RSS

Masjid Lautze Bandung

21 Nov

lautze-2-bdg1Jika saja tidak ada tulisan mencolok, warna kuning di atas latar merah menyala, dan dipasang selama bulan Ramadhan kemarin. Ada spanduk berwarna merah dengan tulisan kuning berbunyi Zhu Ni Men Feng Zhai Shun Li Cheng Gong. Artinya, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. Takkan ada seorangpun yang menyangka bahwa bangunan toko berusia sekitar 50 tahun tersebut adalah masjid. Itulah Masjid Lau Tze 2. Masjid mualaf Tionghoa di Bandung.

Masjid Lau Tze 2 yang terletak di Jalan Tamblong No.27 Bandung, merupakan bangunan toko yang dibangun tahun 1950-an. Dulunya merupakan toko kelontong. Karena kurang laku oleh pemiliknya H. Rachmat dialihkan fungsinya menjadi rumah binatu, sebelum akhirya mulai 1996 disewakan menjadi Sekretariat Yayasan Haji Kartim Oei, yayasan yang menghimpun muslimin dan muslimah keturunan Tionghoa. Sejak itu, karena Yayasan Haji Karim Oei, tidak memiliki masjid, bangunan ini difungsikan menjadi masjid.

Lau Tze, juga ditulis Lao Tse, adalah seorang filosof bijak yang hidup di daratan Cina bagian utara. Sezaman, tapi umurnya lebih tua dari Kong Hu Chu,yang hidup sekitar Abad ke 3 SM. Menurut Michael H. Hart, penulis buku terkenal Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, Lau Tze, merupakan ilmuwan legendaris yang menulis buku Tao Te Ching, kitab suci agama Tao. Agama ketiga terbesar yang dianut orang-orang Tiongkok, setelah agama Kong Hu Chu dan Budha.

Ia hidup di kota Lo. Ibukota Kerajaan dinasti Chou. Ia beristri dan memiliki seorang putra bernama Tsung Si Tsung yang menjadi seorang jenderal Panglima Perang terkenal di Cina daratan.

lautze-2-bdg-1NAMA MESJID
Nama Lau Tze yang dianggap tokoh bijak ini, diabadikan menjadi nama Masjid oleh tokoh Muslim Tionghoa, Haji Karim Oei. Haji Karim Oei, tokoh pembaruan itu, mengabadikan nama Lau Tze, sebagai panutan kebangkitan moral warga Tionghoa dimana saja berada.

Masjid Lau Tze 2, satu-satunya masjid bagi mualaf Tionghoa di Bandung, nyaris tidak memiliki ciri khas masjid. Bagian dalamnya hanyalah ruangan tanpa sekat, berukuran 10 x 7 meter, bisa menampung sekitar 50 jamaah.

Walau tidak berarsitektur China, tetapi setiap orang begitu melihatnya, akan langsung mengasosiasikan kepada bangunan suci orang Tionghoa, karena catnya yang khas, warna merah menyala, berpadu dengan kuning emas.

Sie Sian Ni atau Sendy Yuli, SE, 25, Sekretaris Yayasan Haji Karim Oei, yang setiap hari berkantor di sudut bangunan masjid tersebut yang ditemui Pos Kota di Bandung menyebutkan, Masjid Lau Tze ini, merupakan rumah singgah bagi ratusan orang mualaf Tionghoa di Bandung dan menjadi rumah ibadah bagi ribuan muslimin dan muslimah berbagai warna kulit, tidak hanya bagi muslimin dan muslimah Tionghoa, karena letaknya yang strategis, terletak di Jalan Tamblong, jalan yang menghubungkan Bandung bagian utara dengan bagian selatan dan pusat keramaian.

BUKAN PENGUSAHA
Mengurus yayasan, sekaligus mengurus mesjid, ternyata bukan pekerjaan enteng yang bisa dilakukan siapa saja. Apa lagi oleh seorang gadis yang bukan pengusaha. Sendy Yuli, hanyalah seorang mualaf dari kalangan biasa, yang tidak memiliki koneksi ke birokrasi, atau famili konglomerat. Namun tekadnya untuk berjihad, mengagungkan nama Allah di jalan Islam sungguh mengagumkan.

Menurut Sendy Yuli, dilihat dari syiar, Masjid Lau Tze ini sangat menggembirakan, karena setiap waktu shalat, selalu dipenuhi jamaah, muslimin dan muslimat berbagai etnis, bukan hanya muslimin dan muslimah Tionghoa. Pada waktu shalat Jumat, jamaah sampai meluber ke trotoar jalan. Apa lagi jika waktu shalat Idul Fitri dan Idul Adha, badan Jalan Tamblong, terpaksa harus ditutup, karena dipenuhi jamaah.

Namun meski menjadi lambang ibadah muslimin dan muslimah Tionghoa yang terkenal sebagai golongan ekonomi kuat, kondisi masjid Lau Tze nyaris memprihatinkan. Masjid Lau Tze, tidak memiliki donatur mualaf kaya, walau banyak pengusaha besar etnis Tionghoa di Bandung yang beraga Islam. Bantuan pernah datang dari seorang pengusaha muda keturunan Tionghoa yang bergerak di dunia broadcaster. Sayang bantuan itu hanya sesekali, tidak rutin.

Kondisi masjid, tentu saja sulit dikatakan baik. Bahkan, air bersih saja sering kurang. Air ledeng dari PDAM Kota Bandung, sering tidak ngocor ke masjid tersebut. Akibatnya, relawan masjid harus menampung tetesan air ledeng berjam-jam pada saat malam hari tiba.

DANA ABADI
Yayasan Haji Karim Oei yang mengelola mesjid tersebut tidak memiliki kas. Apa lagi dana abadi, seperti layaknya tempat ibadah orang kaya. Dana yang ada hanyalah hasil dari kencleng masjid yang jumlahnya tak seberapa, rata-rata sekitar Rp. 500.000,- setiap bulan, tutur perempuan lajang ini.

Menurut Sendy Yuli, Yayasan Haji Karim Oei dan masjid Lau Tze ini hampir diusir pemiliknya, karena tidak punya uang untuk mengontraknya. Peristiwa memalukan dan memilukan itu terjadi tahun 2003. Beruntung, Gubernur Jawa Barat waktu itu HR. Nuriana, peka, begitu mendengar informasi Masjid Lau Tze mau diusir, karena tidak bisa membayar.

Nuriana memanggil Sendy dan setelah mendapat laporan kondisi yayasan berikut masjidnya, Nuriana mengucurkan bantuan Rp500 juta.

Sendy, disuruh Nuriana mencari tanah dan membuat desain masjid. Nuriana ingin masjid Lau Tze tidak bubar. Malah ingin dibangun lebih refresentatif di tempat strategis. Tapi, ekinginan tersebut, sampai kini hanya tinggal keinginan, karena bisa berbuat apa dengan uang Rp500 juta dan sebagian sudah digunakan biaya mengontrak bangunan Lau Tze 2 di Jalan Tamblong.

NYARIS DIUSIR
Namaun walau nyaris diusir dan kondisinya menyedihkan, para mujahid tersebut tak pernah surt berjuang. Para aktifis muallaf Tionghoa itu, kini mendirikan Muallaf Net Work (MNW). Satu jaringan kerja yang membina dan memberdayakan para muallaf.

Ketua MNW, Ku Wie Hon yang ditemui di ruang sempit Masjid Lau Tze mengatakan, pembinaan terhadap muallaf saat ini masih sangat kurang, bahkan bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Padahal pembinaan terhadap muallaf, baik dari sisi material, maupun spiritual merupakan kebutuhan nyata.

Ummat Islam cenderung kurang memperhatikan kebutuhan muallaf. Padahal di balik proses keislaman itu menyisakan PR panjang. Para muallaf berbeda dengan muslim yang sudah berislam sejak lahir. Mereka menghadapi berbagai kendala, mulai dari kendala ilmu, goyahnya keyakinan, keterbatas ekonomi, konflik keluarga, hingga kendala sosiali dengan masyarakat luas.

Para muallaf Tionghoa, pada umumnya adalah orang berkekurangan secara materi, walau banyak muallaf anak orang kaya, tetapi ketika mereka menjadi Muslim, biasanya diasingkan keluarganya.

Hal-hal berat seperti itu, harapan Ku Wie Hon, yang akrab disapa ustadz, karena memang suka dan berani berdakwah, bisa ditangani oleh MNW. Sehingga muallaf Tionghoa, bisa lebih percaya diri dalam menapak keislamannya.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada November 21, 2008 in Islam, Seputar Mualaf

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.643 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: