Umum Yayasan Haji Karim Oei.

Lokasi gedung memang terletak di area Pecinan (China town). Sehingga, memudahkan warga keturunan memperoleh informasi tentang Islam. “Mungkin sebenarnya banyak orang Tionghoa ingin tahu tentang Islam.

Tetapi kebanyak mereka takut atau ragu untuk masuk masjid. Dengan melihat papan nama yang mencantumkan jelas nama Haji Karim Oei, tentu orang sudah tahu bahwa ini yayasan Islam yang ada hubungannya dengan etnis Cina. Sehingga, kalau ada orang Tionghoa lewat sini dan ingin masuk Islam, tidak akan sungkan lagi,” papar Ali.

Meski sarat nuansa Cina, Ali menegaskan, keberadaan yayasan terbuka untuk setiap orang. ”Salah, kalau ada yang mengatakan yayasan ini adalah perkumpulan cina muslim. Misinya memang untuk orang Cina, tapi kegiatannya siapa saja boleh ikut. Bahkan, kita pun tidak menutup kemungkinan bagi non muslim untuk berpartisipasi membantu yayasan atau mengikuti berbagai forum kegiatan di sini.”

Cina kaya

Stereotipe orang Cina pasti kaya, juga dialami oleh yayasan. Itu terlihat dari banyaknya permohonan bantuan pada yayasan. Padahal, pada awal berdirinya, untuk menebus akte pendirian sebesar Rp 100.000 saja pihak yayasan tidak mampu. Beruntung, yayasan mendapat tugas mengurus jama’ah haji dengan ONH Plus. Uang komisi dari tugas itulah yang digunakan untuk membayar akte.

Setelah yayasan berdiri, kendala lain muncul. Yayasan belum mempunyai tempat. Maka, mau tak mau harus mengontrak gedung di lantai bawah di jalan Lautze untuk kantor. Ide lain kemudian muncul dari ketua umum Yayasan yaitu Drs H Junus Jahja untuk membangun masjid. “Tidak ada jalan lain, kita hanya punya satu lantai digunakan untuk masjid. Sedang kantor kita pakai ruangan pak Yunus yang berada di lantai dua,” ungkap Ali seraya menambahkan, “jadilah masjid ini masjid pertama di Indonesia yang ngontrak.

Masjid Lautze baru dinyatakan milik yayasan, setelah Prof DR Ing Habibie melalui ketua ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) saat itu yaitu H Ahmad Tirtosudiro (sekarang ketua DPA), membayar harga gedung berlantai empat secara keseluruhan. Yaitu, sekitar 1998 yayasan telah memiliki gedung sendiri dan digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan umat Islam.

Dakwah Ramadhan melalui Media Elektronik

Ramadhanan ala Masjid Lautze tak ubahnya pengajian keliling yang digelar dari rumah ke rumah. Tak kalah menariknya, rumah yang dikunjungi adalah rumah para pejabat. Mereka tidak perlu menunggu undangan, justru para pejabat itulah yang banyak mengundang.

Jama’ah Masjid Lautze ini memang tergolong unik. Mengapa? Karena sebagian besar di antara mereka adalah mu’allaf yang pastinya telah mendapat hidayah dari Allah untuk memeluk agama Islam, meski melalui proses pengislaman berbeda. Misalnya, karena pergaulan atau menjelang menikah.

Menurut HM Syarif Tanudjaya, bendahara umum yang juga salah seorang pengurus harian yayasan, sebelum terjadi krisis, hampir setiap hari ada orang Tionghoa yang ingin masuk Islam. Mereka kemudian dikumpulkan untuk diyakinkan terlebih dahulu kesungguhannya pindah agama. Namun setelah krisis, kira-kira tiga hari sekali ada yang masuk Islam. Jumlahnya tiap tahun ada 100 sampai 120 orang yang baru masuk Islam.

Upaya menegakkan syi’ar Islam di lingkungan etnis Cina ini, diakui H Ali Karim, SH, Wakil Ketua Umum Yayasan Haji Karim Oei, tidak mudah. Oleh karena itu, kegiatan pengajian dilaksanakan setiap minggu pukul 11.00 WIB, hingga dilanjutkan setelah dzuhur dengan memanfaatkan beragam kegiatan. Seperti, diskusi, les bahasa Inggris, bahasa Cina, musik dan lainnya

Mengapa dipilih hari Minggu? “Karena keturunan Cina banyak pedagang, hari Minggu mereka tidak kerja.

Terutama, jama’ah di sini banyak pula yang datang dari tempat jauh, seperti Bogor, Tangerang, Cirebon dan lain-lain. Tapi, hari Senin sampai Jum’at pun mereka bisa datang. Bagi warga sekitar sini yang mau belajar ngaji atau tanya-tanya persoalan agama ada ustdz-ustdzah yang siap membantu,” ungkap Ali.

Pengajian keliling

imageKhusus di bulan Ramadhan, biasanya dilakukan pengajian keliling dari rumah ke rumah tiap minggu. Uniknya, rumah yang dikunjungi adalah rumah salah seorang pejabat atas undangannya. Sebelum reformasi, beberapa nama seperti Mar’ie Muhammad, BJ Habibie, Amin Rais, R Hartono, pernah mengundang jama’ah masjid untuk berbuka puasa, tarawih dan mendengar ceramah.

Selain itu, Yayasan Haji Karim Oei juga selalu berupaya untuk mensyi’arkan dakwah bulan Ramadhan melalui media elektronik. Contohnya, pada bulan Ramadhan tahun lalu mengadakan kerja sama dengan (almarhum) Anton Indracaya tentang masalah haji. “Niat untuk membuat acara seperti itu lagi tetap ada. Tetapi, untuk membuat pesantren kilat di bulan Ramadhan belum terpikir. Dulu, pernah kita programkan tapi terbentur pada
pemilahan kelas. Jama’ahnya kan ada yang hanya tamat SMP, SMA, kuliah, sehingga cara berpikirnya beda. Mau bikin kelas awalnya dari mana, bingung,” tukasnya.

English Club

Jama’ah remaja Masjid Lautze pun terbilang cukup aktif. Meski sebagian besar di antara mereka adalah mua’alaf awal (baru masuk Islam), mereka mampu menerapkan ajaran Islam dalam seluruh sendi-sendi kehidupannya. Hal ini terlihat dari kegiatan mereka yang tergabung dalam English Club Remaja Masjid Lautze. Pada Ramadhan ini, mereka menggelar Learning English Fast with games. Adanya games ini, ungkap Endang, salah seorang anggota English Club, tujuannya untuk memancing kreatifitas peserta kursus agar tidak cepat bosan. “Ini berlaku untuk umum, non muslim juga boleh,” ujar mua’alaf yang pada usia lima tahun ingin belajar mengaji, namun mulai terketuk masuk Islam sejak SMA.

Bentuk kegiatan ini pun, menurut Wina, cucu almarhum Karim Oei, tidak seperti les. “Kalau materinya terlalu banyak, bisa jadi beban mental. Kita mulai dari yang disukai. Tidak seluruhnya bicara tentang Islam, tetapi pada akhirnya basic to Al- Qur’an,” ucapnya penuh antusias.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 21, 2008 in Uncategorized

 

Kwee Se Kay (Budi Mulia Sugiharto)

Mulai Percaya dari Surat Al-Fatihah

imageSelama ini aku sudah bisa mengislamkan 60 orang non-Muslim, termasuk orang Amerika, tapi istriku sendiri belum masuk Islam. Aku anggap ini suatu ujian yang diberikan Allah kepadaku.

AKU bernama Kwee Se Kay, dilahirkan di Purwakarta tanggal 24 April 1952. Aku dilahirkan dari buah perkawinan dari ayahku yang bernama Kwee Cang Lang dan ibuku Sow Fe Ing. Orangtuaku bekerja sebagai wira usaha, dari situlah aku mulai belajar mencari uang, sampai sekarang usaha foto copy dan alat-alat tulis tersebut aku lanjutkan, usaha tersebut sudah cukup untuk membiayai keluarga.

Kalau orangtua saat itu masih memeluk agama Kong Hu Chu, aku juga masih memeluk agama orangtuaku, dan aku juga pernah masuk agama kristen namun hanya sebentar. Dari 13 bersaudara aku adalah anak yang ke-9, dan hanya aku saja yang masuk Islam.

Walaupun kedua orangtuaku tidak menyetujui dan tidak memberikan respon, berkat keyakinanku akhirnya aku mengikrarkan diri mengucapkan dua kalimah syahadat, aku resmi memeluk agama Islam pada tahun 1985 di al-Hidayah Purwakarta di bawah bimbingan Bapak Maksum Effendi BA, Bapak Komar Nuryaman, dan Bapak Mukhtar. Beliau-beliau ini juga yang merupakan pembimbingku dalam menekuni ajaran Islam. Kini aku telah berganti nama menjadi Budi Mulia Sugiarto.

Sebenarnya, aku mulai tertarik terhadap agama Islam, pada waktu aku di hadapkan pada suatu permasalahan besar yaitu aku harus berhadapan dengan seseorang yang aku anggap masalah ini akan mengorbankan perasaan dan keberanianku, di sini aku mencoba memecahkan masalah dengan membaca surah al-Fatihah sebelum aku melangkah dari rumah, dan alhamdulillah masalah ini dapat diselesaikan dengan baik, aku tidak menyangka bahwa dengan membacakan surat al-Fatihah saja orang yang aku hadapi akan berbalik takut padaku. Dari sini aku mulai berpikir, dengan membacakan surat al-Fatihah saja masalahku ini dapat terselesaikan dengan baik, sedangkan saat itu aku belum menjadi seorang muslim, begitu manjur, apalagi kalau aku sudah menjadi seorang muslim mungkin akan lebih manjur lagi. Kejadian ini berkisar sekitar tahun 1981.

Misi terhadap Keluarga

Misiku terhadap keluarga adalah untuk dapat mengislamkan keluarga, kebetulan pada saat ini, istriku belum menjadi seorang Muslim. Tapi alhamdulillah berkat hidayah dari Allah, ketika aku berdo’a di Multajam Mekkah di situ ada kejadian aneh yaitu waktu aku meminta kepada Allah ada yang mengucapkan qobul-qobul sampai tiga kali dan setelah aku lihat kesekelilingku orang yang mengucapkan qobul tadi tidak ada, aku berharap yang menyebutkan qobul tadi adalah malikat. Dan mudah-mudahan dengan do’a tadi istriku bisa masuk Islam, setelah aku pulang ke Indonesia istriku ingin masuk Islam, insya Allah tahun depan kami akan bersama-sama berangkat ke Makkah dan aku minta doa dari pembaca sekalian mudah-mudahan kami bisa berangkat ke tanah suci sekaligus mengislamkan istriku.

Aku menganggap hal ini merupakan cobaan dari Allah, karena dengan hal ini merasa tersendat. Aku teringat dalam surat al-Ankabut ayat 2: “Apakah manusia cukup (begitu saja) mengatakan, kami telah beriman, sedangkan mereka tidak di uji”. Maksudku di sini, selama ini aku sudah bisa mengislamkan nonmuslim sebanyak 60 orang termasuk orang Amerika yang bekerja di Indosap yang bernama Job Martin salah satunya, tapi istriku sendiri belum menjadi seorang muslim. Aku anggap ini suatu ujian yang diberikan Allah kepadaku.

Pernah terjadi dialog ketika aku mengadakan pengajian ibu-ibu, ada seorang ibu bertanya kepadaku, “Saya akui, dakwah yang bapak uraikan sudah mantap, tapi kenapa istri bapak sendiri belum masuk Islam?” Aku menjawab, Allah berfirman dalam surat al-Qosas ayat 56 yang berbunyi, “Sesungguhnya engkau Muhammad, tidak akan memberikan petunjuk pada orang-orang yang engkau cintai, kecuali aku (Allah) yang bisa memberikan petunjuk kepada orang yang aku kehendaki”. Karena taufik dan hidayah itu datang dari Allah. Jadi dalam hal ini bukannya aku tidak bisa mengislamkan istriku, mungkin taufik dan hidayah belum turun dari Allah, jangan kita mahkluk Allah yang biasa, Nabi Muhammad pun tidak bisa mengislamkan pamannya sendiri. Jadi, di sini jelas sekali bahwa manusia tidak berbuat apa-apa kecuali ada taufik dan hidayah dari Allah.

Kalau dalam keluarga alhamdulillah sudah dikaruniai dua orang anak dan kedua-duanya juga sudah masuk Islam. Yang satu sudah masuk sekolah di SMPN I Purwakarta bernama William Permana, dan yang satu lagi bernama Lena Karela sekolah di SD Yosudarso Purwakarta, dan nama istriku Leni Herawati.

Konsep Hidup

Konsep hidup dalam keluargaku adalah harus hidup bagaikan lebah yang dapat memberikan sari pati madu yang manis kepada setiap orang, dan dapat memberikan contoh yang baik. Sehingga orang bisa mencontoh kelakuan baik kita. Dan sekarang aku sangat bersyukur sekali kepada Allah bahwasanya sampai saat ini aku dapat memberikan suri tauladan yang baik kepada masyarakat. Sehingga orang yang non muslim pun ada yang mengikuti konsep hidupku termasuk orang Amerika yang sudah aku sebutkan di atas. Karena Allah berfirman dalam surah An-Nashr yang berbunyi, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji tuhanmu dan mohon ampun kepadanya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat”. Maka disinilah kita perlu ketahui bahwa Islam itu sesunguhnya adalah demi kepentingan seluruh umat dan memberikan kehidupan yang lebih baik dan hal ini juga sudah dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad Saw, yaitu memberikan suri teladan yang baik, aku sebagai Muslim harus mempunyai pandangan ke sana.

Setelah aku masuk Islam, tiga tahun kemudian aku disuruh menjadi imam dan khotib shalat Jumat dan Idul Fitri, sampai sekarang pun insya Allah aku masih melakukan dakwah. Juga yang sangat aku syukuri aku bisa membina umat karena seperti dikatakan Nabi kita, “Sampaikanlah kepadaku walaupun satu ayat”. Dan Allah mengatakan bahwa jihad fisabilillah itu harus dibarengi dengan harta, ini juga sudah aku lakukan walaupun sedikit dakwah yang dilakukan hanya di Purwakarta saja, di kota lain pun aku pernah seperti di Brebes, Bandung, dan kota lainnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 21, 2008 in Uncategorized

 

Mohammad Asad (Leopold Weiss)

Seorang Negarawan Yahudi, Wartawan dan Pengarang

imageDua buku Mohammad Asad yang penting ialah ” Islam in the Cross Roads (Islaim di Persimpangan Jalan) ” dan ” Road to Mecca (Jalan ke Mekah) “. Beliau juga menerbitkan majalah bulanan “Arafat”, dan sekarang sedang menyelesaikan terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Inggris. Buku “Road to Mecca” telah diterjemahkan oleh Fuad Hasyem dan diterbitkan oleh P.T. Al Ma’arif, Bandung.

Mohammad Asad Leopold Weiss dilahirkan di Livow, Austria pada tahun 1900. Pada umur 22 tahun, beliau mengunjungi Timur Tengah dan selanjutnya menjadi wartawan luar negeri dari harian “Frankfurter Zeitung” Setelah masuk Islam, beliau pergi dan bekerja di seluruh dunia Islam, dari mulai Afrika Utara sampai Afganistan di bagian Timur, dan setelah beberapa tahun mempelajari Islam, beliau telah menjadi seorang Muslim terpelajar yang terkemuka di abad kita sekarang. Dan setelah berdirinya negara Pakistan, beliau ditunjuk menjadi Director of the Department of Islamic Reconstruction di Punjab Barat, kemudian diangkat sebagai wakil Pakistan di PBB.

image

Pada tahun 1922 saya rneninggalkan tanah air saya Austria untuk melakukan perjalanan ke Afrika dan Asia, sebagai wartawan khusus untuk beberapa harian yang besar di Eropa. Sejak itu, hampir seluruh waktu saya habiskan di negeri-negeri Timur-Islam.

Perhatian saya terhadap bangsa-bangsa yang saya kunjungi itu mula-mula adalah sebagai orang luar saja. Saya melihat susunan masyarakat dan pandangan hidup yang pada dasarnya berbeda dengan susunan masyarakat dan pandangan hidup orang-orang Eropa, dan sejak pandangan pertama, dalam hati saya telah tumbuh rasa simpati terhadap pandangan hidup yang tenang, yang boleh saya katakan lebih bersifat kemanusiaan jika dibanding dengan cara hidup Eropa yang serba terburu-buru dan mekanistik. Rasa simpati ini secara perlahan-lahan telah menyebabkan timbulnya keinginan saya untuk menyelidiki sebab adanya perbedaan itu, dan saya menjadi tertarik dengan ajaran-ajaran keagamaan orang Islam. Dengan persoalan ini, saya belum merasa tertarik cukup kuat untuk memeluk agama Islam, akan tetapi telah cukup membuka mata saya terhadap suatu pemandangan baru mengenai masyarakat kemanusiaan yang progresif dan teratur, dengan mengandung hanya sedikit pertentangan, tapi dengan rasa persaudaraan yang sangat besar dan sunguh-sungguh, walaupun kenyataan hidup orang-orang Islam sekarang masih jauh berbeda dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat diberikan oleh ajaran-ajaran Islam.

imageApa saja yang dalam ajaran Islam merupakan gerak dan maju, di kalangan orang Islam telah berubah menjadi kemalasan dan kemandegan. Apa saja yang dalam ajaran Islam merupakan kemurahan hati dan kesiapan berkorban, di kalangan muslimin sekarang telah berubah menjadi kesempitan berpikir dan senang kepada kehidupan yang mudah, sehingga saya benar-benar bingung memikirkannya, keadaan yang sangat bertentangan antara kaum muslimin dahulu dan kaum muslimin yang sekarang.

Hal inilah yang telah mendorong saya untuk lebih mencurahkan perhatian terhadap persoalan yang rumit ini. Lalu saya mencoba menggambarkan seolah-olah saya sungguh-sungguh merupakan salah seorang anggota masyarakat Islam. Hal itu merupakan percobaan ilmiah murni yang telah memberikan kepada saya dalam waktu yang singkat tentang pemecahannya yang tepat.

Saya telah dapat membuktikan bahwa satu-satunya sebab kemunduran sosial dan budaya kaum Muslimin sekarang ialah karena mereka secara berangsur-angsur telah meninggalkan semangat ajaran Islam. Islam masih tetap ada, tapi hanya merupakan badan tanpa jiwa. Unsur utama yang dahulu pernah tegak berdiri sebagai penguat dunia Islam, sekarang justru menjadi sebab kelemahannya. Masyarakat Islam sejak mulai berdirinya telah dibina atas dasar keagamaan saja, dan kelemahan dasar ini tentu saja melemahkan struktur kebudayaan, bahkan mungkin merupakan ancaman terhadap kehancurannya sendiri pada akhirnya.

Semakin saya mengerti bagaimana ketegasan dan kesesuaian ajaran Islam dengan praktek, semakin menjadi-jadilah pertanyaan saya, mengapa orang-orang Islam telah tidak mau menerapkannya dalam kehidupan yang nyata? Tentang ini saya telah bertukar pikiran dengan banyak ahli pikir kaum Muslimin di seluruh negara yang terbentang antara gurun Libia dan pegunungan Parmir di Asia tengah, dan antara Bosporus sampai laut Arab. Suatu soal yang hampir selalu menguasai pikiran saya melebihi pemikiran tentang lain-lain kepentingan dunia Islam. Soal ini tetap menjadi titik berat perhatian saya, sampai akhirnya saya, seorang yang bukan Muslim, berbicara terhadap orang-orang Islam sebagai pembela agama Islam sendiri menghadapi kelalaian dan kemalasan mereka.

Perkembangan ini tidak terasa oleh saya, sampai pada suatu hari musim gugur tahun 1925 di pegunungan Afganistan, seorang Gubernur yang masih muda berkata kepada saya: “Tapi Tuan adalah seorang Muslim, hanya Tuan sendiri tidak menyadarinya.” Saya sangat kaget dengan kata-katanya itu dan secara diam-diam saya terus memikirkannya. Sewaktu saya kembali ke Eropa pada tahun 1926, saya pikir satu-satunya konsekwensi logis dari pendirian saya ialah saya harus memeluk agama Islam. Hal itulah yang telah menyebabkan saya menyatakan ke-Islam-an saya, dan sejak itu pulalah datang bertubi-tubi pertanyaan-pertanyaan yang berbunyi: “Mengapa engkau memeluk Islam? Apanya yang telah rnenarik engkau?”

Menghadapi pertanyaan-pertanyaan semacam itu saya akui bahwa saya tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan selain keterangan bahwa tidak ada satu ajaran tertentu dalam Islam yang telah merebut hati saya, sebab Islam itu adalah satu keseluruhan yang mengagumkan; satu struktur yang tidak bisa dipisah-pisahkan tentang ajaran moral dan program praktek hidup. Saya tidak bisa mengatakan bagian manakah yang lebih nnenarik perhatian saya.

Dalam pandangan saya, Islam itu adalah laksana sebuah bangunan yang sempurna segala-galanya. Semua bagiannya, satu sama lain merupakan pelengkap dan penguat yang harmonis, tidak ada yang berlebih dan tidak ada yang kurang, sehingga merupakan satu keseimbangan yang mutlak sempurna dan perpaduan yang kuat.

Mungkin kesan saya bahwa segala sesuatu dalam ajaran Islam dan teori-teorinya itu tepat dan sesuai, telah menciptakan kekaguman yang amat kuat pada diri saya. Mungkin memang demikian, mungkin pula ada kesan-kesan lain yang sekarang sulit bagi saya menerangkannya. Akan tetapi bagamanapun juga hal itu adalah merupakan bahan kecintaan saya kepada agama ini, dan kecintaan itu merupakan perpaduan dari berbagai macam sebab; bisa merupakan perpaduan antara keinginan dan kesepian, bisa merupakan perpaduan antara tujuan yang luhur dan kekurangan, dan bisa merupakan perpaduan antara kekuatan dan kelemahan.

Demikianlah Islam telah masuk ke dalam lubuk hati saya, laksana seorang pencuri yang memasuki rumah di tengah malam. Hanya saja Islam telah masuk untuk terus menetap selama-lamanya, tidak seperti seorang pencuri yang masuk rumah untuk kemudian dengan tergesa-gesa keluar lagi. Sejak itu saya telah bersungguh-sungguh mempelajari apa yang dapat saya pelajari tentang Islam. Saya telah mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul s.a.w. Saya pelajari bahasa agama Islam berikut sejarahnya, dan saya pelajari sebahagian besar buku-buku/tulisan-tulisan mengenai ajaran Islam dan juga buku-buku/tulisan-tulisan yang menentangnya. Semua itu saya lakukan dalam waktu lebih dari lima tahun di Hejaz dan Najed, dan lebih banyak lagi di Madinah, sehingga saya bisa mengalami sesuatu dalam lingkungan yang orisinal, di mana agama ini dikembangkan untuk pertama kalinya oleh Nabi yang berbangsa Arab. Sedangkan Hejaz merupakan titik pertemuan kaum Muslimin dari berbagai negara, dimana saya dapat membandingkan beberapa pandangan keagamaan dan kemasyarakatan yang berbeda-beda yang menguasai dunia Islam sekarang.

Semua pelajaran dan perbandingan itu telah menanamkan kepuasan dalam hati saya, bahwa Islam sebagai satu keajaiban rohani dan sosial masih tetap tegak, walaupun ada kemunduran-kemunduran yang ditimbulkan oleh kekurangan-kekurangan kaum Muslimin sendiri. Sebegitu jauh Islam masih tetap merupakan kekuatan terbesar yang pernah dikenal ummat manusia. Dan sejak waktu itu perhatian saya tumpahkan untuk mengembalikan agama ini kepada kejayaannya semula.

Tentang Pengarang : Mohammad Asad

Mohammad Asad Leopold Weiss dilahirkan di Livow, Austria pada tahun 1900. Pada umur 22 tahun, beliau mengunjungi Timur Tengah dan selanjutnya menjadi wartawan luar negeri dari harian “Frankfurter Zeitung” Setelah masuk Islam, beliau pergi dan bekerja di seluruh dunia Islam, dari mulai Afrika Utara sampai Afganistan di bagian Timur, dan setelah beberapa tahun mempelajari Islam, beliau telah menjadi seorang Muslim terpelajar yang terkemuka di abad kita sekarang. Dan setelah berdirinya negara Pakistan, beliau ditunjuk menjadi Director of the Department of Islamic Reconstruction di Punjab Barat, kemudian diangkat sebagai wakil Pakistan di PBB.

Dua buku Mohammad Asad yang penting ialah ” Islam in the Cross Roads (Islaim di Persimpangan Jalan) ” dan ” Road to Mecca (Jalan ke Mekah) “. Beliau juga menerbitkan majalah bulanan “Arafat”, dan sekarang sedang menyelesaikan terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Inggris. Buku “Road to Mecca” telah diterjemahkan oleh Fuad Hasyem dan diterbitkan oleh P.T. Al Ma’arif, Bandung.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 21, 2008 in Uncategorized

 

Gary Miller

ebuah kesaksian Mantan Pendeta dari Canada yang masuk Islam

imageSeorang ahli Mathematika yang menemukan Islam melalui metode Matematika Sederhana : Adalah suatu kehancuran karena mengatakan bahwa Tuhan dapat melakukan sesuatu yang bukan dari sifat ketuhanan (perlakuan yang merendahkan tuhan)
using the word ‘Elohim’ to fool yourselves into thinking Jesus was God

Gary Miller (Abdul Ahad Omar) membuktikan bagaimana dirinya menemukan kebenaran sejati hanya dengan “Kebenaran yang Standard”. Dia mengilustrasikan metode sederhana dalam menemukan arah yang benar dalam mencari Kebenaran.

Beliau seorang ahli Mathematika. Tinggal di Toronto, Kanada. Sebelum memeluk islam, beliau adalah seorang yang bekerja pada sebuah gereja di Kanada. Seorang penyiar di radio dan televisi siaran di Kanada sebagai pencermah agama. Selain itu juga beliau adalah aktivis gereja dalam urusan pencarian kebenaran sesuai misinya sebagai pendeta. Belakangan beliau banyak menemukan Ketidak Konsistenan didalam injil. Semua pekerjaannya ini berhubungan langsung dengan Gereja.

Pada tahun 1978, beliau membaca Al-qur‘an. Dengan perasaan yang antusias dengan setengah tak meyakini bahwasanya isinya adalah dari percampuran antara kebenaran dan kepalsuan. Ternyata beliau menemukan banyak hal yang dicarinya tentang kebenaran itu, pesan pesan didalam Al Quran banyak persamaannya dengan inti kebenaran yang disaringnya dari Injil.

Akhirnya beliau menjadi Muslim dan sejak itulah beliau selalu aktif dalam banyak negara di setiap kesempatan yaitu memberikan penerangan tentang Islam pada masyarakat disana termasuk di media Radio dan Televisi. Beliau juga mengarang berbagai Artikel dan Buku mengenai Kebenaran Islam.

Dakwah islamnya kebanyakan dalam masalah penyelesaian, perdebatan dengan Non muslim (kristen) dan tanya jawab tentang. Islam di radio dan televisi, khususnya di Kanada. Dengan kalimat jelasnya, ia adalah seorang DA‘I.

Berikut ini adalah sebuah cuplikan dari beberapa pemikirannya TRUTH AND FALSE dalam sub judul pada bukunya yaitu : suatu pembuktian yang biasa saja.

Ketika seorang kristen menyatakan bahwa Tuhan akan “menolong orang untuk percaya” ia
mengargumentasikan hal ini dalam satu masalah kecil .

Tuduhannya adalah dasar dari pembuktiannya dan pembuktiannya adalah dasar pada tuduhannya.

Tanya jawab terjadi, sbb :
Kristen :” Saya mempunyai bukti.”
Muslim:” Tetapi disana ada pembukaan dalam argumentasi anda ?”
Kristen :” Tanya pada Tuhan untuk menolongmu agar percaya.”
Muslim: “ Apa yang. seharusnya saya lakukan?” ( tuduhan atas dasar dari pembuktian).
Kristen: “ Karena saya dapat melihat hal ini pada anda ”
Muslim: “ Tetapi hal ini bukanlah pembuktian untuk segala sesuatu. “ (pembuktian atas dasar pd. tuduhan).

Satu lagi saya kutipkan disini dari sub judul dari tulisannya yaitu penjabaran point.

“Pada Tuhan tiada sesuatu yg. mustahil.”

Disini ia berkesimpulan cara dari injil adalah cara yang mengambil dari sesuatu pemikiran bukan dari kalimat Tuhan (Yesus).

Hal ini seharusnya dan yang sebenarnya melawan kepercayaan kristen. Ini adalah suatu kehancuran karena mengatakan bahwa Tuhan dapat melakuakn sesuatu yang bukan dari sifat ketuhanan (perlakuan yang merendahkan). Dimana seharusnya argumentasi ini adalah hal yang menghancurkan.

Contoh:
Kristen : “ Sifat Tuhan adalah Trinity.”
Muslim: “ Bagaimana mungkin 1+1+1=1? “
Kristen : “Pada Tuhan tidak ada sesuatu yg. tak mungkin…”
Muslim : “Kalau begitu TRINITY adalah bukan sifat-Nya, bagaimana seharusnya Dia. Ini kemungkinan ada beberapa pilihan. Mungkin Ia adalah 3,5,9 atau banyak kemungkinan.”

Demikianlah uraian diatas menjelaskan, mengingat Dr. GR. Miller adalah seorang ahli Matematik yang merangkap juga seorang pendeta, beliau telah mengimplementasikan ilmunya untuk mencari kebenaran yang tidak pernah beliau temukan didalam Injil. Akhirnya Alhamdulillah, beliau telah dituntun Allah SWT menemukan kebenaran itu dalam Islam. Sekarang beliau menjadi DAI bersahabat dengan Dai Dai dunia lainnya seperti Ahmad Deedat, Yusuf Islam, Murod Hoffman dan Dai kondang lainnya menyampaikan Kebenaran dalam Islam.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 21, 2008 in Seputar Mualaf

 

Muhammad Syafii Antonio, MSc. (d/h Nio Cwan Chung)

imageSaya lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 12 mei 1965. Nama asli saya Nio Cwan Chung . Saya adalah WNI keturunan Tionghoa. Sejak kecil saya mengenal dan menganut ajaran Konghucu, karena ayah saya seorang pendeta Konghucu. Selain mengenal ajaran Konghucu, saya juga mengenal ajaran Islam melalui pergaulan di lingkungan rumah dan sekolah. Saya sering memperhatikan cara-cara ibadah orang-orang muslim. Kerena terlalu sering memperhatikan tanpa sadar saya diam-diam suka melakukan shalat. Kegiatan ibadah orang lain ini saya lakukan walaupun saya belum mengikrarkan diri menjadi seorang muslim.

Kehidupan keluarga saya sangat memberikan kebebasan dalam memilih agama. Sehingga saya memilih agama Kristen Protestan menjadi agama saya. Setelah itu saya berganti nama menjadi Pilot Sagaran Antonio. Kepindahan saya ke agama Kristen Protestan tidak membuat ayah saya marah. Ayah akan sangat kecewa jika saya sekeluarga memilih Islam sebagai agama.

Sikap ayah saya ini berangkat dari image gambaran buruk terhadap pemeluk Islam. Ayah saya sebenarnya melihat ajaran Islam itu bagus. Apalagi dilihat dari sisi Al Qur’an dan hadits. Tapi, ayah saya sangat heran pada pemeluknya yang tidak mencerminkan kesempurnaan ajaran agamanya.

Gambaran buruk tentang kaum muslimin itu menurut ayah saya terlihat dari banyaknya umat Islam yang berada dalam kemiskinan,keterbelakangan,dan kebodohan. Bahkan, sampai mencuri sandal di mushola pun dilakukan oleh umat Islam sendiri. Jadi keindahan dan kebagusan ajaran Islam dinodai oleh prilaku umatnya yang kurang baik.

Kendati demikian buruknya citra kaum muslimin di mata ayah, tak membuat saya kendur untuk mengetahui lebih jauh tentang agama islam. Untuk mengetahui agama Islam, saya mencoba mengkaji Islam secara komparatif (perbandingan) dengan agama-agama lain. Dalam melakukan studi perbandingan ini saya menggunakan tiga pendekatan, yakni pendekatan sejarah, pendekatan alamiah, dan pendekatan nalar rasio biasa. Sengaja saya tidak menggunakan pendekatan kitab-kitab suci agar dapat secara obyektif mengetahui hasilnya.

Berdasarkan tiga pendekatan itu, saya melihat Islam benar-benar agama yang mudah dipahami ketimbang agama-agama lain. Dalam Islam saya temukan bahwa semua rasul yang diutus Tuhan ke muka bumi mengajarkan risalah yang satu, yaitu Tauhid. Selain itu, saya sangat tertarik pada kitab suci umat Islam, yaitu Al-Qur’an. Kitab suci ini penuh dengan kemukjizatan, baik ditinjau dari sisi bahasa, tatanan kata, isi, berita, keteraturan sastra, data-data ilmiah, dan berbagai aspek lainnya.

Ajaran Islam juga memiliki system nilai yang sangat lengkap dan komprehensif, meliputi system tatanan akidah, kepercayaan, dan tidak perlu perantara dalam beribadah. Dibanding agama lain, ibadah dalam islam diartikan secara universal. Artinya, semua yang dilakukan baik ritual, rumah tangga, ekonomi, sosial, maupun budaya, selama tidak menyimpang dan untuk meninggikan siar Allah, nilainya adalah ibadah. Selain itu,disbanding agama lain, terbukti tidak ada agama yang memiliki system selengkap agama Islam.Hasil dari studi banding inilah yang memantapkan hati saya untuk segera memutuskan bahwa Islam adalah agama yang dapat menjawab persoalan hidup.

muhammad-syafii-antonio-msc-1Masuk Islam

Setelah melakukan perenungan untuk memantapkan hati, maka di saat saya berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku SMA, saya putuskan untuk memeluk agama Islam. Oleh K.H.Abdullah bin Nuh al-Ghazali saya dibimbing untuk mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat pada tahun 1984. Nama saya kemudian diganti menjadi Syafii Antonio.

Keputusan yang saya ambil untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad saw. Ternyata mendapat tantangan dari pihak keluarga. Saya dikucilkan dan diusir dari rumah. Jika saya pulang, pintu selalu tertutup dan terkunci. Bahkan pada waktu shalat, kain sarung saya sering diludahi. Perlakuan keluarga terhadap diri saya tak saya hadapi dengan wajah marah, tapi dengan kesabaran dan perilaku yang santun. Ini sudah konsekuensi dari keputusan yang saya ambil.

Alhamdulillah,perlakuan dan sikap saya terhadap mereka membuahkan hasil. Tak lama kemudian mama menyusul jejak saya menjadi pengikut Nabi Muhammad saw. Setelah mengikrarkan diri, saya terus mempelajari Islam, mulai dari membaca buku, diskusi, dan sebagainya. Kemudian saya mempelajari bahasa Arab di Pesantren an-Nidzom, Sukabumi, dibawah pimpinan K.H.Abdullah Muchtar.

Lulus SMA saya melanjutkan ke ITB dan IKIP, tapi kemudian pindah ke IAIN Syarif Hidayatullah. Itupun tidak lama, kemudian saya melanjutkan sekolah ke University of yourdan (Yordania). Selesai studi S1 saya melanjutkan program S2 di international Islamic University (IIU) di Malaysia, khusus mempelajari ekonomi Islam.

Selesai studi, saya bekerja dan mengajar pada beberapa universitas. Segala aktivitas saya sengaja saya arahkan pada bidang agama. Untuk membantu saudara-saudara muslim Tionghoa, Saya aktif pada Yayasan Haji Karim Oei. Di yayasan inilah para mualaf mendapat informasi dan pembinaan. Mulai dari bimbingan shalat, membaca Al-Qur’an, diskusi, ceramah, dan kajian Islam, hingga informasi mengenai agama Islam. (Hamzah, mualaf.com)

Redaksi : Saat ini M Syafii Antonio aktif diberbagai Lembaga Keuangan Islam/Syariah baik Bank maupun Non Bank, dan membina berbagai pendidikan syariah

Dr. Muhammad Syafii Antonio, MSc
– Doktor Banking & Micro Finance, University of Melbourne, 2004
– Master of Economic, International Islamic University, Malayasia, 1992
– Sarjana Syariah, University of Jordan, 1990
– Komite Ahli Pengembangan Perbankan Syariah pada Bank Indonesia
– Dewan Komisaris Bank Syariah Mega Indonesia
– Dewan Syariah BSM
– Dewan Syariah Takaful
– Dewan Syariah PNM
– Dewan Syariah Nasional, MUI

Perbankan dan Syariah serta Pesantren.

Muhammad Syafii Antonio adalah seorang alumni pesantren yang tercebur ke dunia perbankan. Masuk pesantren dengan alasan ingin mendalami Islam sebagai agama yang baru dianutnya, Syafii menapak sukses hingga menjadi pakar ekonomi syariah nasional saat ini.

Ia memulai pendidikan pesantrennya pada 1985, ketika lulus dari SMU. Ia masuk pesantren tradisional An-Nizham, Sukabumi. Alasannya ketika itu ingin mendalami ilmu keislaman secara utuh. “Jika ingin menjadi muslim yang komprehensif, pesantren adalah tempat yang ideal.”

Tiga tahun di pesantren, ia melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ia mendaftar ke ITB, IKIP, dan IAIN. Meski diterima, karena ia ingin lebih besar untuk mempelajari Islam, Syafii memilih belajar ke luar negeri. Lewat Muhammadiyah, ia mendapat kesempatan belajar di Yordania untuk studi Islam bidang syariah.

Di saat yang sama ia juga mengambil kuliah ekonomi. Lalu ia melanjutkan ke Al-Azhar untuk memperdalam studi Islam. Perjalanan hidupnya berbelok ketika ia batal melanjutkan ke Manchester University karena Perang Teluk. Akhirnya, ia mendaftar ke International Islamic University Malaysia. Ia mengambil studi Banking and Finance dan selesai pada 1992.

Syafii berkecimpung di perbankan syariah mulai tahun itu juga saat ia bertemu delegasi Indonesia yang akan mendirikan bank syariah setelah melihat contoh bank syariah di Malaysia.

Kembali ke Indonesia, ia bergabung dengan Bank Muamalat, bank dengan sistem syariah pertama di Indonesia. Dua tahun setelah itu, ia mendirikan Asuransi Takaful, lalu berturut-turut reksa dana syariah. Empat tahun membesarkan Bank Muamalat, ia mundur dan mendirikan Tazkia Group yang memiliki beberapa unit usaha dengan mengembangkan bisnis dan ekonomi syariah.

Sebagai alumni pesantren, Syafii mengungkapkan ketidakyakinannya bahwa kurikulum pesantren bisa menghasilkan seseorang dengan mental teroris. “Apalagi pesantren tradisional atau salafi,” katanya. Pada pesantren ini, tuntutan untuk tasawufnya cukup tinggi sehingga mereka menekankan pada akhlak dan etika. “Bahkan saya melihat beberapa pesantren bisa terjerumus pada zuhud yang negatif dan sangat berseberangan dengan apa yang saya dorong sekarang,” katanya.

Begitu pula di beberapa pesantren modern dan progresif seperti Gontor, Darunnajah, dan lain-lain, pendekatan metode belajarnya sudah diperbarui. “Santrinya sudah menggunakan dua bahasa asing dan tidak terlalu terikat pada mazhab tertentu dari sisi fiqih dan akidah.”

Kemudian ada jenis pesantren lainnya, yaitu yang mencoba tidak hanya berkutat pada aspek teologi dan teori, tapi mungkin mereka mencoba untuk merespons tantangan modernisasi dan westernisasi sebagai realisasi amar ma’ruf nahi munkar. “Kalau yang terakhir ini yang dikembangkan beberapa pesantren di Indonesia, tanpa saya berhak menyebut nama, mungkin itu bisa jadi yang paling dekat pada pergerakan-pergerakan yang lebih progresif,” katanya. Toh, kalau pun ada tersangka teroris, itu tak bisa disebut mewakili pesantren dan ajaran Islam.

Sebagai alumni pesantren, Syafii juga memiliki kritik terhadap pendidikan pesantren saat ini. “Saya lihat kurikulumnya harus ditinjau ulang,” katanya. Ia mencontohkan kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren. “Konteks dan contohnya sudah sangat klasik dan belum tentu selesai dipelajari dalam dua-tiga tahun,” katanya. Ia mengimbau agar kurikulum pesantren memadatkan apa saja yang harus dipelajari santri. “Ada target yang harus dirancang untuk santri,” katanya.

Selain itu, gaya belajar pesantren juga masih terpusat pada satu-dua kiai. “Tak ada regenerasi dan tentu sangat berat bagi para kiai itu untuk mengajar sekian banyak santri,” katanya. Karenanya, tak heran jika terdapat jarak yang jauh dalam penguasaan ilmu antara kiai dan asistennya.

Syafii melihat para kiai ilmunya sangat banyak dan ikhlas, tapi kurang responsnya terhadap masalah-masalah sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan. Dalam media apa pun, tulisan kiai sangat jarang sekali. Ketika muncul pemikiran frontal, mereka cenderung reaktif, bukan proaktif. “Seharusnya jika ada ide-ide jernih langsung dituliskan dan disampaikan ke masyarakat,” katanya. (dari berbagai sumber)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 21, 2008 in Seputar Mualaf