RSS

ORANG-ORANG YANG TERTIPU

23 Des

(Al Kasyf wa Al-Tibyan)

ALHAMDULILLAAH, ALHAMDULILLAH HIRAB-BIL ALAMIN, ARRAHMAN NIRRAHIM.

ALAZI LA ILAHA ILALLAH WAH DAHU LASYARIKALAH, WA’ASYHADU’ANNA MUHAMMADAN ABDUHU WA RASULULLUH, LA NABIA BA’DAH.

ALLAHUMASHALI ALA MUHAMMAD, WA’ALA AHLIHI WA ASHABIHI AJMA’IN, WA TABI’IN, WA TABI’I TABIIN.

RABBISY RAHLII SHADRII, WAYASSIRLLI AMRI WAHLUL ‘UQDATAM MILLISAANII YAFQAHUU QAULII. AMA BA’DU.

Jamaah rahimakumullah.

Menurut Imam Abu Hamid bin Muhammad Al Ghazali (Imam Ghazali), ada dua kelompok orang kafir yang tertipu, yaitu pertama yang tertipu karena kehidupan dunia, mereka berpandangan hidup sekarang lebih baik dari hidup hari esok dan orang kafir golongan yang kedua adalah mereka yang ber-pendapat bahwa kenikmatan dunia sudah pasti, sementara kehidupan akhirat masih diragukan.

Namun menurut Imam Ghazali pula, tidak berarti semua orang Islam itu pasti mendapat keberuntungan. Manusia yang beruntung hanyalah mereka yang menjadi mukmin sejati, yaitu manusia sempurna (insan kamil). Mereka adalah orang-orang yang tawa-dhuk (rendah hati), ikhlas, dan istiqamah, senantiasa taat kepada sang Khaliq yang Maha Pencipta. Ternyata, menjadi mukmin yang mukhlisin, tidaklah mudah. Betapa banyak ahli ibadah yang gagal antara lain karena tertipu dengan ibadahnya.

Dalam kitabnya “Menyingkap Aspek-aspek Ketertipuan Selu-ruh makhluk” (Al-Kasyf Al-Tibyan fi Ghurur al-Khalq Ajma’in), Imam Ghazali menyebutkan ada empat golongan manusia yang tertipu dalam menjalani ibadahnya. Mereka itu adalah, ulama atau cendekiawan, golongan ahli ibadah, golongan hartawan, dan golongan ahli tasawuf.

Ulama atau cendekiawan, yang tertipu adalah mereka yang merasa telah memiliki ilmu syari’ah dan aqliyah yang cukup dan mapan. Mereka mendalami ilmu-ilmu tersebut, namun lupa pada dirinya sendiri, sehingga tidak menjaga dan mengen-dalikan anggota tubuhnya dari perbuatan maksiat. Mereka juga teripu karena lalai dalam melakukan amal saleh. Mengira dengan ilmunya telah mendapatkan kedudukan disisi ALLAH.

Sebagian golongan ulama dan cendekiawan mengira, bahwa dengan berilmu itu dengan sendirinya telah mencapai tingkat-an yang tertinggi. Golongan ini sebenarnya mengetahui bahwa ada dua macam ilmu. Yaitu ilmu mukasyafah, ialah penge-tahuan tentang ALLAH dan sifat-sifatnya dan ilmu mu’amalah, adalah pengetahuan tentang akhlak yang terpuji dan tercela. Namun mereka lalai dalam menggunakan mata bathinnya dalam gerak gerik kehidupannya.

Golongan ulama dan cendekiawan seperti ini adalah, golongan orang berilmu pengetahuan, akan tetapi tidak mengamalkan-nya. Ilmunya tidak berguna sama sekali baginya. Mereka lebih mencintai dunia dan diri sendiri, dan mencari kesenangan sementara yang bersifat semu.

Selain itu, ada pula golongan dari mereka yang merasa ilmu dan amal lahiriyahnya telah mapan, mereka telah me-ninggalkan bentuk kemaksiatan lahiriyah, akan tetapi mereka lupa akan bathin dan hatinya. Mereka tidak menghapus sifat tercela dalam hatinya, seperti sifat sombong, riya, hasut, gila kehormatan dan pangkat, suka popularitas, dan suka menjelek-jelekkan kelompok lain. Pada hal ada dua hadist Rasulullah tentang riya dan dengki yang mencela hal itu. Sabda Rasul, riya merupakan bentuk syirik kecil dan dalam hadist yang lain, sifat dengki dapat melenyapkan amal kebajikan, sebagaimana api dapat melalap kayu bakar.

Golongan ahli ibadah yang tertipu adalah, orang yang karena sholatnya, hajinya, puasanya, zakat dan infaqnya jihadnya, kezuhudannya, bacaan Al Qur’annya dan amal ibadah lainnya, dilakukan secara berlebih-lebihan sehinggga melampaui pem-borosan. Seperti tak pernah yakin akan udhuknya, ragu akan kebersihan air yang digunakan, selalu berpandangan air yang digunakan bercampur dengan air yang tidak suci. Mereka memperberat dalam urusan ibadah, akan tetapi memperingan dalam urusan yang haram. Seperti menggunakan barang yang jelas haramnya namun enggan meninggalkanya.

Atau mereka ahli ibadah, sehingga karena seringnya bersujud, di dahinya muncul tanda bekas sujud. Lalu dengan tanda itu merasa pasti akan mendapatkan syurga di akhirat nanti.

Dalam membaca Al-Qur’an atau kumadang azannya, karena bacaannya yang merdu, lidahnya fasih, merasa dirinya yang paling benar, bacaan orang lain salah. Ada pula yang tertipu karena merasa telah zuhud dengan hartanya, atau karena ibadah sunnahnya. Ada pula yang tertipu hanya karena merasa dirinya telah cukup dengan menjadi bagian dari orang banyak yang ahli ibadah.

Diantara golongan hartawan, ada beberapa yang tertipu. Anta-ra lain adalah, mereka yang giat membangun masjid, sekolah, penampungan fakir miskin atau yatim piatu, dan fasilitas lainnya yang tampak bagi orang banyak. Nama mereka dican-tumkan di batu prasasti, agar namanya dan peninggalannya, tetap dikenang walaupun sudah meninggal dunia.

Golongan hartawan yang tertipu, adalah mereka yang mem-peroleh harta dengan halal, menghindarkan diri dari perbuat-an haram, namun tujuan amal jariyahnya untuk pamer kekayaan (riya) dan sum’ah, yaitu sekedar mencari perhatian atau pujian. Demikian juga mereka yang menafkahkan har-tanya untuk fakir miskin, anak yatim atau panti jompo, menye-rahkannya dengan mengadakan upacara dan perayaan.

Akan tetapi golongan hartawan yang paling tertipu adalah mereka yang memperoleh kekayaan, akan tetapi kikir dan bakhil. Mereka mengira dengan hartanya itu akan menye-lamatkan dirinya dan keluarganya dari marabahaya dan siksa api neraka.

Golongan keempat yang tertipu menurut Imam Ghazali adalah ahli tasawuf, yang paling banyak muncul pada zaman sekarang ini. Mereka yang tertipu adalah mereka yang menyerupakan diri mereka dalam cara berpakaian dengan cara ahli tasawuf, cara berpikir dan berpenampilan, perkataan, sopan santunya, gaya bahasanya dan tutur katanya.

Mereka juga tetipu dengan cara bersikap, mendengar, bersuci, sholat, duduk diatas sajadah sambil menundukkan kepala, bersuara rendah ketika berbicara, yang kesemuanya dilakukan dengan cara-cara yang berlebihan.

Jamaah rahimikumullah.

Belajar dari peringatan yang disampaikan oleh Imam Al Ghazali seperti yang telah duraikan tadi, kita patut dengan arif melakukan introspeksi dan retrospeksi diri. Apakah kita tidak termasuk dalam keempat golongan yang telah diuraikan tadi. Kalau seandainya benar kita termasuk di dalamnya, marilah segera bertaubat dan memperbaiki aqidah dan amalan kita, agar tidak berkekalan dalam keterperdayaan syaitan.

Caranya antara lain, bagi yang berilmu dan dikaruniai kecer-dasan, marilah beramal ilmiah dan berilmu amaliah. Sebagai ahli ibadah, marilah kita beribadah dengan khusuk, tawadhuk, dan istiqamah. Kalau kita adalah hartawan, apa yang kita berikan, janganlah diberitakan, apa lagi dibesar-besarkan. Bahkan hendaknya bila tangan kanan memberi, tangan kiri kita tidak boleh tahu. Seandainya kita ingin menjadi ahli tasawuf, sikap sosial kita tidak harus berlebihan, diantara sesama kita.

Saya ingin mengakhiri uraian ini, dengan mengingatkan diri saya dan jamaah sekalian akan sebuah hadist Rasulullah SAW. Agar kita sungguh-sungguh dan berhati-hati dalam beribadah. Hadist dimaksud dapat kita baca dalam Buku Shahih Muslim, jilid 4 halaman 50, hadist No. 1859.

Dari Abu Hurairah RA. Katanya: “Natil bin Qais Al Hazami, seorang penduduk Syam bertanya kepadanya. “Wahai Tuan Guru ! Ajarkanlah kepada kami yang anda dengar dari Rasul-ullah SAW”. Jawab Abu Hurairah, ”Baik!. Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda: ”Orang yang pertama–tama diadili kelak di hari kiamat, ialah orang yang mati syahid. Orang itu dihadapkan ke pengadilan, lalu diingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diperolehnya, maka dia mengakuinya. Tanya: ”Apakah yang telah engkau perbuat dari nikmat itu ?”. Jawab: ”Aku berperang untuk agama ALLAH, sehingga aku mati syahid”. Firman ALLAH; ”Engkau dusta!. Sesungguhnya engkau berperang supaya dikatakan gagah berani dan gelar itu telah engkau peroleh”. Kemudian dia disuruh seret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke neraka.

Kemudian dihadapkan pula orang ’alim yang belajar dan mengajarkan ilmunya serta Al Qur’an. Dihadapkan kepadanya nikmat yang telah diperolehnya, semuanya diakuinya. Tanya: ”Apakah yang telah engkau perbuat dari nikmat itu?”. Jawab: ”Aku belajar, mengajar, dan membaca AL Qur’an karena eng-kau”. Firman ALLAH: ”Engkau dusta!. Sesungguhnya engkau belajar dan mengajar supaya disebut ’alim, dan engkau memba-ca Qur’an supaya dikatakan Qari (ahli membaca). Semua itu telah dipanggilkan orang kepadamu”. Kemudian dia disuruh seret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke neraka.

Sesudah itu, dihadapkan pula orang yang diberi kekayaan oleh ALLAH dengan berbagai macam harta. Semua kekayannya dihadapkan kepadanya dan dia mengakuinya. Tanya: ”Apakah yang telah engkau perbuat dengan harta sebanyak itu?.” Jawab: ”Setiap bidang tanah yang engkau sukai tidak ada yang aku tinggalkan, melainkan aku sumbang semuanya karena eng-kau”. Firman ALLAH; ”Engkau dusta!. Sesungguhnya engkau melakukan semuanya itu supaya engkau disebut orang pemu-rah, dan gelar itu telah engkau peroleh”. Kemudian dia disuruh seret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke neraka. Na’zubillah min zalik.

Demikianlah uraian yang dapat saya sampaikan, kiranya menjadi peringatan bagi diri saya dan bagi jama’ah sekalian.

Sesungguhnya hanya ALLAH subhana-huata’ala, pemilik kebenaran. Untuk itu mohon maaf atas kekhilafan saya dalam menyampaikan uraian ini dan saya senantiasa mohon ampunan dari Allah.

WALLAHHU’ALAM BISAWAB.

SUBHAANAKA ALLAALHUMA WABIHAMDIKA, ASY-HADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA, ASTAGHFIRUKA WAATUUBU ILAYK.

HADANALAAHU WA IYAKUM AJMAIN.

WASSALAMUALAIKUM WR, WB.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 23, 2011 in hadist hadist, Islam, Refleksi Jiwa

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.667 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: